My AVN

My AVN
Bahagia tanpa Vlo



"Ternyata kebahagiaan ini batas nafsi genggam, tanpa keberadaan Vlo."


🤍🤍🤍


Delapan desember 2016, mulai masuk UAS kenaikan semester, ternyata membedakan dengan sekolah ada Tugas Besar sebagai penganti ujian.


Wih. Enak juga.


Yang kurang enak itu harus duduk kerja soal dalam ruangan.


Pengalaman pertama di dapatkan. Ternyata sedikit menyenangkan.


Masih belum ada pengawas yang datang, padahal sudah waktu di tentukan untuk ujian.


"Rin!" Seru Ika.


Melepaskan headset tersumpal telinga, di selimuti jilbab itu. Berikan senyum.


"Eh, kok tumben terlambat?" Gadis itu membalas dengan bengong.


"Iyo nih, bagaimana, tadi tuh, sa tahan taksi lama sekali dapat. Sa pikir sudah terlambat kah." Ika terkekeh pelan lalu lepaskan ransel.


"Belum. Pengawas ujian saja masih dalam ruangan dosen mungkin?" Arinda membalas dengan santai.


Lagi asyik ngobrol justru dosen sudah menentang dengan map berisikan soal UAS. Mentitah mahasiswa menaruh tas ke depan kecuali HP.


Ada senang tersendiri, bisa lihat benda pipih untuk browsing di mbak google. Cari jawaban.


Well. Semalam sudah belajar, hanya tahu sendiri kalau porsi otak gampang pelupa.


Sebab .. Ujian kali ini bersangkutan dengan angka juga logika. Tidak memungkinkan untuk ngerti sama materi semalam di pelajari.


Kalau ada Nazira, kemungkinan bisa sedikit-sedikit paham.


Benar. Harus bisa belajar mandiri tanpa bergelantungan sama dua sahabat yang bahkan telah di sibukkan oleh cita.


Melihat isi soal. Beberapa saja menggunakan rumus dengan penyelesainnya selebihnya pengertian dari soal tersebut.


Membuang napas sangat lega.


Melirik ke arah teman sejurusan pada gusar, hanya tersenyum geli.


Pengen sih kasih wifi gratis, hanya kembali diingatkan oleh ketoxic-an mereka. Jadi, untuk apa memberikan kebaikan itu lagi?


Oh Arinda hampir lupa, bahwa soal di berikan saat ujian kali ini sangat berbeda sekali saat sewaktu sekolah.


Mungkin sudah beberapa menit selesai. Tapi, ada yang mengusik, yakni teman kepercayaan hanya memerhatikan soal dengan eksprsi bingung.


Mengode sudah sampai nomor berapa? Justru di balas dengan ragu terbentang di pelupuk mata.


Menyodorkan langsung kertas jawaban ke Ika, tanpa pertimbangan banyak.


Hanya tertawa kecil, lucu sekali. Takut ketahuan nyontek kah?


"Ko sudah selesai kah, Rin?" Kata Ika setengah berbisik, saat tahu pengawas keluar sebentar terima panggilan telpon.


Mengangguk singkat, "kalau ko sudah berapa nomor?" Bertanya balik.


"Sedikit lagi nih. Nomor tiga panjang sekali eh." Melirik sekilas ke arah kertas jawaban tadi di sodorkan Arinda.


"Trapp. Belum seberapa ini. Cepat sudah ko salin, trus kita keluar. Asal jan kasih tahu yang lain saja." Arinda membalas sangat santai.


Sedangkan sisi lain, ada Navya melirik sangat pelik tidak di pedulikan sama gadis itu.


Apakah berharap ada niat buat juga kasih sodor contekan, setelah buat insiden dramatis sangat traumatis tertinggal dalam batin Arinda?


Hoh. Jangan terlalu menerbangkan banyak ekspektasi.


Setelah selesai berikan contekan, ada bisik-bisikan sirik terdengar dari mereka. Berbalik ke arah mereka, tampilkan tawa miring, terlalu miris hidup yang hanya modal harap dari orang telah di lukai mereka.


