
"Tidak bisa menjabarkan persoalan senang dalam hati, bersua dengannya walau tanpa obrol tercipta."
🤍🤍🤍
Dini hari sudah demam tinggi di tambah kepala sakit, hanya menanggapi biasa karena akhir-akhir ini bolak-balik ngampus. Apalagi pulangnya malam, selalu.
Pukul dua lewat lima puluh empat dini hari, kelopak mata masih terbuka lebar, gelisah tidak bisa tidur.
Mama.. Jerit Arinda dalam batin.
Takut, bakal berdampak pada absensi kuliah. Malas kalau dapat mata kuliah ngulang tahun depan.
Noge, sa sakit.
Tidak butuh waktu lama ..
Ko sakit apa noge?
Lah, tumben masih belum tidur? Atau lagi buat skripsi kalau bukan, hapalan quran?
Please .. Arinda tidak bisa berpikir jernih selain merintih sendiri dalam kamar.
Dia mengatakan gejala penyakit itu ..
Mungkin ko sakit malaria itu noge.
"Oh? Iyo kah?" Kata Arinda tak percaya.
Memang sih seperti mau muntah.
Hm. Kamu istirahat yang cukup, ingat jangan lupa makan dan minum obat biar agak enakan.
Membaca SMS masuk lagi dari Julioh, cukup buat kepala tambah sakit.
Besok bagaimana nih? Absensi tanpa harus kirim surat ijin di kampus? Takut .. Berkelebat tidak bisa lulus lagi di mata kuliah tahun ini.
Sejak kecil bergaul dengan cowok, yang tidak bisa menerka lebih jauh mengenai perasaan lawan jenis ke nafsi.
Bahkan sudah menjelaskan juga ke Nazira, tetap ngeyel tidak percaya hanya batas kakak-adik dengan Julioh. Hah.
"Sa tuh dari kecil berteman dengan cowok. Ada sih cewek, tapi, jarang sekali main di luar rumah. Tahu sendiri toh? Kalau sa nih tra bisa batenang di rumah. Maunya lompat ke pohon satu ke pohon lainnya. Atau, main layangan dengan teman cowokku yang lainnya." Terus terang Arinda sangat lebar.
Mengingat ucapan sendiri saja waktu itu, semakin buat kepala tambah berdenyut, sakit.
Tak terasa sudah mendapati matahari siang ..
"Arinda! Kenapa tidak bangun makan?!" Teriak Ayunda di balik pintu kamar.
"Sakit, ma." Parau gadis itu.
Bangun dari tempat tidur dengan susah payah lalu buka pintu kamar.
Saat sudah menjelaskan apa yang di rasa semalam, ibunda mengatakan hal serupa seperti Julioh, malaria.
Duh, iyo kah?! Baemana nanti deng sa kuliah nih?! Gusar Arinda.
"Ma..sa minum obat saja sudah eh?" Rengek gadis itu, sudah tidak bisa nahan rasa sakit tersebut.
"Nanti penyakitmu tidak bisa di lihat karna di halangi sama obat yang ko minum." Jelas Ayunda.
Hah. Membuang napas kesal, sangat tidak kuat untuk nahan perih di seluruh tubuh.
"Kalau ko ndak paksakan makan, bagaimana mau lihat perubahannya?" Beliau berusaha bujuk gadis itu buat makan. Sesuap saja.
"Tidak bisa, ma. Lidahku pahit sekali."
"Begitu sudah kalau kita sakit, kalau ndak di paksakana makan, ndak ada kemajuan tuh?" Kata ibunda.
Ah, membuang napas lelah.
Mengingatkan diri semasa putih abu-abu, malas-malasan buat tugas apalagi ke sekolah. Lah, sekarang? Tidak masuk sehari ke kampus aja sudah buat takut.
Mengingat-ngingat tentang .. "Kenapa juga sih kam dua paksa sa masuk kuliah?!" Ketus Arinda, protes.
"Buat ko bisa lebih baik dan masa depanmu terjaminkan bisa dapat kerja dengan gampang, Rin." Seru Vlo.
"Otakmu tidak seperti Handani, pintar, bisa lulus dengan nilai baik. Baru mau kuliah, yang ada ko berhenti di tengah jalan." Sempat tak terbantahkan dapat penolakan dari grandma.
Menggeretakkan bibir, saat-saat seperti ini, sakit, kenapa harus bermunculan kalimat putus asa dari sekitar denyut nadi sih?!
