My AVN

My AVN
Nyaris Menyerah



"Nyaris duduk melihat mereka lebih jauh, benar, semua angka duduk dengan warna merah."


🤍🤍🤍


Masih sangat panjang berkelebat sebuah amarah, memang traumatis belum pulih begitu saja dari benak sahabat.


Apakah benci tetap melekat di hati?


Setidaknya tahu sudah sampai novel itu ke tangan Vlo, selebihnya biarkan bertemu nestapa seorang diri. Tahu, tetap ada kesalahan tak secepat itu pergi.


"Ko harus wisuda, Rin! Karna perempuan harus berpendidikan tinggi." Kata Vlo, saat masih duduk di bangku sekolah.


Bergetir.


Menjadi mahasiswi saja, apakah sahabatnya sudah tahu?


"Rin..Rin." Ardhin menyapa.


"Ko kenapa?" Bukan balasan ramah, melainkan keki.


Tumben sekali ngomong sama nafsi?


"Sa belum kerja tugas, ko sudah kah?" Kata cowok berbadan gumpal tersebut.


Hoh. Membuang napas kasar, giliran ada kesulitan baru mau bicara. Dasar..manusia labil!


"Sa bisa lihat kah? Sa tra tahu apa-apa kalau ada tugas dari ibu eh, sa takut nilaiku eror." Keluh Ardhin.


Bodoh. Itu urusanmu, siapa suruh tra cari info! Ketus Arinda dalam batin.


"Jan terlalu baik, Rin. Itu yang susah ko bedakan mana katakan iya dan tidak. Harusnya ko baik seperlunya saja." Kalimat Nazira berputar ulang.


Hanya mengulum senyum lalu mengabaikan ocehan teman sekelasnya itu.


Dosen pun datang lalu menyuruh mereka mengumpulkan tugas minggu lalu. Dengan santai ke depan, tanpa beban juga tidak menyesali tindakannya barusan, tidak sama sekali kasih lihat tugasnya.


Itu urusannya dengan dosen, ngapain Arinda ikut pusing?


Terasa sekali, tatapan menusuk, nyalang berasal dari Ardhin. Huh..siapa suruh tidak nyari informasi justru santai.


"Jangan jadi wisudawan copy paste, percuma kalian kuliah bertahun-tahun tapi hasil copas dari teman sebangku. Kalian mau jadi apa nanti kalau sudah lulus? Di dunia pekerjaan tidak di pake!" Tegas beliau.


Hoh. Ternyata dosen menyadari banyak tugas yang sama. Yah, Arinda hanya tenang karena kerja sendiri tanpa bantuan orang lain.


Dan, menjaga-jaga takut bakal keluar nanti di uas, syukur masih simpan soal tersebut, di salin.


"Baik. Untuk hari ini, ibu tidak bisa ngajar kalian dengan lama, karna ada urusan lain. Bagi yang copas tugas, sebaiknya menghadap ke ibu besok. Kalau tidak, nilai kalian akan eror. Karna ibu tidak suka dengan mahasiswa label copas tugas teman." Jelas dosen.


Lebih tepatnya sih ke arah ngancam mereka. Eh, kurang tahu jelas, yang penting gadis itu tidak mengandalkan otak teman toxic.


Selepas dosen pergi dari ruangan, Arinda ikut keluar kelas, berjalan santai ke arah kantin. Sebab .. Suasana dalam ruangan menjadi bengis, hanya karena tidak kasih jawaban juga tidak masuk dalam catatan peringatan dari dosen.


Dih, buat apa kuliah hanya nebeng otak teman?! Aneh. Kuliah ternyata bagi mereka mencari the gank, bukan kantongi ilmu.


Ada benarnya juga sih kata dosen, jangan menjadi mahasiswa copy paste. Bukannya sadar dengan sindiran pedas beliau, eh semakin menjadi-jadi, tidak terima dengan layangkan sorot intimidasi.


Huh. Teman toxic.


