
"Ternyata ingatan-ingatan itu buat nafsi rindu Vlo untuk bisa mengusir beban pikir, sudah sangat menjeruji."
🤍🤍🤍
Flash back ..
Tidak sadar, masih pagi sudah mancing emosi saja sih kakting dramatis lewat beranda facebook.
Bisa-bisanya upload satu vidio di mana menceritakan tentang teman palsu?! Hoh. Menanggapi gadis itu toxic kah?
Memang benar, tidak tahu diri sama sekali. Sudah di antar cari kebaya buat wisudanya, sampai tidak ada kalimat Vit, istirahat sudah dulu, ko capek toh? Justru di kasih kata-kata kasar tak manusiawi lewat caption facebook.
Avita nyaris pingsan saat berkeliling di bawah terik panas matahari siang itu di tambah belum mengisi perut.
Ah .. Memang sangat tidak bisa memprioritas diri jauh lebih menyenangkan hati orang yang bahkan tidak bisa berterima kasih justru menembak brutal tanpa alasan.
Yang sangat mengusik adalah fucked dari caption itu.
Spontan Avita meledak-ledak dalam batin.
Pemikiran dangkal tidak bisa mencerminkan sebuah sa tra seumuran sepertimu status whatsapp beberapa minggu terbit.
"Resna bocah!" Emosi Avita.
Ingin sekali mengeluarkan sumpah serapah sudah sejak tadi di tahan lewat batin. Sadar, bahwa melawan orang yang kadar otaknya sama dengan orang gila, hanya buang waktu dan energi saja.
Tapi, kalau tidak di balas, menjadi penyakit hati juga sih. Sudahlah.
Resna memang sangat haus perkara masalah yang di buat sendiri.
Kakting itu yang berbuat ulah sampai menutupi kesalahan diri dengan menjadikan dua teman angkatan Avita perisai kah?
Hanya buat membelanya?
Padahal sangat jelas salah, masih saja menutupi lewat omongan hoax menjadikan dua teman baik gadis itu ikut membenci.
Heran deh. Padahal yang kasih rusak motor orang kok marahnya tak terkontrol?!
Yang seharusnya berhak marah di sana adalah Avita, bukanlah Resna!
Tidak habis pikir, kenapa bisa kakting itu menceritakan kalau Avita mengatai dua pasangan dengan kalimat seperti binatang yang langsung kena amukan mereka?!
Asli sih, Resna punya otak dan jemari itu butuh psikater supaya tahu mana yang benar dan salah.
Beberapa hari berlalu ..
Avita tidak mengendus aroma kecurigaan yang sedang ada dalam kamarnya.
Yup. Ada teman kepercayaan sedang pinjam laptop, tapi hati-hati Avita lihat dari kaca lemarinya, dua sorot mata itu menyimpan penasaran campur intimidasi.
Mau nyari folder apa sih?! Kesal gadis itu dalam batin.
Oh, benar juga. Resna sempat menceritakan tentang satu draf sedang di susun gadis itu ke mereka, karena teman angkatan tidak pernah mendengarkan selain menghakimi sendiri tanpa mau mencari tahu sebenarnya yang terjadi.
Voice of my heart. Hanya ini yang diinginkan Avita, tidak lebih.
"Cari apa, Ika?" Langsung Avita buang suara.
Cukup buat teman kepercayaannya terkejut, tapi bisa terkontrol, tetap saja kan, bisa ditebak Avita.
"Ah, tidak ada. Sa penasaran sama foto-foto yang di pantai." Kilahnya.
Hm. Membuang napas kasar, tujuan mereka datang main mencari tahu apa sedang di sembunyikan gadis itu kah?!
End flash back.
🌏🌏🌏
Ingatan-ingatan mengenai kelicikan Resna di tambah status menyindir sampai detik ini belum terusir juga dalam beban pikir.
Tahu bahwa belum berbaikan dengan Nazira, nyeri dalam dada.
Yang biasa kalau ngambek atau hilang kabar, di pastikan dengan ringankan langkah culik sahabatnya di rumah.
Sadar diri bahwa semenjak kejadian itu, cukup buat Vlo menjadi asing pun hilang kabar terus.
