My AVN

My AVN
Diksi berderet Asa?



"Menyembunyikan luka lewat tawa, ternyata sangat membutuhkan ketenangan, di dengarkan."


🤍🤍🤍


Bahkan tak terbesit ekspresi pongah dalam pikir mengenai fisik selalu di bangga-banggakan sahabat, melainkan berbisik sangat lirih, sa berhasil kejar posisimu! Bukan sa lebih cantik dari ko, makanya banyak cogan kejar sa toh?


Yang di butuhkan saat ini adalah penenang, seperti biasa di lakukan Nazira saat tahu gadis itu terperangkap nilai jelek di sekolah.


"Ko pasti bisa, Rin. Kan, mau jadi programmer, jadi..ko harus kuliah dan belajar."


Bahkan sangat tidak memedulikan mengenai skincare dalam mempercantik paras. Butuh Nazira, menginginkan motivasinya lagi!


Masih terasa sangat sesak di pelupuk mata, siang tadi apakah diksi berderet asa?


Yah. Siang itu Arinda mengumpulkan keberanian untuk bertanya mengenai dua mata kuliah eror langsung di ketua BAAK.


Gadis itu melangkah penuh semangat, memperjuangkan sebuah kesempatan.


Walau nyali sempat menciut sebelum bersitatap langsung ke atasan BAAK. Ada getir berbisik penuh mengepung gagal.


"Bismillah.." Bisik dalam batin.


Sampai di ruangan, membuang napas syukur beliau ada di tempat.


Sembari menunggu usai menelpon, mengetuk-ngetuk map dengn letup-letupan cemas campur sumringah.


Tidak sabar untuk membicarakan dua deret dalam KRSM dengan beliau.


Melihat usai menelpon, beranjak dan mengetuk pintu, "permisi bu, saya mau konsul soal mata kuliahku." Kataku sopan lalu masuk ke ruangan.


"Siapa suruh kamu masuk hah?! Sejak kapan saya suruh mahasiswa masuk ruanganku?! Keluar sekarang! Dosen saja di larang masuk, apalagi mahsiswa, kamu seenaknya nyelonong masuk! KELUAR SEKARANG! Tunggu di depan sana! Biar nanti ibu yang samperin kamu!"


Deg! Tertegun, malu sangat menjatuhkan harga diri depan dosen yang selama ini humble tersapa nafsi.


Dosen itu hanya melongo berdiri depan pintu, sambil menunggu dipersilahkan masuk.


Mengeluarkan langkah dari ruangan.


Berpikir. Apa yang salah sih? Orang tadi sopan kok, emang tidak diperbolehkan masuk?


Mana orang tahu.


Usai bincang. Beliau pun menghampiri diri, "maaf bu, saya mau tanya soal mata kuliah ganjilku bisa kah ambil di tahun genap?" Penuh harap dan cemas bercampur dalam dada.


"Oh, tidak bisa begitu dek, harus ambil di semester ganjil. Kalau keluar di jadwal baru kita bisa nitip anak jurusan kita di sana."


"Coba saja ade ke foto copy trus minta jadwal TI, ibu ingat kalau ada mata kuliah ganjil. Ade coba aja yah, semoga saja ada, biar nanti kita nitip kamu di sana."


Setelah ngambil jadwal. Tubuh keringat dingin, penuh asa.


Ternyata tidak ada dua deret mata kuliah tersebut, meremas penuh mata panas. Oh, tidak memiliki harap lagi kah? Diksi berbalut asa sekedar penasaran campur kecewa saja.


Arinda benar-benar kalut. Serius. Tahu sudah memiliki beberapa kakting yang memang peduli juga dengan cita nafsi, setidaknya dua sahabat selama ini mendorong semangat kuliah, takkan terganti.


Sahabat adalah mereka akan merentangkan tangan sembari mengelus ramah juga membersamai saat susah temani diri.


Yang benar saja? Dua mata kuliah sangat mengusik-ngusik kepala, kehilangan arah dalam pertahankan cita.


