My AVN

My AVN
Cemburu?



"Kenapa lebih memprioitaskan egoisme di banding ikatan persahabatan? Apakah cemburu?"


🤍🤍🤍


Julioh ngajak kampus, tentu tidak ada penolakan. Karena hemat bensin di tambah mengurangi lelah bawah kendaraan sendiri.


Dan, gadis itu kasih tahu jemput sekitar jam delapan pagi, syukur bangun tadi setengah tujuh, tidak buat dia terburu-buru.


Ada SMS masuk, buat senyum tipis di wajah Arinda.


Okay, tinggal tunggu jemputan saja.


"Sudah sholat subuh?" Sapaan pertama dari Julioh.


Oh yah, mereka sering ngampus bareng terkadang gadis itu menolak hanya untuk ingin mengendarai sendiri.


Pun, "Rin, nanti kalau sa bensin habis, kita patungan eh?" Sempat cowok ini inisiatif.


Apakah ngirit bensin? Ups, salah, melainkan irit duit dengan cara patungan.


Terkesan .. Sedikit matre yak!


"Oh, ok-ok." Lalu Arinda bakal membuang napas gusar, panjang campur kesal bukan main.


"Masa tuh, cowok minta patungan uang bensin sama cewek? Dia tuh seharusnya bisa menjaga kehormatannya sebagai cowok depan cewek yang di sukai." Sempat kok ibunda protes, saat ananda bercerita mengenai hal kecil tersebut.


"Nanti pulang jam berapa?" Kata Julioh.


Efek angin kencang, kurang dengar apa yang tadi di lontarkan.


"Hah?" Teriak Arinda. Lalu di ulangi lagi pertanyaan awal.


Tapi, bedanya pertanyaan di berikan saat sudah sampai depan parkiran kampus.


Oh, mengangguk paham, "jam setengah dua belas." Lalu menimpali santai.


"Ok, nanti sa jemput."


Julioh pun meninggalkan gadis itu dan menuju kampus yang berbeda dengannya.


Suasana kelas berbeda dengan semester awal, kebanyakan diam.


Nonton film sembari nunggu dosen masuk, cukup membosankan juga yak?


"Dosen tra masuk, absen saja." Tutur ketua kelas.


Hah. Menghelakan napas gusar, saat tidak bawa motor begini tujuan ke mana, kalau hanya jalan sekitar kampus saja.


Hanya memerhatikan kontak Vlo, penuh harap bisa menghubungi sisi lain nomer itu tidak aktif bahkan nihil di balas.


Masih setengah sebelas siang, harus ke mana lagi, sambil nunggu jam dua belas, jemputan? Setelah merasa area kepala cenat-cenut, hampir saja limbung.


Ah, begini sudah kalau banyak pikiran, berpengaruh pada kepala. Sakit sekali, mata terasa kabur-kabur.


"Nih..kenapa belum pulang, Rin?" Ika menyodorkan susu kesukaan gadis itu.


"Eh? Ko sendiri kenapa masih di kampus?" Justru Arinda belum terima melainkan memerhatikan susu itu di tangan temannya.


"Tuh..masih mau di kampus." Nunjuk pakai dagu, Cristin lagi duduk di pojok kelas, telponan.


Tahu nafsi sedang pucat langsung membelikan susu, namun kenapa baru sekarang berikan perhatian itu, setelah semua menjadi runyam?


Sebenarnya motif mereka memberi jarak aksa pada Arinda itu apa sih? Suka sekali tarik ulur, seperti tidak memiliki perasaan untuk sakit hati di berikan sikap bengis.


Setelah menaruh susu itu di meja Arinda, buka obrolan pertama seputar kuliah saja.


"Jemputanku datang! Sa duluan eh? Makasih minumannya Ika." Seru Arinda, pamit.


Berjalan riang yang di balas heran kenapa ko girang sekali? Begitulah ekspresi tanya dari Julioh sangat bisa di tangkap dari gadis itu.


"Ko lama tunggu kah?" Tanya Julioh.


Kalimat itu sangat menyayat perasaan nafsi saat ini, tapi sedikit terobati dengan kedatangan Ika menyodorkan susu kesukaannya yang di temani obrolan walau seputar kuliah, it's okay.


"Tidak juga sih," gadis ini membohongi.


Malas buat anak orang khawatir tadi sempat pusing yang penting langsung pulang dan bertemu kasur.


"Sudah makan?" Kata Julioh.


"Belum."


Please .. Berharap ada diksi manis, gantian traktir juga nafsi tak mau kasih tahu sedang tidak enak badan.


Nihil. Tidak ada sama sekali ngajak makan bareng.


Hah. Jadi, nahan perasaan sampai di sentani? Dengan keadaan kurang bagus, it's okay asal uang bisa di pakai buat nabung. Bukan di pakai belikan orang lain makanan, apalagi ini cowok.


"Tadi belajar apa saja, Rin?" Kata Julioh, basa basi.


"Tra belajar. Cuma absen saja." Sahut Arinda sangat bergetir.


"Wih, kenapa tra bilang ke sa? Biar tadi tuh sa pulang tempo, sori eh? Tadi sa urus beasiswaku dulu baru jemput ko." Sesal Julioh.


Oh, beasiswa kah? Pikir Arinda berkecamuk insecure.


Tapi sisi lain tertawa kecil sebagai balasannya, terlalu khawatir buat dia nunggu lama kah?


"Tra masalah, beasiswamu lebih penting daripada jemput sa. Tra usah rasa bersalah disitu sudah!" Berusaha cairkan suasana, karena beberapa detik yang lalu hanya suasana canggung.


