
"Tak pernah bingkai-membingkai AVN lewat aroma hampa, lalu melihatnya pergi berbarengan ego pribadi."
🤍🤍🤍
Finally. Bisa berbarengan ngampus dengan dua sahabat. Bersejarah sekali, semenjak Arinda berteman sunyi mereka dapat berkumpul lagi.
"Vey, nanti Nazira di ijinkan sama bapaknya kah?" Arinda bertanya, sedikit ragu.
Justru .. "Tenang, nanti Nazira ikut." Di timpali sangat santai dong.
Ah. Kenapa sih tidak ngerti kalau tatapan dingin setiap kali bertamu ke rumah sahabat sendiri, di dapatkan dari sosok yang katanya cinta pertama anak perempuan?
Hoh. Cinta dari sesosok pria tak pernah di dapatkan oleh Arinda menjadikan diri berkeliaran mencari apa itu arti perhatian dari seorang cowok.
Ketika menemukan sosok mantan kekasih sangat memanjakan nafsi, sungguh terpukul tidak bisa memposisikan rasa asing apalagi mau menemukan yang baru.
"Ayo, kita singgah dulu ke rumahnya Nazira." Kata Vlo penuh semangat.
Mengangguk saja lalu meninggalkan area perumahan sahabatnya. Well, hari ini datang jemput untuk kampus bareng.
Bersyukur sekali, karena mimpi itu sudah terwujud.
Sisi lain, masih belum yakin dengan mengantongi ijin dari bapaknya Nazira. Apalagi ini kan, masih pagi.
Sangat terbiasa mendapati tatapan dingin dari beliau, pun bukan hal baru juga kok di dapati gadis itu, karena sudah seringkali di dapati lewat sorot-sorot tak menginginkan nafsi dalam rumah.
Hm. Arinda hanya tersenyum getir.
Apa karena memiliki standart otak di bawah rata-rata yang menjadikan bahan bully mereka kah?
"Om, ada Naziranya?" Kata Arinda cuek.
Dan, pasti bakal .. "Ada di dalam." Di balas sangat dingin dari beliau.
Please deh, melihat sorot menyebalkan itu, sungguh memproduksi emosi yang meledak-ledak dalam batin.
Tidak mau berlama-lama menatap, langsung saja masuk ke kamar yang diikuti Vlo dari belakang.
"Permisi dulu om, kita masuk dulu." Kata Vlo sangat sopan.
Yang buat emosi gadis itu semakin menggebu, karena tak di balas ramah melainkan diam seribu bahasa, hah.
Pas buka pintu kamar, "tuh..lihat saja, Nazira masih tidur. Yakin mau ajak dia?" Ketus Arinda.
Tahu, bahwa hari ini ada kuis dari dosen killer, bagaimana tidak mau cetas-cetus ke sahabat sendiri, coba?
Justru menerobos masuk lalu membangunkan dengan cara paksa dan menarik lengan Nazira yang sudah bergerak menutupi telinganya pakai bantal.
"Nai..ayo bangun." Kata Vlo sambil bernyanyi.
Menarik-narik lengan itu, nihil, masih tetap tidak mau bangun.
Cara ampuh adalah langsung angkat badan sahabatnya buat duduk, melihat pandangan itu saja cukup buat Arinda ingin tertawa lebar. Kocak sekali.
Nazira mengucek-ngucek matanya, masih sangat kantuk.
"Kalian bikin apa di sini?" Nazira bertanya dengan datar.
"Jemput ko, mau ke kampus!" Vlo berseru.
Sedangkan gadis itu? Hanya tersenyum miring, masih terbentang keraguan dalam batin, apakah sahabatnya akan di beri ijin?
Ah, ingin sekali berlalu ke rumah dan malas berhubungan dengan apa itu namanya AVN yang sudah mengantarkan kaki ke perguruan tinggi.
Hanya karena tatapan dingin di dapati, memicu emosi Arinda saat ini.
Melihat Vlo mendorong tubuh sahabatnya segera ke kamar mandi, protes.
"Ayo, cepat. Tidak usah mau pakai acara tidur ulang. Mandi..mandi!" Kata Vlo seenaknya.
Nazira berbalik badan dan ngambil sabun dan gayung di samping kamarnya.
Justru .. "Mau ke mana lagi?!" Langsung di semprot protes dari Vlo.
"Ih, ini ada mau ambil sabun." Di balas sungut oleh Nazira.
"Oh." Vlo balas dengan singkat.
