My AVN

My AVN
Vlo Kembali!



"Haru menyelimuti jiwa saat tahu Vlo kembali! Detak yang cukup panjang lihat AVN lengkap lagi."


🤍🤍🤍


AVN sudah tidak menjadi prioritas lagi, kalut. Hanya bisa bermain di rumah grandma, tersambut girang dari bayi-bayi lucu.


Arinda tersenyum mengembang.


Ada bawa laptop, berjaga-jaga bosan menyergap nafsi saat mereka tidur, bisa nonton bermodal wifi tetangga.


Bahkan biar sekali pun tidak mau nonton, dia dapat berkarya itu pun kalau ada mood sih.


Sudah malas memedulikan ocehan ibunda yang selalu mematahkan mental imaji, karena yang Arinda tahu adalah sukses butuh proses panjang yang tidak bakal mendapati dengan instan atau cuma-cuma.


Tidak sadar, kalau mereka sudah pada mau tidur, gadis itu langsung ngambil posisi di ruang tamu, keluarkan laptop nonton anime.


"Apa sih?! Siapa lagi yang inbox sa?! Ganggu orang nonton saja." Kesal Arinda, lalu mengeluarkan tampilan website anime tersebut.


Terpaku.


Sangat lama sekali membisu, ada desir-desir


Sambil nonton anime modal wifi tetangga, tiba-tiba saja ada notifikasi inbox, “apa sih? Siapa lagi yang inbox sa, mengganggu orang nonton saja.” Keluh gadis itu.


Terpaku. Ada sesuatu berdesir dalam tubuh gadis itu sendiri.


Rin, Vlo..


Well, ada rasa haru menyelimuti hati tahu sahabat pulang ke rumah AVN. Sangat-amat berasa di kejutkan berbalut simfoni sweet. Really!


Terus?


Heh, selalu saja sikap bodoh amat gadis itu muncul, padahal senang juga.


Ko kenapa? Tra senang kah Vlo kembali?


Dan, pasti selalu hanya Nazira tidak bisa peka dengan SMS berkesan canda, ditanggapin serius cukup menggelitik perut.


Ada yang jauh lebih penting sangat mendahagakan rongga-rongga imaji nafsi ..



Melihat angka 13 bulan April tahun 2017 catatan sejarah bisa berkumpul lagi seperti dulu.


Tak ada yang lebih penting di banding novel sudah berada dalam genggaman Vlo.


Sedih juga sih, sebab karya perdana sangat absurt.


Tanpa sadar ada rindu berbisik sendu di hati sahabat pendengar baik di ruas AVN, masih belum nyangka sudah memiliki kelengkapan ulang. Tidak lagi sajikan sebuah deret nestapa dalam sajak.


Senyum sangat lebar.


Sisi lain, maaf buat ko tersiksa, getir Arinda dalam batin.


Kepulangan sahabat bukan berarti akan leluasa bercerita mengenai teman kampus tengil itu, seperti canggung cipta obrolan.


Hal paling seru ketika prahata menghantam lebam-membiru AVN, pasti bakal duduk dengan cerita telah terlewatkan, akan menimbulkan tawa lepas.


Karena sudah kembali, ada kecanggungan tercipta tersendiri. Pengen curhat seperti orang asing baru pertama kali mengenal. Padahal seorang sahabat yang hilang kontak, baru pulih kembali. Tetap saja merasa ada yang berbeda dari mereka berdua.


Arinda merindukan ..


"Ayo..masuk sini, jan berdiri di sana." Vlo ngajak.


Karena lihat Arinda hanya berdiri depan sungai rumah sahabatnya.


"Soalnya penjagamu sangar sampe..buat sa tertahan di sini." Protes gadis itu.


"Ah, macam sa anjing ada gigit ko saja. Trada yah, kan, mereka sudah pada hafal ko mo. Jadi, tra dapat gigit itu. Pasti, cuma sedikit saja." Melirik pelan, "trada yah, bercanda." Imbuh Vlo lalu terkekeh yang dapat hadiah pukulan sayang dari Arinda.


Mengingat itu saja apakah pantas bisa terulang lagi? Takkan menjadi kaku kah?


Sudahlah. Saat lihat Nazira menelpon, mengernyit.


"Yah, hallo. Cie..tumben telpon, su kangen kah sama sa? Kenapa, ko galau lagi karna temanmu di sana trafa yang kasih traktir ko?" Arinda langsung mencibir.


"Ko sudah di kasih toh, sama Vlo? Ko sudah ke rumahnya kah belum?" Nazira bertanya.


Oh. Pantas nelpon.


Sangat lama sekali menjawab, cukup tahu Vlo kembali saja, senang. Jangan tanya buat seenak itu main ke sana.


"Oh, iyo sudah. Sa ngerti ko perasaan. Tahu Pelong kembali saja su buat sa senang." Sudah tahu isi pikiran Arinda, langsung mengalihkan pembicaraan.