"Yasudah, kalau begitu kita pulang trus ko makan eh?"


Sudahlah. Jangan berharap, nanti kalau dia menyuarakan ayo makan di mana nih? Pasti uangnya keluar.


🌏🌏🌏


Dari tadi menelpon-nelpon, tidak juga di respon oleh sahabat. Padahal seminggu lalu masih ngobrol asik, sekarang kok susah di hubungi?


Why?


Apa karena obrolan mengenai main bultang? Oh, kenapa lebih memprioitaskan egoisme di banding ikatan persahabatan? Apakah cemburu?


Ayolah, Arinda hanya ingin bicara lepaskan beban pikir dalam kepala.


Please, soal cemburu karena main bultang dengan Julioh di gunmer kala itu, kenapa harus tidak angkat teleponnya sih? Marah?


Atau karena foto anime romance dengan caption sweet itu kah yang micu kecemburuan?


Hah. Buru-buru menghapus postingan itu di instagram, lanjut telpon, nihil, sama sekali tidak di respon.


Gusar. Putus asa.


Daripada nanti lupa apa yang bakal disampaikan ke Nazira ..


Nai..sa mau curhat nih, tentang Julioh. Masa toh kampus--


Arg. Menggigit bibir bawah, menghapus semua SMS itu malas kasih tahu kalau sahabat padang saja cuek.


Jadi keingat ..


"Sayang, ada uang dua puluh ribumu?"


"Buat?" Arinda bingung.


"Beli bensin, uangku tidak ada jadi."


Juh, modal pacaran dengan sifat matre?! Berhenti sudah kalau nyiksa dompet perempuan.


Yang bahkan .. "Kenapa sih, Rin, ko harus turuti semuanya? Lebih baik ko putus saja." Nazira sempat mengingatkan, sangat tegas.


"Lagian, ko jangan terlalu baik sama orang lain, Rin. Kalau memang dia benar sauang, pasti tra bakal minta ko uang buat isi bensin. Yah..sa tahu bensin tra seberapa, tapi di kali setiap kalian ketemuan, su ratusan ribu kapa?" Vlo juga sempat menimpali sangat gemas.


Melihat Julioh chat, mencak sangat emosi. Selalu. Kalau ngampus bareng, jika bukan dia yang bayarkan paling tidak patungan.


Hah. Semakin pusing.


Jgn bgdang yah, Rin. Good night.


"Apaan sih?! Orang tra balas chatmu juga." Ketus Arinda.


Bagaimana tidak jengkel, kalau kemarin saja sangat kurang peka. Coba kah nanya makan di mana nih? Biar sa temani, tenang pakai uangku. Bukan justru hanya suruh makan setelah pulang.


Apa Julioh tahu, kalau sesampai di rumah kondisi badan gadis itu semakin melemah?!


Bukan kesan menginginkan traktiran, melainkan uang jajannya sedang berusaha di tabung buat beli keperluan.


Yang di cari-cari nelpon?


"Rin, ko lagi?"


"Santai depan laptop, kenapa?" Balas Arinda dengan cuek.


"Besok sa liburan ke jayapura, datang eh ke rumah? Nanti kita jalan-jalan ke MJ, sip?!" Seru Nazira.


Baru mau nanya jam berapa datang, eh duluan di matikan.


Ko tra mau repotkan sa toh? Arinda berpikir, sambil tertawa geli.


Merutuki overthing diri sendiri, sudah berpikir yang jelek ke sahabat, ternyata lagi packing barang buat liburan besok ke jayapura. Senang.


Hanya saja kekurangan satu sahabatnya, Vlo. Yang biasa dengar kabar sahabat padang mau datang, paling rusuh.


Sekarang kosong. Hanya berdua saja jalan-jalannya menghabiskan waktu penat sekitar kampus.


"Nih, oleh-oleh buat ko. Kalau yang ini kasih ke mama-mu eh?" Nazira nunjuk kripik pedas khas padang.


Yey! Benar, mereka sudah bisa bersua tanpa terjebak oleh jarak atau benda pipih.


Bisa leluasa bercerita.


"Enak kah ini?" Arinda bertanya, setelah ambil sendiri tadi dalam kardus.


"Enaklah! Masa tra enak, semua makanan tuh enak!" Ketus perempuan itu.


Hanya di balas kekehan kecil.


Lah, "kenapa? Tumben cepat pulang. Biasanua juga sampai malam di sini." Nazira di buat melongo, karena sahabatnya sudah siap-siap mau pulang.


Di balas riang, "soalnya ada Julioh di depan. Sa tadi kampus sama-sama dia." Terus terang Arinda.


Wajah yang ceria mendadak cemberut berasal dari Nazira.


"Kalau begitu, sa balik dulu eh? Besok atau sebentar malam lagi kah, sa ke sini, sip?! Daa..jan kangen!" Arinda tertawa canda, sambil mencubit pipi sahabatnya.


"Tunggu dulu, bah! Sa antar ke depan sudah." Sambil menyambar jilbab di belakang pintu kamar.


Melihat dengan jelas, kalau Nazira menyimpan sorot penuh cemburu, hanya ada senyum getir terus tercipta saat lihat sekilas canda gurau mereka berdua sebelum pulang.


"Nai..sa pulang dulu eh. Daa..nanti sa balik lagi, kalau tra ketiduran." Pamit. Dengan intonasi cengengesan.


Nazira mengulum-ngulum senyum datar lalu lambaikan dengan kaku. []