
"Setelah gagal mendapati prestasi dari lembar acc penerbit mayor, Arinda berkarya for Harris J."
🤍🤍🤍
Memoar kejar Harris J lewat novel ..
Setelah mendapati gagal berulang kali, Arinda menginginkan dalam menantangi diri dalam mengejar satu asa, bersua dengan Harris J lewat novel.
Karena belum melihat ada salah satu fans yang berkarya selain hal-hal unfaedah.
Benar. Semoga saja bisa mendapati prestasi lewat jadikan Harris J sahabat dengan novel.
Satu hal, penghapal quran menjadikan kagum terus terproduksi dalam batin.
Niat baik tersalurkan lewat nada mengalun manis penuh makna dalam.
Terlebih, seringkali memutar lagu itu, tidak bosan sama sekali.
Bahkan .. Sempat mendapati penolakan tegas dari ibunda, tahu ananda berkarya tertuju pada sosok sulit di gapai dengan mudah.
Kan, belum di coba, mana tahu dapat rejeki begitu kah? Melihat sosok bule yang ramah dengan fans, tidak menutupi kemungkinan kalau di mudahkan prosesnya untuk sampaikan ke dekapan Harris J.
Semoga.
Setelah menentukan alur cerita tersebut, sedikit perlu referensi dari JJS, scroll-scroll akun instagram menyimpan beberapa foto serta screenshoot dalam HP.
Awal mula kisah itu hadir ketika semasa putih abu-abu dengar Salam Alaikum kelas tiga smk, sudah pulang sekolah mendengarkan lagu itu di putar salah satu rumah dekat sekolah.
Sampai sekarang menciptkan penasaran untuk mengejar sosok bule terbilang ramah.
Beberapa bulan berlalu ..
Sudah memiliki bentuk buku, dua version, inggris dan indonesia. Bagaimana ekspresi gadis itu? Sangat-amat senang, tidak sabar dalam kirim ke tangan Harris J.
Juga telah memiliki nomor serta alamat kantor DNA Production. Tinggal kirim saja.
Sempat kok, sebelum rilis jadi dua version, bersua dengan salah satu kakak tingkat cowok karateka, di lasehan, kedai kopi.
"Kalau bukan karna Harris J, mana mau kakak bantu transletkan." Kalimat yang sangat melekat manis di kepala.
Sayang .. Berakhir mandiri dalam kejar deadline sebelum Harris J tiba di Jakarta bulan November.
Hah. Lagi, mendapati keterlukaan dalam imaji lewat pintu asa dari manager, menyajikkan kebohongan.
Batas sampai saja. Sampai detik ini berteman nestapa semata.
Hanya di kasih sebuah vidio ucapan terima kasih saja dari bule london, sama sekali tidak ada novelnya di bawa ke rumahnya. Lupa di berikan, posisi konser tour di luar Jakarta.
Arinda terbangun dari memori paling menyayat perasaan imajinasi.
Buku for Harris J sekedar menjadi penghias saja di lemari buku.
"Makanya siapa suruh kejar Harris J, sudah tahu susah, masih keras kepala bikin. Kasih habis uang saja."
Tetiba saja ada kalimat muncul dalam benak, sangat gusar sekali.
Ok. Fine, hanya kasih habis uang untuk keperluan penerbitan mereka lewat alternatif, indie. Sama halnya seperti karya perdana terbilang absurt, makanya sering kali kena ejekan dari mereka, kan?
Pun, menyamakan perjuangan kejar Harris J sama, gagal?
Gagal ada untuk bisa berjuang ulang dalam mengejar sukses. Sebab tidak ada kesempurnaan atau instan mendapati posisi kelayakan sebagai orang ternama.
Seperti J.K Rowling yang terkenal karyanya di mana-mana, nyaris frustasi dan bunuh diri karena tidak bisa hasilkan cuan tersebut lewat karya Harry Potter. Tetapi, dengan keyakinan dan kebetulan ada salah satu penerbit kecil tertarik dengan isi cerita di mana penerbit lain menganggap cerita itu tidak masuk akal, bisa jadi fiksi fantasi terlaris hingga di filmkan.
Tidak ada yang impossibel selagi yakin dengan mimpi sendiri.
Tapi ..
"Payah eh?" Getir Arinda dalam diri sendiri.
Selalu saja kalimat payah atau tidak berguna dan layak mendapati prestasi.
Masih melekat dalam pintu asa yang di sengajakan oleh manager indonesia, lupa menyodorkan sebuah karya di nilai murah semata.
Kalau saja sudah sampai di tangan Harris J, bagaimana pendapatnya? Ngundang atau buatkan workshop kah?
