
"Menjadi ketaktarikan lagi setelah tahu perjuangan itu sia-sia, AVN pun hilang dalam dekapan."
🤍🤍🤍
Arinda sudah tidak kuat dalam menanggung beban cita sedikit berantakan, lagi untuk kesekian kali.
Tidak tahu kapan terselesaikan, kalau saja bermain dengan anak stimik mendapati perhatian cita, kemungkinan akan bisa fokus mengejar dua deret paling pongah. Tambah dosen yang ngajar ngeselin, tetapi dengan adanya perhatian mereka dapat menutupi kejengkelan itu.
Namun, harus mengurusi semua seorang diri, yang memang bukan bagian dari kampus sana.
Sangat nyata terasa. Kekeluargaan di perlihatkan teman Jordan tidak saling menembak intimidasi, olok-olok dengan terang-terangan. Kalau mereka tidak suka, langsung bicara depan orangnya pakai cara halus lalu ribut lewat mulut sebentar setelah itu balik berteman lagi.
"Ih..ko teman-teman bagus eh? Tra sama kek teman angkatanku, kalau benci orang sampe kasih gerak-gerik tra mengenakan sekali." Sempat Arinda berkicau.
"Yah, karna memang kita selesaikan masalah dengan cara seperti itu, tra pakai drama-drama sindir di belakang."
Fine. Berasa tenang dan nyaman kalau bermain dengan mereka, tidak mendapati aroma toxic sama halnya di tawari oleh Navya dengan lainnya.
Karena termakan cerita hoax jadi susah juga untuk di jelaskan bagaimana kejadian sebenarnya.
Ah. Kembali dulu ke awal, Arinda sangat frustasi sendiri.
Bagaimana tidak? Ok, tahu sudah mendapati apa telah lama di mimpikan, pertemanan tulus, sayang masih di anggap orang luar, yang tidak diingatkan tentang dua mata kuliah belum terselesaikan.
Padahal Jordan sendiri bilang kalau ada apa-apa cerita saja, pasti di dukung.
Kok? Semakin lama mengenal, ngelunjak yak? Minta makan yang mewah sampai gadis itu rela tidak makan hanya sekedar ngumpulin duit untuk penuhi kebutuhan perut cowok yang memang sudah bantu proposal tersebut.
Tapi, kan, ada batas wajarnya jugalah. Yah kali, cowok matre dan memakai mindset miskin untuk alibi tidak mengeluarkan duit, walau untuk diri sendiri?!
Sebenarnya Arinda sangat lelah, jiwa meronta-ronta ingin nangis, uang jajan habis tak tersisa sama sekali.
Susah buat nabung.
Dan, seperti ada WAJIB bayarkan atau belikan makanan favorit Jordan setiap kali datang main ke sana. Terlalu pintar dalam menyembunyikan permasalahan itu dari teman sekitar.
Yang menjadikan nafsi memanjakan cowok tak tahu diri itu.
Menghentak dalam diam. Kembali melihat teman angkatan pongah tidak memungkinan dalam berbagi kisah mengenai dua mata kuliah berjejer merah, kan?
Kalut. Serius.
Saat-saat seperti ini, hanya membutuhkan dekapan juga kalimat motivasi dari dua sahabat.
Hah. Mereka saja tidak tahu pada ke mana?
Seperti hilang dari ingatan ketika Arinda bersapa dengan prahara cita yang serius di kejar sampai mengenakan toga.
"Kamu harus kuliah tahun depan, Rin. Kan, mau jadi istri yang pintar, jadi..kamu harus kuliah yah?"
Hm. Membuang napas dengan kasar.
Ok. Fine, sudah memenuhi apa yang diinginkan Nazira. Tapi, kok, tidak mau mencari tahu sedang apa gadis itu sekarang bagaimana perkembangan citanya?
Justru cuek bebek satu sama lain, hanya karena cemburu menembak-nembak hati juga ketulusan dalam ruas AVN.
Serius, Arinda saat ini mengatup rahang sangat keras. Menangis, ke mana larikan sesak itu? Saat dua sahabat hilang dari pelupuk mata?
Hah. Sesak sekali.
Rin..kenapa tidak cerita ke mereka saja?
Arg. Please deh, pikiran lagi kacau begini, harus kah bermunculan tentang kakting sempat menolong jemari penuh lirih, saat terbentang kemustahilan depan mata?
Well. Juwanda, salah satu orang baru hadir tanpa sengaja sudah menolong agar proposalku di perbolehkan ikut ujian sama ketua prodi.
Hanya saja, ada maksud lain, imbalan tak setara dengan yang sudah Juwanda bantu.
