My AVN

My AVN
Jangan Nangis Gadis Aksara



"Memeluk keterlukaan dengan kehadiran rambut mie dalam destinasi favorit, sangat manis ngalun dalam deret diksi."


🤍🤍🤍


Arinda masih terluka. Sangat kecewa dengan tindakan mereka tanpa aba-aba mengeluarkan dari kelompok.


"Gadis aksara.." Suara penuh ramah memanggil.


Tanpa sadar telah berada dalam destinasi penuh tenang tidak ada vibes melukai perasaan hanya sorot ramah memanggil untuk duduk bincang keterlukaan.


"Jangan nangis gadis aksara.." Lagi, memanggil.


Tahu dalam batin menangis, pelupuk mata terasa panas nyaris menumpahkan air mata.


"Kenapa?" Bingung Arinda.


"Kalau sedih, ke sini saja," sambil berjalan pelan, "kamu tidak salah. Sepenuhnya. Karna kamu itu punya hati yang baik." Imbuhnya.


Hua. Pecah sudah tangis-tangis diri yang sedari tadi di pertahankan.


"Kalau memang baik, selalu saja di khianati. Saya ini capek ngulang mata kuliah setiap semester." Mengeluh sangat frustasi.


Benar. Apa yang sudah tersampaikan, sangat nyeri sekali dalam hati.


Arinda menceritakan mengenai teman kelompok sangat labil, langsung menendang tanpa alasan dengan memasukkan orang yang sudah memiliki program.


"Sukses bukan dari selembar kertas, tapi tindakan di dunia nyata, sebagai manusia yang berguna."


"Please..jangan sindir napa sih?!" Kesal Arinda.


Tahu bahwa nafsi sangat payah juga kurang berguna buat sekitar.


Justru menggeleng, menolak isi pemikiran gadis aksara itu.


"Kamu sangat berguna, cipta puisi indah buat saya setiap kali kamu sedih. Dan, saya kagum."


"Kagum? Dalam hal apa, coba?" Justru di balas tawa, meremehkan.


"Tidak semua orang memiliki bakat seperti kamu, bahkan fans saya hanya tahu mengoleksi foto dan vidioku, kamu itu berbeda."


Lagi, diksi-diksi manis berbaris lalu terlantang lewat bibir rambut mie london seringkali Arinda temui dalam puisi.


"Makasih?" Kata Arinda, sangat tulus.


Tanpa sadar sosok itu menghilang begitu saja, cukup buat dia tertekuk, sangat getir.


Kembali pada denyut realita.


Melihat teman-teman sekelas pada sibuk mendiskusikan program tugas kelompok yang bakal di kumpulkan beberapa hari lagi.


Kalau saja ada sosok Vlo, kemungkinan bakal datang berhamburan lalu bercerita tanpa adanya sifat asing bermunculan saat kedua bola mata bertemu.


Ah. Menyebalkan memang.


AVN sudah lengkap, tetapi berasa tidak memiliki ruang untuk melarikan luka.


Sendiri lagi kah?


Hm. Begitulah.


Padahal berpikir setelah pulang lagi ke rumah paling ramah, ternyata tak mendatangkan banyak tenang melainkan gusar selalu mengepung.


Kalau tahu kuliah tidak gampang mendapati teman dekat, Arinda tetap menggunakan sifat cuek seperti semasa sekolah dulu.


Agar .. Bisa dengan mudah mendapatkan teman sebatas perkuliahan, salah satunya kelompok.


Ah. Kalau sudah di tahu sifat juga hoax merajalela, apa lagi ingin terselamatkan?


Kakting yang selalu ada pun telah sibuk mencari masa depan masing-masing.


Benar, "Rin..kita tra selamanya ketemu," kata Vlo.


Gusar. Sangat. Menginginkan motivasi tanpa adanya delusi sua bersama sahabat.


Sampai kapan tidak buka obrolan lagi dengan Nazira?


Sudah terlalu sempit untuk menampung luka-luka dalam batin seorang diri.


Julioh pun ikut hilang kabar juga kok, apa yang harus di khawatirkan lagi sih?


Yang di pedulikan dari gadis itu adalah ikatan persahabatan bukan cinta. Tapi, kenapa Nazira selalu salah paham dengan hal tersebut?!


Bisa kah mengubah mindset dengan mau sahabat saja, bukan pacaran dengan lawan jenis?


Harus kah menumbuhkan cemburu, tahu sosok di kagumi ternyata menyukai nafsi?


Oh, come on, ini bukan permasalahan paras melainkan tempat untuk buat jiwa tenang.


🌏🌏🌏


Mereka sama sekali tidak ada kabar.


Apa lagi yang buat pikiran tidak bertumpukan dengan kegusaran?


Hunting sembari duduk di pinggir wisata kalkhote. Biasanya sih mereka bertiga datang ke tempat sama saat ini sedang di nikmati seorang diri dari Arinda.


Miris. Ternyata persahabatannya tidak terlalu penting di mata Vlo.


Oh, benar yak. Kalau datang berikan kecupan sweet batas menyenangkan saja, tidak menetap dengan sifat lama?


Tahu sudah lama, tapi traumatis masih melekat pun sulit terhindari.


Vlo memang pandai dalam menyembunyikan luka yang sudah di buat oleh sahabat sendiri, tapi bisa di rasakan gadis itu kok, kalau belum sepenuhnya pulih dari trauma tersebut.


Apakah tidak menginginkan dalam bertanya kabar cita sedang berantakan itu? Selepas kepergiannya dengan amarah?