"Rin.."


Hanya terdiam tanpa menoleh ke sumber suara.


"Hei.." Lagi, memanggil.


Dan tidak sama sekali menjawab.


Ketika sudah duduk di sampingnya, menepuk pundak, "ko kenapa tra jawab? Lagi marah kah sama sa?" Kata Ika, heran.


"Trada, biasa saja." Menimpali dengan ketus.


"Oh, kalau begitu sa tra ganggu ko makan nih?" Lagi bertanya dengan hati-hati.


Arinda membalas dengan gelengan pelan tanpa menoleh.


"Kalau ko di posisiku, stres kah tidak, kalau mau ambil matkul terbuang sia-sia itu?!" Akhirnya, setelah lama mendiamkan, menyuarakan pendapat, sangat kesal.


"Maaf, Rin, sa seharusnya wak-"


Langsung terpotong cepat, "sudahlah..tra usah rasa bersalah seperti itu. Masih ragu toh? Kalau sa nih tra sebaik apa yang ko bayangkan. Apalagi, banyak yang cerita kalau sa buruk dalam bergaul? Takut kah, kalau sa nanti cerita ko yang jelek-jelek di sa naskah?!" Buar! Pecah sudah amarah itu, meledak-ledak.


Bahkan sebodoh apapun orang, bakal bisa mengendus aroma bohong yang di tawari mereka. Parahnya lagi, teman kepercayaan sudah malas bermain hanya karena termakan berita hoax dari Navya.


Memang benar, yak, bahwa hoax jauh lebih mematikan daripada pembunuhan!


"Sa balik ke kelas dulu, Rin. Sepertinya, ko lagi tidak ingin di ganggu." Putus Ika.


Menoleh dengan wajah sinis, "lagian, buat apa ko samperin sa?! Pengen dapat informasi trus sampekan ke Navya, dkk itu?!" Sungut Arinda, sangat kesal.


Tidak membalas, justru meninggalkan gadis itu tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Ah, yang benar saja? Ucapan adalah doa.


Sekarang? Meratapi kebodohannya, tidak bisa yakin dengan diri sendiri, jika bisa menghapus kemalasan bukan kebodohan yang ada pada diri.


🌏🌏🌏


"Bagaimana, Nai. Ko sudah ada kabar kah?" Tanya Arinda tak sabaran.


"Trada sama sekali, Rin. FB-nya saja jarang on begini."


Yah. Menghembuskan napas kecewa. Kemarin juga, pikir setelah mendapati kata maaf dari teman kepercayaan, ternyata selebihnya nyari informasi buat berbagi ke Navya dan lainnya.


"Trus, ko lagi apa nih, Nai? Tra sibuk kah sa telpon malam-malam begini?"


Hening.


Tidak lama kemudian, terdengar tawa, cukup bangkitkan bingung.


"Trada, Rin. Sa lagi santai kok, curhat saja. Sa juga butuh teman curhat nih."


Lama. Begitulah cerita tercipta tanpa adanya sosok Vlo menemani. Yang biasa mengurangi beban pundak nestapa mereka berdua.


Walau pun telah berlabel mahasiswi, tak mengelak masih perulangan mampir kalimat memutuskan cita dan beralih bekerja dari grandma.


Enak. Bagi mereka yang di dukung dalam perkuliahan.


Apakah ipk nyaris sempurna tidak menunjukkan bangga dan senang? Kalau Arinda tidak main-main kuliahnya?


Hah. Sudahlah.


"Sa kayaknya tra bisa lanjut kuliah deh, Nai?" Resa gadis itu.


Hanya butuh dukungan, itu saja. Bukan mematah-patah mental cita apalagi saat ini terkesan aksa dengan teman sekelas. Maksudnya yang jauh itu mata kuliah bukan pertemanannya, sampai disini paham yak?!


Sulit menyamakan langkah itu.


Bahkan hampir nyaris nyerah di pinggir jalan, tahu denyut sekitar nadi tak apresiasi ipk pun suasana lingkup juga toxic.


