My AVN

My AVN
Teman adalah Peluru



"Bagaikan peluru, menembak-nembak sangat brutal hingga tulus terintimidasi oleh toxic."


🤍🤍🤍


Selalu sangat gusar sendiri, kalau mendapati mata kuliah yang mengaharuskan perkelompok. Yah, siang ini dosen meminta untuk tugas tersebut dengan tim, tidak sendiri.


Melihat-lihat teman lain sudah pada mendapati kelompok, hanya nafsi saja terbengong di tempat duduk.


Ada getir tercetak sangat jelas terasa di ekspresi, tetapi sangat tak di pedulikan mereka yang telah menyeruakkan intimidasi akibat hoax di percaya dari omongan satu pihak saja.


Berdecak. Kalau tahu sifat Navya labil, tidak memungkinkan untuk ikut sampai di Mega Futsal atau tidak perlu angkat telponnya.


Jauh lebih baik langsung to the point untuk pulang dengan kaktingnya saja usai makan mie ayam di prumnas.


Tanpa harus menjaga perasaan orang yang tidak tahu diri itu, kekanakan.


"Rin, ko belum punya kelompok?" Kata Ika.


Intonasi berbalut tulus tak bermain-main dengan intimidasi lagi, cukup buat nafsi tercengang, sangat.


Bagaimana tidak? Belakang ini sangat tertutup pun jarak perulangan bengis.


"Belum." Tanpa kata panjang langsung menimpali.


"Kalau begitu, ko gabung sama kita berdua saja." Papar Yanti.


Masih mengendus hati-hati tapi sisi lain sangat senang, sudah aman mendapati teman kelompok.


"Boleh..boleh." Jawabnya dengan semangat.


"Oh yah, trus kapan kita mulai kerja nih? Soalnya kalaj di tunda nanti tugas berikutnya semakin buat kita tidak bisa kerja tugas nih." Ika bertanya.


Yanti hanya berpikir main-main sedangkan gadis itu, "bagaimana kalau hari jumat? Kan, mata kuliahnya kekuar sebelum jam sembilan. Jadi, kita bisa pakai waktu itu, gimana?" Menyarankan jadwalnya langsung.


Ok. Mereka langsung sepakat dengan pendapat itu.


Sepulang kampus, tidak banyak yang harus di kerjakan selain istirahat.


Tadi selepas mengunci pintu pagar, melihat adiknya barusan pulang dari sekolah, melepaskan kaos kaki dan sepatu langsung naik ke kamar.


Arinda tersenyum. Mungkin capek juga, makanya langsung tidur.


Harus kah menyimpulkan sebuah kecurigaan saat tahu mereka mulai pendekatan ke nafsi, saat mengajak satu kelompok tugas mata kuliah program?


Hanya mengangkat kedua bahu, tak tahu-menahu.


Atau, bukan hanya mengerjakan tugas kelompok melainkan mengorek-ngorek informasi, begitu kah? Terus di sampaikan lagi ke Navya?


Sudahlah. Saat ini yang mau di lakukan Arinda adalah istirahat.


Tahu kok, sudah mendapati kebahagiaan alternatif lewat chatroom grup nulis.


Sayang, kalau tidak ada dua sahabat memeluk lewat realita, berasa kosong tak ada arti.


Bahkan, Vlo sangat murka sekali tahu nafsi jauh lebih prioritas hobi dan mengejar Harris J dengan sia-sia semata, di banding cita sedang kacau balau tak berusaha di perbaiki.


Sahabatnya tidak peduli, seberapa banyak buku tercetak untuk orang asing, tidak menjanjikan sebuah keberhasilan melainkan senang sesaat.


Nazira juga ikut hilang.


Apa yang harus di banggakan selain terkatup-katup lewat imajinasi sembari ngobrol sendiri di bait-bait?


🌏🌏🌏


Hari jumat ..


Kebetulan, dosen berhalangan hadir, hanya absen lalu pulang. Bisa kerja tugas kelompok.


Tapi, sebentar, ada yang janggal saat dua bola mata Arinda tidak menemukan sosok dua teman sekelasnya itu.


Cukup produksi heran yah.


Apa tidak masuk atau terlambat datang ke kampus?


"Eh, ko ada lihat Ika sama Yanti kah?" Arinda bertanya langsung di ketua kelas.