Membutuhkan sebuah kalimat bijak berbalut motivasi, bukan hanya Nazira melainkan Vlo. Ke mana saat nafsi terkulai sendiri? Please .. Pundak itu hilang.


Ternyata dalam memperjuangkan sebuah ketertinggalan di bangku kuliah, bukanlah hal mudah.


Benar. Kalau tidak memiliki porsi otak pintar juga payah di speaking, semakin menjauhkan asa.


Padahal yang Arinda tahu sempat bisa ambil mata kuliah ganjil semester kemarin, tapi, kok, sekarang tidak bisa?


Ah. Come on, sudah sendiri dan hilang semangat motivasi kejar gelar yang memang sangat rumit tebentang kedua bola mata.


Nyaris saja merobek-robek brutal KRS itu, tidak memiliki asa selain harus kontrak skripsi tahun depan.


Pertahanan selama ini di bangun lewat tawa juga tanpa beban, sekarang sangat hancur.


Lagi, melihat jadwal semester tahun ini, cukup menyayat hati pun bola mata sangat panas sekali.


Daripada terkepung oleh tangis dalam diam, lebih baik memutuskan balik ke rumah. Setelah mengenakan helm riben, air mata sejak tadi tertahan, banjir.


Berhenti depan kampus, ada taman mini di sana yang bisa di jadikan tempat orang duduk menunggu taksi.


Please .. Sudah tidak kuat membendung sesak itu. Butuh teman cerita.


Tidak memungkinkan, kan, kalau menelpon kakting yang terlalu baik ke Arinda? Sangat tidak enakan.


Ah. Benar.


Sudah nelpon teman yang bisa diajak ngobrol justru tidak merespon, semakin gelisah. Melirik sekitar memang pada ramai, tidak ada niat untuk buka kaca riben, masih asik menangis sendiri.


“Ada Reynold di situ kah? Bisa kasih dia, sa mau bicara.” Dengan suara serak.


Gemas sendiri, karena harus mempertimbangkan. Arinda langsung tertawa sumbang, sebelum kasih tahu keadaannya saat ini.


Justru .. “Ih, Rin, ko kenapa? Ko menangis?” Reynold sangat peka, tebakan begitu benar.


“Reynold..sa butuh ko sekarang!” Arinda merengek-rengek.


“Hm, tunggu sudah. Ko di mana nih sekarang?”


Hah. Sedikit lega.


“Depan kampus.”


“Ok-ok, sa ke sana.”


Melihat kedatangan teman kepercayaan, menceritakan semua permasalahan beban dua deret mata kuliah tidak bisa terambil tahun ini dengan tangis meledak. Oh lupa, juga tidak bisa jemput toga, karena terhalang oleh dua mata kuliah ganjil tersebut.


“Sa berhenti kuliah sudah eh? Sa capek kuliah trus. Hanya dua mata kuliah itu saja loh, masa sa mo TA lanjutan sih?!” Arinda masih merengek, sedikit belum terima dengan takdir di berikan tidak sesuai ekspektasi.


“Bah, Rin. Ko yang selama ini semangati kita, kenapa ko jadi patah semangat begini?” Justru di hadiahi oleh kebingungan dari Reynold.


Ah. Benar, mengingatkan diri yang selalu tegas campur semangat ke teman-teman selalu berpikir tidak bisa jemput wisuda, kali ini Arinda sangat terpuruk dan kalut.


Tidak ada ekspresi menyemangati diri sendiri selain nangis pun mengeluh.


“Tidak, Rey. Sa capek, sa berhenti kuliah sudah eh?” Lagi, kalimat pesimis terlantang.


“Bah, ko kalau mo berhenti, ko pikir lagi ke belakang soal prosesmu selama ini. Sudah KP, KKN, masa hanya karna ibu bilang tra bisa ambil matkul ganjil, ko su nyerah gini? Yang sa tahu itu, ko bukan orang yang patah semangat begini.” Kata Reynol, berusaha mengirimkan kekuatan juga percaya bahwa semua bakal baik-baik saja.


