My AVN

My AVN
Masalah Menghujam Dada



"Senyum membungkus luka, sisi lain ada masalah menghujam dada sudah menyeruak benci tanpa sebab."


💣💣💣


Lagi duduk depan kelas, tiba-tiba saja ..


"Rin, ko kenapa su tra main lagi sama Clara dan keempat temanmu?" Tanya Irja penuh selidiki.


Well. Hanya kepo dan penasaran selebihnya tidak peduli.


Tadi datang dari belakang, melompati tanaman kecil itu.


Kesan .. Mengejak kah? Saat tahu nafsi jemput sepi?


"Trus, hubungannya sama ko apa eh?" Ketus Arinda.


"Yah, trada. Cuma heran saja, ko jalannya sendiri dari mereka." Kekehan kecil itu cukup jelas, ngejek.


Panas. Menculas sangat tak terima, tapi harus kah semprot amarah?


Hah. Berdiri dari duduknya lalu berjalan dengan langkah gusar, tidak tahu mau cari tempat untuk menghindari mereka yang cukup menyebalkan.


Terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain.


Tanpa sadar, berpas-pas-an dengan Ika, tapi tidak sama sekali di ajak ngobrol. Justru jalan lurus ke kantin bersama teman lainnya.


Melongo. Semakin getir terasa mencekik leher gadis itu. Pemandangan yang menyebalkan, sungguh deh.


Tanpa sadar menawari kebahagiaan berbungkus bohong berlabel teman akrab.


Bertutur kata sangat manis, hingga sulit mengendus palsu.


"Rin, sendirian aja? Ke mana teman-temanmu?" Lagi, sindiran itu tertuju pada nafsi.


Wah. Luar biasa sekali cowok itu, sangat cerewet melebihi perempuan!


Sial! Kenapa bisa sampai ngekor ke bawah pohon kampus, hah?!


"Lebih baik sendiri. Daripada ramai-ramai hanya tahu kasih sakit hati orang lain yang tra tahu masalah." Penuh penekanan.


Eh, ada sosok teman the gank dramatis dari jurusan Teknik Informatika, mengolok lewat ekspresi sangat tak tergubris Arinda.


Ketika keadaan semakin kacau, mengingatkan memoar bersama AVN, tanpa mengolok atau sindir melainkan melebarkan tangan dalam rangkul penuh ramah lalu menenggelamkan egoisme diri.


Juga, tak ada namanya kesendirian temani nafsi melainkan selalu ada solusi untuk kembali ke rumah AVN.


Senyum membungkus luka, sisi lain ada masalah menghujam dada sudah menyeruak benci tanpa sebab. Mereka semakin tidak tahu diri dalam mengejek Arinda.


Padahal kalau mau di analisis, perempuan dramatis itu yang salah. Kenapa harus membela orang seharusnya minta maaf?!


"Dek, kalian ada masalah kah sama Navya dorang? Kok, tumben ade jalannya sendirian. Waktu semester satu sama-sama trus baru." Salah satu kakting menyinggung pun campur heran.


"Oh, kalian juga tahu masalah ini?" Tawa hambar Arinda.


Sebegitu pesat kah, dalam menyeruak masalah menghujam dada di kampus, hah?!


Populer sekali anak itu, gusar Arinda dalam batin.


Justru mendapati gelengan dari mereka.


"Itu, masalah sepeleh yang dia besarkan. Sa juga tra tahu kenapa dia jauhi sa tanpa sebab." Kata Arinda.


"Masalah karena apa jadi, dek?" Yeli semakin penasaran.


Sejujurnya sangat risi harus di berikan pertanyaan langsung dari orang lain.


Yah, mau gimana lagi kalau sudah tersebar kesalah pahaman di fakultas? Jawab apa adanya saja.


Juga .. Bingung, mengharuskan diri sebagai apa? Padahal sudah melakukan terbaik, tetap masih ada yang keki.


"Di mega futsal." Setelah kasih tahu lokasi tempat timbulnya kesalah pahaman, Arinda pun langsung menceritakan kronologi itu.


Kakting tersebut melempar tanya kenapa bisa semarah itu? Yah .. Hanya mengangkat kedua bahu, tak tahu-menahu.


Karena jelas-jelas teman sekelasnya sudah main kasih tinggal dengan wajah ketus.


💣💣💣💣


Cafe Yoka, waena papua. Memposting foto itu ke instagram yang tidak sengaja lewat di beranda Arinda.


Kok sakit sih? Sebab nafsi tak berada di sana.


Masih belum sepenuhnya pulih dari ketoxic-an di berikan mereka serta perhatian itu berbekas, belum terkelupas. Maka dari itu, tersisa sakit jika melihat postingan tanpa dirinya.