"Tidak. Mungkin mereka sudah pulang."


Ah?! Kok tidak kasih tahu dia sih?!


Mendadak detak-detak itu berpacu abnormal, hampir meledakkan amarah.


Kan, sudah janji hari ini bakal kerja kelompok.


Diatas motor, HP itu megusik diri mengendarai motor.


"Siapa sih? Mengganggu saja!" Ketus Arinda.


Lalu menepikan kendaraannya, ngecek benda pipih tersebut.


Terasa sesak, saat mereka jauh lebih egois dibanding Navya.


Arinda, maaf. Kita langsung pulang, soalnya buru-buru mau kerja tugas kelompok.


Lah, lantas Arinda sebagai apa, kalau bukan teman sekelompok mereka juga?


Atau salah kirim SMS kah?


Lama sekali menatap kalimat berbalut kecewa itu dari Yanti, berharap ada panggilan telpon untuk kasih tahu posisi mereka di mana.


Nihil. Sama sekali tidak ada informasi.


Berdecak. Sangat gusar, amarah meledak-ledak di jiwa.


Terlalu mempermainkan sebuah kepercayaan dengan cuma-cuma.


Pulang dengan kondisi mood berantakan.


Empat hari kemudian ..


Please .. Arinda sudah malas berpikir lebih, justru sisi lain sangat cemas mereka cantumkan namanya atau tidak?


Karena hari jumat lalu mengabari mendadak langsung pulang kerja tugas itu tanpa Arinda.


Jelas. Sangat marah campur kecewa, kenapa tidak kabari?


Langkah-langkah itu terasa berat menuju mereka yang sedang ngobrol ringan, terkesan asyik.


"Kalian sudah buat tugasnya?" Kata Arinda dengan hati-hati.


Ada sakit terasa dalam batin.


Mengangguk sangat tenang, yang berarti nama Arinda tercantumkan, bukan?


"Kok tidak kasih kabar? Trus kalian cantumkan namaku toh?" Arinda mencetuskan, sangat penasaran.


"Maaf, Rin. Waktu hari jumat Nunik mau gabung, yaudah kita kasih masuk, programnya juga dari dia." Sahut Yanti dengan wajah tanpa dosa sama sekali.


Meledak. Cukup kecewa dengan keputusan mereka dengan mendadak.


Harus kah mengeluarkan diri tanpa persetujuan sepihak?!


Lantas, harus memposisikan nama itu ke mana lagi, setelah habis tak tersisa teman dalam kelas yang sudah memiliki kelompok masing-masing?


Ika bukannya membela, justru mengangguk tenang. Tanpa kata-kata.


Ini kah yang di namakan teman kepercayaan tapi menusuk dari belakang?!


Teman adalah peluru yang tanpa sadar telah menembak-nembak brutal setelah sifat tenang terbongkar di balik kalimat terlantang.


Harus seperti apa lagi dalam berikan tulus tanpa terintimidasi oleh toxic mereka?!


Seperti .. Sengaja mempermainkan sebuah kerja sama dalam kelompok.


Kalau memang tidak bisa menerima nafsi, kenapa harus memberikan asa yang bahkan sangat pedis terasa tahu fakta tak mengenakan depan mata?!


Ok. Arinda bermain lagi pada imajinasi, bingung campur kalut harus melarikan kecewa ke mana pun sudah tidak tahu mencari solusi teman kelompok.


Kehilangan arah. Buntu.


Kalau saja bisa mengandalkan otak, sudah di pastikan kerja tugas program itu sendirian, di terima atau tidaknya itu urusan belakangan dengan dosen nanti.


Kakting yang sering ngebantu sudah pada lulus, mau minta tolong ke siapa lagi kerja tugas itu?!


Hua .. Ingin sekali meronta-ronta sambil nangis di pelukan AVN. Menceritakan sakit hebat di permainkan oleh teman toxic di kampus.


Vlo sudah pulang. Berasa melihatnya dalam delusi saja.


Saat-saat seperti ini membutuhkan sosok pendengar setia itu, tanpa terhalangi oleh asing sifat tersebut.


Pulang. Menjadikan alternatif Arinda dalam melarikan keterlukaan, sangat tidak di pedulikan mengenai absensi perkuliahan hari ini.


Yang di butuhkan adalah ketenangan dalam kamar sembari tangis menemani. []