Arinda hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Apa sa bilang? Nazira ikut toh?!" Vlo berseru sambil senggol lengan gadis itu.
Tidak banyak bicara, hanya senyum miring tercetak di wajahnya. Kurang tahu pasti apakah mendapati ijin atau damprat dari orang tua sahabatnya.
Hah. Menunggu Nazira mandi, keduanya ngobrol asik dalam kamar sambil rebahan di atas kasur.
"Duh, sudah jam delapan lewat lima belas menit, ada kuis nih, Vey." Arinda mengeluh tak lepas melihat jam yang ada di pergelangan tangan.
"Tenang, Nazira tidak lama lagi selesai mandi. Nanti kita balap saja." Ucap Vlo dengan santai.
Beberapa jam kemudian ..
Mampus! Dosen su masuk, tra bakal diijinkan ikut kuis. Gusar Arinda dalam batin bersuara sangat meronta-ronta.
"Duh, Nai. Cepat sedikit cari kaos kakinya!" Langsung dong gadis itu mengomel.
"Tunggu..tunggu, ini tra tahu adeku letakannya di mana?!" Nazira ikut kesal dong.
"Kebiasaan deh." Ketus gadis itu.
Setelah pakai kaos kaki, sarapan dan minum susu dulu.
Masih sangat dingin dan apakah Vlo juga merasakan hal sama?
Hoh. Menarik presepsi diri sendiri, bahwa sahabatnya justru tenang tidak terusik sama sekali dengan sifat dingin orangtua itu.
Arinda selalu merasa ada yang ganjal setiap kali menemukan nyaman di ruas AVN, tak lepas dari tatapan intimidasi, dingin dari sosok tersebut, setiap kali mau datang main ke rumah Nazira.
Tadi, pas mau berangkat ke kampus ada moment lucu di mana ..
"Nai, ko ikut sa saja!" Seru Vlo.
Memperebutkan siapa yang bakal di tumpangin kendaraannya. Walau tahu Vlo pakai motor Nazira, tetap saja buat ketiga sahabat itu berebut tumpangan.
"Ih, biar ko bawa sendiri saja!" Arinda protes.
"Sini..sini!" Keduanya kompak jawab.
Malas ambil pusing, "tenang, nanti pulang kita berdua naik motormu!" Vlo meledek.
Karena lihat ekspresi sahabatnya sudah mendengus emosi.
🌏🌏🌏
Rin, malam minggu kah?
Kok cukup buat mata panas melihat SMS dari sahabat sendiri yak?
Bukan Arinda namanya kalau sudah meledak duluan dan ..
Tra perlu pergi! Ko duduk manis saja di rumah supaya bapakmu tra salahkan kita lagi. Biar sa tidak dongkol dengan tatapan dinginnya itu! Ko tahu? Rasanya tra enak sekali setiap jemput ko di rumah, selalu di kasih tatapan dingin begitu sama ko bapak! Pikir kita senang apa dengan sifatnya?!
Buar! Tak terkontrol lagi, sangat emosi dalam batin.
Terserah.
"Heh?!" Lah, kok Arinda tidak terima?
Fine. Menyangkut orangtua apalagi yang namanya bapak, sudah di pastikan sahabatnya jauh lebih sensitif menjadikan respon itu hanya singkat saja.
Tertawa miring. Enak eh, di perhatikan begitu? Gumam Arinda, sangat nyeri dalam hati.
Sempat kok tadi ..
Ko malming sama Vlo saja sana!
Justru di balas sangat bingung dari Nazira jih, ko juga ikut bah, masa sa hanya berdua sama Vey sih? Aih, tra seru kalau trada ko, Rin.
Kenapa masih mempertahankan ikatan dengan egoisme masih belum bisa terkontrol oleh Arinda? Bisa saja kan, pergi dengan cara mencari sahabat baru?
Tapi, selalu keuhkeuh berteman dengan dia.
Setelah tidak ada ajakan yang terkesan manja dari sahabatnya itu, hanya meletakkan HP dan tertidur.
Esok harinya ..
Terkejut bukan main, karena salah diri kenapa termakan amarah yang menjadikan tangis tak terlihat lewat pelupuk mata.
Pagi, Arinda, sa minta maaf yah soal kemarin? Trada maksud untuk salah kan ko. Bapakku memang begitu, orangnya dingin. Tapi, dia marah sama sa doang kok dan demi kebaikan kita juga. Bapakku juga khawatir dengan kalian berdua kalau pulang larut. Maaf yah, hari ini sa berangkat ke padang. Dada..
