
"Manis. Tapi hanya sekedar kenangan saja dalam bait-bait kepala setelah itu bertemu asing, sepi."
🤍🤍🤍
Kalau biasanya jemput di kelas, pas mau pulang, sekarang balik sendiri dengan segudang sesal-sesal dalam kepala. Sudah jauh lebih pentingkan tindakan itu di banding berpikir dulu.
Itulah sebabnya buat Vlo berubah asing. Walau pun sudah kembali, berasa tidak bisa leluasa culik langsung ke rumah atau nelpon. Seperti .. Kaku terus tercipta tiap kali ada inisiatif tekan tombol panggilan di benda pipih.
Biarkan sejenak .. Arinda mengembalikan memoar bonjeng bertiga,
"Rin, besok jemput sa di rumah jam setengah sembilan eh?" Kata Vlo.
"Haha tenang sa bakal jemput, ingat jan lelet pakai bajunya." Kesal Arinda.
"Oh iyo, kalau Nai duluan datang di sekolah, kalian berdua bisa datang jemput kok." Usul Vlo tetiba.
"Heh, maksudnya sa dan Nai datang ke rumahmu? Kita bonjeng tiga?" Arinda bingung.
Nazira yang sudah nyalakan mesin motor, langsung matikan lalu tatapan terkejut tertuju ke Vlo, "coba sekali lagi sa dengar? Emang mau dapat tangkap besok sama polisi?!" Kesal Nazira.
"Haha..kan, nanti bisa lewat jalan baru, di situ loh..dekat lapangan." Justru di balas santai sama Vlo.
Ah, benar. Lapangan yang pernah semasa kelas satu smk jurusan Arinda pakai olahraga, sangat berkesan manis. Karena sempat satu tim dengan mantan kekasih.
Tidak tahu kenapa dengar lapangan saja, sudah buat Arinda semangat bukan main.
"Boleh..boleh! Nai, kalau ko datang duluan di sekolah, kita langsung jemput Vlo, yah..yah?! Serah deh, mau pakai motorku atau motormu." Pintah gadis itu.
Nazira hanya membuang napas kesal lalu menganggukan kepala, setuju dengan usulan kedua sahabatnya itu.
Esok hari ..
"Rin, hujan nih? Tetap mau jemput dia berdua?" Cemas Nazira.
Mengangguk mantap.
"Ayo sudah, sabar..anak itu su selesai pakai baju kah belum?" Arinda mengurungkan niat langkah kakinya ke motor.
"Hm. Katanya tadi sudah selesai setrika baju sekolahnya sih." Nazira menginfokan.
"Ayo..keburu hujan deras nanti."
"Yakin?! Bonjeng bertiga, atau siapa nih yang naik taksi?" Bingung perempuan itu.
"Sudah, kita nanti pikirkan itu pas sampai di rumahnya Vlo." Arinda malas ambil pusing.
Gerimis dalam perjalanan ke rumah sahabat, apalagi jalan ke sana penuh dengan becek, belum diaspal.
Agak sedikit kesusahan memarkirkan motor.
"Vey..sudah siap-siap kah belum?!" Teriak Arinda, seperti biasa di lakukan.
Yang akan di sambut tawa kecil dari orangtua Vlo.
Oh yah, sebelum masuk ke dalam rumah, harus drama dulu dengan peliharaan depan pintu. Syukur ada kakak iparnya ngusir anjing itu.
"Tunggu bentar eh, sedikit lagi sa selesai nih." Sambil sibuk bolak-balik gantung baju rumah dalam lemari orangtuanya.
Mereka menunggu dalam kamar Vlo sembari ngobrol ringan diiringi dengan tawa.
Ada rasa cemas di takutkan gadis itu, kehilangan membersamai nafsi.
Setelah sudah selesai mereka keluar rumah, tidak lupa pamit dengan orangtua sahabatnya.
"Sudah..sini sa yang bawa, Vlo..ko duduk di tengah sudah." Usul Arinda, karena mereka berdua takut bawa.
Bagaimana sudah itu mereka bonjeng bertiga dengan dua orang pakai rok panjang dan satu rok pendek.
Gegayaan segala duduk cewek, yang bikin Nazira agak kesusahan duduk paling belakang.
"Rin..awas ada genangan air di depan!" Seru Vlo.
"Ah, aman. Kam pegangan yang erat eh?!" Arinda menimpali dengan santai.
"Eh, setahuku di situ ada anjing." Kata Nazira.
"Ah, masa? Kok waktu sa lewat sama teman sekelasku trada anjing tuh." Arinda penasaran.
Setelah lewati genangan air pertama, belokan ada genangan air serta lubang pasir.
"Awas..hati-hati bawa motornya, Rin, nanti kita jatuh lagi." Kata Nazira, mengingatkan.
Justru di anggap enteng oleh gadis itu, nyaris saja kedua perempuan itu nyemplung di genangan air bekas hujan.
Ok. Masih gerimis tadi di rumah Vlo, hujan deras.
"Haha.." Justru di balas tawa dong oleh Arinda.
Sungguh .. Indah sekali moment itu, Arinda tersenyum miring.
"Ah, batagor. Singgah dulu deh." Kata gadis itu sendiri, lalu membelokkan motornya depan mega mall waena.
