My AVN

My AVN
Ember Maulid



"Sudah sangat lama sekali tidak bercengrama dengan Nazira, apakah boleh lewat ember maulid, bisa bertutur kata lagi?"


🤍🤍🤍


Sangat tidak sabar dalam bersua setelah berbulan berada dalam prahara dengan sahabat sendiri yang lebih mementingkan adik kelas, sedikit kesan begitu pongah pun licik.


Terkadang berpikir kenapa bisa terlalu percaya dalam berbagi kisah, yang bahkan selalu memberikan segukan toxic dari Nurul?


Ah. Sangat-amat terluka pun overthing, ketika nafsi terbujur oleh kesalah pahaman mereka. Yah. Masih berada dalam intimidasi, hingga detik ini belum usai.


Murobbi sendiri pun mengendus kecurigaan yang bahkan Arinda tidak menyembunyikan apa-apa, selain sesal itu telah sampai di Nurul justru terbolak balik fakta.


Menggerutu dalam batin.


Bagaimana bisa permasalahan sudah lewat beberapa bulan, tetap terekat dalam pikiran mereka.


Arinda butuh pundak motivasi tersebut sudah lama tak lempar kabar seperti biasa.


Kebetulan orang rumah buat makanan untuk bawa ke masjid banyak, sedikit menyuarakan pendapat kalau minta dua ember saja tertuju ke sahabat.


Lompat bahagia. Ibunda mengindahkan permintaan ananda.


Ah. Sudah tidak sabar untuk ngobrol lagi.


"Ma, nanti kasih rendang juga ke Nai, eh? Pasti mamanya senang tuh." Seru Arinda.


"Ah, jangan. Rendangnya mereka lebih enak daripada mama punya yah." Menolak halus tapi tetap saja kan, lauk tersebut di masukkan ke dalam ember.


Mengulum senyum. Senang.


Setibanya depan rumah sahabat, mendadak ekspresi bingung menghiasi diri.


"Loh, Naziranya di mana tante?" Melongo, seperti orang bodoh.


Tapi, lebih tepatnya kecewa campur sedih, karena gagal mengembalikan bingkai penuh tawa itu lagi.


"Lah, Arinda tidak tahu kah? Kalau Nurin sudah pindah ke entrop tapi bapak sama adeknya tinggal di doyo." Begitulah informasi yang sudah di dapati dari beliau.


Mengangguk juga masih dalam ekspresi protes di batin.


Sebagai sahabat memang masih belum berikan yang terbaik. Sebab, ketaktahuan pindah rumah saja tidak tahu apa-apa.


Bergetir. Semua pikiran mengenai hal-hal tidak diinginkan berkelebat.


"Oh, begitu kah, tan." Arinda menjawab setelah lama bengong diatas motor.


"Arinda nyari Nurin mau apa jadi? Biar nanti tante sampekan?" Kata beliau.


"Eh? Ini..rencana mau kasih ember maulid tapi orangnya tidak ada." Timpal gadis itu sambil menunjuk tujuannya ke situ.


"Oh, sini sudah, biar nanti tante kasih ke bapaknya saja."


Aih. Tambah kalut tidak bisa tersampaikan langsung ke Nazira.


Sudahlah. Balik saja bawa sekantong kecewa dan sedih.


Sampai di rumah, langsung nelpon Vlo yang selalu tidak pernah di respon.


Membuang napas panjang, sangat lelah sekali.


Begitu indah ikatan AVN kepunyaan Arinda, saking indahnya sampai bingung campur kalut di temani kecewa. Kedua sahabat pada hilang ketika benar-benar membutuhkan pundak itu untuk bercerita bebas.


🌏🌏🌏


Hah. Membuang napas lega, akhirnya sahabat paling susah di hubungi ada kabar juga, kan?


"Menurutmu orangtuanya cerai kah?" Bingung Arinda.


Ok. Mereka sudah bertukar pendapat juga sudah menceritakan tentang kepindahan sahabatnya.


Fiuh. Berpikir kalau Vlo dapat kabar dari perempuan padang itu, nihil. Sama sekali tidak ada sms atau telpon.


Jangan bilang kalau rumah itu sudah di jual kah? Pikir Arinda dalam batin, penasaran.


