My AVN

My AVN
Nazira Datang ...



...“Ketulusan tak beraroma telah memberikan energi menyelusupi diri untuk kejar ketertinggal ilmu di perguruan tinggi.”...


🤍🤍🤍


Sudah harusnya berada di dunia pekerjaan, masih menunggu panggilan interview saja. Berasa susah juga mencari cuan buat nafsi tanpa harus meminta uang jajan lagi di orang tua. Hah.


Ada yang berbeda, mereka sedang duduk di kampus Vlo, merencanakan sesuatu sembari diskusi benda terbaik di berikan nanti.


“Yakin kah, Rin, Nazira datang ke sini?” Kata Vlo, masih belum percaya.


Sudah sejak tadi sekitar setengah jam lalu, Arinda menginfokan sahabatnya bakal datang berliburan ke jayapura.


Masih saja tidak percaya. Hah. Kebiasaan gadis itu juga sih, semasa sekolah gemar bercanda.


“Jih, ko sudah baca kah belum statusnya di FB?” Di balas dengan kesal sembari sibuk catat sesuatu di notes kecil.


Walau pun telat, sangat. Dari tanggal lahir sahabat berdarah padang itu, setidaknya sudah ada niat baik, lagian bahagia tuh setiba dari luar kota langsung diberikan kejutan dari terkasih.


Sekarang sudah 13 November 2015 sedangkan birthdays-nya jatuh pada tanggal 20 September, bayangkan sudah lewat berapa bulan? Memang sahabat paling terniat.


“Yang ada nih, dia protes kalau kita kasih kejutan tanggal segini.” Celetuh Arinda.


“Epen kah. Trapp mo, kita yang paling beda dan istimewa kasih kejutan buat dia, kan, kapan lagi kita kasih kejutan seperti ini? Salah sendiri, lagi ulang tahun tapi masih di padang. Pasti, Nai maklumi itu.”


 


Masih belum bisa melepas mereka dengan berpergian sendirian, sangat melekat mengenai pengertian tulus pun bisa rayakan birthdays dengan lengkap.


Arinda tertawa sembari sibuk mengerjakan hadiah itu di kampus. Suasana di sana juga terbilang sepi, bisa mengulur waktu.


“Nai sudah tiba kah belum eh?” Tanya Vlo.


“Belum kayaknya deh. Masih diatas pesawat. Tadi saja sa tes telpon, tra aktif.” Balas Arinda santai.


“Ah, masa sih? Tadi sa buka HP dia update tuh, coba ko tes telpon mamanya sudah, Rin.” Vlo mengusulkan.


Gadis itu melirik dengan wajah bengong, “buat?”


“Jih, tanya anaknya sudah sampai kah belum. Sapa tahu begini kita su capek-capek bungkus kadonya, trus Nai trada di rumah. Macam tra tahu dia saja, kalay sudah sampai pasti pergi keluar.” Sahut perempuan itu dengan ekspresi gemas.


“Ko yang telpon sudah.” Arinda tidak mau konsentrasinya terganggu.


“Ais, sa tra brani yah. Ko sudah, Rin.” Lagi, Vlo mendesak.


Arinda memutar bola mata dengan jengah. Tidak mau menggubris, masih sibuk dengan pekerjaannya saat ini belum selesai.


“Rin, ko yakin hari ini Nai benar datang?” Lagi bertanya sambil menempelkan foto sahabatnya di kertas asturo.


Mengangguk dengan cepat.


“Tadi malam sa juga lihat status BBM-nya kok.”


“Baguslah. Jadi, dia masih belum ngeh kalau kita sudah tahu dia datang ke jayapura.” Vlo tertawa.


Rencana licik sudah ada dalam kepala, tidak licik benaran yah hanya sekedar senang-senang.


“Vey, nanti kita beli kuenya di mana?” Arinda bertanya, tapi dalam kepala sudah beli di abe kah? Siap untuk kasih tahu ke sahabatnya. Tapi, masih tertahan mau mendengarkan pendapat Vlo dulu.


“Biar nanti kita beli di sentani saja, di toko istana kue, beli yang kecil saja seperti cupcake tuh, Rin.” Vlo mengusulkan tanpa tertele-tele.


