
"Sangat asing beraromakan lewat ekspresi sahabat sendiri, apakah pantas menjadi orang baru di AVN?"
🤍🤍🤍
Senang menyelimuti AVN, tidak dengan satu pesonil merasa aroma berbeda di dapati dari sahabat sendiri yang memang telah menghilang.
Apa karena jangka waktu yang lama ini buat mereka merasa canggung satu sama lain?
Berpergian ke kampus masih sendiri, berpikir bahwa bakal ngampus sama-sama Vlo. Nihil.
Padahal apa yang diinginkan bisa jemput realita, berbagi kisah hanya dalam angan semata. Sebab, tak lagi sama seperti di smk, sahabat jauh lebih berbeda sejak kepulangannya ke AVN.
Nai..ko rasa ndak sih? Klo Vlo berubah?
Yah. Arinda ingin tahu pendapat sahabatnya yang satu ini, tidak pernah salah dalam menganalisis sikap orang, apalagi sahabat sendiri.
Lama. Kenapa belum juga balas? Cukup produksi kalut dan cemas dalam kepala Arinda saat ini.
Sangat benci, harus kah berpikir berlebihan hanya tahu lama balas? Kan, bisa saja Nazira sibuk buat tugas atau masih di kampus yang tidak di sengajakan abaikan chat-nya?
Berdecak sendiri.
Nai..besok sa di panggil isi workshop di sekolah sama bu guru indonesianya kita.
Langsung ke intinya saja. Tidak mungkin langsung blak-blak-an dengan Vlo, kan?
Bahkan masih kurang pasti, apakah karya nafsi sudah di baca atau hanya sekedar pajangan saja di kamar?
Kata workshop saja sudah sangat mendahagakan rongga imaji, telah lama di nantikan Arinda sejak masih sekolah.
Berangan bisa duduk depan peserta workshop kepenulisan sembari berbagi ilmu ke mereka, kini akan terwujud.
Jujur, Nai, sa msh blum ikhlas sih, waktu skolah bu guru lebih pilih tmnku yg fasih bicara buat bljar berpidato pas acara skolah tuh, klo tra salah kelulusan kakak kelas.
Sudah tiga chat terkirim, hanya centang dua belum di baca sama sekali.
Apa benar sibuk di sana? Arinda hanya mengangkat kedua bahu, tak tahu-menahu.
Masih terekam jelas, semasa duduk di kelas dua smk semester satu, guru indonesianya jauh lebih prioritaskan mereka fasih ngomong depan publik di banding nafsi yang selalu salah kata dalam berbicara, gugup.
Tapi, apakah tidak bisa di pahami sebagai guru bersangkutan dengan pidato sudah tahu jelas mana harus di ajarkan bukan melulu ngambil siswi pintar dalam kelas?
Sekarang saja baru mau memuji karya gadis itu. Dulu mereka-mereka yang remehkan kemampuannya ke mana?
Arinda hanya tertawa miring. Miris sekali.
Bukan hanya sekedar karya di perjuangkan melainkan cita masih saja menjadi rintangan antara lanjut atau berhenti cari kerja.
Karena merasa nilai tak pantas berjejer di KRSM adalah merah yang cukup merontokkan semangat kuliah.
Di tambah keluarga cuek soal studi apalagi grandma selalu mematah-patah mental cita, apakah pantas berdiri tanpa seorang Vlo di sisi?
Tahu, hidup adalah sebuah pilihan. Arinda sejak sekolah selalu bergantungan dengan dua sahabat, kalau ada pelajaran susah, mereka ngebantu agar nilai bisa di atas rata-rata dalam raport sekolah.
Tidak bisa seperti Vlo, mandiri tanpa harus memedulikan keluarga perhatian atau tidak mengenai kuliahnya, bahkan berjuang sendiri untuk bayar spp.
Ok, fine, Arinda akui masih butuh sebuah pengakuan diri dari keluarga seringkali tidak pernah anggap bermanfaat selain nyusahin saja.
🌏🌏🌏
Syukur pagi ini bisa ke sekolah lama tanpa terbebani absensi dari kampus. Hanya nitip tanda tangan karena kebetulan dosen berhalangan masuk.
Membuang napas lega, lalu Arinda mengabari gurunya akan datang ke sekolah sekitar lima belas menit lagi.
Sampai di sana ..
"Permisi, bu, ada Bu Andini?" Kata Arinda bertanya ke guru tata usaha.
"Oh, Arinda, kan? Iya, tadi ibu pesan kalau kamu datang langsung tunggu depan ruangannya ibu saja. Arinda sudah tahu di mana ruangannya kan?" Kata salah satu guru tersebut dalam kantor.
Mengangguk lalu pergi menuju ruangan Bu Andini.
Lah? Sedikit gusar, beliau sudah pulang kah? Atau gimana nih?
Berjalan sekitar koridor kelas, "Kak Arinda?! Kak Arinda kan, yah?" Seru salah satu siswi.
Cukup buat gadis itu bingung. Kok bisa mengenali namanya yak?
"Iya, dek." Oh benar, "ade tahu kah ke mana Bu Andini?" Tanya Arinda to the point.
"Oh, ibu lagi ngajar di kelas akuntansi, kak. Di atas." Jari telunjuknya mengarah pada ruangan di mana mengingatkan nafsi tentang bingkai dua puluh empat, ngambek di sana.
Ada senyum tipis tercipta.
"Oh, makasih, dek?" Kata Arinda.
"Ibu kayaknya sedikit lagi selesai ngajar kak." Lagi, adik kelas ini menginfokan.
"Oh, okay, dek."
Hm. Menghelakan napas lalu kembali duduk lagi ke tempat duduk, pas berhadapan dengan ruangan beliau.
Beberapa menit kemudian ..
"Eh, Rin? Sudah datang, ayo..masuk ruangannya ibu dulu, biar ibu panggil anak-anak yang lainnya." Sapa beliau.
Agak .. Sedikit repot yah, beliau pegang buku bertumpukan di tangan satu beserta absen sekolah.
Saat masuk dalam ruangan, ada rasa nervous mengepung diri. Karena ini kali pertama mau ngisi acara workshop dadakan dari beliau.
Makasih bu sudah wujudkan mimpiku, walau hanya beberapa siswa hadir dalam ruangan. Bisik Arinda dalam batin, senang.
Tidak hanya itu, ada pak guru bahasa indonesia juga.
Terselimuti rasa haru, guru yang dulu menelantarkan sebuah bakat tidak bisa di lihat, sekarang menjadikan prioritas dalam bidang sastra, mengagumi Arinda jauh lebih tepatnya. []