Seperti .. Tidak memiliki kesadaran diri juga urat malu putus.


Seminggu tiga hari telah terlewati. Masuk libur semester.


Biar libur sekali pun, Arinda tetap ngampus karena bertemu dengan kakting angkatan 2013, humble campur ramah di dapatkan dari mereka.


Bahkan tahap liburan sudah mau habis, besok harus ngambil nilai.


Pun, "Rin, itu Navya dan teman-temannya memang seperti itu kah? Songong dan belagu sekali kah! Kakak tra suka loh kalau ada ade tingkat seperti mereka!" Leno menyuarakan kekesalan.


Hanya terkekeh, ternyata bukan nafsi merasakan semena-mena sifat mereka melainkan kakting terbilang ramah.


"Macam tra tahu sifatnya mereka saja, kak. Kasih biar sudah." Balas Arinda, santai.


"Yah, coba kek kalau ketemu kakak tingkat tuh sapa atau senyum kah. Ini, trada sama sekali. Jalan dengan wajah belagu, maksud apa coba?!" Perempuan ini semakin tidak terima.


Ternyata tanpa harus menjelaskan sifat buruk mereka, sudah jauh lebih dulu teranalisis baik oleh kakting.


Sempat, "Ika, kalau boleh tahu, ko suka kah sama sifatnya Navya?" Arinda bertanya di atas motor.


Ika berpikir yang bisa di lihat jelas dari kaca spion motor.


"Sebenarnya sih..sa agak kurang suka bagaimana eh? Kenapa jadi, Rin?" Bertanya balik.


Menggeleng pelan, "trada. Hanya tanya saja. Agak kurang suka yah?" Mendapati anggukan kecil dari Ika.


Tersenyum. Kenapa bisa ingatan percakapan dengan Ika kembali berputar di atas kepala?


Oh benar juga, teman kepercayaan saat ini sedang berlibur di luar kota. Enak sekali.


Sampai di rumah, ada sesuatu yang di lupa Arinda.


"Tra tahu juga nih, Rin. Keknya sa lusa baru bisa ke kampus. Karna masih liburan sama keluarga di lombok."


Menepuk jidat. Kenapa langsung bertanya ke intinya? Ternyata Ika masih di luar kota, nikmati liburan semester bersama keluarga. Sudahlah. Berarti besok ngampus sendiri.


🌏🌏🌏


Januari 2017 ..


Arinda sudah tidak sabar jemput nilai semester pertama di kampus.


Harap campur cemas, tak sesuai yang diinginkan juga sempat absensi itu pun hanya satu mata kuliah PPN, karena ngantar teman ambil flashdisk, tertinggal di rumah.


Hah. Sial lagi mereka hari itu tidak presentasi melainkan hanya di kasih materi dari dosen.


"Kak, ngapain di kampus? Bukannya sudah selesai?" Arinda bengong, mendapati Eka, kakting di sana.


"Tidak. Kakak mau konsul sama dosen, mau ngajuin proposal. Sekalian mau lihat nilai juga." Eka menimpali.


Oh. Benar yak, syarat buat menjadi wisudawan adalah buat skripsi.


"Sama dong, kak. Sa juga mau lihat nilai nih. Tapi, tidak yakin deh dengan hasilnya." Kata Arinda, insecure.


"Kenapa?" Intonasi curiga, sering absensi kah?


Apa karena sering jalan sama teman sendiri, Andy?


"Ko kenapa, Rin? Jangan bilang kalau nanti nilaimu ada yang eror?" Eka menebak asal saja.


"Itu sudah, kak, yang sa takutkan. Apa, sa tra usah lihat sudah eh? Langsung ambil nilai saja?" Gadis itu mengusulkan.


"Lah, kan, kalau mau ambil nilai kan, harus lihat dulu, tanda tangan trus nanti ambil nilai cetak sekitar .. Dua hari." Jelas Eka.


"Oh, begitu yah kak? Sa takut eh, kalau nanti sa nilai banyak yang jelek." Lagi, berkelebat negatif.


