My AVN

My AVN
Vlo Mualaf



..."Tak lama bersua sekalinya dapat dekapan paling menenangkan, mendapati bonus; Vlo mualaf."...


🤍🤍🤍


Sejak bertemu dengan Jordan, tidak mengelak kalau tersisa hanya dua orang tulus saja dari circle cowok tak tahu diri tersebut.


Sangat mengerti dalam menenangkan traumatis saat terbujur oleh ketoxic-an Jordan serta calon adik iparnya.


"Masih calon saja terlalu sibuk sekali urus kam punya hubungan!" Pernah Vlo emosi.


"Sampah masyarakat eh!"


Kalimat-kalimat dari orang tulus kembali terulang yang buat diri tersenyum miring.


Kenapa bisa masuk dalam penjebakan perempuan manipulatif itu, hah?!


Logika, masih belum menjadi keluarga sudah berani ikut campur masalah orang lain dan Jordan yang sendiri juga tidak peduli ingin di urusi hubungannya.


Memang dari sana saja Vira terlalu sibuk, mencari perhatian calon mama mertua.


Oh, ternyata selama ini baikmu ke orang lain hanya untuk di nilai baik eh, Rin?!


Heh? Nih tante sinting atau gimana yak?


Bisa bedain mana munafik dan tulus, nggak sih, hah?!


Semakin gusar dengan chat yang memang bukan menggambarkan diri Arinda.


Memang benar, kalau hoaks jauh lebih di percaya di banding cerita sebenarnya.


Padahal gadis itu adalah korban di balik playing victim Vira licik, brutal paling mencolok dalam menempatkan posisi tak bersalah.


Sedikit lebay ketika di cakar sedikit langsung main ngadu ke kantor polisi.


Wajar saja perempuan sepertinya di juluki sebagai sampah masyarakat. Bagaimana tidak? Sudah jelas salah, tapi menggunakan orang asing sebagai perisai supaya Arinda bersalah.


Aneh sekali. Dunia tipu-tipu seperti judul lagu.


Oh, benar juga, setelah mengetahui perempuan licik menggunakan sehelai di kepala tapi tidak menjamin hati baik, cosplayer anime, sangat sexy.


Maklumi saja, sesosok manipulatif seperti itu tidak heran lagi sifatnya sangat tak bermanusiawi.


Apalagi sih calon mama mertua yang memang otak dangkal, tidak bisa memilah yang benar dan salah. Asal menghakimi sendiri saja.


Ok. Semua akan kembali, karena hukum alam itu sangat adil, perbuatan keji di lakukan Vira bakal di rasakan serupa dari orang lain.


Walau tahu gadis itu sangat belum memaafkan, sudah menjebak begitu brutal apalagi pacarnya sebagai orang bodoh yang mau saja di suruh-suruh seperti budak.


Oh, benar. Karena hari ini kebetulan April sedang liburan, minta tolong temani ke stimik.


Bukan karena takut atau bagaimana nanti bertemu dengan sosok paling bejad di kenali Arinda, melainkan muak mendengarkan tutur kata sangat manis sudah persis seperti calon adik iparnya itu.


Duduk di bangku panjang stimik, sudah mulai gelisah, karena belum makan nasi dari pagi, takut nanti kumat magh-nya.


"Pril..temani sa beli nasi padang kah?" Ucap Arinda.


Tidak butuh banyak pertimbangan pun Jordan dengan gampang seperti mau mengusir gadis itu untuk sementara waktu, heran dah.


Sudah salah, menggunakan uang orang lain untuk mengenyangkan perut, tetapi setelah buat mereka murka karena di prilakukan sangat tak manusiawi, justru balik marah.


Seharusnya Jordan ada di garis paling depan untuk ngebela dia, sembari meluruskan kesalah pahaman yang sudah di mainkan oleh calon adik iparnya yang tidak tahu diri itu, sudah main masuk ke privasi orang lain.


Justru keenakan menggunakan permainan perempuan licik itu.


Sisi lain, mereka berdua menunggu makanan di bungkus sambil cerita tentang Vlo mualaf ke cowok itu.


Menanggapi sangat humble juga senang.


