
...“Now, waktu telah merangkum memori AVN di bangku putih abu-abu, hanya tersisa kenangan kurang indah, tidak merayakan kelulusan dengan tawa lepas bertiga.”...
Angka Manis Bingkai Perpisahan
Lagi, Arinda terduduk dengan penyesalan pun ingatan samar-samar kembali bermain dalam benak.
“Itu kertas apa, Rin?” Teriak salah satu temannya yang baru masuk kelas, dari kantin bawa sekantong cilok di tangannya.
“Ini?” Arinda bertanya balik sambil nunjuk kertas diatas mejanya itu.
Jelas. Keraguan terbentang di ekspresi, alih-alih pindah tempat justru teman sekelasnya sudah lebih dulu sampai di sana. Menggerutu dalam diam.
“Ko dapat materinya dari mana? Bagi kah..” Seru teman sekelasnya itu.
Sangat lantang, cukup ngundang teman lain pada berbondong tidak sabar melihat materi tersebut di Arinda.
Dan, terjadilah pembagian informasi walau pun tidak semuanya mereka pelajari, tetap saja, kan, buat AVN takkan kembali utuh seperti biasanya?
Yah. Masih belum ada topik untuk pulang ke rumah, berada di puncak egoisme diri, menimbulkan ketakenakan juga luka tidak bisa museumkan kenangan AVN sebelum meninggalkan sekolah tersebut.
Nazira selalu ada bahkan teman sekelas tidak sekali pun melirik atau ngajak di acara kecil-kecilan mereka, salah satunya ke pantai.
Apa yang harus di bagikan ke mereka, setelah di asingkan dalam ruas family multimedia? Karena kesepian kah, sejak jemari dua puluh empat januari pamit dari hubungan mereka, yang terjadi kesalah pahaman, orang tua Hamaz menanggapi nafsi matre. Pun, dengan berakhirnya hubungan keduanya, apa ikatan bersama teman sekelas ikut usai?
Yah. Benar kata Nazira, kalau kompak dan harmonis tidak bakal mengasingkan gadis itu.
Fine. Bersyukur juga dengan adanya materi itu, buat nafsi bisa bergabung ke rumah sakit, jenguk mamanya Airin.
“Nanti kam mau pakai baju apa nih, pas kelulusan?” Tanya Vanya di luar ruangan.
Pertanyaan itu cukup jelas buat Arinda yang sedang telponan dengan kekasih barunya, teman sekolah Hamaz waktu di MTS.
Bahkan setelah jenguk beliau di rumah sakit, tidak satu pun dari mereka menanyai antusias ke nafsi sebatas figuran saja.
Sampai di rumah dengan perasaan gusar, tidak bisa dengan seenak hati seperti biasa di lakukan ke rumah Nazira, sekedar main atau rusuh.
Tanggal 15 Mei 2015 ..
Arinda sudah sibuk mengurus keperluan buat datang ke salon tantenya buat make up, hari ini mereka mengenakan kebaya atau baju adat.
Setelah baju ganti serta seragam putih abu-abu di masukkan ke dalam ransel, berangkat ke lokasi.
Oh, ternyata sepupunya sudah lebih dulu datang. Gadis itu ingin duduk tunggu, “eh, Arinda sudah datang. Sini nak, masuk ke kamar pakai baju dalam dulu, bawa ndak?” Sambut beliau.
“Eh? Tidak bawa tante, mama tidak kasih tahu sih.” Di balas bingung dari Arinda.
“Awwa, kalau begitu pakai tante punya baju sudah di dalam, cocok ndak itu sama kamu.”
Ah, syukur ada baju dalam khusus pengantin hijabers di dalam kamar tantenya dan muat di badan gadis itu.
Warna ungu? Hoh, kebiasaan deh, pasti ibunda yang request lebih dulu.
Butuh beberapa menit mereka langsung naik ke mobil menuju sekolah. Gadis itu ngira mereka berdua terlambat karena sudah saatnya acara mulai, ternyata baru beberapa saja yang datang.
Please .. Detak-detak itu berpacu abnormal, tidak sabar melihat kedua sahabatnya mengenakan baju adat, apakah Vlo juga? Tahu satu sahabatnya yang ini tidak terlalu suka rempong, walau dirinya kadang ribet di sekolah, cukup ngundang penasaran dari gadis itu.
Juga ada rasa haru tidak sabar bersimuka dengan mereka.
Eh, sebentar, bersitatap? Siapa yang akan mulai cipta obrol?
Setelah mendapati kursi, duduk di samping mamanya Deli. Justru beliau mentitah buat duduk bersama teman sejurusan.
Jujur, sangat nervous kalau sudah berdandan seperti ini, malu karena tidak terbiasa make up.
“Rin, maju ke depan sana..namamu di panggil tadi.” Tantenya menyuruh buat berdiri, bergabung dengan siswi lainnya.
Melongo tapi langkah itu maju ke depan.
Ternyata .. Mereka yang berdiri ini menyumbangkan lagu perpisahan buat guru smk ypkp.
Menyebalkan. Seperti orang bodoh, tidak tahu lirik tapi dengan asal di suruh maju segala ke depan.
