My AVN

My AVN
Bernostalgia ..



"Bukan kah menjadi memoar terbaik kalau tidak ada prahara menghantam AVN? Lagi, Arinda bernostalgia."


🤍🤍🤍


Duduk melamun dalam kantin.


"Arinda?" Sapa seseorang yang sangat di kenali kepunyaan nama tersebut.


"Yah, kak." Balas Arinda dengan lempar senyum.


"Kok tidak masuk kelas?" Bingung kakting itu.


"Belum ada dosen, kak."


Hanya mengangguk lalu duduk di samping Arinda, ngobrol asik, sedikit .. Mengangkat kegusaran dalam batin selama ini terpendam sendiri.


Arinda, dosen sudah masuk.


Eh, SMS dari Yanti mengingatkan diri untuk segera ke kelas.


"Kak, maaf, nanti kita ngobrol lagi. Soalnya dosenku sudah datang." Putus Arinda yang di balas anggukan kecil dari kakting tersebut.


Mengayunkan kaki berselimut tanya, kenapa bisa teman toxic mengabari bahkan maaf, Rin, kita kasih masuk dia ke dalam kelompok kalimat maaf ini tak pernah di dengar.


Sampai dalam kelas, memilih tempat duduk di tengah-tengah bagian kanan, supaya tidak ketahuan dosen kalau sedang sibuk sendiri.


"Rin.." Tegur ketua kelas.


"Hm?" Sangat terusik.


"Itu..nanti dosen tegur ko lagi." Mengingatkan, sambil nunjuk ke arah depan kelas.


Well. Sudah mengikuti mata kuliah, dosen menerangkan depan kelas, cukup buat mata ngantuk dan pikiran tidak konsen.


Jadi .. Lebih baik sibuk dengan buat puisi saja.


"Puisi buat siapa tuh, Rin?" Kata ketua kelas.


"Kenapa jadi?" Arinda menimpali dengan sungut.


Paling jengkel tuh kalau privasi di komentari padahal tidak ada kepentingan lain selain mencemooh saja.


Apalagi tahu ketua kelas adalah orang paling kepo lantas membongkarnya ke teman lainnya.


Ok, tahu kok kalau cowok itu sangat humble, setidaknya ukuran mental bagi Arinda sangat berhati-hati sejak di berikan omongan hoaks dari Navya tak tahu diri.


Dasar..perempuan dramatis! Lah, tiba-tiba saja gadis itu berketus dalam batin.


Bagaimana tidak mendendam, kalau cerita di sampaikan adalah garis-garis kebohongan agar mendapati simpati lalu menghantam balik gadis itu lewat sikap pun sorot intimidasi.


"Ah, trada. Bagus puisinya." Cowok itu memuji kah?


Setelah melewati fase paling sakit dalam kelas, apakah tidak salah mendengarkan kalimat pujian darinya?


Kenapa harus datang beri ruang, setelah keterlukaan sangat panjang belum pulih sepenuhnya, datang rentangkan sebuah ikatan?


Ok. Coba mengendus sangat pelan. Hanya kasih pujian, selebihnya takkan pernah menjadi bagian dari pertemanan mereka dengan ulang.


Hm. Tersenyum miring.


Sangat beda jauh sekali dengan family multimedia yang lebih mementingkan solidaritas di banding egoisme diri dalam kelas.


Kalau suntuk di pojok kantin, bakal ada salah satu dari mereka duduk sembari ngobrol untuk menarik perhatian nafsi ikut bergabung.


Sayang. Saat itu dia terlalu sibuk dengan dunianya, padahal mereka menawari tulus sangat jelas.


🌏🌏🌏


"Rin..kenapa makan sambel banyak-banyak lagi kah, ah?! Nanti perutmu sakit baru, ngeluh di sa lagi!" Ketus Nazira.


"Jih, sekali-kali saja mo mana mungkin langsung sakit perut." Justru di balas tawa.


"Rin, ingat, jan sakiti dirimu sendiri, hanya karna ko masih sayang sama dia." Vlo mengingatkan.


Oh god, kurang baik apa lagi sosok Arinda di hati mantan kekasihnya itu, hah?!


Lantas, tak ada pembelaan sama sekali dalam meluruskan kesalam pahaman ibundanya tentang nafsi bukan matre, karena memang dirinya yang terlalu boros pakai pulsa, makanya sering minta jatah uang lebih.


"Eh, nanti malam makan tahu thek di Bu Retno kah?!" Tetiba saja Nazira langsung mencairkan suasana.


"Sebentar malam ko tra dapat larang keiuar kah?" Arinda mengernyit.


Karena tahu sahabat yang satu ini sangat jarang mendapati ijin kalau sudah masuk malam.


