My AVN

My AVN
Vlo Hancur



...“Sangat bergetir, lebam membiru masih berbekas di ingatan cukup tidak bisa menemani nafsi ikut tes seleksi masuk perguruan tinggi. Kesalahan sangat fatal.”...


🤍🤍🤍


Sangat senang, bisa antar sahabat ke kampus antar tugas sudah di kerjakan minggu lalu. Setidaknya dapat memotret rutinitas mahasiswa di sana, sebelum meyakinkan diri untuk ikut ujian masuk seleksi jadi maba nanti.


“Bagaimana nanti kalau Ruly dapat tong di jalan, Vey?” Kata Arinda campur cemas.


Saat ini mereka bentrok lagi, sudah jelas dapat penolakan tegas tetap saja ngeyel buat mendapati lagi cinta itu dari Vlo.


Yang sangat tak disukai dari sosok cowok itu dari Arinda adalah ringan tangan setiap kali ingin menyelesaikan sebuah masalah. Bahkan melarang-larang jalan bareng sahabat sendiri yang lebih dulu kenal di banding menjalin romansa dengannya baru beberapa bulan terakhir belakangan ini.


Cih. Dasar..decak Arinda dalam batin, sangat tak suka.


“Ah, kasih biar, Rin. Jalan saja sampe di kampus. Sa juga trada rasa lagi sama dia. Salah sendiri, kenapa mo kekang sa punya hidup kah?! Sa juga butuh kebebasan. Masa jalan sama sahabat sendiri, dia marah.” Cerocos Vlo, sangat emosi.


Berdesir penuh haru selupi hati, apakah tidak salah dengar nih? Arinda sangat senang bisa dengan mantap menangkap kalimat sudah lama ingin masuk di gendang telinga.


Nai..sekarang Vlo bisa sadar juga kalau selama ini pacaran sama orang salah. Bisik gadis itu dalam batin.


Sudah tidak sabar sekali untuk mengumumkan ke sahabat padang itu.


Memang dalam AVN paling keras juga privasi rapat-rapat hanya Vlo, berpikir bersahabat di tambah selalu ada ternyata tidak membantu sama sekali meringankan beban-beban dalam pundak. Sama halnya seperti Nazira lakukan, saat belum benar-benar bisa move on sepenuhnya dari Hamaz.


“Rin..itu Ruly lagi lari. Stres pu model begitu jadi.” Vlo berkicau sambil berdecak. Hanya melirik seksama lewat kaca spion motor sahabatnya.


Melongo, heran sangat. Kok bisa sosok cowok menyebalkan itu bisa sampai di jalan harapan?


“Tunggu. Dia lari dari sentani sampe ke harapan, Vey?” Benar saja, tidak bisa disembunyikan rasa penasaran gadis itu.


Arinda melihat anggukan mantap dibaluti santai dari sahabat.


“Bisa tuh, sa kalau jadi dia, mungkin su duluan pingsan di hawai kapa.” Kata Arinda, sedikit terkekeh, sangat gila sih.


“Apa kah yang tra bisa dia lakukan. Kasih biar dia saja, Rin.” Vlo menggerutu, sangat kesal sekali.


Bahkan sampai di kampus, masih membicarakan tingkah mantan kekasih sahabatnya itu apakah tidak bertingkah konyol, menyeret paksa buat ikut bersamanya?


Justru di balas sangat santai dan tenang.


“Ko lagi, kenapa kah pacaran sama orang seperti dia?! Main tangan seperti itu.” Arinda muncratkan protes.


“Cinta, Rin. Apa yang sa bisa lakukan kalau sudah terlanjur jatuh cinta sama dia? Kalau bileh jujur, sa pengen putar waktu, hapus sa rasa dan tra bakal cinta kalau tahu dia ringan tangan seperti ini.” Urai Vlo di tengah-tengah mengerjakan tugas yang belum selesai.


Memutar bola mata dengan malas.


“Sampai ancam bahayakan ko hidup tuh. Maksud apa coba?! Suami juga bukan, kenapa dia belaga punya hak seutuhnya atur-atur ko hidup?!” Ketus gadis itu, sangat dongkol.


Sangat tidak puas dengan jawaban sahabat sendiri, kenapa bisa mau menuruti keinginan bahkan sudah menjadi mantan kekasih sekali pun?!


Gegara sosok itu cukup merusak suasana AVN tiap kali berkumpul lengkap. Apalagi saat ngambil ijazah di sekolah.


Hah, membuang napas sangat gusar. Lihat panggilan telpon terus mengusik bola mata Arinda. Sudah mencoba buat menegur jangan diangkat.


“Nanti kalau sa tra angkat telponnya, dia bakal datang samperin kita di ko rumah lagi, Rin.” Jawab Vlo berikeras, sangat.


Tadi bilang ingin kebebasan. Seperti .. Omongan itu menyimpan asa berada di sisi Rully lagi.


Setelah selesai temani kerja tugas, menunggu sampai sahabatnya datang dan pulang meninggalkan area kampus.


Dalam perjalanan, mendengar teriakan Vlo.


