My AVN

My AVN
Frekuensiku tapi Dia Cemburu?



"Jangan menjadi kecemburuan, tahu kisah hobiku temu bola mata frekuensi bincang karya."


🤍🤍🤍


Salah satu kakak kelas sekaligus cowok di kagumi Nazira, sejak lama. Masih SMP, saat kegiatan rohis.


Pernah, "kan, ko cantik." Nazira bergetir.


Dan, sejak di berikan diksi tersebut, buncah amarah meledak-ledak dalam dada.


Apa yang harus di ributkan persoalan paras di banding otak, hah?! Selama ini Arinda berteman tulus bukan dari mulus di wajah.


Dan, jikalau bermain lewat make up, sudah dipastikan akan berlagak pelik lalu meninggalkan, karena wajah tak mendukung dalam pertemanan.


"Kenapa sih, Rin, ko nih..selalu bertengkar sama Nazira?" Sempat Vlo bertanya, dengan intonasi heran campur bingung.


"Habis, sa jengkel. Masa tuh..cemburu dan iri dari hal yang tra bermanfaat. Apa karna sa cantik? Huh, cantik dari mana coba?! Dari lubang sedotan?!" Gerutu Arinda.


Saat itu planning ke jayapura, diatas motor mencak sangat gusar.


"Memang ko cantik kok, Rin. Tapi, kan, tidak mesti juga ko bertengkar sama dia, kasihan. Kam dua sudah sahabatan dari SMP baru." Kata Vlo menengahi.


Bukan dari SMP melainkan saat kelulusan, pengambilan ijazah SMP.


"Masalahnya toh, sa tra suka sekali kalau diungkit-ungkit soal cogan, atas dasar cantik! Yang bahkan sa tidak merasa itu ada di sa diri." Lagi, Arinda menggerutu.


Hanya timbul tawa geli dari sahabat.


"Ini sudah, yang sa suka sama ko, Rin." Ada jeda tiga detik, membuang napas pelan, tersenyum, "tetap seperti ini eh? Rendah hati, kalau ada yang bilang ko cantik. Ko tuh sudah cantik luar dalam." Salut Vlo sambil menepuk pundak gadis itu dari belakang motor.


Hoh. Kalau memang benar cantik luar dalam, tidak memungkinkan nafsi berada dalam fase toxic lingkup kampus.


Dengan terang-terangan mereka mencibir tanpa ampun.


Kalau bosan, pasti bakal menculik Vlo atau ngajak cuci mata doang di mall. Sempat ..


"Rin, stop sudah masuk nonton! Mending uangmu simpan saja beli keperluan apa kek." Vlo menolak sangat tegas.


Saat Arinda ngajak nonton bioskop.


"Bah, masa tuh, hanya ko saja yang tra pernah duduk di dalam bioskop?! Nazira pernah pesan ke sa, kalau tidak ada dia, sa ajak ko saja nonton berdua ke sini." Arinda justru protes.


"Tra usah, Rin. Cukup kam dua saja yang nonton. Kalian kan bisa saling bayarkan. Sa? Trada apa-apa masa mo di traktir lagi? Sudah ah, kita keluar saja makan apa kek. Pangsit atau apa kah yang murah." Selalu. Kalimat berbalut hipnotis cukup buat gadis itu mengangguk cepat tanpa keras kepala lagi.


Senyum-senyum getir tercipta, itu dulu sekarang sudah tidak leluasa jemput sua.


Oyah. Sekilas informasi, beberapa bulan belakangan ini Arinda dekat sama mantan kakak kelas sewaktu smk, Julioh.


Asik sekali ganggu di kolom komentar status facebook masing-masing, hingga ..


Mengantarkan pada tukar nomer pin bbm di inbox.


Pun,


Dek,kapan mau main badminton?


Diingatkan lagi soal planning mereka, karena dari kemarin hujan terus.


Dari kakak saja, waktunya kapan.


Loh, mendadak terkejut bukan main, pikir minggu depan ternyata besok. Menepuk jidat campur tawa kecil, lucu.


Ok, sampai ketemu besok.


Sehari kemudian ..


Membuang napas gusar, sangat cemas tidak bisa pergi, bukan karena ingin bersitatap melainkan sudah lama vakum bermain badminton.


Sudah. Tahu kok, kalau sempat tidak juara saat O2SN sekolah. Hal wajar, bukan? Kan, sa payah anaknya. Tawa hambar dalam batin Arinda.


Melihat dengan cepat,


Dek, nanti sore jadi, kan?


Hanya bertanya doang, kah?


Ekspresi berbalut cemas ..


Tapi, mau hujan nih, kak?


Saat sudah balas sms kakak kelasnya.


Berdoa saja, semoga sebentar sore tidak hujan.


