
..."Ternyata bisa bincang karya, tak lagi merasakan aroma intimidasi dan kamu penyembuh aksaraku."...
🤍🤍🤍
Sejak prilaku tak manusiawi dari sosok manipulatif, licik itu, cukup menjadi traumatis berat, terpendam sendiri.
Sangat nanar, marah pada nafsi lewat sunyi, kenapa bisa mau percaya hanya kembalikan sepatu yang ternyata sudah merencanakan jebakan paling lebay dari Vira.
Ingin sekali melaporkan perbuatan keji itu ke orang tuanya, tapi tidak memiliki tenaga untuk ke sana, kepala berat pun mata selalu terkatung-katung, susah tidur.
Kehabisan tenaga, karena overthink berlebihan.
Bagaimana dengan skripsinya?! Panik mulai menyerang Arinda, nyaris melupakan satu tujuan ini.
Hah. Membuang napas kasar, kalau tidak memperjuangkan cita tahun ini, bakal kena damprat lagi.
Bisa-bisa di berhentikan ke tengah jalan, sebelum berhasil pakai toga.
Sial. Brutal sekali perempuan dramatis, terlalu mencolok dalam mencari perhatian calon mama mertua tidak jelas itu.
Orangtua kok sifat kekanakan sih? Heran.
Cocok sudah calon anak mantu sama calon mama mertua, sama-sama memiliki sifat klainan.
Calon mantu yang memiliki kelakuan sibuk mengatur permasalahan orang lain, bahkan orang tersebut tidak mau bantuannya, lagian buat apa sih?!
Tidak jelas.
Asli, memang Vira itu butuh ruqyah dari ustad.
Cerita-cerita mengenai nyaris terlecehkan hampir lima orang di kampus, saat mengikuti event hanya bualan semata.
"Eh? Ternyata betul, kalau tidak, mana mungkin menangis tra jelas begitu ke sa." Mendadak berbicara sendiri.
Sejak awal sudah memiliki sifat ganda, manipulatif paling licik. Wajar saja, ukuran bagi Arinda yang polos itu gampang masuk dalam jebakkannya.
Apa karena nyaris terlecehkan oleh kakak kelas sendiri, menjadikan orang lain untuk merasakan penderitaan yang sama?
Big no! Lulusan pesantren kok sifat iblis yang di bawa sih? Bikin malu orang tua yang menyandang sebagi ustad.
Miris.
Lagian gadis itu juga selalu menganggap semua orang baik, itu salah satu kelemahannya dalam bergaul.
Harus bisa mem-filter, mana manusia baik dan sekedar menggali informasi untuk di sampaikan ke orang yang bahkan masih calon mama mertua. Masih calon saja sudah genit-genit cari perhatian dalam di sukai.
Kasihan juga sih, terlalu minim kasih sayang dari orang terkasih, orangtua, pun keras hati tidak mau mendengarkan atau belajar dari kesalahan.
Justru semakin melunjak jadi anak.
Salah satu buktinya, cosplayer anime sexy. Tapi, pakai jilbab. Cosplay sekedar kebutuhan dalam memenuhi hobi, melampiaskan amarah, karena orangtuanya tidak memberikan kasih sayang.
Lucu sih.
Ada yak manusia aneh seperti Vira, begitu?
Kalau mau melampiaskan karena tidak mendapati keinginan hati dari orang terkasih, bukan begitu konsepnya, memamerkan tubuh di depan kamera juga depan umum.
Terlalu bodoh sih.
Percuma pintar bicara dalam menjebak orang tak bersalah, untuk kepentingan calon mama mertua terbela, padahal pada dasarnya tante klainan itu berulah paling keji, masih saja di upayakan supaya jatuh dalam menyakiti karena terlanjur menendang brutal.
Bagaimana tidak?! Vira sudah seenaknya mencampur tangan masalah orang lain yang bahkan tidak mau terusik, justru menggunakan cara liciknya itu, seolah-olah merangkul tapi kenyataannya menjatuhkan paling kejam tak berperasaan.
Semoga saja sih perbuatannya itu kembali penuh pedis berlipat ganda, di banding apa yang sudah dilakukan ke gadis itu, tak bersalah justru jadi korban manipulatif, playing victim Vira sinting.
Kepala masih terasa berat, walau masalah sudah lewat sebulan.
Kehilangan selera dalam berimajinasi bebas, masih trauma dalam pikir.
Tunggu.
Ada satu chat yang bikin Arinda mengernyit, siapa? Begitulah batinnya bersuara.
Sempat meragu untuk balas, karena terus terbayang-bayang jebakan perempuan dramatis tersebut.
Dan, kenapa bisa sangkut pautkan dengan karyanya?
Masih penasaran. Chat sangat hati-hati, tidak mau terjebak lagi.
Sampai sehari baru nyadar bahwa bukan orang suruhan perempuan cosplayer lebay itu, kok berasa nyaman dalam bincang karya?
Hah. Sedikit memulihkan jiwa.
🍬🍬🍬
Juga, heran campur bingung kenapa bisa sesosok orangtua yang seharusnya menetralkan posisi, justru menindas paling brutal ke Arinda.
Yang tidak bisa di pikirkan oleh nafsi adalah ternyata baikmu selama ini hanya ingin di senangi banyak orang eh, Rin?!
Hoh. Sepintar itu kah Vira menata sebuah kalimat yang pantas di percayai?
