My AVN

My AVN
Nazira lebih Buruk?



"Apakah pantas menyalahkan sahabat, yang ternyata Nazira lebih buruk? Senang menceritakan keburukan orang lain."


🤍🤍🤍


Beliaulah yang merusak ikatan itu. Really, sangat merasa sekali.


Kalau bukan, tidak memungkinkan Nazira hilang kabar, kan?


Sangat jarang sekali marah lama-lama begini.


Apa karena ngajak anak gadisnya keluar pagi-pagi untuk pergi ke kampus kah?


Sangat bingung, sudah dewasa kok masih saja ada larang-larangan yang tahu pasti kalau ananda memakai kepercayaan tidak ngasal melainkan ke tujuan bermanfaat.


Hoh. Apa karena gadis itu terlihat sangat tomboi kah?


Ah, "Vey..sa rasa bapaknya Nazira tra suka sama sa. Apa karna sa terlalu tomboi dan pencicilan kah?" Pernah Arinda minta pendapat.


"Ah, mana ada, Rin. Kalau memang bapaknya tra suka, su di pastikan ko tra bisa main lagi sama anaknya. Ada hubungan apa coba dengan ko sifat?!"


Hm. Benar juga sih, sifat tidak ada sangkut pautnya dengan pertemanan, yang asal bukan mendatangkan hal buruk, kenapa mau ribet?


Come on, masuk dalam fase sangat menyakiti diri, bagaimana tidak? Antara lanjut kuliah atau tergugu dalam kamar?


Tahu, tidak bisa kontrak KKN tahun ini, sebab masih ada beberapa praktikum yang belum terambil.


Ini kah yang di namakan kuliah tidak terlalu susah hanya bermodalkan absensi dan tugas? Mana ada, Arinda sangat terjeruji oleh KRSM perulangan tertawa sangat pongah.


Melihat satu per satu teman seangkatan sudah pada ngontrak tugas akhir, semakin menyayat perasaan nafsi.


Duduk makan bakso saja depan kampus dengan salah satu teman cowoknya, ngobrol ringan sampai satu fakta terkuak. Memang .. Navya orang yang sengaja melempar hoax supaya dia di benci satu kelas.


Hanya tersenyum miring.


Sebegitu jahatnya kah agar nafsi lebih aksa dari ikatan dalam ruangan?


Hoh. Berpikir bahwa perempuan dramatis itu terlalu iri dengan hasil ipk cantik itu saat semester satu.


Selama ini berusaha untuk berbuat baik pun mencoba mengalah, ternyata mereka jauh lebih buruk.


Mengingat dengan ..


Nazira datang membawa sekantong cerita mengenai adik kelas bernama Rista, di sana duduk berdua asik menyimak tanpa jeda.


Hanya terisi dengan persepsi buruk dari sudut pandang Nazira mengenai adik kelas yang memang sudah lama pacaran dengan keluarganya.


Dan .. Termakan oleh omongan penuh kebencian itu dari sahabat sendiri.


Sampai lulus sekolah pun, Arinda tetap membenci adik kelas yang masih belum di ketahui sendiri melainkan lebih percaya omongan orang lain.


Suatu ketika, ada acara Haiking PKS Muda Jayapura, bisa melihat bahwa Rista jauh lebih baik di banding apa yang selama ini sahabatnya tanamkan dalam kepala.


Pen maki takut berdosa.


Apakah pantas menyalahkan sahabat, yang ternyata Nazira lebih buruk? Senang menceritakan keburukan orang lain. Tetapi tidak bisa mengintropeksi diri, ketika salah.


Ada rasa sesal terbit di sana.


Serius! Ingin sekali memutar waktu untuk tidak ribut hanya karena masalah sepeleh pun kesalah pahaman mereka berdua.


Ah, benar adanya. Orang ketiga inilah menyebabkan benci menyeruak dalam dada.


Ok. Fine, ingin menggaris bawahi tidak senang di usik persoalan hubungan yang sudah selesai dari bingkai dua puluh empat januari itu.


Tidak ada salah, kan, kalau Arinda sangat emosi kalau adik kelas itu sempat mengusik atau sekedar cari tahu tentang hubungannya mereka berdua.


Sebab, bakal melukai perasaan Rista tahu hubungan itu sangat dekat seperti denyut nadi tak seperti saat mereka berdua jalanin, sedikit di hiasi rasa kaku dan datar.


🌏🌏🌏


Arinda masih kepikiran soal obrolan singkat dengan teman kampus.


Hanya karena tidak di kasih sertifikat debat bahasa inggris, sudah membuat persepsi seperti itu.