Minta rokok terus-terusan, makanan apa pun yang di beli gadis itu, wajib hukumnya untuk belikan juga.
Hah. Membuang napas lelah, sesak sekali. Tahu, Kresna dan Ian sudah menceramahi cowok kurang ajar itu, tetap saja kan, masih ada rasa sakit di dada yang di rasakan Arinda?
🍬🍬🍬
Bismillah. Mengepalkan tangan kuat-kuat, membisik kekuatan dalam hati, semoga saja bisa dapat keajaiban.
Sudah sampai depan ruang BAAK. Mau membicarakan persoalan dua mata kuliah yang ketua prodi bilang coba dulu bicarakan dengan ketua BAAK.
Beberapa jam kemudian ..
Beliau memberikan detak asa, ke kantin untuk lihat ada kah jadwal di jurusan Teknik Informatika.
Sangat bersemangat sekali.
Tunggu ..
Meremas sangat kuat, tidak mendapati jadwal itu di semester ganjil lewat jurusan Teknik Informatika.
Hancur sudah.
Sangat menyesak jiwa.
Tidak mungkin toh menelpon mereka berempat?! Kalau ingatan-ingatan mengenai Juwanda yang keterlaluan itu, bakal minta akomodasi lagi, kalau ingin datang bercerita kerumitan cita.
Arinda ingat betul saat itu dapat dosbim jam terbang, tetapi Juwanda selalu temani untuk konsul supaya bisa kejar ujian proposal secepatnya.
Yang mendamparkan diri di kampus lain, sempat bertengkar dengan Kresna karena insiden di kupang.
Mau mencari solusi supaya bagaimana sifat Juwanda yang semena-mena mengenakan uang teman perempuan, berhenti. Eh, justru Kresna mengungkit masalah lain, tidak percaya dengan Resna yang sudah kasih rusak motor penuh kenangan, mio matic putih.
Dan, lebih menyalahkan Arinda yang katanya bilang, "di sini sa tra mau salahkan siapa-siapa dan sa juga tra mau percaya siapa-siapa." Kata Kresna sangat enteng.
Meledak-ledak dong hari itu, yang buat Arinda pergi ke stimik sama Ian saja.
Sebelum datang dan minta tolong Jordan buatkan bab satu proposal, gadis itu chat dulu tapi sangat berpikir keras, tidak mungkin hanya ketemu sekali di kupang, sudah mau minta kerjakan proposalnya sih?
Tapi, sepertinya semesta berpihak padanya saat itu.
Kedatangan mereka berdua di sambut sangat ramah, juga mengindahkan bantuan dari Ian untuk selesaikan proposal gadis tersebut.
Tidak ada raut keberatan selain menolong dengan ikhlas.
Esok hari ..
Ujian di mundurkan karena satu alasan, dosbim lagi tidak ada di tempat.
Membuang napas kasar.
Dapat bentak-bentak dalam keadaan mabuk, terus saja menyalahkan nafsi, bahkan yang bikin masalah duduk santai sambil ngegame, kebetulan itu malam minggu, menghubungi Jordan, bisa langsung ke kampus kah?
Karena perasaan sudah buruk sekali, nyaris menangis.
Hah. Arinda bisa lega, langsung meninggalkan tempat dan menghiraukan ocehan tidak penting Ian itu.
"Ko kenapa?" Jordan menyambut heran.
Menjelaskan sambil emosi ke cowok itu, hah akhirnya tangis itu pecah.
"Jadi, ceritanya tra jadi pergi makan mie ayam nih? Hanya karna ko kepikiran omongannya Ian?" Kata Jordan.
Arinda mengangguk lemah dengan ekspresi lirih campur manja.
Tugas cowok itu hanya mendengarkan sambil berikan solusi, sangat tenang sekali.
Beberapa hari kemudian ..
Akhirnya bisa merasakan apa itu berdiri depan dosbim juga dosji untuk ujian proposal skripsi.
Drama bengis terlewati yang nyaris jeruji Arinda lewat gagal ditemani sunyi, ternyata bisa merasakan deg-deg nervous sebelum hari H-Ujian prosposal.
Besok sudah mau maju ujian, sebelum itu dia datang lagi ke stimik untuk belajar ulang ke Jordan.
Dalam kacamata egoisme sekitar pertemanan, ternyata bisa juga mengantarkan diri untuk masuk ke ruang ujian.
Jordan ikut menemani walau sedang sibuk ngajar di kampus, berkorban waktu hanya untuk datang ke ujiannya.
Sebelum ujian, Arinda ngajak duduk di atas lab, makan dulu.
Beberapa jam kemudian ..