"Rin, tenang saja. Ada kita kok, kalau ko rasa susah, bilang saja, nanti kita bantu. Asalkan ko kuliah sampe wisuda eh?! Bawa pulang gelar komputermu buat kita terutama mamamu."
Ah, lagi, ingatan percakapannya dengan mereka berdua mengusik beban pikir.
Saat ini sa kesulitan imbangi cita, butuh kalian berdua! Serius! Rengek Arinda dalam batin.
Sudah tidak kuat menahan semua seorang diri, yang hampir saja meledak lewat tangis.
Kepala mulai cenat-cenut, tahu ada status menyindir lagi dari sosok kakting labil lewat whatsapp.
"Apa sih?! Tra puas kah jadikan sa teman baik perisai?!" Ketus gadis itu, sangat muak.
Hah. Kumpul tugas setelah itu balik saja ke rumah, daripada mengantongi banyak sakit hati lihat tatapan ketaksukaan mereka yang sudah tersuntik omongan hoaks?
Biasanya saat semasa sekolah, bosan dalam kelas pasti dua sahabat datang jemput untuk sekedar makan cilok di kantin panjang sambil tertawa bersama.
Sekarang? Hanya bermain dengan sepi pun mengunjungi destinasi imaji.
Benar, "Rin..jan sering main sama ko imaji, nanti ko sakit sendiri." Apa yang di katakan oleh ketua kelas.
Kalimat itu tersirat jangan pendam masalah sendiri, cerita ke teman. Hoh. Bercerita kah? Setelah mendapati kisah tersebut lalu menjadikan bahan olok saat berkumpul?
Big no!
Cukup sayat-sayat kepercayaan saat tak sengaja melihat sorot penuh kecurigaan milik Ika, ketika buka folder laptop tanpa ijin Arinda.
Tersenyum miring.
Hal yang menghilangkan beban pikir ketika dua sahabat tidak ada kabar adalah jalan-jalan sendiri di mall jayapura sembari duduk menikmati minuman, seperti biasa dia pergi dengan Nazira.
Yang cukup membangkitkan kenangan lalu senyum getir tercipta di sana.
Kapan lagi bisa berkumpul?
Setelah mendapati teman toxic yang dianggap bisa bergandeng ke jannah ternyata menusuk paling bengis juga membicarakan privasi hubungan orang dengan pongah, sudah begitu tidak tanggungjawab kesalahannya sendiri.
Hah. Hancur. Apa lagi harus di pertahankan Arinda memerhatikan destinasi beraromakan jannah berasa terintimidasi pun kuliah tak lagi asik seperti biasa, karena ulah Resna.
Rindu Vlo saat terjeruji oleh prahara paling bekelebat dalam kepala, pasti akan mengajak bercerita panjang sampai lupa waktu, menghilangkan beban pikir.
"Rin.." Panggil Ika.
Pemilik nama hanya berhati-hati berbalik ke arah teman kepercayaan yang sudah merobek perasaan.
"Mo pulang kah?" Ika bertanya.
Hanya mengangguk kecil.
"Kenapa tra duduk dulu di sini?" Justru memberikan kebingungan dari perempuan itu.
Lah? Kenapa jadi kalau sa pulang? Arinda berbicara sangat sewot dalam batin.
"Ah, sa capek. Nanti saja sudah, kapan-kapan lagi kah." Arinda menolak halus.
Walau sejujurnya hati teramat berat meninggalkan mereka, tahu bahwa rumah adalah ruang paling kosong dan sepi tidak ada tempat untuk bisa merasa terhibur, it's okay. Dari pada bergabung pada toxic akan melukai hati lebih parah pun rupiah terkorek sampai habis tak tersisa.
Setidaknya membersamai sepi dalam rumah, menyelamatkan uang-uang jajan hanya untuk mengenyangkan perut mereka tak tahu diri.
Harus dengan cara apa lagi dalam membagikan sebuah kebaikan tanpa manipulatif? Yang sudah di buat oleh Resna?
Arinda sangat bingung menjadi wajah dua hanya untuk mendapatkan kesenangan berbalut kebohongan. []