Tapi, seperti belum puas dengan jawaban temannya itu, “Reynold..sa keluarga kasih kesempatan tahun ini harus wisuda. Kalau tidak, sa di kasih berhenti kuliah.” Keluhnya.


“Em..sa bingung juga jadinya, Rin.” Jeda tiga detik, “bagaimana kalau ko minta tolong sama Pak Khalif saja? Bapak pasti bantu itu.” Reynold memberikan usulan.


Sedikit meragu. Tidak enakan, beliau sudah banyak bantu termasuk KKN.


“Apalagi kalau ko masih ada niat dan perjuangkan ko kuliah, pasti bapak bantu itu.” Lagi, teman cowoknya itu menyemangati.


Karena sejak tadi Arinda hanya terdiam dengan tatapan kosong, hilang arah mengenai kuliah.


🌏🌏🌏


Berasa sedikit tenang, tadi sebelum Kresna yang lain pada datang, teman angkatannya pamit balik.


Arinda mengangguk dan berterima kasih banyak, sudah memberikan kalimat penenang juga semangat.


Well. Tadi jauh sebelum kedatangan cowok itu, "jih..Rin, ko kenapa nih? Ko menangis kah? Sabar..ko sekarang di mana?" Kata Kresna, cemas.


Setelah kasih tahu keberadaannya, "ok-ok, tunggu sudah, kita ke sana sekarang."


Begitulah percakapan tadi lewat telpon. Sebenarnya Arinda sempat matikan panggilan itu, akan tetapi di telpon balik dong.


Kasihan juga sudah terlanjur memberitahui persoalan tangis menjeruji diri, karena beban dua mata kuliah ganjil tidak bisa terambil.


Kresna datang langsung menghadiakan tanya kenapa bisa menangis sesegukan seperti ini, apalagi di tempat keramaian.


Menceritakan dengan yang sama waktu ada Reynold.


"Jih..sa kasih tahu eh, Rin, Pak Khalif tuh orangnya baik. Apalagi lihat ko masih punya semangat kuliah begini. Pasti, dan ko percaya sa, bapak bakal bantu." Kata Kresna.


Arinda mengalihkan topik dengan memperlihatkan karya bergenre horor.


Eh, justru mereka jauh lebih asik diskusi bertiga dong.


"Sa pulang sudah eh? Ngebut di jalan, enak kayaknya deh?" Lirih Arinda.


"Ah, tra boleh begitu! Kalau ko masih sedih, cerita di kita." Langsung Kresna ngeh.


Tersenyum miring, masih terasa sakit.


"Bagaimana bisa bapak mau bantu, sa tra enakan yah, bapak su bantu mulai dari sa KP trus KKN juga ikut campur tangan citaku, makanya sa bisa ikut KKN toh? Masa iya sih, kasih beban lagi?" Cerocos Arinda.


"Jih, Rin. Sa kasih tahu ko eh, yang namanya ketua prodi memang begitu. Bantu mahasiswanya yang lagi kesulitan. Karena pekerjaannya sudah."


Hah. Membuang napas sangat lelah. Kalimat-kalimat Kresna memang membantu, hanya saja nyali itu sangat jauh sekali untuk bisa bertanya langsung ke ketua prodi jurusan.


Takut terus bergelantung dalam pikiran, tidak mau berekspektasi lagi, takut jatuh paling dalam.


Hah. Sudahlah. Pengen ngajak mereka jalan-jalan di mall saja.


Nonton di bioskop untuk mengalihkan nestapa pun hal cuma, karena masih overthing jika belum tahu kepastiannya bagaimana tentang dua mata kuliah itu.


Berpikir sejenak, merenungkan kalimat Kresna barusan. Tidak ada salahnya juga sih, kalau menghadap ke beliau, supaya tahu dan tidak terkepung rasa penasaran juga gelisah seperti saat ini. []