Tapi, sungguh .. Arinda mau langsung dengar dari orangnya, bukan sekarang sedang menerka apakah mualaf atau hanya kepentingan pekerjaannya?


💣💣💣


Sangat kalut bukan main, bagaimana tidak? Sesosok manipulatif telah memenangkan sidang dari hasil aksi sampahnya, menjebak lalu dramatis lagi di calon mama mertua.


Bingung, kenapa ada perempuan lulusan pesantren tapi hati sudah seperti iblis?


Motif di balik ikut campur urusan pribadi orang apa, hah?! Kalau bukan bikin mereka menderita saja dengan playing victim tersebut.


Miris sekali, memiliki penyakit traumatis juga bukan berarti harus di maklumi, bukan?


Mencolok dalam mempermainkan orang yang memang tidak bersalah lalu menempatkan diri sebagai korban. Lucu sekaligus heran.


Seharusnya bisa memiliki sedikit adab, tetapi yang Arinda perhatikan sama sekali tidak berperasaan sih.


Yang seharusnya .. Ternyata hatimu itu iblis, Rin! Mendidih hati sy tau sifat dan baikmu hanya buat menyenangkan orang saja! Chat dari tante tidak jelas ini tertuju ke calon anak mantu selalu di puji-puji karena cantik hanya bermodal make up doang.


Melihat benda pipih itu menerima panggilan masuk, oh Vlo memberikan kabar.


Ternyata bukan sekedar janji tapi di tepati.


Untuk kali ini sangat senang bukan main, bagaimana tidak? Sahabat yang hilang dengan kesibukan di luar, bisa bertutur kata lagi, walau sebatas lewat HP.


Ngobrol asik juga memberitahukan bagaimana perjuangannya mendapati restu agar masuk islam, sangat betolak belakang, hingga berhasil mualaf.


Hah. Arinda membuang napas panjang, sangat bruntung ada sesosok laki-laki yang serius dengan sahabatnya juga menjaga, percaya bisa bangun rumah tangga dengan baik.


Andai bisa berbicara lagi dengan Nazira, bakal menyampaikan hal paling mengharukan, Vlo mualaf.


Sayang, egoisme perempuan berdarah padang itu jauh lebih mendominasi di banding ketulusan hati.


Padahal adanya AVN seharusnya bisa melengkapi tanpa produksi keki, kan?


Arinda hanya ingin ketenangan saat dalam rumah tidak mendapati ruang nyaman untuk membebaskan ekspresi, bercerita, marah atau lain sebagainya.


Hanya kepunyaan AVN bisa meluapkan semua ekspresi tanpa memendam sendiri.


Terdengar suara anak kecil menangis, "itu anakmu, Vey?" Seru Arinda.


Sangat rempong yak, melihat jam sudah sangat dini hari, memang mengharuskan untuk kasih tidur ananda pertama.


Hah. Membuang napas, coba prahara menghantam AVN pun kepulangan sahabat pendengar setia tidak berubah, kemungkinan besar masih bisa lihat baju pengantin yang di kenakan juga tak lupa bakal datang ke hari di mana Vlo mengucapkan kalimat syahadat.


Kenapa harus banyak mengantongi nestapa pun asing sebagai sahabat sendiri?


Banyak hal-hal manis di lewati mereka.


Lagian, dulu sebelum berjaga jarak dengan amarah sama Nazira, seharusnya bisa menahan ego lalu ngajak nongki di mana kah, sembari bicara pelan-pelan kalau minta pendapat murobbi persoalan privasi keluarga, tidak tepat.


Bukan termakan amarah juga dendam terselubung.


Sangat iri melihat persahabatan di luar sana jauh lebih memprioritaskan ikatan di banding keegoisan.


Untuk apa juga meminta pendapat yang mengharuskan Arinda jadikan Nurul, adik kelas sangat pongah itu pelampiasan?


Sudah seharusnya AVN belajar dari kesalahan semasa sekolah, materi di berikan guru, bisa meneliti bahwa persahabatan mereka selalu berantakan karena kesalah pahaman yang tidak bisa di bicarakan secara terbuka dan baik-baik. Selalu mengutamakan ego pribadi. []