My AVN

My AVN
Terima Kasih Bestie



...“Thanks bestie sudah buat langkah itu brani untuk memulai masuk bertahap ke dunia perkuliahan, walau tidak bersama selip motivasi kalian masih di hati.”...


💕💕💕


Juni 2015,


Menghitung jemari, sudah mendapati informasi pengambilan formulir di kampus. Karena waktu itu kehabisan bagian. Tetapi, sebelum itu mengantongi izin dulu, karena tidak mungkin langsung pergi, kan?


Walau tahu tujuan utama adalah lihat dua sahabat, tidak menutupi kemungkinan juga ada asa ingin kuliah.


“Ma, sa mau kuliah. Boleh kah?” Kata Arinda penuh keraguan.


“Buat apa, nanti kalau ko kuliah tidak belajar baik dan beli-beli buku cetak yang tidak penting.” Langsung di balas menohok dong.


Aih, mendadak hilang keseimbangan untuk kuliah. Tahu kok, dulu waktu sekolah seringkali minta uang buku cetak yang tidak terpakai sama sekali.


Ibunda tahu persis, tidak ada niat buat belajar yang membentangkan ketakrestuan ananda lanjut menempuh pendidikan.


Kerjalah. Menghasilkan daripada menghamburkan lagi.


Bahkan Arinda sendiri lihat, dua hari berada di kampus tidak menemukan dua sahabatnya.


“Sa janji, bakal belajar dengan baik dan tidak beli buku-buku cetak yang tidak penting kok, ma.” Pintah gadis itu.


“Sudahlah. Ko lebih baik cari kerja dan tidak perlu kuliah, bikin habis uang saja.” Ayunda berkeluh.


Kalau ananda memiliki porsi otak pintar, tak di permasalahkan setinggi apapun pendidikan di tempuh, tidak bakal susah buat biayai tetapi kalau sudah tidak mampu di otak, rugi dan sia-sia saja.


Seperti hanya menghabiskan energi mendengarkan keluhan Elsi saja saat berpergian di kampus. Bagaimana nanti sudah berada di kawasan penuh tekanan tersebut? Jika, manja terus di perlihatkan.


“Rin, kita makan di mana boleh yang enak?” Juga sempat teman SMP-nya itu membuyarkan lamunan indah tersebut.


“Dari kalian saja, mau di mana.” Di balas sedikit perasaan dongkol.


Arinda sedang memikirkan dua sahabatnya saat itu, kenapa bisa tidak menghampiri diatas? Sedang istirahat dalam aula, garis bawahi hanya mereka saja kalau kedua sahabatnya masih menunggu antrian di bawah.


Sangat mengharapkan, “Rin, masih di kampus kah? Bagian? Ketemuan ayok!” Dari mereka berdua, tapi nihil.


Dan, apakah AVN tidak seindah semasa duduk di bangku putih abu-abu? Ketika nafsi ngambek dengan peka bakal membujuk lalu terbentuk ramah lagi, tetapi ada sedikit perbedaan, cuek terkesan tak memeduli ikatan tersebut.


Rindu. Sangat. Berkesan ketika tidur dalam kamar, “jan pura-pura tra dengar kita datang su, Rin. Sa tahu ko lagi tidak dengar lagu toh?! Lepas su tuh headset!” Dengan gerakan cepat tanpa persetujuan Arinda, sahabatnya langsung memasukkan tangan ke dalam jilbab, raih headset itu dan melepaskannya.


Di luar dugaan, bukan ngamuk justru menghadiahi wajah tawa lebar dan terjadilah aksi lempar bantal dalam kamar.


Kalian kenapa sih? Padahal yang paling ngerti sa luar dalam, kam baru. Desir gadis itu dalam batin.


Kecewa. Kenapa tidak datang menghancurkan beku hati Arinda saat bersitatap dalam aula kampus? Seperti biasa mereka lakukan dulu saat di sekolah.


Lambat laun .. Mendengar kabar kalau Nazira tidak lolos dan ini sudah menjadi kibaran pekat di pelupuk mata gadis itu.