"Tenang, asal nanti sore ko datang ke rumah main sebentar dan minta ijin ke sa mama dan bapak, gimana?" Nazira berseru riang.


Hm. Mengulum senyum. Akhirnya perempuan itu bisa mengembalikan mood sahabatnya lagi.


"Tapi, kayaknya sa tra bisa ikut kalian deh?" Lagi, seperti biasa.


Vlo selalu mencari-cari alasan agar tidak membebankan pundak ekonomi kedua sahabat yang sudah jelas tidak terlalu di repotkan itu.


Terkadang heran, apa arti sahabat bagi perempuan pendengar setia tersebut, kalau selalu menolak halus? Agar tidak mencicipi selembar uang kedua sahabatnya.


"Aih, selalu deh, ko tra mau sekali jalan sama kita. Hanya maunya pas ketemu di sekolah, itu pun kalau ko tra kumpul sama the gank-mu, pasti tra bisa kumpul begini." Nazira bete mendengar penuturan yang sangat bosan dari sahabat sendiri.


"Makasih? Sa jadi sahabatnya kalian saja, sudah bersyukur sekali kok."


Sahabat apanya coba, kalau hanya figuran saja dalam AVN? Jujur, Arinda belum terima kalau mau kasih bantuan sebagai orang paling penting justru tertolak sangat halus, beralibi tidak masuk akal.


Sempat, Nazira juga protes dan mencak saat jalan berdua saja. Karena Vlo tidak mau ikut ngemall.


"Apa sih salahnya ikut duduk makan donat di sana, Rin?! Kan, gunanya sahabat saling melengkapi. Ah..giliran temannya yang munafik itu saja minta tolong atau suruh datang, cepat sampe. Giliran sama kita, sahabatnya sendiri, tra bisa sekali luangkan waktu." Keluh Nazira.


"Hah. Tra tahu juga tuh, maunya apa sih? Sa juga sempat marah dan bilang tra mungkin sahabat kasih biarkan dia susah. Yah, begitu, tahu sendirilah, anak itu tra mau bebankan kita." Timpal Arinda, tak kalah protes.


Jujur, kedua perempuan hijabers itu sangat tak permasalahkan soal uang selalu di keluarkan untuk patungan bayarkan makanan Vlo.


Masih belum mengerti dengan isi pikiran sahabat sendiri, dalam menanggapi arti AVN di hati.


Kalau mendapati sorot susah, pasti hanya Arinda saja di kasih tahu.


"Kenapa kah kalau Nazira tahu? Tra masalah mo, dia juga kan, sahabatnya kita. Masa ko sembunyikan masalahmu dari dia sih, Vey?" Sempat Arinda waktu itu bingung.


"Ah, trada. Sa hargai itu kok, Rin. Hanya sa lebih percayakan masalahku di ko, karna ko orangnya baik dan tulus."


Hue..ingin sekali memeluk sangat haru mendengar penuturan sahabat sendiri.


Tak mengelak kalau ada tebaran hangat menyelimuti dalam tubuh Arinda saat itu.


"Yah, tapi setidaknya, Nai berhak tahu apa masalah dan susahmu." Arinda menyempatkan protes.


Nihil, hanya ada gelengan serta senyum tipis, menggambarkan kesedihannya kalau sampai sahabat satu tahu, menjadikan beban pikir lagi.


Cukup Arinda tahu saja sudah tidak bisa membendungkan kekhawatiran dalam benak Vlo.


Hm. Arinda terbangun dari bernostalgia paling manis di rasa semasa sekolah bersama sahabat yang sekarang sibuk dengan cita pun sifat dingin.


Kembalinya Vlo memang tidak benar-benar memberikan AVN hangat seperti dulu.


"Sa kangen di kasih kata-kata selamat pagi atau telpon tiba-tiba dari ko." Getir Arinda sendiri.


Kehilangan banyak semangat dalam hidup, sejak dua sahabat pergi dan membiarkan nafsi bernostalgia.


Yup. Duduk bincang memoar lama telah bersemanyam dalam deret delusi seringkali di kunjungi kala hati merindu.


Hanya puisi serta imajinasi menjadi teman saat jemput sunyi, selebihnya? Bertahan dengan sifat egoisme, intimidasi, bengis dalam ruangan sistem informasi.


Ah. Benar juga, Arinda duduk bincang nostalgia lewat imajinasi dengan dua sahabat, karena teman angkatan memberikan sifat tak mengenakan hati.


Banyak. Hal yang ingin di kisahkan ke dua sahabat, selalu mengusir luka sembari menawari simfoni pun jalan-jalan sekitar sentani atau pun jayapura.


Yang biasa dapat larikan nestapa dengan jalan bareng, atau duduk di panggung sekolah sembari curhat, sekarang bersitatap bersama diksi, suatu hal delusi tak bisa menenangkan hati di realita. []