Makanya mereka pada pindah ke entrop yang satu di doyo, apa karena masih ada adiknya sekolah sekitar sentani?


Ah. Jujur sangat pusing menebak saja tanpa tahu langsung dari sahabat.


Hal terberat apa lagi sedang Nazira tanggung? Tanpa bercerita di Vlo?


Yang biasa kalau bertengkar semasa sekolah, dipastikan perempuan padang itu bakal menghubungi Vlo. Tapi, kali ini sama sekali tidak ada.


Hah. Berasa sangat beda jauh sekali, pada bertahap berubah asing sewaktu-waktu tanpa diminta sekali pun.


Padahal .. Banyak cerita sudah siap berkemas ke ruangannya Nazira yang bahkan bukan mengenai permasalahan kesalah pahaman sudah di buat oleh Nurul melainkan cita tidak baik-baik saja.


Tidak memungkinkan kalau bercerita langsung ke Vlo yang jelas sedikit berubah pasca insiden parah tersebut. Walau sudah lewat beberapa tahun, tetap saja tidak bisa mengembalikan sosok dulu.


Setelah ngobrol panjang dengan sahabat, buka akun facebook Nazira. Melongo campur kaget, menghapus pertemanan ternyata.


Ada senyum miring di sana, sebab mengira nafsi bakal menyemprot lewat dinding pribadi facebooknya.


Lewat prahara-prahara datang menghantam jiwa yang terbiasa belajar meresapi dengan sendiri tanpa dua jemari sahabat, seperti biasa menemani susah. Tahu, bagaimana cara menyimpan kekesalan dengan sahabat sendiri sekali pun.


Ok. Fine, sewaktu putih abu-abu, meledak-ledak amarah tersebut di sebabkan seorang pria menyalahkan Arinda bawa pulang Nazira sudah lewat dari jam sembilan.


Sempat kok, bertengkar hebat sampai berbulan-bulan tidak ngomong sama sekali, sampai menunggu Vlo yang menjadi jembatan keduanya kembali berdamai lagi.


Bentar deh, Arinda jadi ingat satu hal ..


Kam 2 knp lg ihh sa ganas mo


Ping,


Makanya ko kas dame


Sebelum Vlo balas, menanggapi chat sempat tenggelam soal alhamdulillah, anak sudh berapa? Dari Nazira


Dan sahabat pendengar setia itu membalas su lima (anana anjing d rmh)


Sedikit ngakak sih, pas Arinda kembali baca chat mereka berdua.


Lalu ..


Sa tra tau ji.. Mgkin de kira sa kecewa krna de dkt sama julioh tp sbnrnya ada sih.. Tpi knpa dia yg marah? Smpe de mnghidr dg sa trs blg crmuk deng guru ngaji ku ??? What jd slma ini kita dekat masa bisa kas penilaian sa bgtu


Satu chat ini lamat-lamat Arinda memerhatikan, cukup memompa emosi itu, rahang sudah sangat keras.


Ternyata .. Ada kesalah pahaman di balik chat Nazira.


Memang sih, kalau sudah bergantung dengan kalimat salah paham, seterusnya bakal diikuti oleh persepsi salah tanpa mau berbicara.


Well, ada kalimat carmuk memang adanya, bukan berarti gadis itu mengatakan sebenarnya melainkan sangat sulit dalam mengungkapkan jangan minta usulan keluarganya di murobbi, karena hanya penasaran dan akan di tertawai karena tahu satu kelemahan itu.


Ah. Merutuki kebodohan sendiri, tidak bisa memikirkan kata tepat untuk bisa lihat sahabat minta pendapat beliau.


Yah sa diam aja dan sudahlah sa jg gak mau jaga jarak bgni.. Setidaknya kita sudh tau sama²lah bicara baik².. Tp itu sllu bgitu trus kdg sa milih diam saja smpe bisa bicara lg itu jg sa gak tau smpe kpan..


Tertawa miring, tidak tahu kenapa setelah baca semua chat sahabat sendiri yang ternyata Vlo sempat lempar kabar, kurang tahu pasti waktunya kapan. Yang jelas Arinda sangat menginginkan kembali, berdamai.


Tetapi untuk kali ini, berasa sudah tidak memiliki kesempatan melihat AVN utuh ulang, hanya sisa-sisa benci saja. []