"Kenapa ji?! Jan bilang karna ko teman-teman munafik itu lagi, ko putus semangat seperti ini?!" Protes Nazira, sangat marah.


"Haha..trada yah, bukan mereka. Tapi.."


"Tapi apa?!" Nazira langsung memotong cepat dengan penegasan.


"Sa nilai banyak yang eror nih, bikin malas kuliah." Lirih Arinda, langsung ke pointnya.


"Oh, kalau ada yang eror di perbaiki, Rin. Ini masih baru berapa semester, dua tahun mendatang, ko bisa lulus kok. Masih banyak waktu. Jadi, jangan malas-malasan ke kampus." Jelas perempuan hijabers itu.


Ah, tra segampang itu, Nai! Sa butuh Vlo saat seperti ini. Arinda merengek-rengek sangat sesak dalam batin, berbicara.


"Sa otak eror yang baemana mau perbaiki? Apalagi semangat buat ngampus, sa butuh Vlo, Nai!" Teriak gadis itu, sangat nyeri.


"Itu sudah, Rin. Sa juga pengen dia balik lagi. Tapi, susah kalau mau paksa dia kembali. Biar nanti dia datang sendiri sudah ke kita." Sangat terdengar napas pasrah dari Nazira.


Mengingat lagi, teman seangkatan beberapa waktu mendatang akan turun KP dan nafsi duduk lagi dengan matkul eror di bawah semester. Tidak ada kemajuan sama sekali.


Bahkan sangat susah mendapatkan nilai mulus dari dosen, karena beragam penilaian mereka dalam KRSM.


Syukur-syukur mendapati nilai C kalau D? Bisa naik pitam nyaris duduk dengan gagal. Tidak semua mahasiswa memiliki ekonomi di atas, ada yang bangun pagi-pagi buta buat kue seribuan, itu pun untung tidak banyak.


"Ko tahu, kenapa sa nilai eror banyak?" Arinda bertanya, dengan wajah getir.


"Iyo, kenapa bisa, Rin? Sa juga heran nih dengarnya." Buru Nazira, tak sabaran.


"Itu karena Ika yang tra ambil sisa sks-ku trus sudah gitu dia bilang takut segala hubungi sa. Apa yang di takutkan coba dari sa?! Emang sa ini monster yang telah orang hidup-hidup, kalau di tanya baik-baik?!" Gemas gadis itu.


"Hm, makanya, Rin, waktu itu sa sudah bilang apa sama ko? Jan terlalu percaya sama mereka. Sekarang baru sadar, kalau mereka munafik?" Tidak tahu kenapa kalimat Nazira sedikit menyentil hati Arinda saat ini.


"Mana juga sa tahu, kalau mereka bakal kasih jatuh sa seperti ini." Arinda mencak-mencak dalam kamar.


"Sudah, Rin. Intinya sekarang, ko harus lebih rajin lagi ke kuliah. Sa tra mau tahu, pokoknya nanti ko keluar dari USTJ harus pake toga!" Tegas Nazira.


Ah. Membuang napas panjang.


"Yasudah. Sa mau makan dulu, pen yang pedis-pedis nih." Arinda terkekeh, sangat miris.


Biasa pelampiasan ke makanan. Pun, Nazira tidak bisa melarang.


Oh benar, dua hari yang lalu kakting angkatan 2013 minta nafsi untuk datang saat wisuda, tepat di tahun 2017 hanya saja cuaca tidak mendukung yang bikin dia mageran, panas sekali.


Maaf, kakak-kakak. Sa lusa sepertinya tra bisa datang deh?


Begitu lihat chat yang beberapa hari di kirim. Ada senyum tipis menghiasi.


Mereka merespon sangat baik.


Yang berarti sudah tidak lagi melihat kaknis itu di kampus pun harus berjuang sendiri kejar toga tanpa melarikan penat atas ulah ratu dramatis di kelas. []