Masuk tiga bulan, rasa canggung tak lagi terpelihara mereka.


Vlo sudah sangat tidak sabar buat bertemu gadis itu. Hanya ngambil jaket kok.


Tadi pagi, "hallo, Rin? Apa kabsr, oh iya sa lupa sama. Selamat pagi odotku sayang? Bisa kah sebentar sa ambil jaket di ko rumah?" Vlo nelpon.


Ucapan sangat di rindukan Arinda. Ada senyum hangat terasa dalam dada, serius.


Setelah menunggu kedatangan sahabatnya, justru sempat kebingungan tidak lihat keberadaan batang hidung itu.


Ternyata ..


Ada di pertigaan masuk ke rumah, hah Arinda hanya membuang napas sambil geleng-geleng.


"Ko tahu, sa pantat nih sakit sekali kah. Mungkin karna sembelit kapa? Karna makan sambel terlalu banyak." Kata pertama setelah bertahun tidak ngobrol dengan Vlo.


Justru di balas pukulan pelan dong.


Ah, Arinda merindukan bawelannya.


"Kenapa kah ko tra parkir motor depan sa rumah saja? Pake jalan kaki segala trus meet di depan orang pu rumah lagi!" Protes gadis itu.


"Ah, trada, Rin. Sa buru-buru jadi mau urus-urus sekolahnua Meilani." Timpal Vlo cepat.


Oh, begitu kah? Getirnya dalam batin.


Padahal mau jalan-jalan sama sahabatnya baru, kebetulan libur kuliah.


Kembali ke rumah dengan langkah-langkah kecewa, sangat berat sekali lepas Vlo begitu saja.


Yang biasa selalu temani biar sekali pun itu urusan sekolah adiknya Nazira.


Sadar kok keadaan sudah berubah.


Beberapa hari kemudian ..


Yey! Akhirnya terbayarkan setelah di kasih kecewa, bisa jalan berdua dong dengan Vlo.


"Rin..Rin, foto dulu yuk?! Su lama nih kita tra foto berdua." Perempuan itu mengajaknya.


Oh iya, mereka memang berhenti di pinggir jalan, nunggu adzan buka puasa.


Saat sudah foto, terlihat kaku.


Baru nyadar kalau baju mereka couple, coklat.


Apa karena memang sejak dulu bersahabatan, insting untuk memakai pakaian sama, tanpa janjian?


Setelah buka puasa, mereka lanjut pulang untuk ke rumah Arinda.


Oh benar juga, ada sesuatu yang hampir lupa di ceritakan, apotik.


"Masa sih, Rin? Ko sa tra lihat ko?" Justru Vlo bingung.


Hm. Ternyata bukan pura-pura tidak lihat, karena memang kondisi fisik yang tidak bisa melihat sekitar.


"Aduh, betul kah, Vey. Waktu malam itu sa lihat ko diantar sama Ruly ke apotik yang sama toh? Sa ade yang bilang kalau itu ko sama pacarmu, trus sa lihat secara sekilas. Betul, itu ko!" Seru Arinda.


Satu lagi, tentang pemandangan menjinjikkan, "bukan sa yang muntah yah. Tra tahu siapa punya itu. Kok bisa tuh sa tra lihat ko, Rin?" Oh, Arinda kira.


"Hm, atau, ko yang pura-pura tra lihat sa kapa eh? Padahal ko keluar dari ruangan dokter pas sa duduk di depan ruangan itu." Mencoba untuk nyindir.


"Trada, Rin. Sa waktu itu pusing sekali, makanya sandar trus di pundaknya Ruly." Jelas Vlo.


Hm. Arinda masih penasaran.


"Trus, kenapa bisa ko sama Ruly datang ke apotik? Ko orang tua ke mana jadi? Kok bisa sama Ruly sih ke sana?" Gadis itu lempar tanya, mau tahu apa penjelasannya.


"Ah, sa orangtua ada di rumah. Hanya saja, dong tra bisa antar, makanya sa minta tolong Ruly untuk temani sa perimsa darah di apotik."


Hoh. Masih belum menerima penjelasan tersebut, sangat murka.


Jadi, keingat kata-kata saat insiden parah itu terjadi. Mengepal emosi dalam diam, tak mau lagi terpecah belah oleh amarah.


"Sudah ah, yang penting ko kembali, cukup buat sa senang." Ucap Arinda.


"Ko tahu, Rin? Sa kerja di warnet tuh pas ada angin sentuh sa pipi, langsung sa ingat kam dua. Sumpah! Sa tra tipu, kalau lewat angib itu, sa langsung ingat dengan kam. Jujur, rindu itu tra bisa menipu kalau sa ingat deng kam dua." Terus terang Vlo, sangat tulus.


Rindu. Terima kasih sudah membisik-bisik hati seorang sahabat yang telah lama pergi menjadikan prantaramu memgembalikannya ke AVN. []