Menunggu pesanan di buatkan, masih terasa memoar bonjeng bertiga dengan sahabat. Kapan akan terulang lagi, untuk kali ini saat kuliah? Membedakan adalah kampus tidak sama.
Bagaimana mau mengembalikan moment manis tersebut, coba, kalau masih berteman sepi?
🌏🌏🌏
Adakah ruang untuk ngajak kakak kelas sempat bersua dalam bermain bulu tangkis di gunung merah?
Kalau saja Julioh mau menuruti keinginan gsdis itu, kemungkinan akan susun-menyusun bahagia lewat funstations. Capit boneka begitu kah?
Hilang kabar juga.
Noge..
"Eh?" Mendadak salah tingkah sendiri dong.
Seperti memiliki indra keenam, tahu nafsi lagi membutuhkannya, cowok karateka datang hanya SMS satu kalimat cukup buat efek itu luar biasa dalam dada Arinda. Serius dah.
Masih lamat-lamat memerhatikan SMS tersebut. Bingung campur kalut, balasan apa yang akan di kasih?
Mau marah pun bukan siapa-siapa selain teman biasa.
Yah?
Hanya kalimat singkat tapi cukup buat Julioh emosi loh, ehe.
Nah, tuh kan, lama sekali dapat balasan selanjutnya.
Menggelitik perut, tertawa, harus SMS apa selain yah itu? Kan, mereka tidak punya ikatan apa-apa. Lah, mendadak ngambek lagi, kah?
Knp noge?
Memberanikan diri untuk tanya, karena penasaran kok bisa ngambek tiba-tiba?
*Ah, tdk, bs*ok jalan kah?
Please deh, Julioh ini bikin olahraga jantung, rima-rima itu tak nentu berdetak, sangat nervous setelah lama menghilang, datang tiba-tiba buat ngajak jalan?
Bentar, yang berarti bakal bayar lagi dong? Uh, mendadak lesu sendiri.
Kenapa selalu tidak beruntung dalam percintaan sih? Kalau Nazira cemburu dan iri atas dasar paras, salah sekali, seharusnya menganalisis lebih jauh lagi, kalau cowok yang suka hanya ngincar dari gadis itu adalah uang bukan hati.
Yang seharunya iri itu dia, bukan sebaliknya. Sudah memiliki porsi otak sama dengan anak pintar di luar sana. Bahkan sempat dengar kabar semasa sekolah ikut lomba olimpiade.
Mendengar kata olimpiade saja, cukup mensayat-sayat otak Arinda yang tak bisa sebanding dengan mereka sudah berhasil kantongi prestasi ke rumah.
Lah, nafsi? Hanya kesenangan saja menciptakan karya tanpa hasil apa-apa.
"Ko berhenti menulis sudah, Rin. Tra menghasilkan tapi bikin habis uang buat beli buku saja." Pernah Nazira mengomelin.
Bahkan lebih parahnya lagi sampai kasih tahu ke orangtuanya,
"Ma, masa toh, Arinda sudah dapat marah sama nenek-nya karna beli-beli novel, tapi tuh anak masih saja ngotot beli. Apa untungnya coba, ma?" Keluh Nazira kala itu.
"Jih, bodoh sekali ko nih. Sudah bagus itu Arinda beli-beli novel, buat jadikan referensi tulisannya." Justru menganga lebar, terkejut dengan jawaban mamanya.
"Tapi, ma, Arinda sampai sekarang hanya tahu kasih habis uang buat beli-beli novel trada untungnya tuh. Coba kek beli buku pelajaran." Dan, Nazira masih keuhkeuh dengan pendapatnya.
"Bagus itu, Nurin. Arinda sudah punya pikiran ke depannya untuk hobinya sebagai novelis." Lagi di berikan jawaban di luar ekspektasi.
Apakah ini yang di namakan ingin menjatuhkan sahabat sendiri depan orangtua?
Bagaimana bisa Arinda tahu kabar itu? Yah..dengan blak-blakan perempuan hijebers tersebut cetus persoalan hobi tidak datangkan hasil itu. Padahal, kan, waktu penerimaan hadiah saat O2SN di sekolah, Nazira sendiri mendukung potensi tersembunyi sahabatnya.
Apa karena sudah booming di kalangan sekolah? Yang menimbulkan iri lagi, setelah Julioh dekat dengan sahabatnya itu?
Yang ada dalam hati gadis itu ketika di sampaikan, menumpuk-numpuk kecewa. Seharusnya ada cerita tersimpan tanpa harus membeberkan ke orangtua.
Ok. Fine, Arinda sadar sudah mendekatkan denyut surganya ke dekapan obrolan, tapi, tidak dengan cara gini juga kan?!
Masih belum terlupakan dalam benak adalah ..
"Trus pas sa kasih tahu mamaku tentang ko dapat marah sama nenek-mu karna beli novel trus, eh, sa mama malah bilang sa bodoh lagi." Cetusan bagian sa mama malah bilang sa bodoh lagi.
Seolah-olah Arinda sangat patah sekali di mata sahabat sendiri, yang jauh lebih dulu dukung hobi itu loh? Tapi, sekarang berbalik ingin menjatuhkan.
Ayolah, harus ada cerita tidak perlu terbahas dengan orangtua, cukup bertiga saja, AVN.
Sampai detik ini, kalimat itu berbekas luka dalam ingatan Arinda. []