
"Rasa tak terucap hanya berada dalam pangkuan kota imajinasi, berikan bahagia walau tahu itu tak nyata. Karena AVN terasa berbeda di pelupuk mata."
🤍🤍🤍
Sebuah rasa yang tak terucap seperti biasa terlantang kala berkumpul lengkap, biarkan Arinda bersitatap dengan deret penuh bahagia walau tahu batas imaji tak benar-benar temukan tawa semasa sekolah.
Cukup .. Menghibur hati sedang sepi di tambah tahu cita tak menentu, kapan berakhir tak lagi potret jilatan merah sangat angkuh di KRSM.
Ada kah cerita yang lebih menyenangkan, di banding duduk aromakan sifat asing dalam ruang AVN?
Ok. Fine kedatangan Vlo bukan sekedar senang campur haru melainkan sedikit berbeda. Sangat berhati-hati dalam berbicara.
Tahu, Arinda salah dalam bertindak, seharusnya melaporkan tindakan kurang ajar mantan kekasih di polisi bukan keluarganya.
Please .. Hanya membutuhkan mereka, pantas kah melarikan bulir-bulir itu dalam pangkuan puisi, tak pernah berhenti tercipta diri?
Rin..jangan terlalu asik sama destinasi ini, kasihan..kesehatan mentalmu harus di jaga juga, ingat, ada prioritas harus di kejar sampai tuntas.
"Eh?" Mendadak berhenti menulis.
Meringis sendiri. Kenapa rasa tak terucap ini tenggelam saja dalam hati, hah?! Sudah seharusnya bercerita leluasa dengan Vlo. Tapi tahu hanya datang ke AVN sebagai pelengkap saja, bukan sifat lama ikut kembali juga.
Cukup menyesakkan dada. Sungguh.
Apalagi tahu Nazira sibuk di sana bercampur masih ada rasa cemburu persoalan kalimat cantik terus di tanam dalam pikirannya, semakin mempersempit Arinda bercerita.
Harus kah tumbuh cemburu?
Saat tahu batas teman saja
Akan tetapi tetap keras
Masih berada dalam egoisme.
Usai menciptkan puisi itu, ada retak dalam dada, sangat.
Belakang ini juga sudah tidak ada kabar dengan kakak kelasnya itu, sekedar pantau status saja satu sama lain.
Agak .. Kesepian juga yak, kenapa semua perlahan-lahan pergi tanpa alasan sih, hah?! Arinda salah apa dengan mereka?!
Harus kah menghilang tanpa sebab, hanya karena hal unfaedah terpelihara Nazira saat ini?
Kalau cowok karateka itu tidak ada kabar karena ngambek, Arinda mau pergi ngampus sendiri dulu.
"Apa sih?! Harus yak ngampus sama-sama trus?" Ketus Arinda tiba-tiba teringat kenapa cowok itu hilang.
Capek batin juga, harus perulangan bayarkan bensin. Kenapa tidak ada kadar kepekaannya sama sekali, sebagai cowok jangan membiarkan orang yang disukai keluar duit sepersen pun.
Apa hanya mau porotin dengan modal muka doang, hah?!
🌏🌏🌏
Masih sama. Tidak ada yang berubah atau kedatangan mereka tetiba dalam chatroom Arinda.
Ternyata rasa yang tak terucap menjadikan pribadi jauh lebih mandiri kah? Hoh, dia tidak bisa semudah mereka berdua dalam mengimbangi saat dapat masalah.
Duduk bersemuka kalbu, membisik rindu juga ingin kebersamaan terputar seperti dulu hanya berada di kota imajinasi, beri transit sangat asik tanpa harus tersakiti.
Fine. Tidak nyata batas berikan dahaga sesaat, bukan depan mata memberikan kalimat motivasi seperti biasa tersapa oleh daun telinga Arinda dari terkasih.
Memantau facebook Vlo, hanya rutinitas share informasi selebihnya tidak ada sama sekali.
Sedangkan sahabat padang? Datar tak lagi ramah sejak tahu Arinda dekat dengan kakak kelasnya.
Sangat bosan. Tahu tidak ada dosen ngajar dalam kelas, di tambah hujan lebat sangat di benci gadis itu.
Selalu diingatkan sama dua sahabat berasa orang baru di AVN.
Ada rasa yang ingin di suarakan ke mereka berdua, mengenai pongah tahu bakal turun KKN, tidak termasuk nafsi karena tahu sendiri banyak matkul eror di semester bawah.
Meringis.
"Ini, ini yang kam bilang sa bisa, hah?!" Desis Arinda, sangat emosi sendiri dalam kelas.
Ok. Kalau sesak menyeruak bisa dengan kapan saja bermain di deret diksi penuh manis, tahu bahwa tak realita untuk memeluk luka.
Sangat terkulai sendiri.
Ke mana mereka yang kalau susah saat matkul, akan di bantu? Pergi bermain dengan egoisme masing-masing.
Kedatangan Vlo berharap tinggi untuk bisa bercerita leluasa seperti dulu, mengenai sikap semena-mena Navya juga teman kepercayaan jauh lebih berada pada cerita hoax.
Arinda sendiri.
Memendam semua rasa yang tak terucap di balik deret puisi, yang takkan pernah sampai pendarnya di Nazira, sedikit paham mengenai sajak di produksi nafsi.
"Vey..bukan ini yang sa mau dari Nazira, tapi..persahabatan. Ko tahu toh, kalau dari kecil sa temanan sama cowok semua?!" Greget Arinda berbicara dalam batin.
Rin..sa tahu Nai cemburu karna ko cantik, bukan hanya paras tapi hati. Jan terlalu di bawah emosi eh? Nazira tetap sahabatnya kita kok.
Mendadak membeku. Kalimat itu datang dalam benak, sangat mengalun lembut.
Apakah ini dari makna rasa yang tak terucap lewat lisan, bisa transit bersimfoni di ruang pikir?
Dan, kalau memang cantik luar dalam, seringkali di lantangkan Vlo semasa sekolah, kenapa teman kuliah pada menjaga jarak bercampur sorot-sorot intimidasi dalam kelas?
Ah. Lagi, sangat membutuhkan dekapan sahabat di sisi, membuang semua pikiran jelek dalam kepala saat ini mengepung-ngepung penuh keki. []