
"Selalu di banggakan bahkan menggantikan Nazira, justru sangat palsu!"
🤍🤍🤍
Arinda senang bisa kembali lagi dalam halaqoh termasuk salah satu forum, PKS Muda inti dalam chatroom grup whatsapp.
Tapi, kenapa harus bisa melakukan sebuah jarak aksa lagi dengan sahabat, hah?!
Sangat emosi juga sih, harus kah minta pendapat dengan morubbi yang jelas merentangkan tatapan ketaksukaan bukan hanya tertuju pada nafsi melainkan Nazira?
Apakah harus menyuarakan Nai, sudah, mereka itu tidak suka sama kita. Biar cari ustadzah lain saja bicarakan solusi ini ke sahabat sendiri?
Hah. Come on, sahabat padang jauh lebih peka dengan analisanya, kenapa harus minta pendapat ke orang jelas berikan sorot intimidasi berbalut ramah di lingkup jannah?
Meledak. Hanya Vlo saja yang tahu kenapa gadis itu sangat marah.
Oh, benar juga, besok ada liqo pagi mengharuskan diri menyiapkan mental bersua dengan sahabat pakai wajah tebal bodoh amat seperti biasa di lakukan saat ngambek semasa putih abu-abu.
Sebelum itu main dulu di rumah Nurul lalu menginfokan mau ikut atau tidak ke liqo?
"Emang boleh, kah, kak? Ada orang baru langsung ikut ngaji?" Kata Nurul bingung.
Justru di respon sangat antusias dari Arinda.
Esok hari ..
Tidak tahu ada hal yang menggembirakan hatinya, apa karena sudah menemukan teman hijrah baru setelah Nazira, kah?
Setelah mengenakan kaos kaki, siap-siap jemput Nurul di rumahnya.
"Kak, tidak masalah kah, kalau nanti ada sa trus ada temannya kakak juga?" Nurul berkicau di belakang motor.
"Ah, tra usah pedulikan dia. Lagian, terlalu cari muka sih, kesel tau, dek!" Ketus Arinda.
Sampai di tempat lokasi, ternyata Nazira tidak tahu alamat yang sempat nyasar lalu di jemput salah satu teman liqo mereka.
Mendengar hal itu, Arinda tidak bisa membohongi hati, kalau masih ada rasa khawatir.
"Rin..tadi sa telfon-telfon ko buat tanya alamat rumahnya mbak Radya, tapi ko tra angkat." Keluh Nazira, pelan.
Arinda hanya diam dan tidak menoleh sedikit pun ke arah perempuan itu.
"Rin, ko kenapa? Ko marah iyo sama sa?" Nazira berusaha memecahkan sifat dingin gadis itu, nihil.
Justru lebih asik ngobrol dengan teman barunya.
Hah. Nazira jauh lebih membuang napas pasrah lalu menyimak tausiyah pagi ini.
Bingung campur kalut, kenapa tiba-tiba Arinda berubah dingin lagi seperti ini?
Apakah ada yang salah? Menggeleng dalam diam.
Harus kah kalau marah mendiamkan sahabat, bukannya memperbaiki yang retak justru asik memamerkan dia menjadi teman baru di pelupuk mata seorang yang membutuhkan sandaran saat jatuh.
Arinda tidak seharusnya seperti ini.
Kasihan perempuan berdarah padang itu, hanya manyun seperti orang bodoh tidak ada yang ngajak ngobrol saat makan soto ayam.
Bahkan murottal tadi sekali pun Nazira mencoba untuk sandar di samping sahabatnya, terlihat risi dan menggeserkan badannya.
Saat pulang, "kakak kenapa diamkan Kak Nazira? Kasihan loh, kak." Nurul berkicau di belakang motor.
"Oh, itu toh yang namanya Kak Nazira, sering kakak cerita ke sa." Lagi, bersuara.
"Hm. Begitulah, jengkel yah sama dia, dek." Timpal gadis itu sangat tak suka.
Setelah antar adik kelas itu di rumah, main-main sebentar dulu lalu .. "Oh, Arista itu kakak kelasku dulu. Orangnya baik kok, kak."
"Iya, dek. Hanya karna kakak termakan sama omongannya Nazira, makanya kakak sempat benci."
Namun, ada tapinya saat Arinda menyuarakan sesal-sesal itu ke adik kelasnya, justru di tanggapi dengan beda.
Baru menyadari setelah dalam grup inti PKS Muda mulai panas.
Kenapa? Bingung Arinda dalam batin.
Hingga menciptakan sebuah sua dengan Nay tiba-tiba main ke rumah, dengan alasan minjam novel.
Kalau ada Vlo pasti gemes sendiri, karena masih belum peka jika adik PKS-nya itu lagi mengendus aroma lain darinya.
Sudah merasakannya kok, hanya selalu menyangkal dengan vibes positif.
Hingga .. "Kak, jujur eh, sa sebenarnya kurang suka sama kakak. Karna, kakak benci sama Kak Arista."