Merutuki kebodohannya dengan cara mengambil tempat duduk depan kantor, di sana terdapat teman sejurusan. Ah, ada Hamaz yang sibuk dengan laporan magangnya, masih belum di kumpulkan kah?
Well. Arinda yang ngebantu semua isi laporan itu. Sempat di semprot oleh sahabat sendiri, kenapa harus campur tangan, kan, sudah ada Arista yang bakal bantu. Tetap ngeyel dan print lalu kasih ke orang bersangkutan.
Please .. Ada desir rindu saat kedua bola mata mereka bertemu sesaat.
Beberapa jam kemudian ..
Sudah pada tidak sabaran untuk ngambil amplop kelulusan, begitu pun Arinda sangat gelisah buat bertemu dua sahabatnya.
Berbaris di lapangan, menunggu nama terpanggil oleh setiap wali kelas masing-masing jurusan.
Setelah semua bubar barisan, dalam kerumunan terlihat yang lain sibuk mencari pilox dan ganti baju putih abu-abu.
Tidak tahu kenapa, dentum dalam hati sangat berpacu haru, apakah Nazira menunggu nafsi menjemput lalu merayakan kelulusan mereka?
Benar. Sesuai dugaan, setelah mencari-cari dalam kerumunan ternyata sahabat padang itu lagi berdiri di depan kelas, celingak-celinguk.
“Hai, Nai? Ko sudah terima amplop kelulusanmu kah? Ko lulus?” Arinda menepuk pundak sahabatnya sedikit canggung.
Menoleh ke belakang, “Arinda! Iya, sa sudah terima suratnya dan sa lulus, trus ko?” Membalas dengan wajah berbinar.
“Sa belum buka. Takut..tra lulus eh?”
Tahu kok, hanya saja buat apa buka selembar itu depan umum? Sisi lain, masih belum ikhlas dengan ketakmampuan selama tiga tahun di smk, sama sekali tidak mengantongi prestasi selain perulangan terbantu oleh wali kelas sendiri.
“Ah, masa sih? Bu guru bilang kalau kita semua lulus seratus persen kok.” Nazira tidak percaya.
“Vlo di mana?” Arinda mengalihkan topik, dengan perasaan gemuruh hebat, kaku.
Jujur, sangat menyebalkan saat-saat sedang bahagia seperti ini, kenapa perasaan canggung menyergapi? Tapi dengan kepercayaan diri Arinda, dua sahabatnya tidak bakal mempermasalahkan insiden itu lagi.
Benar. Terbukti ketika menerobos pelupuk mata Nazira tidak memusingkan hal tersebut.
Sama. Perempuan itu juga senang ketika angka manis bingkai perpisahan mereka dengan obrolan.
“Tra tahu nih. Tadi, katanya sih, cari pilox-nya yang di pinjam sama temannya. Sekarang anak itu ke mana lagi?!” Keluh Nazira.
Arinda hanya mengulum senyum. Senang.
“Eh, itu sana..Vlo, Rin!” Pekik perempuan itu sambil nunjuk ke arah Arinda.
Mengode kalau sahabat keras kepala mereka sudah balik, justru nam adi panggil masih sibuk mondar-mandir dalam kelas.
Oh, sa tra begitu penting kah? Getir Arinda dalam batin berbisik.
Hanya bisa foto berdua saja dengan Nazira. Kalau saja berangkat ke sekolah sama-sama, kemungkinan bisa menghabiskan waktu kelulusan bertiga.
Now, waktu telah merangkum memori AVN di bangku putih abu-abu, hanya tersisa kenangan kurang indah, tidak merayakan kelulusan dengan tawa lepas bertiga.
Jelas, ada rasa sakit mendominasi hati Arinda.
Vlo jauh lebih memprioritaskan pilox di banding foto sebentar dengan dirinya.
“Daa..sa duluan eh?! Soalnya su dapat tunggu kapa niih sama sa tante di mobil.” Gadis itu pamit.
Wajah Nazira tidak mengizinkan dia pergi, masih menginginkan buat rayakan moment bertiga.
...***...
Melihat postingan mereka di sosial media, cukup mensayat perasaan.
“Coba waktu itu sa telfon kam eh?” Decak Arinda berbicara sendiri, lirih.
Sesal pun terbit, sudah tahu persis dua sahabatnya seperti apa. Kenapa masih gensi buat ciota obrol lebih dulu? Membicarakan apa yang akan mereka kenakan saat acara kelulusan.
Bukan justru asik menempatkan diri di tengah-tengah mereka yang mengasingkan nafsi.
Acara kelulusan kemarin malam kurang menyenangkan, karena tidak ada AVN lengkapi moment di angka terindah tersebut.
Hanya berada di kota jayapura bersama teman semasa smp. Hampir nyaris kena tilang oleh polisi.
Kemarin duduk hanya pegang HP berharap salah satu mereka menelpon buat duduk sama-sama, nihil. Tidak ada sama sekali. Merayakan dengan perasaan kosong, tidak ada yang istimewa.