“Rin..Rin, berhenti! Ruly kejar kita dari belakang!” Seru perempuan itu, tak henti melihat ke arah belakang.


Keras kepala, menjalankan motor itu di atas rata-rata. Nihil, terus mendengar protes dari sahabat sendiri. Cukup mengendus sangat kasar, emosi juga.


“Sudah kah! Tra usah urus dia, intinya kita langsung pulang ke rumah.” Gusar Arinda, sangat jengkel.


“Aduh, Rin. Bukannya apa eh, sa takut nanti ko yang kena imbasnya kalau sa tra ikut sama dia.”


Aih. Ini sudah yang paling di benci dari sosok pendengar setia, lebih prioritaskan orang lain, jelas-jelas mendapati prilaku kasar, ngotot pertahankan hubungan itu.


Masih berdebat pun hal percuma, karena Vlo keuhkeuh ingin turun dari motor dan ikut mantan kekasih.


Apa karena ingin menyelamatkan hidup sahabat, makanya lebih korbankan diri kena serangan kepalan tangan perulangan, hah?!


Setelah menepikan motor, sangat kesal sekali, “apa lihat-lihat!” Sungut Ruly.


Cih! Tra jelas sekali jadi cowok, aneh! Arinda tak kalah emosi dalam batin bersuara sangat protes.


Harusnya posisi marah itu dia, bukan cowok tidak jelas penuh kelainan terlalu memaksa kehendak untuk bisa bersama sahabatnya. Egoisme!


“Rin, pulang sendirian sudah eh? Tra usah khawatir, Ruly kalau sudah jalan sama sa, dia tra brani apa-apakan sa kok.” Vlo berujar, pamit.


Sudahlah.


Sangat marah lalu tanpa pikir panjang, sudah jengah dengan prilaku orang yang tidak memiliki hak untuk melakukan hal semena-mena ke sahabat.


“Loh, kenapa cari Vlo, bukannya dia jalan sama kamu, Rin?” Kata Nandes, mamanya.


Arg. Menggeretakkan gigi, cowok itu bawa sahabatnya ke mana?! Pikiran overthing berkelebat dalam kepala, takut terjadi sesuatu.


Mengumpulkan segenap upaya lalu memberi tahui ancaman tersebut ke keluarga sahabatnya.


“Telfon Vlo! Suruh pulang!” James, bapaknya, sudah naik pitam dengar ancaman itu.


Sangat bergemuruh, takut terjadi hal tak diinginkan.


“Om, tante, tolong jangan pukul Vlo kalau sudah datang ke rumah? Saya hanya ingin lindungi dia saja.” Arinda kalut, sangat ketakutan campur getir.


Sangat nyata terbentang pelupuk mata, pinta tadi di suarakan tidak di dengarkan sama sekali.


Bergetir, sangat lirih. Melihat sahabat paling kuat dalam mengantongi banyak beban, hancur depan mata nafsi.


Sangat sesak. Ingin menangis. Bahkan maaf sekali pun tidak ada gunanya sekarang, sosok penting itu terlanjur membenci diri.


“Sa sudah bilang apa, Rin?! Kalau mau lihat Ruly berhenti kekang sa, lebih baik ko lapor dia saja ke polisi!” Sungut Vlo, sorot terpancar sangat benci.


Bergetar sangat hebat, tidak bisa berkata-kata selain mematung bingung hal apa yang bisa menghentikan pukulan bertubi-tubi itu?


“Makanya, Rin, sa sudah pernah bilang, berpikir dulu baru bertindak! Lebih baik ko laporkan dia ke kantor polisi, bukan di sa keluarga! Ini toh akibat dari ko kelakuan! Senang?! Sa dapat pukul sama Ruly, hah?!” Teriak Vlo, saat masih di pukul.


Menggigit bibir, sangat gelisah. Terserang penyakit panik, kepala terasa pusing juga sakit mendengar berpikir dulu baru bertindak dari sahabat sendiri selama ini memberi kasih.


Usai di sidang habis-habis-an lewat ringan tangan, lebam membiru jelas di tangkap mata Arinda di tubuh sahabat sendiri.


Mendengar kalau mereka bakal di nikahkan juga syarat sebelum menggelarkan pernikahan, perempuan itu harus keluar dari rumah. Di usir secara paksa.


“Sa mohon, Vey. Kalau ko mau keluar dari rumah, ke sa rumah saja.” Gadis itu meminta sangat tulus, campur bersalah.


Keadaan Vlo hancur seperti ini, masih bisa tersenyum? Sangat menerka, cinta itu tetap buat nafsi setelah kekacauan begitu fatal di lakukan?


Please .. Come on, bukan ini tujuan utama Arinda mengatakan ke mereka, melainkan membicarakan secara baik-baik dengan begitu bisa melepaskan jeratan sahabat dari cowok brengsek itu!


Membicarakan dengan kepala dingin. Tidak. Sekali lagi, bukan pukulan bertubi-tubi diinginkan juga senang lihat sekujur tubuh sangat hancur itu depan mata.


