
"Sangat manis ketika berjejer puisi tentang nama mereka, penuh simfoni tapi bertumpukam dalam sepi."
🤍🤍🤍
Ada lomba nulis puisi berjudul bayangan. Sungguh, Arinda sangat semangat karena bisa menuangkan tentang rasa tersebut ke imajinasi.
Karena dengan partisipasi lomba lewat potensi tersembunyi, meningkatkan tulisannya jauh lebih baik, semoga ada kemajuan.
Tahu, gadis itu masih belajar buat bait-bait puisi. Karena sangat amatir dalam penyusunan kata yang cocok.
Bayangan itu mengusik
Selalu bertemu sepi
Tahu sekedar delusi
Tak bisa dekapnya di sisi
Sangat buntu ide persoalan puisi, apalagi ini judul dari panitia langsung. Jelas sangat menguras energi untuk mencocokkan kata di puisinya.
"Ah, apa lagi eh?" Gusar Arinda sendiri.
Ok. Jangan terlalu di kejar menjadi sempurna dalam diksi deret puisi, karena akan bawa pulang sertifikat penulis terpilih bukan mengantongi penulis juara.
Hah. Ingin sekali menertawai diri, sangat tidak berguna bahkan dalam mengikuti event lomba puisi, cerpen bahkan novelet sekali pun, masih belum datangkan prestasi untuk di banggakan keluarga.
Mengingatkan lagi saat masa satu smk, guru bahasa indonesia datang ke kelas multimedia, mencari siswa mana kah yang memiliki bakat ngarang, supaya diikut sertakan dalam lomba cerpen tema bebas.
Arinda salah satunya dengan Nazira, ternyata sudah menunggu dalam kantor.
Beliau hanya mendapatkan dua siswi yang akan ikut lomba nulis cerpen.
Sungguh, ada senang berselimuti hati, tahu sahabatnya juga ikut serta.
Sudah. Mereka melihatkan karya masing-masih di buat depan guru tersebut.
Ada sedikit alis naik, bingung, juga campur kecewa kah?
"Ok. Kalian bisa kembali ke kelas, nanti ibu hubungi lagi kalau sudah dapat informasi dari panitia lomba." Begitulah yang di cetuskan beliau.
Mengangguk. Sudah tidak sabar menunggu informasi selanjutnya.
Di kantin,
"Tadi di kantor ko tulis judulnya tentang apa, Nai?" Seru Arinda.
"Eng..tentang siswa berprestasi tapi terhalang biaya." Timpal Nazira.
Eh? Mendadak gadis itu lesu, karena judul di angkat sangat berfaedah sekali. Pasti bakal menarik hati panitia lomba cerpen, sedangkan judul nafsi yang diangkat tentang kenakalan siswa.
Yang di cari mereka adalah ide-ide menarik seperti kepunyaan Nazira.
"Bagus tuh judul cerpenmu." Sahut Arinda, sedikit lirih.
"Trus..trus, judulmu apa tadi ko tulis, Rin?!" Kali ini giliran sahabatnya bertanya sangat menggebu.
Tidak ada jawaban dan tatapan datar, sudah tahu arti itu, Nazira hanya tersenyum lalu alihkan topik dalam mengembalikan mood-nya.
Saat itu Arinda masih belum mengenakan jilbab, sedikit terlihat tomboi.
Setelah mendapati hidayah, prantara sahabat padang terus ngajak ngaji, memantapkan diri untuk hijrah.
Terbangun dari memoar itu, kalau terlalu di bayangkan tidak akan menemukan keindahan melainkan banyak keterlukaan, karya keduanya gagal diikutsertakan.
🌏🌏🌏
Tak bisa mengelak, masih bersemayam senang dalam dada, tahu sahabat sempat pergi bersama amarah sekarang duduk bersama AVN, walau agak sedikit ada perubahan, asing.
Vlo tetap menjadi sahabat mereka.
Sejak terbiasa dengan deret puisi, tidak tahu kenapa Arinda menginginkan dalam menciptakan sebuah puisi tentang nama mereka di dinding facebook.
Mungkin dengan keberadaan sederet puisi berejejer lewat dinding facebook bakal cipta obrol setelah lama hilang tanpa sebab.
V ibes di tawari berbalut-balut simfoni
L imitasi di intimidasi cukup beri tangis
O leh rindu tersemat hati, bersua manis
Terima kasih sudah pulang dengan mengantongi kidung serta rindu dalam hati. Benar, AVN akan kembali, biar seberat apapun prahara menghantam.