Baru ingat .. Kamu lulus kan, Dek? Selamat merayakan kelulusan, hati-hati di jalan yah. SMS dari kakak kelas dikenali lewat sosial media, kepentingan dalam bahas karya waktu itu, Kak Galih.
Menggeretak dalam diam. Kok, ada emosi meletup? Tahu mereka bisa membagikan kisah di bingkai paling sweet di angka cantik saat kelulusan di sekolah bersama guru-guru lainnya?
Menyesal juga, kenapa harus menuruti keinginan itu buat berbarengan ke jayapura? Seharusnya bilang ke tante kalau bakal pulang sama-sama sahabatnya, bukan ikut rayakan kelulusan sama mereka yang beda sekolah.
Coba hari itu nunggu Vlo selesai dapat pilox-nya kembali, sudah di pastikan bakal foto bertiga, lengkap, bukan seperti ini, hanya berdua doang.
Rin, sebentar ko di rumah toh? Sa mau belanja ke pasar, kebutuhan warungku. Sekalian eh, kita foto ulang!
“Eh?” Arinda melongo, campur senang.
Spontan lompat jingkrak bakal kedatangan tamu spesial di rumah, ih..pengen ngajak satu sahabatnya juga tapi mungkin sibuk di rumah.
“Foto lagi ah. Sa muka jelek nih.” Keluh Nazira cukup ngundang tawa kecil, geli berasal dari Arinda.
Sebenarnya, lama sekali. Merindukan obrolan tersebut, kurang satu, Vlo. Ah, kalau masih sore, kemungkinan besar dua perempuan hijabers itu culik sahabatnya.
Sudah. Puas dengan pengambil beberapa foto, lagi hanya berdua. Cukup mendahagakan rongga sesal Arinda saat ini.
Ingin sekali membicarakan di mana posisi sahabat rempong itu, kok sangat berat terucap?
“Trus, ko sudah mau balik nih?” Ucap Arinda. Masih belum ikhlas lihat sahabatnya pulang cepat.
Karena kalau sudah masuk kamar, bakal banyak kisah terbagi di sana sampai lupa pulang, hanya ini waktu tidak tepat di tambah kurang satu personil juga.
Seperti tahu isi pikiran gadis itu.
“Kita pergi makan dulu sudah, di Bu Reti, tahu thek!” Seru Nazira.
Ah. Sesal itu kembali menyeruak, tahu aroma ketulusan AVN tidak terbantahkan lagi dari mereka.
“Trus, kapan nih kalian ujian?” Tanya Arinda, sekedar basa-basi.
Menoleh dengan wajah semangat, “dua minggu lagi, kenapa? Ko mau ikut kah?!” Buru perempuan itu.
“Buat apa ikut, sa saja tra ikut isi formulir.” Arinda tertawa miring.
“Trapp, ikut saja sudah mo.” Santai perempuan itu.
Dua minggu kemudian ..
Seharusnya berbarengan mereka berdua, tapi tidak tahu kenapa terbius dengan omongan Elsi, teman semasa SMP-nya yang juga sempat ngajak dia ke jayapura rayakan kelulusan itu.
Sebab, AVN terhantam prahara lagi. Karena insecure gadis itu yang memicu untuk tidak menghiraukan semua SMS mereka berdua.
Kebetulan teman SMP mau ke lokasi sama, ngambil formulir. Oh mereka ada di sana, masuk dalam klouter pertama sedangkan Arinda dan kawan-kawan klouter kedua.
Mereka berdiri diatas panggung, untuk ngambil formulir baru di panitia.
Tadi di perjalanan, “buat apa ikut mereka kah? Bikin capek diri saja.” Ketus Elsi.
Karena keuhkeuh buat ingin ketemu dua sahabatnya di sana. Justru dapat balasan menohok dari temannya itu.
Sisi lain, “Nai..itu bukannya Arinda kah?” Seru Vlo di tempat duduknya, diam-diam menunjuk ke arah gadis itu, sedang pegang helm DJ Maru-nya.
“Ah, iyo kah? Tapi helm-nya bukan itu yah, ko salah orang kapa.” Justru di balas protes dari perempuan berdarah padang tersebut.
“Aduh, benar. Itu Arinda kapa, Nai! Coba ko perhatian baik-baik dulu sana!” Sedangkan Vlo masih berpegang teguh dengan pendiriannya.
Setelah Arinda mendapati formulir itu, duduk di anak tangga bagian samping aula. Jujur, dia juga sudah lihat ada dua sahabatnya di bawah sana. Jarak terbilang jauh cukup mengenali mereka.
“Kita keluar sudah?! Bikin apa lagi kah duduk di aula? Panas nih, sa juga lapar.” Mendadak dapat keluhan dari Elsi.
Gagal berlama-lama melihat dua sahabatnya yang sudah maju di kursi berikutnya, depan untuk menunggu giliran mereka di panggil oleh panitia.
Mereka akhirnya keluar dari aula dan duduk di parkiran sekedar ngobrol singkat. Sedangkan Arinda tidak sabar menunggu dua sosok penting di hidup keluar dari aula, hanya lihat sebentar saja setelah itu bakal pulang tanpa kantongi banyak kegusaran, akibat ulah keluhan teman SMP-nya itu. []