Sahabat berdarah padang bakal lanjut tes masuk perguruan tinggi di jogja. Bakal LDR-an, tidak bisa sembunyi-sembuyi lihat sekedar mengobati rindu, batas memantau dari kejauhan.


Tahu, saat itu sedang menunggu makanan di buat, bersandar di motor, “sa pengen jadi dokter, Rin. Supaya sa tra gagal selamatkan keluargaku sendiri. Yah, ko tahu sendiri, kan? Kalau sa ade paling kecil sering sakit-sakit. Makanya, sa pengen sekali jadi dokter.” Terus terang Nazira.


Hah. Membuang napas panjang, sangat sesak dalam dada. Ucapan itu kembali terngiang di kepala.


Arinda tidak bisa sekuat itu dalam mengambil keputusan, tahu bakal keluar dari zona nyaman untuk bisa bertahan di proses perkuliahan yang tidak gampang.


Apalagi jurusan kedokteran, memakan banyak waktu dalam belajar hingga berhasil rebut toga dengan jerih payah sendiri tanpa harus nebeng otak teman.


Yang di kejar dari sosok Nazira bukan title melainkan ilmu, insyaallah bakal di amalkan dalam pekerjaan suatu hari nanti juga mengaminkan menjadi sayap-sayap kasih untuk adik-adiknya sering kali sakit tanpa harus campur tangan dokter lain.


Seminggu pun berlalu ..


Arinda sudah siap berangkat dengan ransel, tetapi .. “Ko mau ke mana pagi-pagi begini, Arinda?!” Spontan dapat semprot dari ibunda.


Tersenyum kecut. Tidak mungkin membeberkan persoalan kampus, kan?


“Biasa, ma. Mau main di sa teman rumah, sealian jalan-jalan ke jayapura. Dapat ajak jadi.” Itulah yang keluar dari bibir Arinda.


“Oh, ingat eh, kalau bawah motor tuh, jangan balap-balap.” Membuang napas lega, beliau tidak mengendus sebuah kecurigan mengenai perkuliahan.


Membalas dengan senyum lebar, dengan cepat mengenakan sepatu dan berangkat ke kampus seorang diri. Karena teman lainnya beda ruangan.


Hiya. Gadis itu bakal mengikuti tes seleksi masuk perguruan tinggi di uncen. Tanpa minta restu sama sekali di beliau.


“Baik, kalian bisa buka soal dan lembar jawabannya! Kerjakan sampai waktu yang sudah di tentukan di kertas soal.” Kata pengawas ujian.


🌏🌏🌏


Mematung cukup lama memerhatikan benda pipih yang menampilkan satu nama sudah lama tidak berada dalam bola mata.


Nazira.


Perempuan ini menelpon, tidak tahu kepentingan apa yang ingin disampaikan. Jelas .. Sangat merindukan suara itu.


Angkat kah tidak eh? Pikir Arinda sangat lama.


“Sa kangen ko, Rin!” Seru perempuan itu di seberang telpon.


Iyo kah? Bisiknya dalam batin, masih belum percaya.


Kalau kangen kenapa tidak jauh-jauh hari menyempatkan waktu untuk ketemu?


Arinda pun tertawa membalasnya, seperti biasa selalu menanggapi dengan candaan semata. Tapi dalam hati, senang bukan main.


“Ko ambil pendaftaran itu toh?!” Kata Nazira menggebu.


“Menurutmu?” Justru di pancing main dong.


“Jih, pasti ko sudah ikut ujian seleksi?!” Menebak-nebak.


Heh, tebakanmu benar kali, Nai. Gumam gadis itu.


“Hm..” Hanya dehaman di berikan sebagai jawaban.


Nazira memaksa buat tahu apa hasilnya.


“Sa tra lulus yah. Makanya sa sudah bilang apa? Kalau sa tra bakal bisa masuk kuliah, otak saja setengah-setengah begini.” Celetuh Arinda, nada kecewa karena gagal di terima di universitas.