Melampiaskan kekesalannya, karena dosen penguji melempari pertanyaan sangat pongah persoalan sistem usulan yang akan di ambil dan di lanjutkan ke skripsi.
Jordan hanya diam mendengarkan keluhan serta pukulan dan cubitan di tubuhnya.
"Sudah selesai? Ayo..kembali ke kampus, trus makan siang lagi." Kata Jordan.
Mengangguk manja lalu naik ke atas motor, saat sudah ganti pakaian mereka berdua menuju KFC dok lima bawah jayapura.
Tadi setelah keluar dari ruangan, membayar uang ujian di ketua prodi.
"Arinda..kamu kumpulkan berkas-berkas untuk melengkapi persyaratan TA." Begitulah yang beliau cetuskan.
"Hah? Persyaratan apa pak? Wajib kah pak?"
Eh, tunggu kok gadis itu jadi nge-lag yah? Apa pengaruh keluar dari ruang ujian?
"Lah, iya. Kalau mau ujian TA harus lengkapi persyaratannya. Kamu bawa kertas dan pulpen tidak?"
Menggeleng.
Dosen langsung print-kan kertas persyaratan itu dan mengarahkan ke dosen pembimbing.
"Kenapa bukan bapak saja yang jadi dosmbimku?" Kata Arinda, sedikit protes dalam hati lebih tepatnya.
"Loh, bapak tidak bisa. Karna nanti bapak yang jadi dosen pengujimu."
Hue..senang bukan main!
"Ingat, nanti lengkapi semua jadi satu dalam map warna kuning trus bawa ke bapak."
Arinda sangat senang, karena bisa lanjut ke ujian skripsi tanpa harus ujian ulang tahun depan lagi.
Senang.
Juga, sudah mendiskusikan tentang programnya dan kapan bisa ketemu dengan programmernya lagi.
Eh, sudah sebulan lebih tidak ada kabar sama sekali, mengira programmernya jatuh sakit karena corona, ternyata kecapekan ngurus program TA yang masuk, kena tipes.
Menyampaikan juga kalau Arinda tidak kasih kabar lagi, jadi tidak lanjut buat programnya. Huee..pengen nangis, ini sudah yang di takutkan gadis itu, biaya program.
Ups, Jordan sempat mengingatkan kok, buat bayar programnya setengah dulu sebelum masuk PPKM bulan Agustus.
Tapi, katanya sudah tidak di lanjutkan? Buat ulang atau bagaimana, karena belum bayar setengahnya.
Pengen nangis, bagaimana mau minta uang program di om, kalau sudah bilang tidak bayar spp kuliah lagi?
Hah. Prantara grandma again?
Perjuangannya sudah sampai di ujian proposal, apakah tertunda lagi?
Beberapa hari kemudian ..
"Katanya tanggal 14 yudisium toh?"
Deg. Spontan buat Arinda mulai panik lagi.
Berarti besok sudah yudisium eh? Ada getir tercipta di sana.
Malam itu .. "Ma, beskk sudah yudisium." Melihat eksprsi senang ibunda, dengan cepat, "tapi, sa besok tra ikut yudisium. Karna om saja tra percaya kalau sa beli program. Hm.." Langsung melangkah ke kamar dengan perasaan sesak.
Tangis itu pecah.
Sekarang? Kembali mendesak, ingatan bahwa perjuanganku batas proposal, menjadikan Arinda tidak menjadi semangat lagi kejar keterginggalan termasuk dua mata kuliah eror itu.
Oh, iya keingat satu temannya.
Menelpon .. "Jih, ko nih, yang sa tahu ko tra mudah menyerah. Kenapa tiba-tiba mo berhenti di tengah jalan?" Herannya.
Ah. Kalimat itu keingat lagi sama ..
"Jangan bilang ko datang ke sa baru nyesal lagi. Karna ko tra bisa ikut yudisium trus salahkan ko diri."
Hue..Jo, betul yang ko bilang, sa gagal yudisium. Jerit gadis itu dalam batin.
Karena tanggal yang tepat mereka pada merayakan kebahagiaan kelayakan lulus, Arinda justru melarikan luka itu di Jordan.
Hanya karena permasalahan uang program, memang buat dia tertutup untuk menceritakan dua mata kuliah di anak stimik.
Coba saja tidak ada beban pikir, sudah di pastikan bisa ikut yudisium.
Tetiba .. Nai, Vlo, kalian tra marah sa kah? Karna gagal ikut yudisium tahun ini? Hah..sa jengkel sama kalian berdua, saat susah begini, kam tidak kuatkan sa bahu. Getir Arinda dalam batin. []