
...“Kebahagiaan ini sangat terasa indah, kemustahilan terbentang pelupuk mata, lulus sebagai mahasiswi.”...
🤍🤍🤍
HARI INI sangat mendebarkan bagi Arinda, karena penentuan akhir sudah bisa di lihat depan papan mading. Masuk dalam kerumunan lalu mencari-cari ..
“LULUS, YES!” Girang Arinda, tanpa sadar telah menjadi pusat perhatian sekeliling.
Hanya cengir dan balik badan, menuju parkiran motor tidak lupa mengenakan headset untuk menemani perjalanan ke rumah.
Sangat penuh dengan keindahan, kemustahilan terbentang di pelupuk mata, saat tahu nafsi lulus menjadi salah satu maba di salah satu universitas jayapura.
Tidak sabar buat mengumumkan keberhasilan itu menjemput label mahasiswi di rumah. Sebentar, ada banyak keraguan dalam dada, apakah pantas membicarakan seputar cita yang akan menghabiskan biaya saja?
Berupaya dalam mengusir rasa malas ketika sudah menjalani rutinitas sebagai mahasiswi. Ini salah mimpi telah lama terpendam oleh ketakrestuan juga mood naik-turun yang akhirnya bisa juga berada di posisi seperti mereka berdua.
Arinda terus tersenyum di balik helm di riben itu, masih belum nyangka kenapa bisa mendapati hal dari keisengan nafsi yang di luar dugaan? Apa karena mudah masuk atau .. Tidak sengaja menemukan sesuatu memang pantas bisa lulus?
Atau .. Lewat wawancara dengan salah satu dosen di sana, kah?
Entah. Yang jelas sangat menggambarkan kebahagiaan dalam dada.
“Mama..” Seru gadis itu.
Antusias, bisa leluasa bicara empat mata dengan mama, tanpa harus di tatap sangat tak suka dari orang lain saat berada di kios om sendiri. Sangat mengusik nafsi.
“Ko dari mana sih?!” Ayunda menggerutu.
Sejak pagi sampai siang, tidak sama sekali mengabari yang cipta ngomel dari beliau, tidak ijin pula saat keluar rumah.
Sudah memberitahui dengan semangat telah lulus masuk perguruan tinggi, “trus?” Kata ibunda acuh, tak memeduli.
“Ma..Arinda pengen kuliah..” Merengek-rengek campur getir dalam hati.
Yah, sembari menahan tangis hampir saja meluncur bebas lihat ekspresi beliau tidak sesuai ekspektasi.
Sistem informasi memusatkan pada materi programmer, mengingatkan lagi dengan .. “Kalian kalau ingin jadi programmer atau desainer, butuh ilmu lebih. Kalian juga harus lanjut kuliah, kalau ingin dapatkan apa yang ingin kalian teruskan. Apa kalian di sini ada minat buat lanjut kuliah?” Kata Bu Stin, kala itu di lab.
Saat itu ingin sekali saya, bu. Saya benar-benar ingin jadi programmer! Melantangkan dengan percaya diri, namun di urungkan tahu porsi otak tidak bisa mencapai.
Tapi sekarang sudah bisa membuktikan omongan dua sahabat selama ini mendorong niat melanjutkan ilmu ke jenjang lebih tinggi.
“Sa pengen kuliah, ma.” Lagi, Arinda mengulangi.
“Ko nanti serius belajar?” Please .. Apakah pertanyaan ini telah mendapati lampu hijau?
Senyum lebar, sangat serta anggukan cepat. Ayunda membuang napas kasar.
“Mama ijinkan ko kuliah. Asal, rajin masuk dan jangan beli-beli buku cetak tidak penting.” Putus beliau tak terbantahkan lagi.
Sujud syukur, bisa merasakan runitas sebagai mahasiswi tanpa harus terbebani ketakrestuan ibunda.
Coba ada Nazira di samping atau berada satu kota, terpastikan bakal gerakan cepat untuk mengabari restu bisa kuliah.
Apa karena sudah lelah mendengar ocehan ananda selama ini? Maka dari itu Ayunda lebih memilih menginjinkannya kuliah?