Arinda malas ngambil pusing lalu menyiapkan raket serta sepatu. Kebetulan keluarga sedang keluar rumah, hanya berdua dengan art, asisten rumah tangga.


Sempat melarang gadis itu keluar, takut kena omelan dari majikan kah?


Kan, sudah menjadi kepercayaan ibunda, buat apa cemas? Setelah mengenakan sepatu, deru mesin motor Julioh tiba depan rumah.


Dalam perjalanan, gerimis membungkus kota sentani, tidak buat mereka berdua balik ke rumah.


Setibanya di gunung merah, "ada orang kah di sana?" Arinda bertanya sambil nunjuk gedung tersebut.


Tampak sepi bahkan motor sering parkir tak ada satu pun di sana.


"Mungkin tidak ada, dek. Coba kita masuk ke dalam." Melangkan santai ke arah gedung tersebut di susuli Arinda dari belakang.


Ternyata, pintu di biarkan begitu saja, tidak terkunci. Mungkin tadi ada orang yang sudah selesai pakai tempat itu?


"Yah..kalau tahu banyak indicock di sini, kita tra perlu beli, kak." Arinda bersuara sangat lesu, tahu selembar merah itu terpakai buat beli selusin indicock.


Julioh membalas senyum saja, lalu bersiap-siap mengenakan sepatu.


"Rin..ayo kita main!" Seru cowok itu.


Baru beberapa menit main, sangat pening hampir limbung di tempat berpijak saat ini.


"Kenapa?" Julioh mengernyit, heran, kok tiba-tiba berhenti main?


"Capek. Istirahat bentar eh, kak?" Di balas cengir dari Arinda sisi lain menahan pusing hebat di kepala.


Sudah duduk di luar gedung, panas mau nyari angin sore dulu.


Julioh keluar juga, "tidak lanjut main?" Kata cowok itu.


"Tidak. Capek nih, nanti sajalah."


Dan, mereka hanya ngobrol lalu mengingat satu .. "Aplikasi itu bagus dan cocok buat orang yang hobi nulis. Di sana juga sa sering baca. Tapi, kebanyakan yang genre dewasa dan horor sih." Yang langsung di rekomendasikan ke Arinda.


"Sa juga sedang nulis novel, tapi, maunya di aplikasinya. Hanya masih kendala imajinasi, kamu sudah tahu belum?" Lagi, Julioh mancing, karena hanya menyimak ceritanya saja.


"Belum. Aplikasinya seperti apa sih? Haha, imajinasi itu, tidak ada kendalanya. Jika kita sudah terbiasa baca buku novel, kita bakal mendapatkan imajinasi yang tak terhingga." Terus terang Arinda.


"Ini aplikasinya, di sini banyak novel yang sering aku baca. Makanya kalau buat cerita tuh genre dewasa. Karna sering baca cerita tersebut. Tapi, bagus kok. oh yah, nanti kapan-kapan lihat naskah novelku yah?" Urai cowok itu.


Bentar, tidak salah dengar kah? Duh..ingin sekali Arinda tertawa lebar, ngomongonya sedikit lebay.


"Hm. Tampaknya bagus, sa tertarik. Boleh kirim aplikasinya? Iya..tenang saja, nanti sa revisikan kok."


Yah. Aplikasi gagal terinstal, karena sistem di HP gadis itu tidak terdektesi sistem aplikasinya.


"Yah..kurang beruntung, aplikasinya tra ke baca nih, kak." Arinda berkata dengan wajah lesu.


Mungkin, nanti pulang baru search. Penasaran.


🌏🌏


Hua .. Nazira nelpon cukup buat gadis itu lompat jingkrak, sudah tidak sabar memberitahui persoalan obrolan mengenai hobi, sefrekuensi dengan mantan kakak kelas semasa smk.


"Yah, kenapa?" Arinda menyambut senang.


"Ko sibuk kah?"


Mana ada, sudah jelas sangat senang sahabat nelpon harus kah small talk setiap kali berada obrolan santai ke sahabat sendiri?


Lama. Durasi ngomong dengan Nazira. Biasa sesi curhat hingga .. "Oh, yah, Nai. Ko tahu kah tidak nih? Julioh, kakak kelasnya kita duku yang ko sempat suka dia? Sa dekat loh sama dia, anaknya baik apa." Terus terang Arinda.


Juga meceritakan tentang frekuensi hobi, sangat senang bukan main. Bisa diskusi tanpa tidak nyaman, kemarin begitu sweet sekali.


"Oh yah? Bagus dong." Nazira balas singkat, sedikit ketaksukaan.


Lagi, menceritakan simfoni tersebut tanpa mengendus ada aroma cemburu dari sang sahabat.


"Rin, sudah dulu eh? Nanti besok atau kapan-kapan lagi sa telpon. Soalnya ada tugas yang harus sa selesaikan jadi. Bye.."