Kakting itu menghelakan napas panjang, "sabar dulu. Wakru ko kuliah, rajin masuk dan kumpul tugas kah tidak?" Tanya Eka, penasaran.


Saat mendapati anggukan cepat.


"Nah, sudah itu, pasti nilaimu aman-aman saja."


Please. Sangat girang sisi lain, "betul kah kak? Jan sampe bilang aman, yang ada nanti jelek lagi?" Masih tidak percaya dengan diri sendiri.


"Sudah. Percaya saja apa yang sa bilang." Kakting ini memberikan semangat.


Kembali di ingatkan mengenai overthing setiap kali naik kelas, tetapi selalu dua sahabat memproduksi diksi manis, sama halnya Eka saat ini.


Meringis. Sejak kasih novel perdana, tidak ada kabar atau Vlo pulang ke AVN.


"Tapi, kak, ada beberapa yang sa tra isi pas uas." Keluh Arinda.


"Sudah. Tidak usah pikir uang aneh-aneh dulu. Lebih baik kita ke sana lihat nilaimu." Langsung beranjak dari duduk lalu berjalan santai ke ruang BAAK.


Setelah beberapa menit berlalu ..


"Tuh, lihat..nilaimu gak ada C, jadi lulus. Dan, ipk-mu 3,76. Jadi, pertahankan nilai ipk-mu. Jangan malas-malas di semester dua nanti." Kata Eka, sangat senang.


"Wah..gak ada C sama sekali, kak! B hanya ada dua, yang lainnya A!" Arinda tak kalah girang.


Pecah rekor! Kali pertama membawa prestasi di bangku perkuliahan yang sejak masuk pendaftaraan, nihil atau susah menempatkan diri di nilai terbaik saat ini.


Mendadak ada retak terasa dalam dada.


Yang benar saja, harus merayakan bersama AVN, tetapi kali ini harus kehilangan satu personil.


Bahagia itu tanpa Vlo di sisi. Seandainya sosok pendengar setia tahu anak bugis AVN sudah bisa kantongi nilai terbaik di semester pertama, akan melihat ekspresi genit, seperti biasa di beri.


"Yaudah, sa pulang dulu yah, kak. Hm, kapan kertas DNS-nya keluar yah kak?" Mendadak tidak sabaran bawa pulang bukti Arinda bisa ke mereka di rumah.


"Sepertinya lebih lama dua hari, dek."


"Kalau begitu, kirim foto ipk-ku dong, kak. Nih, sa aktifkan share-it dulu." Seru Arinda.


Jujur, sangat senang pun senyum itu masih mengembang.


Sangat tidak sabar buat kasih lihat ke Nazira. Pasti bangga tuh!


Sampai di rumah,


"Mama.." Teriak gadis itu.


Beliau muncul dari dapur, memperlihatkan wajah kesal, mendengar pekik-an ananda.


"Ma, coba deh, lihat nilai ipk-ku, trada yang kebakaran toh?!" Serunya.


Hanya mengacuhkan cukup buat dia manyun di tempat. Apakah tak ada cuil senang di wajah ibunda?


Sudahlah. Memang tidak bisa menutupi kemungkinan kali pertama mau masuk kuliah saja, terbentang ketakrestuan kok. Wajarlah kurang mendapati apresiasi.


Menghibur diri dengan foto bukti itu lalu kirim ke sahabatnya.


Nai, lihat tuh..nilai ipk-ku 3,76. Uh, senang apa bilang.


Beberapa menit kemudian ..


Oh yah, bagus dong. Tapi, jangan senang dulu, itu dosen kasih nilai begitu agar kita semakin semangat kuliah dan belajar.


Membuang napas kasar. Sama saja ternyata. Tidak sebegitu istimewa saat sambut ipk terbilang bagus.


Padahal, kan, dua sahabat yang mendorong keinginan itu agar bisa menjadi mahasiswi. Tapi, setelah bawa pulang nilai terbaik, kok tidak terlalu mengapresiasi sih? []