"Haha..mustahil kali." Tawa Arinda sangat hambar.
Sudah belajar dari penulis terkenal dari J.K Rowling masih saja pesimis, karya itu tidak bisa di apresiasi sama Harris J.
Masih belum saatnya untuk mendapati pintu sua. Dalam perjalanan, makanya semesta memberikan kesengajaan memperlihatkan kepongahan manager indonesia tidak atau lupa sodorkan ke bule rambut mie tersebut.
Andai ada Vlo saat terjatuh dari ketakpastian manager Harris J, kemungkinan bisa berbagi atau sekedar rehatkan luka-luka tercetak sangat nyata, ternyata hanya delusi saja, samar-samar kedatangannya dalam dekapan.
Apalagi sempat bertengkar hebat sama Nazira, seandainya waktu itu bisa mengumpulkan banyak usaha untuk bicara, kemungkinan saat ini bakal banyak rajut senang bukan keterlukaan.
Hah. Memang kebiasaan, terlalu asik dengan pemikiran sendiri, berpendapat juga sendiri.
Nah, kalau sudah berbaikan, kembali lagi, tidak mau menyinggungkan persoalan kenapa bisa baku diam dan bertengkar.
Karena satu yang mereka khawatirkan takut jaga jarak lagi setelah ada sebuah penjelasan walau pun itu sangat baik untuk ikatan persahabatan mereka.
Bukan kah, pertemanan yang dewasa di dasari dengan penjelasan? Sama mendiskusikan lewat kepala dingin, kalau ada yang mulai tidak enak di eksprsi salah satu harus mencairkan suasana.
Agar .. Kedepannya tidak lagi mengurung egoisme sendiri.
Ah. Benar juga, kalau ada Nazira, kemungkinan lebih cocok dan nyambung berbicara soal karya.
"Sudahlah, orang payah kek sa gini, mau di banggakan dari mana coba yak?" Bisik Arinda getir.
Oh iya juga, sempat terbitkan kumpulkan puisi hanya sekedar senang-senang saja bukan buat untuk di perjual belikan.
Tahu, kok, biar sekali pun sudah memiliki Vlo dalam AVN, sama saja untuk tidak perlu membicarakan mengenai perjuangan mengejar Harris J sebagai sahabat lewat novel.
Karena sempat sahabat pendengar setia melantangkan protes sangat tidak setuju dengan hobi nulis melainkan mengharuskan fokus kejar toga.
Pun, apakah pantas menceritakan grup menulis yang sudah setahun berjalan itu di buat oleh Arinda ke sahabat sendiri?
Menggeleng. Jangan, buat apa mendatangkan sebuah kalimat pedis bukan positif? Jauh lebih baik merajut mimpi seorang diri.
Bahkan .. Nazira sekali pun yang selalu mendukung apapun keputusan mimpi serta potensi tersembunyi, tetap ada iri tersemat dalam hati.
Hanya ..
"Ika, sa tra pantas iyo kejar Harris J sebagai sahabat lewat novelku?" Teman kampusnya menjadi tempat bercerita seputar mimpi.
Walau tahu sisi lain masih ada keraguan dalam berbagi cerita biar sekali pun itu tentang mimpi, tetap gusar.
"Kata siapa? Ko berhak buat bahagia, apalagi jarang loh punya bakat seperti ko, nulis novel, tra seperti fans lainnya yang hanya," ada beberapa jeda, "koleksi foto atau hal semacamnya lah."
Oh benar kah?
Kok, hanya selalu dapatkan keterlukaan juga tangis berkepanjangan yang cukup menjadikan nafsi produktif merangkul fans Harris J menulis nyaris sakit malaria tropika plus tigas.
Yang di balas dengan tak tahu diri, mereka copas ide tersebut.
"Makanya, Rin, sa sudah pernah bilang kalau mereka itu masih labil." Sempat Nazira mengomentari.
"Yah, kan, sa mau buat mereka berkarya, bukan pengoleksi fanatik lagi." Protesnya.
"Kan, ko tidak bisa pantau mereka bagaimana di sana, hanya modal HP saja."
Benar juga sih. Sangat ada benarnya.
Terlalu baik kah?
Hingga .. Berasa karya juga kreatifitas lewat novel bukan lagi hal indah di perbincangkan dalam imaji.
Seperti destinasi diksi tersebut sudah tutup deretnya tanpa menerima undangan asa tak bermain-main dengan waktu, apa karena sudah lelah cipta pintu sua lewat karya tetapi tak mendapati balasan itu kah yang tak lagi di sambut simfoni oleh destinasi imaji? []