My AVN

My AVN
Samar, Memoar Bermain



"Samar, memoar mengenai ringan tangan cukup buat nafsi sangat tidak berhati-hati."


🤍🤍🤍


Sekedar delusi, tahu Vlo sama sekali tidak merespon balik. Sudah berbulan-bulan hanya memantau akun dumay kepunyaan sahabat, ingin menyapa lewat inbox, tidak memiliki keberanian.


Takut, memicu traumatis terulang.


Now, menjadi orang asing tak saling kenal. Padahal pernah menetap sebagai terpenting di hati.


Apakah benar, AVN sudah mati dengan ketergantian orang baru?


Atau kah, kado itu lupa di sodorkan?


"Tidak mungkin!" Tetiba Arinda berteriak, sendiri.


Hanya lewat prantara teman kampusnya agar AVN kembali utuh tanpa bersembunyi ego lagi.


Arinda diingatkan kembali dengan, "sa pernah coba telfon, tapi tra di angkat sama dia." Nazira menginfokan.


Dulu .. Seringkali melihat akun Vlo, tetapi tidak bisa lagi karena sudah di blokir.


Terus lewat cara apa dalam melarikan rindu?


Apa lewat diksi tak berjeda menjadikan pelarian temu imaji?


Sangat nyesak di hati. Tak lagi mendengar kalimat penuh menyemangati nafsi di realita. Hanya terbangun menemukan kekosongan.


Cara salah di mata keluarga sahabat, tetapi itu menjadikan kebebasan Vlo. Hah. Tidak bisa menerka lebih aksa, bahwa ringan tangan terbentang di pelupuk mata.


Jika sudah mendapati buku perdana hasil nafsi, kemungkinan besar hanya senang dalam diam tanpa harus memberitahui ke Arinda. Karena bakal membuka luka lama, telah berusaha di simpan rapat Vlo.


"Rin, bisa saja ko nulis. Asal, jan lupa sama kuliah eh? Sa tra mau tahu, pokoknya AVN lengkap pakai toga!" Andai .. Diksi ini di beri oleh sahabat pendengar baik.


Bahkan .. Kabar ipk terbilang tercetak sejarah, terbaik, sekali pun sama sekali belum sampai ke telinga Vlo.


Miris. Senyum miring tercipta di sana.


Arinda sangat merutuki kebodohannya, walau tahu tindakan itu benar, hanya saja tidak dapat menerka lebih jauh, ringan tangan yang cukup menjadi potret traumatis hingga sekarang.


Apakah dengan mendatangkan prestasi di bangku perkuliahan, bakal dapat pajak cita? Dengan cara sederhana, makan bakso di pinggir jalan?


"Haha.." Tetiba saja Arinda tertawa hambar, sakit.


Karya perdana sudah berhasil terproduksi, membuktikan bahwa bakat terpendam yang hasilkan prestasi kah?


Tahu, belum baik dalam menyusun selarik-larik di bait imaji. Setidaknya menjadi kesenangan sendiri, untuk ke depannya bisa di perbaiki lagi kok.


Coba .. Coretan aksara kepunyaan Arinda bisa mendatangkan banyak senyum di potret surga, sama halnya bawa prestasi berjejer dalam raport sekolah.


Hah. Mustahil kali yak?


Melihat-lihat lagi isi karya di tulis, geli sendiri, sangat berantakan. Bagaimana mau mendatangkan banyak prestasi?


Selalu payah dalam akademik bahkan di bidang favorit sendiri, nulis novel.


Oh, "maaf eh, Nai? Gegara sa, ko juga di jauhi sama Vlo." Pernah menyuarakan salah.


"Trapp. Sudah, jan pusingkan soal Vlo. Sa yakin kok kalau dia rindu kita berdua. Tra mungkin secepat itu dia lupakan sahabatnya sendiri." Di balas sangat baik dari Nazira.


Sudah jelas, bukan, apa yang akan di lontari sahabat berdarah padang itu? Kenapa harus mengulang-ngulang eja kesalahan diri, yang memang tertuju pada kebaikan sahabat walau posisinya sedikit salah juga sih.


Seharusnya Arinda jangan ikut campur permasalahan sahabat yang memang sudah tahu watak keluarganya keras pun ringan tangan.


Yang berkelebat banyak ketakenakan dalam batin.


🌏🌏🌏


Ah. Membosankan sekali, tunggu dosen belum masuk ngajar, di tambah pertemanan kampus sedang rusak.


Biasanya juga ngobrol atau jalan-jalan santai sekitar kampus, sekarang duduk diam seorang diri.


"Tanda tangan saja, tapi..tadi dosen kasih tugas. Minggu depan baru kumpul." Ketua kelas menginfokan.


Syukur. Bisa langsung menuju rumah tanpa harus melihat tingkah mereka yang cukup buat sakit mata di tambah emosi dalam diam.


Saat beres tanda tangan pun mencatat apa tugas dari dosen, "Rin.." Tetiba saja Ika memanggil yang di balas dehaman saja.