Ternyata semalam Nazira minta malming bertiga, mau pamit lanjutkan cita karena sudah habis sisa liburan semester di sini kah?
Ah. Menyesal sekali.
Selalu deh menembak-nembak sesuatu hal dengan amarah, sangat tidak bisa mengontrol diri pakai ketenangan.
Sisi lain, kok ada ekspresi keki berasal dari Arinda? Tetiba saja terbit, apa karena tidak merespon sangat baik amarah itu semalam?
Jadi teringat kenapa buat nafsi meledak tak terkontrol ..
"Rin, su jam sepuluh malam nih? Nanti pulang ke rumah bapakku pasti ceramahin sampe pagi. Tentunya tra diijinkan lagi keluar sama ko." Kata Nazira cemas.
Gadis itu hanya santai melahap soto ayamnya, "tra masalah, nanti bilang saja pak, tadi kita kelaparan jadi singgah makan di warung." Menanggapi dengan enteng.
Justru sahabatnya tidak makan melainkan menatap begitu cemas, takut di omelin habis-habisan di rumah.
Arinda yang melihat itu menyenggol pelan bahunya, "sudah, tra perlu di pikirkan. Saat ini pikir perutmu lagi lapar tuh. Makan dan kasih habis, nanti kelamaan disini justru bapakmu tambah marah lagi." Berusaha untuk menghibur.
Selesai makan, langsung ngantar sahabatnya pulang.
Melihat beliau berdiri depan pintu melirik ke arah bola mata Nazira, menyimpan banyak ketakutan.
"Rin, tuh, kalau bapakku sudah berdiri depan pintu, bakal dapat marah." Nazira mengeluh dari jauh, sebelum motor itu sampai depan rumahnya.
"Ais, sudah ah. Sekarang nih, kita turun dulu trus bicarakan baik-baik saja. Tenang, nanti sa bantu bicara." Arinda menimpali sangat santai.
Sedangkan perempuan itu? Terus berkelebat kalimat-kalimat pedis dari beliau.
"Hallo om?" Arinda berbasa-basi.
Justru tak di balas melainkan sorot-sorot mengerikan sangat dingin tertuju ke ananda sendiri.
"Pak, maaf kita pulangnya terlambat." Lirih Nazira, berharap ada cercah dimaklumin, karena ada Arinda di sisi.
Nihil, "cepat masuk! Mamamu sudah tunggu di dalam!" Saat penekanan kalimat itu di berikan.
"Rin, mau mau masuk atau langsung pulang?" Bisik Nazira sangat getir.
"Eh? Trada yah. Kan, sa sudah bilang, bakal temani ko sampai keadaan membaik."
Menggeleng, "tra bakal membaik, tadi saja bapakku punya tatapan dingin begitu? Trus marah sama sa." Menimpali sangat frustasi.
Karena tidak bakal bisa jalan bebas lagi dengan sahabatnya.
Melihat adik-adiknya sedang belajar sedangkan mamanya melipat baju dekat meja makan warung mereka.
"Kau lihat ini sudah jam berapa, Nazira?!" Protes beliau.
"I..iya, ma." Nazira balas dengan gugup.
Please, gadis itu sangat tidak mengerti tentang di marahi seperti sahabatnya saat ini. Hanya bengong melihat pemandangan tersebut.
"Sadar kah, tidak?! Kau itu perempuan, tidak seharusnya pulang larut begini!" Amarah beliau.
Arinda merasa bersalah, sudah ngajak anak perempuan mereka pulang selarut ini, langsung masuk ke pembicraan, "maaf, tante, tadi kita kelaparan. Jadi, singgah sebentar ke warung hehe." Berharap dapat pembelaan dari beliau.
"Makan?! Tidak lihat jam?!" Yah, mamanya semakin meledak amarah itu.
"Kau pulang sudah Arinda! Biar Nazira juga istirahat." Kata bapaknya sangat dingin.
Awalnya tidak mau menuruti, karena mau menghibur sahabatnya nanti dalam kamar, akan tetapi tatapan dingin jauh lebih mendominasi menghunus hati.
"Nai..sa balik dulu eh?" Arinda berbisik, pamit.
Yang hanya di balas anggukan kecil.
Kejadian itulah selalu buat Arinda sangat gusar, setiap kali mau main ke rumah sahabat sendiri. Selalu di berikan tatapan intimidasi, walau pun sudah lewat waktunya, tetap ngena di hati.
Hm. Kalau sudah bertengkar, di pastikan tidak akan ada namanya tukar kabar satu sama lain. []