Tersentil sangat dalam mendengar penuturan tersebut.
💣💣💣
Mengundang beberapa personil inti PKS Muda untuk mendiskusikan prank vidio buat Nurul.
Tapi, kok, ada yang beda.
Yang benar saja. Desir-desir sangat nyeri terasa dalam hati Arinda saat ini sedang membicarakan begitu antusias ke mereka.
Pun, perulangan tidak bisa mengendus kecurigaan sangat intimidasi walau berbungkus ekspresi tenang dan senyum.
Sempat sebelum membicarakan naskah tersebut, mereka nonton dulu lewat laptop gadis itu.
Ah, lagi memotret banyak kecurigaan di balik tidak ada niat sampai pamit pulang.
Kenapa sih? Tanya Arinda dalam batin, sangat penasaran hebat.
Hingga dua hari kemudian ..
Arista sangat menonjolkan ketaksukaan itu ke nafsi, sebab kesalah pahaman terus berkelebat dalam kepala, tanpa harus mencari tahu langsung ke orang utama.
Bingung. Harus kah buat sekitar meledak karena hoax tersebar tidak mau menganalisis di tempat lain? Yang mengakibatkan hati terkunci oleh keki.
Nyeri tak tertolong.
Kalau tahu Nurul sangat munafik pintar dalam hal manipulatif sekitar yang bahkan Arinda sendiri sudah merangkul ke jalan jannah, justru di balas sangat tak berperasaan, semua teman halaqoh membencinya sebab termakan oleh omongan hoax.
Benar.
Nurul membolak-balikkan fakta yang sebenarnya. Kakak kelasnya tidak pernah menceritakan Arista dengan jelek melainkan menyesal sudah percaya sahabat sendiri pun di balik kisah itu, menginginkan untuk bisa menjadi temannya Arista.
Sudahlah. Yang terjadi adalah intimidasi pun benci, apa lagi yang harus nafsi kejar selain pergi?
Merutuki kebodohannya. Kenapa juga sih harus menyulam maaf lewat vidio?
Semua terlihat masam, sangat tidak menginginkan sebuah penjelasan selain terlanjur termakan oleh mindset hoax.
Kalau saja ada Vlo, kemungkinan besar akan ..
Rin, dia palsu! Diksi ini akan sampai di telinga.
Kok, ada getir tercipta dalam bibir? Ah, rindu itu menyelusupi hati tanpa aba-aba.
Membutuhkan sosok pendengar setia juga ingin berdamai dengan Nazira.
Adik kelas selalu di banggakan, ternyata menggunakan topeng sangat berbahaya. Playing victim, tetapi berasa tidak melakukan kesalahan apa-apa.
Mencak sangat kesal dalam diri.
Sebentar sore ada pertemuan panitia PKS Muda lagi, Arinda tidak memiliki ruang untuk bisa melangkah leluasa, setelah Nurul buat perkara sangat serius di sana!
Rasanya ingin sekali memaki sangat puas, karena sudah buat nama tercoret sangat jelek di mata Arista.
Hah. Kesalahan pahaman jauh lebih berbahaya, tanpa mau mencari tahu kebenaran yang ada.
Jika ingin mengulang waktu, Arinda mau merekam suara sendiri lalu di kirim lewat personal chat ke Arista, supaya tidak di bayang-bayangkan oleh kegelisahan dalam kamar seperti ini.
Bismillah. Harus bisa menjalankan episode realita bengis terlanjur di buat oleh adik kelas sendiri.
Duduk di rumah ketua panita, sembari berbagi ide untuk kegiatan beberapa hari ke depannya.
Sudah beberapa ide tertuliskan, juga di diskusikan hanya masuk Meraih Mimpi tanpa Nanti kepunyaan Arinda.
Setelah di kasih tahu arti dan penjelasan garis besarnya dari tema di angkat gadis itu, teman PKS pada mengangguk setuju, sedikit menghangat dalam hati.
Beberapa hari kemudian ..
Terpilih sebagai PJ acara di hotel horex sentani, jujur sangat perdana sekali di rasakan oleh Arinda.
Bukannya ngebantu atau arahkan bagaimana cara menjadi PJ acara tersebut, seolah-olah teman PKS akhwat pada cuekin dia.
Hah. Membuang napas, hanya duduk saja melihat karya sendiri di pajang.
Juga menyumbangkan satu musikalisasi berjudul lorong-lorong mimpi. Please .. Sangat kaku dan nervous sekali, bahkan kaki Arinda gemetar pegang mic.
Selesai acara, mereka berkumpul untuk diskusi hasil kegiatan berlangsung beberapa jam tadi.
Arinda mendengar kalau di salahkan, sebagai PJ acara hanya santai tidak mengarahkan teman panitia lainnya.
Jleb sekali.
Padahal sebelum dapat teguran pedis dari Nining, sudah bertanya bagaimana cara menjadi PJ yang benar? Justru di abaikan teman akhwat. []