“Ok.” Sebenarnya gadis itu lesu dengar jawaban Vlo.


Setelah selesai, mereka membereskan sampah sisa-sisa tadi lalu menyalankan mesin motor ke arah sentani.


Dalam perjalanan, tidak berhenti Vlo mengingatkan bawa motor slow karena rumah Nazira tidak pindah ke seoul. Gadis keras kepala yang tidak mau mendengarkan omongan sahabatnya, tetap ngebut dan Vlo sebagai penumpang di belakang motor hanya bisa menggelengkan kepala.


“Kue yang mana nih?” Kata Arinda melihat-lihat etalase kue itu.


Ada satu kue menarik perhatian gadis itu, “kue ini saja sudah eh?” Menunjuk-nunjuk berharap dapat restu.


Hah. Ternyata dapat penolakan dengan tegas dari sahabat.


Membuang napas dengan ekspresi lesu, “Vey, beli kuenya yang mana nih, capcuke-nya yang ada cuma ini, kekecilan ndak?” Kata Arinda.


“Nah, itu sudah bagus kok ukurannya, Rin. Ambil kue itu saja.” Vlo langsung merespon cepat.


Setelah bayar di kasir, mereka langsung bergegas ke rumah Nazira. Sudah tidak sabar buat berikan kejutan.


Sebelum itu, “sstt, jangan masuk dulu, ko tunggu di sini. Biar sa yang lihat kondisi dalam rumahnya.” Arinda meminta ijin.


“Ok-ok. Jan sampai Nai lihat ko eh?” Vlo mengingatkan.


Gadis itu mengacungkan jempol OK lalu melihat ke arah dalam dengan hati-hati dan berbalik cepat, “Nai trada. Mungkin lagi di dalam kamar kali. Cuma ada bapak dan mamanya tuh.” Sambil menunjuk pelan.


Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah mengendap-endap.


“Tante, Nai di mana?” Arinda membisik tepat di telinga beliau, cengirnya pelan.


Beliau menunjuk menggunakan tangan, pertanda ada dalam kamar.


“Ok. Sstt, jangan kasih tahu yah, tante.” Cengir lagi lalu mengode ke Vlo biar masuk pelan-pelan ke kamar.


“Happy birthdays!” Seru keduanya.


Setelah itu mengotori wajah Nazira dengan cupcake. Hingga .. Kamar perempuan itu jadi kotor.


“Ih..kalian berdua nih, sudah hilang kabar, datang bikin kaget dan kotori sa kamar saja! Orang ulang tahun kapan, kasih kejutannya sekarang.” Ketus Nazira, sangat protes.


“Haha..biarin, hitung-hitung kita berbeda dengan yang lain, kita berdua kan memang sengaja kasih kejutan hari ini dan hilang kabar buat bikin ko jengkel sedikitlah haha.” Vlo tertawa lepas.


“Nah, betul tuh apa yang di katakan Vlo. Bodoh amat dah yang kotor juga bukan kamarku kok haha.” Arinda membalas mengejek.


“Ih..tapi sa capek sekali tahu. Baru datang dari padang su di kasih pekerjaan baru.” Nazira berketus.


“Haha..nyantai mbak. Kan, ada Melani yang bisa rapikan ko kamar.” Arinda bercanda lalu nunjuk adiknya yang kebetulan baru masuk kamar.


“Melani..bersihkan kah, Dek.” Pintah Nazira.


“Ah..Kak Nurin nih, sudah di bersihkan baru berantakan lagi.” Keluh adik itu.


Nurin adalah panggilan rumah juga sekaligus nama dari daerahnya yang berarti anak pertama di keluarga.


“Lah, tuh salah kan mereka berdua nih. Yang datang-datang bikin rusuh rumah orang.” Nazira menunjuk kesal ke arah dua sahabatnya itu.


Arinda justru asik meledek sang adik sahabatnya sedangkan Vlo memilih santai doang dengan benda pipihnya tersebut.


🌏🌏🌏


Februari 2016,


Pindah rumah.