Pernah .. “Rin, ko bisa kuliah sambil kerja, kalau memang mama-mu tra biayai, nih..ko bisa jualan kue, ko juga bisa bikin mo. Tanpa harus pusing cari kerja lagi.” Vlo bersuara sangat antusias.
Yah. Saat itu perempuan itu main ke rumah, tidak sengaja lihat sahabat mixzer adonan jualan Ayunda serta melihat proses dilakukan tanpa bantuan orangtuanya, makanya menyarankan untuk jualan sambil kuliah.
“Vey..yakin nih sa jualan kue?” Tawa hambar tercipta.
Sangat sesak, kembali tahu fakta ikatan itu terpaut aksa. Menjadi asing satu sama lain.
Biarkan saat ini berandai ketika ada sosok itu, kemungkinan bakal lompat sumringah sembari mencubit-cubit Arinda, gemas campur tak percaya sudah lihat dia kuliah.
Juga akan berbarengan ke kampus, siapa yang duluan pulang bakal menunggu untuk di jemput setelah itu pergi duduk makan di kantin kampus atau di warung terdekat.
Meringis. Sudahlah. Lebih baik, Arinda saat ini belajar buat tidak bergantung dengan sahabat seperti masa sekolah dulu.
🌏🌏🌏
Senin ceria. Perdana ngampus tanpa harus sembunyi lagi dari potret surga telah memberikan restu kuliah.
“Ma..sa berangkat!” Seru Arinda.
“Hm..hati-hati di jalan, jangan balap.” Ayunda mempringati.
Hanya senyum di berikan setelah itu berangkat ke kampus.
Tidak lama setelah pergi, “kenapa Arinda masih tidur? Kasih bangun biar bantu bikin kue.” Arisha, tante gadis itu datang ke rumah.
“Tidur apanya. Tidak ada motornya sana , pergi ke kampus sana heh.” Ketus beliau.
Terkejut, mendapati penuturan wanita tersebut. Apakah sanggup otak Arinda melanjutkan ilmu di bangku perkuliahan? Saat sekolah saja malas belajar.
Ayunda menjelaskan kalau ngotot tidak kasih ijin, bakal mengamuk di kamar. Walau pun tahu ke depannya seperti apa, takut anaknya tidak sanggup sampai lulus kuliah, dalam artian berhenti di tengah jalan.
Sisi lain, menunggu dosen masuk, memang belum belajar masih perkenalan awal dulu, mungkin beberapa minggu baru dapat materi.
Oh, begini rasanya jadi mahasiswi eh? Pikir Arinda.
Belum ada inisiatif buat ngajak teman sekelas berteman, masih canggung. Takut nanti porsi otak mereka jauh lebih unggul di banding dia.
Seminggu ini terpakai untuk mendengar seksama perkenalan dosen dalam kelas pun mendengar musik atau main game, kalau sudah selesai.
Biasanya juga kalau bosan, pasti berjalan ke ruangan sahabat-sahabatnya lalu duduk ngobrol bersama, menyadari bahwa berbeda kampus di tambah masih belum ada pertanda Vlo ingin balik ke rumah AVN.
Padahal .. Semasa satu smk dalam kamar, sudah sangat antusias membicarkaan kampus mana bakal mendaftar tidak tertinggal kost di mana. Hanya batas wacana pun terlambat setahun mengikuti jejak sahabat buat kuliah.
Seandainya dulu tidak memiliki pemikiran main sudah matang juga seperti mereka, menentukan masa depan dengan mantap, di pastikan Nazira takkan terdampar sangat jauh.
Tidak akan menjadi boomerang dalam persahabatan saat Vlo berupaya menjaga sahabatnya dari ringan tangan mantan kekasih, justru berakhir lebam membiru, membekas traumatis hingga detik ini.
Jelas .. Akan ada Nazira menahan gadis itu untuk tidak terlalu dalam memberitahui orang terdekat sahabatnya.
Bakal mencari solusi terbaik supaya Vlo terbebas dari kekangan cowok itu, tanpa harus lihat sahabat terkasih babak belur.
Pasti. Dan pasti AVN tidak bakal serunyam ini. Ternyata bingkai AVN tak berjangka panjang, hanya menyisahkan trauma pertemanan, hancur lagi. []