Esok hari ..


Mengernyit heran, kok teman-teman pada tergesa ngumpul selembar kertas putih?


Apa ada informasi yang tertinggal?


Jujur. Sangat tidak tahu sama sekali.


"Rin, ko sudah kerja tugas Akuntansi I?" Kata Ika.


Heh? Semakin bingung dong.


Eh, bentar, tadi itu teman kepercayaan menyapa lebih dulu yak? Wah .. Tumben sekali.


Arinda menggeleng, setelah itu di kasih tahu ada tugas mendadak dari dosen semalam, lewat chat pribadi di ketua kelas.


"Kenapa kalian tra kasih tahu sa?!" Intonasi berbalut pelan tapi campur protes.


Tahu, sedang dalam fase tak baik-baik saja di pertemanan kampus yang mengharuskan Arinda menjaga intonasi itu sebaik mungkin, agar tidak terjadi kesalah pahaman perulangan.


"Lah, sa pikir sudah tahu. Jadi, tra SMS ko." Justru di balas bingung dari Ika.


Tahu dari mana, kalau trada informasi sama sekali! Kesal Arinda dalam batin.


Tidak mungkin kan, harus balik ke sentani hanya sekedar ngambil laptop terus kerja tugas mendadak dari dosen? Harusnya Ika kasih tahu dari malam, bukan sekarang.


Arg. Mencak sangat gusar.


Apa karena takut bakal di jauhi oleh teman sekelas, makanya sama sekali meminimalisir informasi?


"Dek?!" Teriak Andy, yang baru datang.


"Apa?!" Sungut Arinda, menahan tangis di balik helm-nya.


Well. Sejak tadi belum turun dari motor. Ada rencana balik ke rumah, dengan keadaan mood kurang bagus, sejak kemarin di sambut kasar.


"Ade mo ke mana? Bukannya hari ini ada mata kuliah sama-sama kakak?" Kak Andy heran sendiri.


"Pulang." Dengan satu kata ini, langsung menjalankan motor itu.


Seharusnya ada kakting ini, menjadikan moodboster, kok, mendadak tambah hancur?


Hampir saja meledak tangis itu, jika tidak berusaha di tahan sekuat tenaga.


Jangan menangis di kawasan kampus. Bakal menjadi bulan-bulanan bully mereka, sedang kacau seperti ini.


Saat sudah keluar dari sana, buaarr! Tangisan itu pecah, sesegukan.


Kenapa mereka sejahat ini tidak kasih tahu tugas mendadak dari dosen? Bukan kah membayar spp kuliah sangat mahal?! Kenapa mempermainkan sangat mudah?


Satu informasi sangat berarti biar sekalipun tahu, setidaknya solidaritas di prioritas.


Hoh. Jangan membicarakan solidaritas kalau sifat masih semena-mena.


Sisi lain, Andy duduk dengan wajah bingung.


"Arinda kenapa?"


"Tra tahu bro. Mungkin soal itu lagi." Temannya membalas seadanya saja.


Tahu sendiri, kalau teman sejurusan adiktingnya menyalahkan Arinda. Kok, tidak sama sekali membela? Jika di lontarkan mereka salah besar.


"Kantin yok.." Andy mengajak.


Saat sudah di sana, "mereka kenapa begitu eh? Kalau ada masalah kok sebar benci satu kelas lagi." Andy protes.


"Namanya juga cewek, bro. Tidak tahan mulutnya kalau belum cerita keluhannya." Atri menimpali sangat tenang.


Andy membuang napas panjang. Kasihan gadis itu, tertekan, menghadapi sorot-sorot tidak tahu kebenarannya. Termakan cerita hoax.


Melihat Danang datang, ada beberapa teman gadis itu juga masuk.


"Jih, sudah tahu salah baru tra minta maaf lagi. Sa kalau jadi dia toh, langsung ke orangnya minta maaf." Salah satu celetuhan mereka bisa Andy dengar, walau pun dengan suara pelan.


Tapi .. Sepertinya mereka sengaja kakting itu menangkap obrolan mereka.


"Kenapa dia tra cegat Navya kah, baru bilang oke sudah, sa pulang sama ko dan tra hadi makan sama kakak itu macam susah kah bilang seperti itu." Lagi, mendengar olokan tersebut.


Mendadak kesal. Bukan kah malam itu dengan tanpa ngajak pulang sama-sama langsung meninggalkan pakai intonasi ketas-ketus?!


Maaf, dek, seharusnya malam itu kakak tidak ajak makan sama-sama. Getir Andy. []