Apakah masih ada kemungkinan dalam mengambil formulir masuk ke perguruan tinggi tahun ini? Setelah tahun lalu sudah berjanji ke dua sahabat bakal kuliah?


Ah. Membuang napas gusar, tidak menentu karena biaya renovasi pasti banyak jelas bakal tidak mendapati restu ibunda buat lanjuti studi.


Sudah mengabari juga kok ke Nazira.


Yah..jangan berpikir negatif thinking dulu sayang. Berdoa saja, semoga mama-mu ijinkan ko ambil kuliah tahun ini.


Masih belum mengerti kenapa sepeduli itu mengenai pendidikan nafsi?


Waktu makan bakso bertiga, “bah, ko kasih tinggal sa sendiri tuh kalau mau makan bakso nanti?” Kata Arinda kala itu.


“Rin, jan sedih begitu kah. Nai pergi buat kuliah kok, kalau kesepian bisa telpon sa. Masih ada sa disini.” Vlo menenangkan gadis itu.


Tahu, sejak di sekolah selalu bergantung dengan mereka berdua bahkan seringkali menculik keduanya buat sekedar jalan-jalan.


Sekarang hanya tertinggal kenangan pun menjalani seorang diri tanpa bertiga, sudah sibuk dengan cita masing-masing.


Ini sudah yang sangat ditakutkan oleh Arinda, berpisah dengan sosok berperan penting dalam mengingatkan dalam kebaikan untuk menarik jemari tak bernestapa berjangka panjang.


Saat sebelum masuk dalam mengikuti ujian nasional, gadis itu mendengar kicauan sahabatnya kalau suatu saat apakah merindukan tempat duduk sekolah? Berpikir takkan selarut ini dalam sepi.


Sangat-amat membutuhkan keduanya tetap berada di sisi.


Egois dong, kalau menahan mereka tetap berada di zona nyaman, seperti biasa dilakukan semasa sekolah.


Karena masih ada masa depan harus di kejar untuk menjadi pribadi lebih baik juga bermanfaat ilmunya bagi keluarga. Terutama Nazira, walau pun tidak menjadi dokter, setidaknya bisa menolong nyawa janin yang akan melihat dunia.


Sedangkan Vlo? Masih berkaitan kok dengan dunia kedokteran hanya berbeda jalur saja.


Tunggu, tidak mau meratapi tujuan hidup belum tertata nafsi, jemari itu iseng melihat-lihat mahasiswa berada di kampus, tidak tahu kenapa sudah muncul untuk membaca informasi masuk menjadi maba di berbagai universitas jayapura.


Tetiba saja ada energi menyelusupi ingin menimba ilmu tertinggal setahun terpakai buat healing.


Sudah saatnya Arinda memantapkan langkah itu masuk ke perguruan tinggi. Bagaimana pun susahnya untuk mendapati restu, setidaknya ada niat ngambil formulir saja dulu.


Berdoa. Benar, tidak ada kata mustahil jika Dia yang sudah memberikan kalimah kun fayakun itu.


“Rin..ada Vlo di luar.” Kata ibunda.


“Oh?”


Langsung saja perempuan itu masuk ke dalam kamar, masih berantakan belum menyusun semua barang-barang di bawa dari rumah lama yang akan di renovasi.


Sejak lulus, sahabat satu ini mendadak datang tanpa di undang.


Duduk setelah menutup pintu dengan rapat lalu membicarakan niat gadis itu apakah benar mau kuliah?


Bukan Arinda namanya kalau tidak mengundang emosi sahabat.


“Ah, sa tra jadi kuliah, mau cari kerja saja.” Begitulah kalimat terlontar dari mulut Arinda.


“Rin..ko sudah janji sama kita berdua, kalau ko bakal kuliah tahun ini.” Gemas Vlo.


“Sa mama larang kuliah yah, di suruh kerja saja.” Menimpali sangat santai, tak tampak mencurigai kalau sedang di kerjai.


Lagi. Sahabat berdarah papua itu mengomel yang hanya di tanggapi tawa lebar. Bukannya curiga Arinda bercanda justru serius menangkapnya. []