
...“Berdiri mengenakan toga tanpa dua sahabat, merayakan gelar komputer begitu kosong dalam hati.”...
💣💣💣
Sangat senang bukan main, tinggal menghitung jari bakal mengenakan toga yang akan di pindahkan ke sebelah. Moment paling di nantikan dua sahabat, tiba-tiba saja ada getir di ekspresi.
“Hm. Bilangnya iyo, Rin, nanti sa bakal datang ke ujian skripsimu dan ke wisudamu, nanti ko pakai kebaya jan warna hijau eh? Tra cocok di sa kulit. Mana?! Trada sama sekali mo.” Ketus Arinda berbicara sendiri.
Butir-butir syukur bisa dengan segera mengenakan baju wisuda, walau tahu dramatis terlewati di proposal kkn, teman kelompok pongah, mata kuliah ada eror lagi, bahkan nyaris menyerah di tengah jalan.
Seperti membisik dedoa paling aksa yang bisa mengantarkan ayunan itu mengikuti acara wisuda tahun 2022 bulan september nanti.
Arinda sudah berada dalam ketakutan-ketakutan menatap lekat ulang sebuah krsm yang terjilat merah sangat nyalang, ternyata mengelus penuh asa lewat prantara salah satu dosen.
Tidak tahu bagaimana lagi cara gadis itu berterima kasih sudah mau di repotkan dengan kecerobohannya tidak bisa lihat teliti jadwal praktikum tahun kemarin.
Kalau saja AVN masih berada di pelupuk mata, akan melayangkan protes pun tegas mengenai cita brantakan. Lah, lagian kenapa juga hilang dan menelantarkan Arinda saat butuh sandaran, ketika rumit memperjuangkan semua seorang diri?
Akan tetapi, dengan hilang kabarnya mereka berdua cukup menjadikan nafsi mandiri pun kuat berdiri mempertahankan gelar itu, bukan?
“Rin, kalau saja ada mereka berdua, pastinya ko masih bergantung dan manja toh?” Kata Ika, pernah saat itu di kantin kampus.
Hm. Benar juga sih apa yang sudah dikatakan Ika beberapa tahun lalu, ketika kapasitas beban pikir mengenai cita berulang kali eror, buat diri hampir nangis berhenti kuliah.
Pun, kalimat-kalimat motivasi yang di dapatkan sebelum tercipta insiden playing victim dari Navya. Baru merasakan arti kehilangan dari sosok yang jauh lebih percaya hoaks di banding kebenaran.
Fiuh. Arinda terlihat berjalan ke arah destinasi penuh imajinasi, sembari memetik beberapa diksi favorit, lalu duduk dengan wajah sedih.
“Kalian ke mana saja sih, hah?! Tra tahu kah, kalau sa disini kesusahan pertahankan sa gelar komputer, yang kalian inginkan?! Ah..sa capek jujur, tanpa kalian.” Rengek Arinda.
Tak masalah bukan dalam menciptakan sebuah percakapan delusi yang cukup menyenangkan rongga-rongga realita?
Mereka tersenyum ramah, “Rin..sejauh ini ko hebat! Serius, sudah bisa bertahan dan tidak bergantung lagi, walau pun kita tahu ko sempat di jatuhkan sama perempuan cosplayer yang haus perhatian, trus teman kkn-mu yang egois.” Kata Nazira.
Arinda menoleh begitu protes, “iya, hebat-hebat begini yang hampir gila, woi! Sa menangis sendiri dalam kamar, pas tahu main sama Jordan dan teman-temannya, ternyata bikin sa tra fokus sama sa studi, kam tra marah toh, kalau telat lulus berapa tahun nih?” Getir Arinda, sangat sesal dalam dada.
Vlo yang terlihat garang persoalan studi, tetiba saja menampilkan mimik sangat bersahabat, duduk di samping gadis itu, “Rin..sudah. Tra usah bahas yang sudah lewat. Intinya beberapa hari lagi ko wisuda toh? Sudah kasih tahu belum?”
Ah, tiba-tiba saja langsung terbangun dari dunia imajinasi, berhenti memproduksikan dialog manis.
Yang sekarang terasa miris, benar, “Rin..jan terlalu asik sama imajinasi, nanti ko sakit sendiri.” Apa yang di katakan teman sejurusan sendiri.
“Sa kangen kam dua, serius!” Lirih Arinda sendiri.
Melihat ulang dialog itu, ternyata benar hanya bisa menyenangkan diri sendiri memeluk mereka berdua lewat delusi semata. Yang kalau saja tidak ada cemburu karena kecantikan, kemungkinan bisa bertahan hubungan itu walau pun ldr-an tetap berkomunikasi pun begitu juga dengan Vlo.
