My AVN

My AVN
Sedingin itu AVN?



...“Sori, tidak bisa menjaga AVN dengan berpikir sebelum bertindak sesuka hati, buat dia berubah sangat asing.”...


🤍🤍🤍


Sebulan sudah menemukan sosok teman, dalam pendekatan. Ada empat orang, Navya, Livia, Clara dan Jeje.


Walau sudah memiliki pendekatan di orang baru, tetap merasa sepi tidak ada sosok dua orang penting apalagi tidak tahu keberhasilan itu menjadi mahasiswi.


Kenapa saat asa penuh keindahan telah di penuhi gadis itu justru mereka memilih pergi dengan sibuk pun traumatis diri. Ok, fine tidak menyalahkan persoalan lebam membiru, ngaku menyesali perbuatannya.


Tapi, kan, ini berita paling ditunggu AVN, bukan? Berasa hampa, tidak ada keistimewaan selain menikmati seorang diri.


Apalagi ibunda tetiba memberikan restu, mengenduskan banyak curiga dalam kepala. Apakah terpaksa, takut mengamuk juga mogok makan di rumah?


Bergetir, sangat tidak bisa memprediksi semua hal datang dengan cuma-cuma tanpa melewati lewat air mata, merengek atau ngambek.


“Rin..sibuk sendiri eh?” Kata Livia, menyindir supaya ikut ke kantin.


Hanya seulas senyum di berikan, “kalian pergi sudah, soalnya nanggung eh kalau tra selesaikan satu bab.” Arinda menolak sangat halus.


Mengangguk paham, “mau nitip apa nih? Supaya ko juga makan, bukan kita saja!” Ini suara Navya.


Senang. Masih merasakan perhatian walau itu di orang baru, setidaknya takkan bisa menyamakan posisi AVN dalam hati nafsi.


Yang biasa kesepian, sekarang mengurangi pikiran berlebihan dengan adanya seorang teman di kampus selama sebulan belakangan ini.


“Rin..ingat, tidak semua teman di kampus bisa ko anggap sahabat. Berteman boleh, hanya saja jan terlalu dekat. Karna pertemanan di kampus tra menjamin jadi sahabat.” Ingatan tentang Vlo menasehati persoalan teman kembali bermain dalam benak.


Kalau ada kedua sahabat, kemungkinan besar tidak bakal bisa leluasa bersama laptop, sudah di pastikan dapat paksaan untuk isi asupan dulu baru memiliki kebebasan.


Tahu, Arinda sangat pelupa dalam hal makan yang cukup menjadikan kedua sahabat alaram untuk mengonsumi baik itu nasi atau bakso.


“Rin..ini punyamu!” Seru Navya, membuyarkan lamunan lirih gadis itu.


“Makasih eh?!” Balas Arinda dengan lempar senyum.


Melihat-lihat isi cilok dalam plastik gula setengah kilo saja sudah membangkitkan memoar dengan dua sahabat, kalau duduk di kantin panjang sekolah. Kadang berdebat perkara sambel yang diambil Arinda atau perebutan pentolan untuk makan sebelum masuk kelas.


Tidak. Sangat kesulitan menyamakan ke empat teman saat ini membersamai nafsi penuh perhatian dengan AVN.


Menginginkan dalam menyuarakan keberhasilan terlabel mahasiswi ke sahabat padang, hanya saja buat apa sih? Kan, kalau tahu hasilnya su keluar, pasti sebelum sa kuliah, di telpon sama tuh anak sedikit kecewa dalam batin, kok sosok itu menghilang tanpa di minta?


Apa tidak yakin nafsi duduk di bangku perkuliahan tahun ini? Maka dari itu sama sekali tidak mengabari atau sekedar bertanya seperti sebelumnya, dengan intonasi berbalut antusias campur motivasi?


Tahu, sangat membutuhkan keberadaan mereka yang berhasil mendorong semangat cita ke jenjang lebih tinggi. Hanya detak waktu belum mengijinkan untuk kantongi temu.


Kalau mau di bilang, Arinda ingin sekali berteriak sembari menangis. Sa tra kuat woi! Sa tra bisa kalau trada kalian di sini, ingin melantangkan diksi ini. Tapi .. Sampai kah ke Nazira atau Vlo?


Oh. Vlo kah? Masih tersisa harap sahabat yang sedang bermain bersama traumatis, merespon baik? Sama sekali nihil, karena tidak satu pun SMS sejak kejadian itu Arinda kirim.


Hanya berbalas kabar dengan Nazira saja.


AVN terlihat hancur


Bukan jadikan usai


Tapi butuh jeda


Kembali lihat tawa


Bakal hiasi AVN.