Fine. Arinda tidak menyalahkan keinginan itu untuk pergi melainkan kenapa menelantarkannya dalam jalur cita, tidak sama sekali ngebantu apalagi Nazira sangat cemburu tahu jalan dengan salah satu kakak kelasnya mereka.


Harus menempati diri seperti apa? Supaya mereka tidak bermain putak umpet dengan egois gini sih?!


Hah. Lelah, jujur sekali. Kenapa harus menutup mata tahu dia sedang dalam kerumitan cita?


Terutama orang rumah sangat tidak merestui nafsi kuliah.


Apa yang harus di jadikan pegangan saat semua terlihat berantakan, tak tersisa semangat setelah lihat Vlo balik sekali pun?


Melihat-lihat warga sekitar menaiki perahu untuk ke pulau sebrang, cukup buat Arinda tersenyum getir.


Dulu, moment festival di wisata itu, sangat jarang sekali pergi bertiga. Selalu bertengkar yang hanya menyisahkan keduanya pergi. Jadi, kurang mengambil kenang-kenangan bertiga.


Bahkan sekali pun damai, dipastikan Vlo malas berpergian hanya sekedar bersenang-senang tidak mendapatkan apa-apa selain capek.


Jadi, percuma saja kan? Biar sekali pun AVN lengkap, pasti hanya mereka berdua saja yang jalan ke sana. Atau ngemall tanpa sosok Vlo.


Kenapa tidak mengerti moment sih?!


Tujuan mereka ngajak perempuan itu supaya ada kenangan bisa di lihat lagi kalau sudah tidak duduk di bangku sekolah.


Oh? Kenangan kah, kalau semasa sekolah saja suka sekali bertengkar. Itu pun karena hal sepeleh, mengagumi sebuah diksi cantik.


Dan, mendapati sosok sensitif dan gampang meledak.


Hancur-lebur AVN itu.


Oh benar juga, saat menjelajahi festival seorang diri, teringat hal ini ..


"Kam nih, kenapa paling hobi sekali pergi ke sana, hanya buat hunting?! Lebih baik bikin hal-hal apa kek yang lebih bermanfaat." Begitulah yang Vlo katakan.


Yang bakal .. "Jih, kan, kapan lagi kita kumpul-kumpul begini?! Sayang eh, nanti kalau sudah kuliah, pasti tra bisa jalan-jalan seperti sekarang." Di hadiahi kesal dan protes dari Nazira.


Mengingat-ngingat percakapan beberapa tahun lalu, buat Arinda berpikir bahwa waktu tidak selamanya menetap dan akan berjalan, bagaimana pun indahnya kenangan mereka, mengharuskan agar bisa mendewasakan diri.


Jalan pada kesibukan masing-masing.


Masih penasaran bagaimana respon Nazira saat tahu cita brantakan seperti ini?


Mendapati teman benar-benar toxic, meninggalkan setelah menggunakan fasilitas lebih parahnya headset tercuri, menanggapi enteng uang jajannya.


Apalagi sih Jordan ngebantu untuk bisa kenyangkan perut.


Katanya bantu ikhlas tanpa harus mengeluarkan sepersen uang?


Kok, ngelunjak ketulungan?


Jujur .. Bertemu sosok fiksi yang jangan nangis gadis aksara memang sangat menyenangkan, apalagi sosok itu lebih dulu bertemu, saat tahu benar-benar sendirian peluk sesak tanpa dua sahabat menguatkan.


Duduk bersemuka simfoni, memetik satu diksi, sembari bersiul manis lewat puisi terproduksi diri.


*Kenapa bermain tangis lagi?


Sudah ku bilang berhenti


Ada aku disini menyeka bulir


Jangan ragu buat berkisah di sini*


Ah. Arinda melupa arti realita merentangkan banyak kesunyian pun luka.


Kalau boleh memilih, hanya mau duduk dengan delusi kepunyaan diri saja.


Menawari banyak keharmonisan, juga melihat sosok berkacamata, Kak Lefan.


"Dek, kenapa sedih? Mereka jahat lagi?" Kak Lefan bersuara.


Mengangguk sebagai jawaban.


"Sudah, tidak usah di pikirkan sampai larut, nanti kamu sakit."


"Tapi, kak? Mereka maunya apa sih?! Lagian, sahabatku kenapa hilang kabar. Padahal mereka suruh saya kuliah, saat susah gini, mereka tidak kuatkan saya." Pecah sudah tangis itu.


"Dek, selama ada keyakinan dalam diri, insyaallah jalan terasa berat terasa ringan. Jangan putus asa dulu, yok kuatkan lagi bahunya. Kakak percaya ade bisa jemput toga itu. Dan, suatu saat nanti, sahabatnya ade bangga, bertahan sampai selesai." Lagi, Kak Lefan menghibur.


Sangat manis. Sosok berambut mie datang dengan senyum lebar, hangat terasa dalam jiwa.


"Kalau butuh ini, tidak apa-apa cuma sekali saja, kan, kak?" Harris J minta ijin dulu.


Hm. Membuang napas, "ok, untuk kali ini boleh. Asal jangan di konsumsi berlebihan, yah, dek?" Timpal kakak berkacamata.


Arinda bersorak riang menyambut sebatang coklat favorit itu.


Oh, ada lagi yang Harris J bawa, baso aci.


"Nggak mau makan, Ris?" Kata Arinda, menawari.


Menggeleng, karena tahu tidak kuat pedis-pedis walau pun bakso adalah favoritnya kalau datang ke indonesia.


Kembali ke pintu nyata, sebelum balik berpamitan sangat manis pada sosok dua fiksi favoritnya itu. []