Lupa. Kalau calon mama mertua paling mengedepankan perempuan manipulatif itu, karena satu hal; cantik.
Heh? Cantik karena polesan make up saja di bangga-banggakan?
Obsesi menjadikan mata hati nurani kotor dalam menganalisi orang sesuai komentar, pun apakah sadar bahwa perempuan itu juga sudah menodai anak laki-lakinya?
Laki-laki di lecehkan? Apa tidak terbalik kah? Rasa-rasanya Arinda ingin tertawa sekencang mungkin.
Hukum alam itu adil. Arinda hanya menunggu kapan, kalau bruntung bisa lihat mereka hancur, hanya bisa tertawa.
Fiuh. Membuang napas, buat apa kembali memutar sifat-sifat tak bermanusiawi mereka?
Lebih baik duduk dalam chatroom mesengger, ada yang jauh lebih asik pun tanpa sadar kamu penyembuh aksaraku dalam batin berbisik sangat getir campur haru.
Yang menggelitik perut adalah Ko multimedia tapi malah jadi pengarang buku 😅
Bukan hal baru yang di temui Arinda, saat studi di lihat berbanding jauh dengan hobi saat ini di geluti.
Ternyata bisa bincang karya, sefrekuensi saat nafsi terjeruji oleh traumatis yang batas memeluk seorang diri, terpaku pada manipulatif paling keji, tetiba ada suara-suara memanggil penuh menenangkan hati.
"Terima kasih penyembuh aksaraku." Kata Arinda berbicara sendiri.
Ada senyum mengembang di saja, sejak berbulan-bulan ini mengurung diri dengan nestapa, bisa mengembalikan senyum itu lagi.
Dulu .. Sangat takut dalam berkarya, bukan karena insiden itu melainkan tetiba saja aksara itu patah, tak tertata baik, brantakan, lusuh.
Hanya satu pemikiran terintimidasi, padahal jelas bukan dirinya salah yang seharusnya meluruskan permasalahan salah paham itu adalah Jordan. Justru anaknya saja kesannya seperti memanfaatkan situasi yang ada.
Oh, benar juga. Kan, sudah lama cowok itu menginginkan di pedulikan dalam rumah, sejak bertahun-tahun kena makian, pelampiasan dari mamanya.
Hm. Arinda langsung tersenyum miring, sangat sinis.
Menarik napas. Selega itu kah dirinya? Selepas tahu nafsi sangat terpukul bahkan traumatis masih bermain atas prilaku tak manusiawi calon adik iparnya?!
Fine. Jordan telah menemukan kebahagiaan, overthing yang berkelebat, mengepung-ngepung dalam kepala, kembali .. Membangkitkan mengenai memoar kalimat per kalimat bahkan menangis sesegukan tahu ada hal jeruji dirinya saat itu terbentang bengis tak menemukan sorot tenang di sebut rumah.
Now? Jordan bahagia setelah lihat nafsi menderita.
Foto corat-coret di kamar dengan kalimat makian tertuju ke mamanya, benci itu telah hilang dengan cara tak peduli malas meluruskan, membela gadis itu masuk dalam playing victim calon adik iparnya sendiri.
Heh. Hanya bisa tertawa sangat murka.
Sudahlah. Balik lagi ke penyembuh aksaranya. Menunggu terlalu lama untuk diskusi tertunda.
Mereka ngobrol asik tentang penulis mana dijadikan patokan teman nulisnya.
Hingga .. Cowok itu menyamakan puisi dan caption, tak ada beda, yang buat Arinda membantah sangat tegas.
Dan, perdebatan pun muncul, sampai-sampai gadis itu menjelaskan secara garis besar, barulah penyembuh aksara paham.
Iqrom namanya.
Setelah beberapa hari bertemu lewat chatroom mesengger, cowok itu ngajak minum kopi, sebagai terima kasih sudah berikan tips-tips kepenulisan.
Yang buat rona pipi itu bersemu adalah ini aja tadi duit gw ngambil dulu di Abang gw. Alasannya mau meet up sama penulis novel.
Sebegitu pentingnya kah posisi Arinda? Penulis boongan iya. Terlalu di tinggi-tinggikan, padahal masih merasa belum ada apa-apanya.
Well, sudah membatalkan pertemuan mereka karena sakit. Tetap saja ngotot pen ketemu.
Jemput cowok itu depan Himalaya Swalayan, lalu berangkat ke tempat kedai kopi terdekat.
Sebelum masuk sesi di wawancarai, gadis itu sudah menginfokan kalau agak kurang fokus, karena sedikit pusing yang dimaklumi oleh Iqrom.
Masuk ke revisi cerpen tersebut dulu.
Beberapa jam berlalu, tak terasa sudah setengah sepuluh malam. Minta buat balik, takut nanti kalau drop nyusahin orang baru di kenali lewat chatroom mesengger.
Waktu yang di habiskan hanya merevisi sambil menjelaskan sedikit ke cowok itu, buat nanti di lanjutkan sendiri.
"Eh, ini Rin, kopinya, di bawa pulang aja." Kata Iqrom.
Sampai di rumah langsung merebahkan kepala mulai terasa berat, sakit sekali.
Setidaknya hari ini sangat senang bukan karena pertemuan dengan cowok baru dikenali melainkan bisa bincang karya. Sudah lama tidak merasakan selega ini. []