"Ikut pulang eh?!" Seru perempuan itu.


Memutar bola mata jengah, saat butuh saja baru ngajak ngobrol, heran.


Tanpa ko kasih tahu, sa sudah lihat dari ketua kelas! Ketus Arinda dalam batin.


Wait, apa karena pulang bareng terlihat baik ingin bagi informasi? Saat nafsi membutuhkan saja, setengah mati sekali memberi. Dasar..manusia tidak tahu diri.


"Besok kampus bareng kah, Rin?" Pintah perempuan itu.


Well. Sudah sampai depan rumah, hanya putar balik motornya buat pulang ke sentani.


"Eng, nanti lihat-lihat eh? Soalnya sa kalau ke kampus kadang ngaret jadi." Begitulah jawaban Arinda.


Sedikit .. Kecewa, kenapa baru sekarang mau berteman lagi? Setelah mendiamkan tanpa perasaan di kampus?


Beberapa menit ..


Penat sekali. Tanpa sadar .. "Hm.." Hanya membalas dengan dehaman.


"Ko lagi? Tra ganggu toh?"


"Trada yah sayang, sa baru pulang dari kampus kok." Arinda tertawa kecil.


"Beh, tra kuliah kah? Cepat sampe pulang."


"Biasa, dosen lagi malas masuk. Jadi, kasih titip absen dan tugas minggu depan baru kumpul."


"Enak apa."


"Harus enak dong. Namanya hidup tuh, jangan dibawa serius mulu." Arinda berkata dengan songong.


Tahu, sahabat padang tidak memiliki waktu berlibur sehari saja, cukup berdecak kesal di sebrang telpon.


"Haha, sa bisa apa yang tugas dari dosen tak terhingga, su seperti judul lagu saja." Nazira terkekeh.


Tidak tahu kenapa, sudah sangat lelah sekali.


Padahal sangat menunggu kabar perempuan itu sekedar bercerita saja, mata terkatung-katung tidak bisa diajak kompromi.


"Sa mengantuk sekali eh.." Mengeluh akhirnya kan?


"Istirahat dulu sudah. Nanti malam sa telpon lagi. Sa juga lagi kerja tugas sambil cicil tugas yang lain juga."


Hah. Bernapas sangat lega, bisa tidur nyenyak walau tahu dari intonasi Nazira sangat menginginkan berbagi kisah. Tapi, di waktu yang salah, gadis itu butuh turu dulu.


Sebelum kedua bola mata itu tertutup jemput pulau mimpi. Teringat ..


"Rin, ko di rumah kah? Sa bisa main di sana?" Dengan nada menahan tangis.


Cukup buat Arinda melongo keheranan. Tumben? Ada masalah lagi kah?


"Sa di rumah, datang sudah. Ko kenapa nih Vey?"


Tidak di balas sama sekali kecuali ok, sa ke rumah sekarang.


Setibanya Vlo di rumah, pertanyaan bertubi-tubi di layangkan dengan ekspresi gusar campur sedih dari Arinda.


"Sa dapat pukul dari sa kakak ipar, Rin. Padahal sa tra tahu masalah apa-apa, langsung lampiaskan ke sa. Yah, begini sudah yang ko lihat sekarang." Bukan ini yang mau di dengar Arinda.


Tapi .. Penjelasan!


Ok. Fine! Gadis itu tahu sangat betul, satu sosok sahabat yang walau pun memberikan pundak juga telinga menerima keluhan keduanya, bakal tidak mau berbagi masalah mengenai keluarga.


Hanya butuh tempat di mana bisa Vlo temukan berbagai ekspresi sahabat-sahabatnya, sudah cukup buat melarikan luka tanpa harus bercerita.


Arg. Arinda sangat gemas sekali. Kenapa sih, tidak layangkan protes, hah?! Dengan cuma-cuma mendapati pukulan, yang bahkan Vlo tidak salah apa-apa!


Sial! Sangat emosi mengepung diri, hampir saja memuntahkan sumpah serapah tertuju ke kakak ipar sang sahabat yang tidak punya hati nurani sama sekali!


Mata bengkak dan luka memar di area wajah, kenapa tidak langsung seret kasus ini ke kantor polisi, hah?!


Duh, Arinda semakin jengkel.


Sudahlah. Saat ini terbangun dari lamunan masa lalu, yang sudah menggambarkan bahwa keluarga Vlo sangat ringan tangan, tapi kenapa dulu tidak berpikir sebelum bertindak?


Hah. Kepalanya semakin mumet, ingin segera istirahat.


Samar, memoar yang bermain mengenai jangan campur tangan masalah Vlo, saat mendapati luka serta bengkak di wajah, ketika datang main ke rumah.


Yang terjadi, tidak mungkin bisa menata skenario dari kita sendiri, kan? Karena garis takdir sudah diberikan untuk mendapati pengalaman agar ke depannya jauh lebih hati-hati dalam bertindak, supaya tidak melukai sekitar kedua kali. []