My AVN

My AVN
Berkesempatan Kontrak?!



"Arinda sangat beruntung, ketika realita merentangkan pongah juga kedua sahabat berubah, ada ruang memanggil penuh asa berbalut manis."


🤍🤍🤍


Bermusikalisasi serta vidio pendek mempromosikan karya-karya terbilang masih absurt di chanell youtube bernama Arinda Darissa.


Kreatifitas itu terbit saat semua tak lagi sama meninggalkan nafsi dengan sunyi.


Benar. AVN yang di harapkan kembali ramah hanya tinggal amarah meletup dalam dada, tahu tak semua lagi sama. Sangat asing di pelupuk mata.


Masih terekam jelas saat Julioh mengomentari saat nafsi sakit, well .. Cowok karateka itu datang menjenguk nafsi, bukan menceritakan hal-hal manis justru meringis terasa dalam hati Arinda.


Fine, "noge..ko punya novel nih banyak sekali kata-kata yang harus di perbaiki. Ada yang kurang nyambung juga pas sa baca bagian bab mana lagi tuh, lupa." Perkataan Julioh ada benarnya.


Apa benar sebagai calon novelis selalu mementinkan karya terbit tanpa menjadi kacamata editor terlebih dulu?


Harus ada perombakan kata, agar karya mudah di baca dan berkesan di hati pembaca. Bukan sekedar langsung menerbitkan tanpa revisi.


Walau pun tahu, ada editor penerbit yang akan ngebantu, tetap itu adalah karya kita sepenuhnya, karena kerja editor sekedar merapikan kata yang typo.


Hampa. Tak memiliki harapan saat berkarya cuma-cuma saja, tidak ada sama sekali cuan mengalir dalam dompet sebagai novelis abal-abalan.


"Bhuahaha wajarlah, karya jelek gini, mana ada editor penerbit mayor lirik?" Kata Adinda, tertawa sangat hambar.


Potensi tersembunyi sama saja seperti sulit mendapati posisi prestasi dari sekolah.


Tahu kok, "Rin, tidak semua anak pintar di sekolah bisa kek ko, ngarang tanpa harus belajar mati-matian di rumah untuk bisa ngisi soal ujian kenaikan srkolah. Ko hebat, Rin!" Ucapan Vlo sempat memotivasi, cukup merobek asa tersebut.


Sudah berapa tahun menggeluti dunia sastra, sama sekali tidak punya peluang membawa prestasi depan mata orangtua.


Apalagi orang sekitar, tetangga seringkali julid tahu nafsi tak bisa apa-apa selain nyusahin saja, di tambah naik kelas saja harus wali kelas turun tangan supaya nilai aman.


Mengingat itu saja buat Arinda sedih, sebegitu payah kah kemampuannya dalam akademik yang perulangan hadirkan cemooh sekitar?


Biar sekalipun sudah menjadi mahasiswi tidak mendatangkan senang melainkan patah mental cita, supaya berhenti di tengah jalan terus nyari pekerjaan, menghasilkan bukan menghabiskan.


Iseng muncul ketika lihat ada salah satu penulis baru memiliki keberuntungan, novel beberapa kali naik cetak, tanda tangan juga bakal di filmkan. Ada keinginan berada di posisi tersebut.


"Huh..tra mungkin sekali eh?" Tetiba menjadi insecure duluan.


Melukiskan imajinasi dalam kesenangan untuk bisa mengusir luka tercetak di bola mata nafsi, bukanlah hal mudah mendekap semua ruang sunyi tanpa adanya mereka berdua di sisi.


Butuh. Sangat. Untuk bisa bercerita bebas tanpa harus menjeruji diri dalam rumah diksi terpenuhi delusi.


Kalau tahu Nazira tidak dapat diajak kompromi persoalan rasa, lebih baik jangan mengumandangkan kedekatan itu dengan mantan kakak kelas mereka.


Sangat menyesak. Hingga .. Tenggerokan tercekat, apa ini namanya harus berjalan di atas masa depan tanpa mereka berdua?


Apakah ini rasanya tak terucap lewat lisan, hanya kesunyian menemani namun menimbulkan banyak sesak-mendesak dalam jiwa?


🌏🌏🌏


*Hallo, kami dari tim editor penerbit mayor ingin pinang karya anda. Tapi, ada yang harus anda pelajari dari syarat untuk bisa menjadi penulis dari kami. Berikut persyaratannya :




Karya di rangkum menjadi 250 halaman.






Karya anda akan kami acc, jika sudah memenuhi dua persyaratan tersebut.




Silahkan tinggalkan balasan, kami sangat menunggu respon anda.


Salam literasi*.


Arinda terkejut, di bangunkan oleh realita manis.


Oh, sebentar, belum ingin membangun ruas-ruas senang sebelum, "aw..sakit, pea!" Meringis sendiri, saat mencubit perutnya sendiri.


Nyata.


Dan, apakah karena promosi karya lewat akun chanell youtube-nya berkesempatan kontrak?!


Serius?!


Ah..Nazira andai tidak termakan oleh egoisme serta cemburu, akan senang mendengar kabar menyenangkan kota penuh destinasi manis di imajinasi.


Tapi, kenapa bisa ada email itu ketika tahu karya masih absurt?


Bukan Kenangan Putih Abu-Abu menarik perhatian tim editor penerbit mayor melainkan ada satu judul yang mungkin ingin di pinang?


Arinda hanya mengangkat kedua bahu, tak tahu-menahu.


Please .. Sangat-amat beruntung di dapatkan gadis itu setelah berjangka di berikan perilaku pongah teman seangakatan di kampus serta kedua sahabat berubah, hilang tanpa sebab. Ternyata masih ada siulan manis penuh asa di balik karya.


Thanks god..bisik Arinda dalam batin, sangat senang.


Oh, apakah harus kasih tahu kabar menyenangkan ini ke ibunda? Yang telah merentangkan ketakrestuan lihat nafsi menjadi novelis, kini bakal nyata produksi cuan sambil kuliah?


Beberapa bulan di bimbing langsung oleh tim editor.


Sudah waktunya untuk terima surat antara acc atau tolak. Yang sangat cemas di rasakan Arinda saat ini.


*Hallo, Kak Arinda..


Untuk keputusan final tim editor kami, sangat di sayangkan, untuk ini karya anda masih belum bisa kami pinang, karena masih ada beberapa bab belum memenuhi kriteria kami.


Kami sangat prihatin untuk kesempatan ini, naskah anda untuk sementara kami tolak.


Terima kasih sudah mengikuti traning pelatihan nulis gratis bersama tim editor kami.


Salam literasi*.


Yah. Membuang napas gusar.


Ternyata hanya mengikuti pelatihan nulis, bukan untuk bisa lihat karya itu duduk berjejer di seluruh toko buku indonesia.


"Sudahlah. Kan, memang sa payah." Getir gadis itu, akhirnya ada air mata menetes serta sesak mendominasi dalam hati. []