Hah. Apakah ini merayakan kebahagiaan lulus kedua kali tanpa sahabat kah? Semasa sekolah pun begitu, karena kesalahan pahaman, ego pribadi menjadikan AVN retak lagi, tak bisa menikmati moment manis melepas seragam putih abu-abu.
Dulu sempat bertutur kata bersama Nazira, itu pun batas foto setelah ngambil amplop kelulusan lalu pergi merayakan dengan teman smp yang tidak seharusnya terjadi, kurang bahagia.
Jika mengesampingkan egoisme, bisa saja memajang foto AVN setelah kelulusan sekolah. Begitu pun dengan wisuda yang akan datang, mau melihat kedua sahabat cakadidi mengenakan kebaya nanti.
“Rin..ko harus bisa wisuda, hanya karna lewat ko, kita bisa foto sama-sama. Supaya AVN lengkap, biar sudah nanti tra lulus wisuda bersamaan, yang penting kita berdua bisa datang di ko acara wisuda dan foto di foto studio.” Pernah Vlo berpesan.
Dan, apakah bakal datang nanti?
Ah. Benar, hampir saja lupa untuk kasih kabar kelulusannya ke sahabat sendiri, yang tidak ada kejelasan hilang dari komunikasi melalui telpon atau pun sms.
Mendadak lesu, ketika .. Odot, tgl 13 sa yudisium belum mendapati respon sama sekali dari Vlo.
Fiuh, membuang napas gusar, sepertinya sudah tidak diperlukan lagi, kan?
Masih ada beberapa dialog ingin terlantangkan lewat destinasi imajinasi, sayang tidak memiliki niat balik ke sana, takut nyeri tak tertolong susah sembuh.
Vlo yang selalu menjadi ruang paling nyaman dalam bercerita pun, terkadang buat dia berpikir keras, karena terhalangi oleh insiden paling membiru di wajah sahabatnya sendiri.
Seperti ini, “Rin, ko kenapa kah, paling tidak bisa sekali eh, filter mana orang baik dan jahat, hah?! Kita su pernah bilang toh jangan terlalu baik sama orang yang baru ko kenal?!” Dialog kali pertama tercetus kalau Vlo dengar semua keluhan itu, di garis bawahi jika berkumpul bertiga.
Dan, kalau hanya telponan, menasehati secara baik-baik berbicara sangat ramah. Karena memang Vlo paling gemar cari petaka kalau berkumpul, kalimat makian bertujuan senang-senang supaya Nazira mengomel.
Hah. Mengingat itu saja cukup buat Arinda rindu AVN yang dulu.
🤍🤍🤍
Setelah tahu AVN telah bergelar, berasa kosong tak memiliki ruang untuk menunjukkan gelar tertuju pada dua sosok berperan penting dalam mendorong semangat itu buat lanjut ke tahap ini.
Nai, Vey, sa sudah wisuda. Makasih, su buat sa yakin bisa lulus tanpa dukungan kalian. Akhirnya, gelar selama ini sa idamkan bisa terwujud karena kam suruh sa isi formulir itu. Getir Arinda.
Hm. Tersenyum miring, membuang semua angan tersebut lalu menunggu tante make up di rumah. Menghemat biaya, kalau ke salon bakal mengeluarkan uang banyak.
Mendengar penuturan dari teman wisudawati, harga make up di salon kisaran enam sampai delapan ratus ribuan. Bisa ke beli boba berapa cup tuh, bagi Arinda?
Setelah melihat matahari pagi, tinggal berberes saja mengenakan sepatu hak. Paling tidak terbiasa sekali berpenampilan sefeminim ini, serius. Apalagi rok kebaya, bisa jalan kah tidak nanti pas naik ke panggung? Walau pun tidak terlalu ketat, tetap saja porsi bagi gadis setomboi Arinda, tidak leluasa bergerak.
Sampai di gedung hotel, kakak-nya sudah kembali ke rumah untuk datang lagi sekitar waktu acara wisuda sudah mau selesai. Karena takut mereka menunggu lama.
Dalam ruangan, Arinda sudah mendapati link itu lalu membagikan ke mereka di rumah untuk nonton streming live.
Rasanya, kelulusan ini belum sempurna karena masih ada berbagai kesalahan yang harus di perbaiki.
“Makanya, Rin, kalau ujian skripsi tuh belajar! Jan lagi kluyuran ke stimik, tra jelas sekali main ke sana tapi tra dapat manfaat sama sekali. Tobat toh dapat marah sama ko dosen pembimbing.” Vlo sempat semprot lewat telpon.