“Wih..puisi buat siapa tuh, Rin?! Bagus. Dalam apa maknanya. Sweet sekali.” Livia memberikan pujian, setelah tanpa sengaja melirik gadis itu mencoretnya di binder.


Tertawa getir, “ada deh. Makasih loh su puji karyaku yang masih absurt ini.”


“Ih..absurt dari mana coba, jih?! Bagus begini di bilang jelek lagi!” Perempuan bermata cipit itu sedikit protes.


Karena tahu potensi sendiri tidak bisa menyamakan dengan posisi teman kampus. Sebab, apa pun diksi di cipta Arinda, seringkali melahirkan rasa kagum dalam batin tanpa harus memberitahui secara langsung ke orangnya.


Melihat mereka duduk membicarakan bias kesayangan masing-masing, korea.


“Apa bagusnya sih idolakan artis korea?” Cetus Arinda tiba-tiba, sembari menoleh ke bekalang.


Mendapati wajah antusias dari teman yang barusan saja memuji karya puisinya, duduk di sebelahnya, “duh, Rin, kalau ko sudah suka sama salah satu bias yang ada di band-band itu, ko bakal tra bisa tidur. Pengen dengar lagunya trus!” Seru Livia.


Memberikan tawa kecil, “tapi, sayangnya sa tidak sama sekali tertarik dengan mereka. Kalau naruto boleh.”


“Ko suka nonton film anak kecil, Rin?” Temannya tidak percaya.


Ngangguk mantap, “itu bukan tontonan anak kecil doang kali. Lebih baik nontn itu daripada korea bakal rusak pikiran kita.” Kata Arinda dengan bijak.


“Benar juga sih, tapi sa paling tra suka kalau sudah nonton begituan. Mending sa dengar musik apa bikin apa kek.” Livia terkekeh.


🤍🤍🤍


Sekitar lima panggilan tidak terjawab sama sekali, tumben. Tidak biasanya Nazira seperti ini.


Cukup berkelebatkan overthing dalam kepala gadis itu.


Hah. Jangan-jangan perempuan berdarah padang itu ikut menjaga jarak setelah tahu prahara menghantam sangat fatal di ruas AVN?


Hayolah .. Kenapa bermain hilang kabar seperti ini? Please, kalau sama-sama menghilang, Arinda melarikan kepenatan juga luka ke mana? Tidak mungkin ke empat orang yang baru-baru ini menjadi teman baik di kampus.


Jelas .. Tergambarkan sebuah keraguan persoalan privasi pertengkaran belum mau melebar-luaskan ke orang lain, bahkan sebaik apa pun mereka, masih menyimpannya untuk diri sendiri.


 Butuh beberapa menit bermain dengan pikiran overthing, barulah Nazira kembali menelpon.


Ah..bersorak sangat riang, mengembalikan mood secepat itu kah?


“Kenapa, Rin? Sori eh, tadi sa lagi mandi.”


Hoh. Bisa bernapas sangat lega juga menyalahkan pikir-pikir berlebihan serta ketertakutan dalam benak. Sahabatnya takkan pergi kok.


“Trada. Hanya kangen ko suara saja.” Bergetir, sangat hebat.


“Ko bertengkar toh sama Vlo? Cerita cepat! Tra pake lama trada protes-protes!”


Deg. Tahu dari mana? Perasaan baru kali ini ada kabar, bisa-bisanya mendapati informasi sangat mengiris hati Arinda.


“Rin?” Lamunannya buyar, dengan panggilan Nazira lewat telpon.


“Ko tahu dari mana nih, kalau sa bertengkar sama Vlo?” Berbasa-basi dulu, walau pun tahu apa jawabannya. Sudahlah.


“Uhum..kalau bukan sahabat yah, epen peduli penting, kalian bikin apa sampe gelut hebat seperti ini?!” Kata Nazira dengan tegas.


Benar. Tanpa bertanya sosok sahabat bijak sangat peka dengan keadaan AVN sedang memburuk, hanya lewat feel saja.


“Ko tahu? Kam yang lagi bertengkar, Vlo diamin sa sampe telfonku tra diangkat kah. Sa tanya kenapa, justru dia bilang jan ganggu dia.” Omel perempuan hijabers itu.


Kalut. Sedingin itu kah AVN? Sori, tidak bisa menjaga AVN dengan berpikir sebelum bertindak sesuka hati, buat dia berubah sangat asing. Getir gadis itu dalam batin.