Setelah mengirim puisi itu di dumay, lagi, berpikir untuk menuliskan puisi tentang nama Nazira.
N galun-ngalun penuh harmonis ekspresi
A bstraksi kidung cukup sesak hati
Z iter itu tak lagi berkunjung di kota imaji
I barat perlahan buat nafsi terkepung sepi
R ampung prahara lewat tenang tak temani
A da iterasi nestapamu lebih mendominasi
Sahabat penuh deret bijak juga motivasi sudah lama menghilang tanpa sebab. Apakah pantas nafsi berteman sunyi setiap saat prahara transit di deret imaji? Pulang. Merindukan kalimat penuh tenang bukan nestapa milikmu sebab cemburu di balik kidung.
Sudah. Ada ruas-ruas retak sangat terasa dalam hati.
Setelah kedua puisi tentang nama mereka menghiasi dinding facebook nafsi, ada kesenangan tersendiri. Datang mengunjungi atau nongki di balik komentar status, keduanya sudah sangat di nantikan Arinda.
Beberapa hari berlalu ..
Sangat manis ketika sudah berjejerkan puisi tentang nama mereka, penuh simfoni tapi bertumpukam dalam sepi.
Apakah kedua sahabatnya benar tak memedulikan lagi mengenai AVN di bangun bersama semasa sekolah dulu?
Pun, kepulangan Vlo sekedar senang sesaat kah sembari penenang saja?
Sangat tidak suka dengan kondisi ikatan lewat jarak aksa, di tambah sahabat satu ngambek karena ada kidung dalam hati kakak kelas mereka tersemat untuk Arinda.
Saat ini dia duduk sendiri dalam kelas, memerhatikan sekitar dengan tatapan kosong tak ada arti setelah buat puisi bersimfoni untuk mereka.
Ternyata benar, hanya nafsi terlalu bergantung pada persahabatan, seharusnya bisa belajar mandiri juga merasakan dunia luar sangat keras, jangan duduk bersama nyaman.
Karena tahu kok, sudah bukan lagi siswi smk, harus mementingkan ikatan di banding kejar masa depan.
Setelah selesai dari bangku perkuliahan, kalau masih ada keinginan menyelesaikan deret hangus di KRSM, akan disambut oleh dunia kerja, bakal tidak bisa punya waktu bermain lagi.
Waktu terus berjalan ke depan, bukan mundur ke belakang. Arinda juga harus bisa mengubah mindset pemikiran itu ke depan.
Tapi, balik lagi, gadis itu tidak bisa seperti mereka berdua, sudah memiliki terowongan kedepannya harus seperti apa.
Bahkan sampai detik ini, berasa ketakistimewaan mendapati label mahasiswi di pelupuk mata keluarga terutama orangtua.
Apa setakberguna nafsi tidak bisa membuktikan kalau sanggup wisuda dengan empat tahun?!
Hoh. Jangan bicarakan empat tahun, melirik-lirik sks kuliah saja banyak yang merah, bagaimana mau kejar ketertinggal yang ada?
"Haha..ini sudah yang sa takutkan, selalu remidial." Gusar Arinda, berbicara sendiri.
Masih belum ikhlas persoalan teman kepercayaan tidak ngambil sks lebih itu. Apa harus menginfokan dulu, baru bantu?!
Kalau tulus, bakal tanpa pikir panjang, harus ngebantu tanpa di hantui rasa takut, oleh teman yang sudah minta bantu. Bukan nunda dengan pemikiran-pemikiran unfaedah.
Ah. Mengingat itu lagi, cukup buat Arinda emosi sendiri.
Tidak seharusnya mengandalkan orang lain di bangku perkuliahan. Karena teman tidak bakal menjadi sahabat.
Kalau Vlo tahu persoalan ini bakal mengamuk habis-habisan, bukan ke teman kampusnya melainkan langsung ke Arinda dan kena intograsi berlarut-larut.
"Rin..sadar kah tidak, kalau uang semester tra murah, hah?! Kenapa juga ko berharap sama mereka?! Kalau sakit, sebisa mungkin ko paksa jalan, sudahlah..jan terlalu manja! Ini dunia kuliah, keras bray!" Pasti bakal muntahkan kalimat ini.
Arinda memikirkannya saja cukup ngundang tawa geli. []