🌏🌏🌏
Langkah tertatih-tatih, masih terasa sakit, nunggu adik jemput ibunda.
Iyah, hanya pakai satu motor saja. Dan, Arinda nunggu di kursi panjang depan apotik.
Kalau sakit gini, pasti ada dua sahabat jenguk bawa buah-buahan. Di tambah rawat penuh ikhlas, sampai kelaparan pun mereka tidak beli makanan melainkan ..
Sebenarnya sih sengaja, supaya gadis itu tidak malas makan.
Saat tidak sengaja nunduk, karena pusing, terkejut mendapati muntah yang sangat banyak.
Mau mual rasanya lihat pemandangan kurang mengenakan.
Melihat ibunda datang, langsung pergi periksa darah dan nunggu di panggil asisten dokter ke ruangan.
Hanya menunduk, karena pusing sekali.
Adiknya gelisah sendiri, "Arinda..tadi ko tidak lihat Vlo masuk ke dalam?" Berbisik.
"Hm, lihat. Biar sudah." Menimpali dengan ketus.
Jauh dari hati paling dalam sangat menggerutu hebat, kenapa bisa tidak lihat Arinda? Sangat jelas loh duduk depan ruang dokter, pura-pura tidak lihat kah?
Tersenyum miring. Saat lihat keluar dari ruangan, benar, itu sahabat yang telah lama hilang.
Ternyata .. Bersua dengannya dengan sikap tak saling kenal, asing.
Bersama Ruly, semakin micu emosi dalam hati.
Kesel lihat sahabatnya sakit tapi masih berdiri menunggu tebusan obatnya dari apoteker.
"Mama..ada Vlo di sana." Kata Arinda nunjuk keberadaan sahabatnya itu.
"Kenapa ndak tegur ko?" Bingung campur penasaran.
"Entahlah."
"Rin, ko lihat itu bukannya Vlo?" Lagi adiknya berkicau, masih tidak percaya.
"Iyo, itu memang Vlo dengan pacarnya, Ruly." Balas Arinda kesal.
Masih di lihatin.
"Sudah..tra perlu di lihat lagi!" Ketus gadis itu.
"Jih, kenapa kah? Hanya lihat sama mo. Kenapa Vlo tidak tegur ko sama sekali?" Masih heran.
"Sudahlah. Mungkin lebig asik sama Ruly, makanya tra mau tegur sa." Getir Arinda campur kesal.
Tahu kok bagaimana kelakukan cowok yang bahkan belum memiliki ikatan pasti, sudah ngancam rebut nyawa anak perempuan orang. Dasar..tidak tahu diri.
Sampai di rumah ..
Benar. Ada malaria tropika plus tiga. Ah, pantas saja buat kepala sakit terus.
"Ingat, jangan lupa minum obatmu, nanti kalau terlambat minum, sama saja ndak ada perubahan tuh. Mau ke dokter terus?" Kata Ayunda, mengingatkan.
Setelah itu Arinda masuk kamar, istirahat.
Tadi sangat penasaran penyakit apa yang buat sahabatnya jatuh sakit?
Sudahlah. Mengabari kakak tingkat untuk kasih surat ijin sakit di dosen.
Kak, jangan lupa kasih ke teman kelasku yah?
Tidak begitu lama nunggu balasan Kak Andy.
Ade sakit apa?
Sisi lain, "bro..bro, Arinda sakit karna hamil?! Betul kah?!" Andy berseru sangat kaget.
"Ah, masa sih? Mana..coba sa lihat suratnya." Bagas penasaran.
Saat meneliti baca, "cova..ini eja! Bukan hamil! Ada tiga opsi di tulis di sana!" Kesal Bagas yang di hadiahi kekehan dari Andy.
"Haha..kenapa kita punya teman otaknya dangkal sih?" Atri tertawa.
Usai meredahkan tawa atas kekonyolan teman sendiri,
Oke dek, besok kakak kasih. Cepat sembuh :)
Ah, yakin deh kalau yang di chat sangat girang walau pun sedang sakit.
Andy beransumsi karena terlalu memikirkan teman the gank mereka itu kah? Yang menimbulkan sakit?
Yang jelas Arinda tidak salah melainkan berita hoax cukup menghancurkan solidaritas mereka.
Navya sangat keterlaluan dalam menyuntikkan kebencian dalam kelas. []