Sebab, tidak pernah lihat sosok Vlo mendiamkan bahkan menjadi orang lain kalau bertengkar dengan salah satu sahabatnya. Wajar sih menjaga jarak dan jangan ganggu, luka itu sangat fatal tidak semudah menyembuhkannya.


Sejak tadi Arinda hanya terdiam, bingung campur kalut mau memulai cerita dari mana? Takut bakal berada di pihak sahabatnya.


“Hm. Iyo, sa juga yang salah, Nai. Karna su bertindak sebelum berpikir langsung main kasih tahu orangtuanya, seharusnya sa laporkan dia ke polisi. Tapi, kan, setidaknya sa bisa lindungi dia dong?!” Lalu menceritakan dengan detail kenapa bertindak langsung ke hak sepenuhnya atas Vlo termasuk ancaman menggegerkan suasana semakin intimidasi campur kebencian.


“Ko tra salah, Rin. Itu sudah hal wajar untuk pisahkan Vlo sama dia.” Cukup mendengar dari nada Nazira, bisa memeluk pelik dengan kasih.


Bingung. Bagaimana cara mengembalikan sosok pendengar setia seperti Vlo? Saat traumatis belum juga sembuh cepat dan mudah di kepala perempuan itu.


Yang bisa di simpulkan Arinda dari pertanyaan bertengkar adalah tidak bisa menjaga AVN dengan sikap dewasa saat sahabat padang sibuk mengejar cita dengan kondisi LDR seperti ini.


“Tapi, masa tuh, dia blokir sa dari fb? Sa hanya bantu pisahkan mereka berdua, ko tahu toh, kalau mereka dalam waktu dekat bakal nikah? Dan apa, Vlo lari dari rumah, tra mau nikah sama orang yang su trada perasaan apa-apa selain kasihan.” Urai Arinda lagi.


Bisa di garis bawahi, tidak mau nikah dengan orang itu karena Vlo sudah tidak ada perasaan apa-apa selain kasihan. Terkadang, Arinda berbicara harus di cerna agar paham alur topik itu.


Hebatnya lagi, selama membingkai-bingkai AVN tak satu dari mereka mencibir kelemahannya melainkan membicarakan banyak hal berfaedah tanpa menggurui.


Masih merengek juga bertanya ulang, apakah tindakan itu berlebihan?


“Sa kan tadi bilang, kalau ko tra salah dalam bertindak. Tapi, ko juga sih, kenapa kah tra lihat sikon dulu sebelum datang ke rumahnya? Tahu sendiri toh, kalau keluarganya ringan tangan. Jadi..ko tahu sendiri, kan, bagaimana caranya agar masalah itu tra sampe lihat Vlo di pukul bertubi-tubi seperti itu?” Nazira menjelaskan, sangat membuka pikiran Arinda.


“Sudah ah. Sa malas bicara dia lagi. Bikin sa kepala pening tahu! Sa hanya tra terima kenapa dia harus seperti ini? Padahal toh, sering sekalih mengeluh kalau Ruly selalu saja kekang kebebasannya. Masa dia jalan sama sahabat sendiri, dapat larang. Siapa sih yang tra gemas dan jengkel lihat sifat mantannya tuh?!” Gerutu Arinda.


Merasa tidak ada hal lain untuk membicarakan persoalan prahara itu lagi. Jauh lebih baik mengumumkan sesuatu sudah lama ingin Nazira dengar.


“Ko tahu kah tra, kalau sa sudah jadi mahasiswi?” Kata Arinda, langsung ke intinya.


“Iyo?! Serius nih, Rin. Ko tra main-main toh? Di mana..kampus apa dan jurusan apa ko ambil?! Tra mau tahu cup. Pokoknya sa harus dengar kalau ko ambil jurusan bersangkutan dengan komputer!”


Serentetan tanya dari sahabat, cukup menyulam senyum lebar. Tapi tak mengelak sedang memutar bola mata dengan jengah.


“Pelan-pelan napa kasih pertanyaan? Ko masih ingat kah tra waktu itu sa malas ambil formulir dan mager ke abe?”


“Oh ko ambil di USTJ kah, Rin?!” Seru Nazira.


“Betul kali. Sa tra percaya juga kah, kalau sa bisa masuk di kampus yeng terkesan sulit untuk lolos.” Celetuh gadis itu. Bahkan sampai detik ini belum percaya.


“Beh, mantap sayang. Ko pertahankan eh, sampai pakai toga? Tra mau tahu anak bugisnya AVN harus bisa wisuda pake toga!” Nazira berkicau sangat antusias.


Arinda tersenyum sangat senang, mendapati antusias sebagai pegangan motivasi di kampus hingga lulus. Moga-moga semangat belajar tidak turun, itu saja sih. []