
"Jejak memoar berkunjung saat sunyi menemani nafsi, sangat sesak, rindu berkelebat."
🤍🤍🤍
Lagi, rasa bersalah terus menghantui. Apakah tak keberatan saat mengulang lagi mengenai tindakan di sahabat?
Sebab .. Sampai sekarang belum kembali atau ads kepastian setelah kasih karya.
Apakah sudah tidak ada cinta dalam hati Vlo?
"Menurutmu, sa salah iyo, kalau lapor ke orang tuanya?" Kata Arinda dengan gemas.
"Tra salah sih. Kan, sa sudah pernah bilang, kalau keluarga Vlo keras semua."
Harus kah perulangan cerita hal serupa? Bosan. Sampai kapan begini trus? Terjeruji oleh kesalahan diri.
Tahu, "karena, sa masih penasaran. Kenapa Vlo lebih pentingkan Ruly daripada sa?" Dalam mencari lebih dalam, bakal melukai hati Arinda sendiri.
Kan, jelas kalau Vlo keras kepala.
Apa lagi yang harus di cari, di balik cerita serupa?
"Sudah, kak! Sudah, cukup! Vlo, sa sayang sama ko, kenapa ko buat kelakuan seperti ini?!" Teriakan itu bercampur tangis milik sang adik sahabatnya.
Masih ingat, adiknya gemetar sambil memeluk erat perempuan itu yang sudah tidak berdaya.
Please. Untuk saat ini jangan muncul dulu dalam benak, tahu nafsi sangat fatal melakukan tindakan sebelum berpikir, yang memang sangat benar di ucapkan Vlo waktu itu.
Bergetir, "sa pikir setelah kasih buku itu, Vlo bakal cari atau datang ke sa rumah kah." Kata Arinda, lirih.
"Wih, ko novel sudah terbit kah, Rin?" Sengaja alihkan pembicaraan, agar luka itu tidak bermalam lagi di hati sahabat.
Obrolan seputar karya pun terkesan hangat tanpa sadar merehat sakit dari insiden tersebut.
Tak lupa ada cerita mengenai toxic pertemanan di bangku kuliah. Cukup mendengus jengkel berasal dari Nazira, selalu tak pernah berubah, Arinda sangat humble pun cepat percaya orang lain.
"Makanya, sa sudah bilang apa sama ko, kalau mereka semua tuh tra tulus terima ko." Ketus Nazira, tak ada ampun.
Sengaja berbicara sedikit ketus, supaya menyadarkan logika sahabatnya, kalau teman bukan hanya mereka melainkan masih banyak tapi harus lebih berwaspada juga sih.
Kalau ada Vlo, di pastikan dapat semprot kalimat lebih pedis dari ini. Sungguh, nggak bohong!
"Sa yakin kalau Vlo rindu kita. Hanya saja, terlalu gensi dalam ungkapin perasaannya." Kata Nazira.
Ucapan itu membangunkan nafsi dari lamunan beberapa detik lalu.
"Sa masih belum yakin yah, Nai. Sa sudah buat dia terluka parah." Desir-desir dalam batin Arinda.
"Jan bilang seperti itu, bah! Namanya sahabat itu wajar kok ada pertengkaran." Nazira menampik hal tersebut.
Tapi, sa tersiksa disini woi! Saat jemput ipk terbaik, justru trada Vlo rayakan sa bahagia. Teriak Arinda dalam batin, bersungut.
"Yang penting, ko pertahankan saja ipk-mu eh? Nanti semeseter dua jan malas-malas masuk." Kata Nazira.
Semangat sih, tapi ada yang kurang. Biasa kalau tahu dapat nilai bagus, Vlo orang tedepan teriak cakadidi.
🌏🌏🌏
SMS masuk, seperti biasa, minta ngampus bareng.
Hanya kepunyaan Ika, saat menjemput sepi atau kadang berasa susah kerja tugas, minta tolong sama teman kepercayaan.
Walau memiliki satu teman di kampus, tak mengelak bahwa ada ruas kosong terasa.
Sangat. Sesak, tahu lewat karya saja tidak bisa menggerakkan hati sahabatnya itu.
Sampai depan rumah Ika, belum ada tanda-tanda pakai sepatu. Beberapa panggilan serta SMS sama sekali tidak ada jawaban.
Berdecak. Kalau terlambat lima menit, bakal kena damprat sama dosen killer.
Lama. Sekitar sepuluh menit, "tunggu eh? Sa lagi masak jadi. Tadi sa di dapur trus HP sa lagi cas dekat TV." Kata Ika di seberang telepon.
Arinda pun turun dan kunci stank motor lalu masuk ke dalam rumah.
"Ko tunggu lama kah? Masuk dulu, sa masih masak, sedikit lagi selesai kok. Duduk dulu." Langsung di sambut serentetan pertanyaan.
"Ah, tidak juga kok."
Tidak duduk melainkan ngekor ke dapur, mau tahu masak apa saja di dalam.
"Masak apa? Aromanya enak sekali." Kata Arinda.
"Ini, sayur terong balado." Sambil ngaduk sayur tersebut.
Beberapa menit, "ayo sudah. Sori eh, sa lama. Pasti dosen sudah masuk nih." Bergegas pakai kaos kaki.
Cukup sepi, karena orangtuanya sudah pergi kerja dan adiknya pergi sekolah.
"Berdoa saja, semoga dosen datang jam karet. Atau..cuma absen saja." Kekeh gadis itu.
Berharap sih tidak masuk. Karena sudah lewat dari waktu yang di tentukan, takut kena hukuman.
Sampai depan mulut pintu E2, "dosen?" Kata Arinda, bingung.
"Belum datang." Timpal salah satu teman kampusnya.
Hoh. Bernapas dengan lega.
Rin, kalau di kampus itu trada namanya sahabat. Walau ko dapat teman yang dekat, belum menjamin namanya sahabat.
Kenapa. Mendadak kalimat dari Vlo muncul di benak? Apakah harus berhati-hati dengan teman kepercayaan ini?
Ah. Menggusar dalam batin, sangat kalut juga kurang pandai menilai sedang di tawari kebohongan atau tulus?
Kalimat terlantang dari Vlo saat itu sedang jalan sama-sama ketika selesai mata kuliah terakhir.
Setelah duduk di bangku.
"Sa kangen seseorang." Arinda berkicau, sangat berdesir, sakit sekali.
"Siapa?" Ika langsung menimpali dengan cepat.
"Ada. Orang yang jadi penyemangatku, trada kabar sampe sekarang." Getir Arinda.
Tidak. Jangan memberitahui dengan jelas sedang kurang baik-baik saja sama sahabat lama.
Bukan berarti menjajaki cita tanpa Vlo, harus mencari ruang selain AVN.
Benar kata Nazira, butuh waktu untuk lihat sahabatnya balik ke rumah.
Detak-detak waktu yang cukup panjang, tidak menutupi kemungkinan selalu gelisah untuk segera bersua dengan Vlo.
Ada banyak kisah ingin di bagikan, sangat.
Teman kepercayaan pun, tidak cukup untuk leluasa bercerita privasi. Harus berhati-hati, sebab sudah sekali di buat hilang respect oleh ratu dramatis dalam kelas. []