Iyo eh? Kenapa juga sa turuti Jordan punya perut? Lagian, anak itu bantu sa skripsi setengah-setengah mo. Gumam Arinda, sedikit protes.
Kalau saja porsi otak bisa memenuhi kapasitas orang pintar atau paling tidak bisa memahami-lah, tidak mungkin bergantung ke cowok materialistis, yang selalu kurang puas saat Arinda memberikan makanan tiap kali konsultasi skripsi.
Tapi, dengan adanya sebuah insiden dramatis paling lebay di buat oleh calon adik ipar, sudah tidak memiliki KEWAJIBAN bawa makanan atau ntraktir menu mewah seperti kali pertama kenal. Hanya batas bincang keperluan skripsi doang, setelah itu balik tanpa drama lain.
“Kak Rin, lain kali kalau mau ketemu orang itu, bawa uang di dompetmu cukup seratus ribu saja.” Pernah, Adnan berkomentar.
Agar meminimalisirkan kertas merah tak sedikit itu jangan lagi terbuang sia-sia untuk perut orang tidak tahu diri, angkuh, pukul tinggi tapi tidak memiliki apa-apa selain kesombongan semata.
Sempat gadis itu berpikir lebih baik uang di pakai ke orang salah bantu anak yatim, lebih berpahala.
Tetiba ada senyum miring, terlalu asik sekali melamunkan kenangan jelek paling brutal pun bejad dari Jordan, sudah burik pula. Apa yang harus di banggakan coba?
Hah. Tahu, persoalan skripsi saja yang buat dia bertahan pun menuruti keinginan makan-makanan mewah.
Pernah juga cowok itu menampar dengan alasan menyadari Arinda, bukan kesalahannya melainkan memang mamanya tidak tahu diri, terlalu matre minta makanan buat di kasih ke anak perempuannya sedang sakit.
Bukan menyadarkan melainkan memang ada dendam terselubung, selalu menyusahkan setiap kali jam waktu kerja datang ke stimik.
Hoh. Bukan kah Jordan sendiri, “trapp, kalau ko mau datang main ke sini, kabari saja.” Melantangkan kalimat tersebut?
Tak sekedar mengusik pekerjaannya saja melainkan marah karena calon adik iparnya sendiri membongkar selama ini Jordan minta makanan mewah di orangtuanya.
Lah, salah sendiri, kenapa mau jadi pengemis bermodal bantu skripsi?
“Ko tuh harus minta maaf sama orang yang sudah punya pekerjaan, mereka hanya berharap dari uang gaji mereka. Sedangkan ko? Enak, masih bisa dapat uang jajan.” Dengan lantang, percaya diri Jordan berikan ke gadis itu.
Mengernyit heran, terlalu matre kebangetan sekali. Kurang bersyukur dengan gaji selama ini jadi asdos di stimik kah?
Sudahlah. Setidaknya hari ini menikmati moment wisuda dulu walau tanpa dua sahabat berdiri di samping untuk ngambil potret AVN, ketika mimpi mereka berdua sudah berhasil Arinda rebut gelar komputer tersebut.
Yah. Avn telah bergelar, walau tahu dia paling lama lulus setidaknya bisa mempersembahkan juga ke dua orang berperan paling penting dalam menggerakkan hati itu untuk bisa jemput yang orang rumah bilang bodoh pun impossibel dapat toga.
Membuang napas gusar, terlalu lama sekali acara wisudanya, tulang belakang gadis itu sudah retak, mulai pusing.
Beberapa jam kemudian, bisa lega lihat acara selesai, langsung menelpon kakak cowoknya sudah datang kah belum usai sesi foto sama teman wisudanya.
Keluar dari ruangan, sudah di sambut dengan kejutan tak terduga dari keluarga. Ada berbagai buket, paling istimewa dari ibunda. Buket besar. Terharu.
Jika saja dramatis perjalanan kuliah bisa di pertahankan seorang diri tanpa harus mencari sana-sini penyemangat, sudah di pastikan bakal menempati posisi Vlo, mandiri, kuat hingga mengantarkannya wisuda.
Tahu, sejak awal potret denyut nadi tidak menyetujui nafsi kuliah, setidaknya, “Rin..ko harus bisa tunjukkan ke mereka, kalau ko bisa wisuda, bisa dapat gelar komputer. Jan jadikan itu semua hambatanmu buat malas-malasan kuliah.” Pernah kok, Vlo mengingatkan.
Sekarang baru menyadari, pentingnya mengandalkan diri sendiri. []
...^ Ending ^...
.
Hello readerss..untuk novel My AVN on proses revision yah, makasih yang udah dukung karya ini~
Jangan lupa kunjungi karya-karyaku yang lainnya juga, thank kyu.
Salam online author,
💚💚
-Dinn-