Di balas tawa, “sama. Sa dan Vlo juga tra lolos!” Lalu terdengar perempuan itu buang napas kasar, “tapi, bukan berarti ko berhenti berjuang buat masuk ke perguruan tinggi. Tahun depan ko coba lagi eh? Okay?!”


Pasti. Meninggalkan selip motivasi buat nafsi, sangat peduli sekali dengan pendidikan itu bahkan keluarga sendiri merentangkan ketakrestuan terutama ibunda.


Karena sahabat yang tulus bukan menghabiskan waktu bermain semata melainkan peduli dengan pendidikan, sebisa mungkin mendorong mereka agar mengantongi ilmu berfaedah untuk masa depannya juga.


“Tra usah, pasti tahun depan kalau sa coba lagi, tra bakal masuk.” Selalu, diksi pesimis meluncur di bibir Arinda.


“Jih, kenapa ko bilang tra usah?! Coba saja dulu tahun depan. Tahun..” Sedikit berpikir lalu, “tahun 2016 toh? Kalau ko tra tembus lagi di uncen, tes di kampus lain, jurusan komputer ko ambil eh? STIMIK Jayapura ada tuh.” Seru Nazira.


“Sa senang, thanks bestie?”


Tidak banyak yang bisa di bagikan selain diksi terima kasih, sudah berhasil merangkul jemari itu untuk  ada kemaun lanjut studi di jenjang lebih tinggi lagi. Pun, berpikir bahwa sendiri membawa kantong motivasi dari bestie, ternyata mereka datang menanyai kabar perkembangan saat masuk bertahap di dunia perkuliahan tanpa kasih tahu sama sekali.


“Ok-ok kalau begitu tahun ini, ko belajar saja dulu, refresing ko otak sebelum tahun depan ko tes lagi. Iyo eh? Tahun deoan ko harus tes lagi?” Kata Nazira dengan semangat pun memastikan sebelum menutup pembicaraan mereka.


Arinda tidak menggubris lagi, hanya berdeham saja.


September, 2015 ..


Berasa baru kemarin ngobrol mengenai tes seleksi, ternyata Nazira sudah di terima di salah satu universitas padang, STIKES SYEDZA SAINTIKA PADANG.


Sebelumnya perempuan hijebars itu sudah lolos di kota pelajar, jurusan bahasa inggris bahkan selesai membayar administrasi sebesar enam juta dan mendapati almamater. Tapi tidak mau jurusan salah di tambah teman sekolahnya, Nena berubah.


Fine. Intinya, telah resmi menjadi maba di salah satu universitas padang saja cukup buat Arinda senang dengar.


Bukan nafsi saja tahu kabar tersebut lewat sebrang telepon melainkan ada Vlo datang ke rumah. Sudah masuk di uncen.


“Sepertinya sa harus cari kerja saja deh?” Kata Arinda dengan asal.


Tahu, hanya menenangkan perasaan sedang berkecamuk parah, iri dengar keberhasilan dua sahabat masuk di  universitas impian, sedangkan nafsi? Masih belum memiliki tujuan ke depannya.


“Jih, katanya nanti ko tahun depan mau ambil tes lagi?” Kesal Vlo.


Kabar bakal ikut tes ulang tahun depan itu datang dari Nazira bukan dari dia langsung, saat dengar mau cari kerja buat ekspresi jengkel saja.


“Sudah ah, sa kerja saja eh? Coba ko lihat, sa tra lolos masuk kuliah.” Arinda tak kalah sebal.


“Apa sih, Rin. Gunanya sahabat harus dorong ke kebaikan. Sa mau itu ko punya masa depan layak. Ko lihat sa nih, eh? Tra punya ekonomi lebih tapi sa mau berusaha buat kuliah sampai pakai toga!” Cerocos Vlo, sangat gemas justru di hadiahi kekehan dari sahabat.


Deg. Sebegitu pentingnya kah sebuah gelar di bangku perkuliahan? Arinda bahkan belum mengerti kenapa berusaha keras untuk belajar, kalau sudah bisa cari kerja dengan ijasah smk? []