
"Setitik asa saat menitip karya perdana, moga-moga bisa pulang ke AVN tanpa harus berkelebat rindu perulangan."
🤍🤍🤍
Hah. Membuang napas sangat sesak. Menghimpit dada, tahu sistem informasi tak bisa di samakan seperti alumni multimedia.
Belum setahun berteman, sudah melihat kebohongan di tawari mereka. Sangat munafik juga campur toxic.
Apalagi Navya ternyata bermuka dua, play victim duluan berasa tersakiti. Sedangkan gadis itu menjadi korban dramatis dalam kelas.
Kembali bermain sepi, juga mengingat kesalahan itu bukan nafsi buat melainkan ngendus kecurigaan sengaja buat ikatan itu semakin aksa dengan mereka.
Bahkan lucu sekali, kok teman sekelas beri sorot intimidasi juga?
Sangat egoisme diri campur labil. Berasa kesengajaan membuang sosok korban tersebut tapi dengan cara licik.
Dengan sangat hati-hati mendekati mereka, "Clar, sih Navya kok jauhi sa? Emang ada masalah apa kah?" Arinda hanya ingin tahu lewat sudut pandangan orang lain.
"Ko tra tahu, Rin? Itu, semalam dia marah sama ko. Karna lebih pilih makan mie ayam sama Kak Andy."
Deg. Hanya begitu? Memicu amarah Navya?
Di tambah melihat wajah sinis Clara, cukup mendengus jengkel. Kalau tidak mau berteman, tidak perlu menghumbar ketaksukaan, beres, bukan?
Masih ingat dengan jelas. Kalau Navya sendiri meninggalkan nafsi, melampiaskan juga karena emosi dengan salah satu teman cowok di tempat futsal.
Kalau saja posisi Arinda ditinggalkan tanpa penjelasan, tidak ada Kak Andy mungkin bingung mau balik ke sentani pakai apa?
Benar-benar kekanakan.
Pernah .. "Dek, Navya ada dendam kah sama kakak? Kok dia jauhi ade sih?" Kakting itu berpendapat dengan eskpresi bengong diatas motor.
"Kurang tahu eh, kak? Orangnya tra jelas jadi." Arinda membalas dengan ketus.
Kak Andy memberikan pendapat kalau marah sama orang lain kenapa gadis itu juga kena lampiasannya? Sangat tersentuh, masih ada orang yang mengerti diri.
Hah. Arinda pun membuang napas jengah, tidak mau lagi mengingat insiden tersebut.
Hanya tersenyum miris.
Kembali buka postingan setahun lalu kepunyaan Vlo. Lagi, tersemat adakah cinta setelah prahara fatal menghujam dada?
"Ko lagi ada masalah kah, Rin?" Kata Efraim, membuyarkan lamunan.
Menggeleng cepat, "trada. Hanya pikir tugas, kenapa banyak begini eh? Trus sudah begitu susah lagi tugasnya." Mengkilah dengan wajar getir.
Tidak memungkinkan buat menceritakan tentang rindu berkelebat tentang AVN masih hancur ke orang baru, walau pun Efraim bisa menjaga kepercayaan, masih trauma.
"Haha, tenang kah. Santai saja, nanti kalau bingung, tanya ke teman lainnya saja."
Huh. Ngomong saja gampang, apakah bisa menerowong ke dalam, banyak yang patah? Akibat sifat labil campur dramatis Navya?! Tidak sama sekali!
Ada the eror juga dalam kelas. Usai mata kuliah, tidak menginginkan buat mengonsumsi makanan, kalau tahu ada the gank dramatis. Bikin nafsu makan hilang.
Ah. Mendadak lihat the eror pergi, tidak tahu ke mana. Yang jelas buat nafsi sepi.
🌏🌏🌏
Sangat tidak bisa berjangka lama menyembunyikan rindu tersebut.
Gerimis. Tidak buat keinginan untuk menyodorkan asa lewat sesuatu sudah lama ingin di berikan tertunda.
Ada Kak Andy juga sedang ngobrol bersama teman seangkatan juga adikting.
"Kak, bisa temani sa ke kampusnya temanku, di uncen?" Kata Arinda, bertanya.
"Boleh. Kapan mau ke sana, dek?" Dengan cepat mengindahkan permintaan itu dong.
Membuang napas sangat lega.
Bawaan kalau gerimis begini, malas mengendarai motor sendiri. Di tambah nervous kalau langsung ketemu Vlo kasih benda itu.