Ah. Tidak habis pikir, kok bisa memiliki sahabat yang selalu membawa ke mana-mana pikiran negatif tersebut?


Oh. Lupa, kalau bukan orang lain saja di ceritakan buruk melainkan Arinda, sahabat sendiri, selalu mencari ruang agar jatuh di pandangan orangtuanya.


Meringis. Saat tahu Nazira menjelek-jelekkan dirinya mengenai satu potensi tersembunyi di orangtua.


"Vey, seharusnya dia tahu mana cerita yang harus di kasih tahu ke mamanya dan cerita mana yang tidak perlu di bongkar. Macam orang udik-udik kah!" Kesal Arinda saat itu.


Sempat kok ngobrol sama Vlo, saat tanpa sadar sahabat pendengar setia menelponnya.


Sangat senang bukan main. Ketika nafsi terbujur oleh toxic juga sepi, datang merentangkan jemari ikhlas.


Walau tahu tak seperti dulu, leluasa menculik Vlo, setidaknya bisa menjadi teman ngobrol dapat menepis kegusaran dalam batin.


"Jih, ko juga begitu mo sama mama-mu. Cerita apapun yang ko mau." Sempat Vlo protes.


"Yah kali sa ceritakan semuanya tanpa kontrol?! Ah! Jengkel sekali kah sama Nazira, macam udik begitu kah, baru dekat sama mamanya!" Arinda sudah termakan emosi, sangat.


"Iyo juga sih, Rin. Sa lihat kalau Nai baru merasakan apa itu bercerita bebas, jadi sa pikir de masih belum bisa kontrol mana cerita yang boleh dan tidak untuk di sampaikan ke mamanya. Ko betul sih, Rin."


"Begitu baru mo salahkan sa lagi tadi, jih, lucu nih!" Arinda bernada ketus.


Hanya di balas tawa tak bersalah dari Vlo.


Dan, apakah saat ini bisa mengembalikan moment hangat seperti itu lagi?


Menggeleng tanpa sadar ada yang retak dalam dada.


Lagi, Arinda berteman dengan kesunyian.


Biasanya kalau bertengkar dengan Nazira, pasti Vlo menjadi jembatan agar AVN kembali utuh seperti dulu.


Berasa ikatan yang di bangun lewat masa-masa lugu, tak sehangat itu.


Hah. Arinda jadi teringat saat-saat kali pertama sosok bijak itu datang dengan ekspresi lirih, usai sholat di masjid auri, sepulang sekolah.


Yah .. Sekalian mereka healing ke masjid tersebut.


Kenapa? Begitulah dari sorot mata Arinda menangkap kebingungannya, mau mulai cerita dari mana.


Ah, dengan kadar kepekaan gadis itu saja, sudah cukup buat Nazira bermanja bebas, tanpa harus menyembunyikan ekspresi lagi seperti biasa di depan umum.


Menceritakan tentang nestapa berbaring dalam jiwa, berkisah bahwa di rumah bola mata itu memotret sangat sesak di dada.


Apa yang Arinda lakukan? Menanggapi secara garis besar saja, setelah itu hati-hati berbicara langsung ke mamanya, kebetulan Nazira di suruh beli air minum di supermarket borobudur. Sedangkan gadis itu inisiatif tunggu saja di texas chicken.


Nah, di waktu yang tepat langsung membicarakan tentang sahabatnya bermimpi bisa dirayakan ulang tahun juga mendapati perhatian dari kedua orangtua selama ini tidak pernah di rasakannya.


Cukup lama. Mendapati mata beliau begitu merenungkan kalimat-kalimat yang disampaikan Arinda.


"Makasih banyak, sudah sampaikan hal ini ke tante yah, nak?"


Eh? Gimana maksud beliau?


Mau bertanya tapi sudah mendapati kedatangan Nazira membawa air botol dalam kantong.


Seperti biasa, kalau jalan sama mama sama adiknya, perempuan itu murung.


Tapi, tenang, Nai..pasti setelah dari sini, ko bakal dapatkan apa yang sudah ko sampaikan ke sa. Arinda berbisik dalam batin, dengan seulas senyum tipis.


Beberapa hari setelah menyampaikan keinginan Nazira, tak mengelak kalau ada sorot senang. Sudah bisa menyatukan mama-anak, tapi kok berasa kacang lupa kulit yak?!


Sesosok selalu di kagumi Arinda menjelma pongah pun bebas mengolok orang yang telah menyatukan menyatukan ikatan tersebut.


Kalau diingat-ingat lagi, kok bawaannya emosi? []