🌏🌏🌏


25 Juni 2016 ..


Bukan kah ini adalah hari terbaik setelah penuh pertimbangan juga berkelebat persoalan insecure tidak bisa kuliah? Sedangkan nafsi telah duduk menunggu di bawah pohon untuk masuk ikut tes seleksi perguruan tinggi?


Harusnya ada Vlo menemani, ikut lihat gadis itu ujian.


Nihil. Sangat bergetir hebat, kejadian beberapa bulan lalu cukup mengundang banyak luka di ruang AVN.


Jauh sebelum itu,


Rin, please .. Ko tahun ini ambil kuliah eh? Masih buka pendaftaran klouter kedua di USTJ, kalau tra salah besok sudah tutup. Ko ke sana sekarang, Rin. Biar besok ko kasih kemblai formulirnya saja.


Ada Nazira yang mengingatkan bahkan sempat nanti kalau isi formulirnya, ko vidio call sa eh? Biar sa tahu kalau ko sudah daftar lewat sebrang telpon.


Ada senyum getir tercipta di sana, bahkan sosok ini di tenggelamkan oleh tugas kampus yang tidak bisa tahu Arinda sedang ikut masuk tes di kampus rekomendasinya sendiri.


Bahkan pergi ke sana pun tidak mengantongi ijin dari ibunda melainkan dengan niat diri, iseng saja dulu buat ikut ujian tes seleksi.


Dan, pasti setiap kali beliau lihat dia mau pergi, “sa mau main ke rumah teman.” Begitulah jawaban yang sudah di berikan.


“Hai..kamu lagi baca buku apa?” Sapa seorang bisa dikenali itu juga adalah maba.


Menunjukkan cover tersebut Catatan Seorang Gadis tidak tahu kenapa sejak memasukkan ke dalam ransel sebelum berangkat kampus, ada getir-getir sangat lirih terasa.


“Oyah, kamu peserta mahasiswi baru yah?” Kata seorang itu.


“Iya, kalau kamu juga?” Heh. Hanya basa-basi buat cipta obrolan tidak kaku.


“Sama. Oyah, kenalin, namaku Fitri, kalau kamu?” Fitri pun mengulurkan tangan langsung di balas cepat, “Arinda.”


“Oh, kamu ambil jurusan farmasi yah, pasti susah?” Arinda menebak di susuli dengan kekehan kecil.


Fitri tertawa santai, “tidak juga, kalau ingin berusaha.”


Ngobrol mengenai jurusan di sekolah dulu, “kamu enak sudah punya bekal dari smk, saya ini tidak ada bekal apa-apa buat masuk di sini.” Lah, katanya tadi bisa kalau mau berusaha? Kok sudah lebih dulu patah semangat sih?


“Tidak menjamin juga sih, tergantung niat orang masing-masing.” Arinda membalas.


“Trus, kamu ujiannya di ruang mana, Rin, kalau boleh tahu hehe?” Fitri bertanya dengan logat jawa kentalnya.


“Hm..kalau nggak salah sih, di sana. Karena tadi di rumah saya lihat ruangannya di sana.” Menunjuk ruangan berdampingan dengan fakultas FIKOM.


“Oh. Di sana yah, kalau saya sih..di bagian sana.” Menunjuk lawan arah.


Berasa teman lama yang baru bersua lagi. Sangat asyik juga nyambung buat ngobrol dnegan teman baru di temui di kampus.


Tidak tahu kenapa gadis itu minta pendapat persoalan persahabatannya sedang retak itu ke Fitri.


Orang berharga di sebutkannya tidak menyinggung persoalan sahabat sih lebih tepatnya. Memang benar, mereka berdua sudah menjadi sosok susah untuk di dapati dari orang lain.


“Pasti sakit yah. Apalagi sahabat sudah lama gitu, kalau ada masalah yang bisa di bicarakan dengan baik-baik, kenapa harus baku diam dengan waktu panjang? Kasihan juga kan dengan persahabatan yang sudah lama di bangun harus runyam karena masalah sepeleh. Emang, kamu ada masalah sama sahabatmu?” Urai Fitri.


Deg. Kok tertohok sih dengan kalimat terakhir? Hah. Membuang napas pelan lalu ngangguk pelan, selebihnya tidak mau membicarakan sedetail itu ke orang baru di temui hari ini.


“Kenapa tidak selesaikan dengan baik-baik saja?” Fitri mengusulkan.


“Susah. Butuh waktu lama untuk bisa kembali dengan mereka.” Dan, mengeluhkan hal itu.


Juga bukan perkara mudah dengan santai kembali ke rumah AVN, setelah lihat Vlo lebam-membiru sangat tidak berperasaan di prilaku begitu oleh orang terdekatnya sekalo pun.


Fatal. Sangat, di tambah menyisahkan banyak trauma dalam benak, untuk tidak terlalu dekat dengan nafsi sementara waktu.


Tidak tahu kapan bisa berkumpul pun ngobrol lewat telpon sambung bertiga seperti biasa. Jelas .. Banyak keterlukaan di tambah trauma mendalam bagi Vlo.


Dan Arinda bisa mengerti hal itu, berpikir dulu baru bertindak, Rin!


Ah, kenapa sih kalimat itu bermunculan saat sedang waktu tak tepat?! []