"Sekarang. Boleh?" Harap campur cemas, karena takut nanti hujan deras.
Eh, dapat anggukan cepat dong.
"Kalau begitu, tunggu sa buat kata-kata dulh. Habis itu, temani sa ke tempat pembungkus kado yah, kak. Tahu tempatnya kah?"
"Kakak tahu dek." Kak Andy berseru.
Arinda tersenyum lalu mencorat-coret diatas kertas, setitik asa saat menitip karya perdana, moga-moga lewat buku kenangan putih abu-abu bisa lihat Vlo pulang ke AVN tanpa harus berkelebat rindu perulangan.
13 Desember 2016,
Just spesial for My V**lo**
...Arinda ...
... ...
Tetiba berdesir sangat hebat.
Mengingat isi surat itu sedikit lebay, pasti Vlo tertawa campur haru.
"Kak, kita jalan ke tempat pembungkus kadonya sudah." Arinda ngajak penuh semangat.
"Ayo."
Dalam perjalanan, gerimis itu berubah lebat. Tidak buat kedua orang itu kembali ke kampus.
Tidak basah kusup juga sih, "kak, hujan nih? Tempatnya masih jauh?" Tapi buat Arinda khawatir.
"Tenang, dek. Sedikit lagi sampai."
Ah, sangat dekat ternyata.
"Kak, bagaimana nih? Hujannya semakin deras." Arinda memasang wajah cemas.
Memang mereka sudah berada depan toko itu lalu hujan semakin deras.
"Tenang dek. Kita masuk dulu yuk?" Andy ngajak ke dalam, dengan tenang.
"Ade bungkus kadonya sudah." Kata Andy lagi setelah itu pergi sebentar lihat-lihat barang tanpa membeli.
Kertas ungu, warna favorit Vlo. Melihat kertas pembungkus kado itu saja cukup buatnya meringis.
"Dek, hujannya awet nih." Ucap Andy.
Arinda semakin cemas, takut tidak bisa bawa kado itu ke sahabatnya.
Kadar kepekaan sangat tinggi,
"Tenang, dek, pasti nanti hujannua sedikit lagu berhenti." Andy mencoba menghibur dan benar saja dia terasa tenang.
Mengeluarkan HP dalam tas,
Vey, ko di kampus?
Memegang kuat, ada harap di pelupuk mata Arinda, siapa tahu dapat balasan?
"Dek, hujannya mulai reda. Kita langsung ke uncen saja." Kata Andy, buyarkan lamunan.
Ngangguk lalu naik ke atas motor, tidak butuh waktu lama mereka pun sampai.
Mencari-cari orang ingin di tujui ..
"Arinda?" Kata Lia, teman Vlo.
Pernah ketemu dan ngobrol singkat, kala itu temani sahabatnya kerja tugas di kampus.
"Hei..Vlo di mana?" Tanya Arinda, sedikit berteriak, masih berada di atas motor.
Lia memerhatikan kendaraan itu berjalan pelan.
"Kak, ke sana. Itu temannya Vlo." Menunjuk arah Lia berdiri.
Setelah sampai, turun dari motor.
"Vlo kok tra kelihatan?" Kata Arinda, sedikit kecewa.
Sangat menyimpan harap ada sosok sahabat keluar kelas, nihil.
"Iya, mungkin lagi sibuk. Ada apa, bisa di bantu?"
Oh, dengan cepat sodorkan kado itu.
"Oh iya, ini ada kado buat Vlo. Nanti kalau ketemu tolong kasih yah? Kalau dia tanya, bilang saja ada deh." Dengan nada jail.
Jujur, walau pun intonasi iseng sisi lain sangat meringis tidak sesuai ekspektasi tidak temu bola mata telah lama di rindui, hilang dari dekapan AVN.
"Beres." Jawab Lia.
Ngangguk serta beri senyum, "kalau begitu kita balik ke kampus dulu eh? Bye.." Melambaikan tangan.
Saat hampir keluar dari gerbang uncen, "emang Vlo ke mana, dek?" Please .. Jangan mencari nama itu.
"Entahlah, kak." Balas Arinda penuh ngilu.
Yang jelas lewat kenangan putih abu-abu terbilang absurt, bisa mengembalikan sosok pendengar setia tanpa harus bermain lewat sunyi lagi.
Semoga. Bisik Arinda dalam hati. []