Tadi sebelum masuk cerita sefrekuensi hobi nafsi, Nazira menceritakan mengenai teman tidak tahu diri, hanya butuh saja setelah itu membiarkannya dalam susah. Bukannya bantu, tapi saat menyuarakan protes dengan tenang sekali pun, justru kena semprot sorot intimidasi.


Benar, kata Vlo, tidak menjamin sebuah persahabatan kalau di bangku kuliah.


Miris. Kasihan sahabat padang, berjuang seorang diri di sana, dengan lingkungan berbeda.


Lagi, mengulang-ngulang cerita mengenai kemarin diskusi karya walau sesaat, cukup buat nafsi tersenyum mengembang.


Andai .. Mama mengijinkan gadis itu berkarya bebas tanpa sembunyi-sembunyi, mungkin bisa fokus dan banyak berlatih, lumayan kan, uangnya bisa bayar spp semester kuliah.


Vlo juga pasti takkan mau lihat sahabatnya nyari duit lewat deret-deret imajinasi tak menjanjikan penghasilan netap.


Rin, jangan begadang! Ingat, prioritaskan kuliahmu trus sampingkan tuh ko hobi menulis.


Eh, dapat perhatian manis dari Nazira.


Jadi keingat ..


"Ko tuh harus semangat untuk bisa lanjut kuliahmu, katanya mau jadi sarjana komputer? Yakin, tra mau beli omongan mereka yang sudah remehkan ko kemampuan? Ko toh sebenarnya pintar, tapi di tutupi sama ko rasa malas belajar." Urai Nazira kala itu di sekolah.


Masih terdiam, sangat kusut sekali wajah itu, karena gagal tidak bisa jalankan animasi dalam lab. Memang lagi ujian sekolah.


"Itu hanya baru pengawalan, Rin. Mereka semua yang ada di lab, belum tentu menguasai pelajaran komputer. Memang, sa tidak tahu soal komputer, setidaknya ko jangan seperti ini kah! Ko harus kuat, bisa membuktikan ke mereka kalau suatu saat nanti ko bisa sarjana dengan gelar komputer! Ayok..tunjukkin dong, ko semangat kek sa!" Lagi, berkicau sangat panjang.


"Ko kenapa lagi, Rin?" Vlo menyambut bengong, bawa makanan mereka ke panggung sekolah, nunggu.


"Galau. Katanya gagal buat animasi bergerak di komputer. Ko bisa Vlo?" Kata Nazira.


Sedikit senyum saja, cukup buat perempuan padang lega. Tapi sama sekali kusut sejak keluar dari ujian di lab.


"Hetdah..sa hapal nama obat-obat saja kesusahan, apalagi mo buat animasi di komputer. Menggambar orang saja setengah mati." Vlo langsung mengeluh.


Eh, "oh, berarti ko galau karna tra bisa gambar di komputer? Buat apa di pikir, Rin? Lagian, kalau gagal di sekolah belum tentu di luar. Ko bisa belajar sedikit-sedikot di rumah untuk buat animasinya. Trus nanti minta belajar di guru siapa kah yang menurutmu sudah mahir buat animasi." Vlo baru ngeh persoalan animasi yang bukan sekedar gambar diatas kertas biasa.


"Tuh, betul yang di bilang Vlo. Kita bisa belajar di luar sekolah, Rin. Tra usah pusingkan soal gagal gambar animasi di komputer. Atau..kitorang yang ajar ko kah?" Hoh, Nazira berceletuh, canda kah?


Terbangun dari ingatan masa lalu semasa sekolah, sampai sekarang pun belum satu animasi bisa di buat bergerak. Justru .. Jurusan di pelajari bukan ke arah sana melainkan ngoding.


Beberapa hari kemudian ..


Kok, ada yang beda dari sahabat hijabersnya itu sih? Saat dia kirim chat panjang-panjang, spam lebih tepatnya, tapi sangat di balas singkat.


Tidak biasanya.


Sa salah lagi kah? Pikir Arinda sedikit gemas.


Apa. Apa yang salah dari cerita sefrekuensi hobi ke Nazira?


Nazira_J


Bagaikan anak angsa yang selalu dilindungi dan tak menarik perhatian mereka yang aku sukai.


Jangan menjadi kecemburuan, tahu kisah hobiku temu bola mata frekuensi bincang karya.


Ah, jangan lagi buat pikiran berkelebat bahwa akan kehilangan sahabat satu ini?


Ayolah. Kenapa harus membuncah sebuah cemburu? Kan, hanya batas kakak-adik kelas?


Ada yang salah kah?


Biasanya juga Nazira tidak protes, kalau gadis itu berteman sama siapa saja. Karena tahu sendiri, tomboi.


Kok, sekarang sifatnya berubah drastis sih? []