
"Apakah masih tersemat cinta, saat nafsi tak sengaja memanggil namanya, yang telah lama hilang?"
🤍🤍🤍
SEPERTI BIASA, duduk termenung dengan suasana canggung campur intimidasi dalam kelas.
Memotret egoisme mereka sangat tinggi, mengingatkan ulang tentang pertengkaran kecil di AVN, selalu mencari solusi agar kembali duduk bercengrama ramah.
Nazira sudah balik ke padang hari ini dan gadis itu tidak tahu jam keberangkatannya, apakah takut merepotkan?
Cih. Berdecak pinggang, sangat gusar, coba kasih tahu semalam, Arinda bakal peluk perpisahan sembari foto.
"Kalian bisa tidak jangan ganggu kelas sebelah lagi belajar?!" Mendadak terkejut, ada dosen killer menegur ruangan mereka.
Ah. Ibu bikin jantungan aja, ketus Arinda dalam batin.
Lagian, bising sistem informasi jauh lebih parah di banding dengan teman smk, multimedia.
Bosan begini biasanya sih Vlo datang ngajak ke mana kah, hanya delusi saja mencari sosok itu.
Dulu .. Beransumsi bahwa family multimedia menghindar karena .. "Sa di cuek-kin trus, apa karna sa ini bodoh? Tra bisa matematika dan buat animasi di lab?" Pertanyaan ini sempat di lontarkan Arinda ke sahabat.
"Ko tra bodoh, Rin. Hanya saja, malas belajar. Makanya ko seperti ini." Nazira menolak asumsi itu.
Dan, sekarang? Benar-benar kehilangan sosok penuh ramah berbalut kekeluargaan mereka.
Yang saat ini tergantikan sifat labil penuh toxic di kampus. Hah.
"Hanya ko perasaan saja, Rin. Siapa tahu, mereka ingin ko sapa, tapi, ko wajah sangar begitu sama mereka."
Oh benar sekali. Dulu semasa sekolah sangat tertutup, bahkan jarang tersenyum setiap kali mereka sapa hangat.
"Rin?!" Clara mengejutkannya, cukup buat dia membuang napas kasar.
Mengeluarkan HP lalu sumpal telinga pakai headset, malas dengar kata-kata pedis mereka yang jelas-jelas salah paham atau lebih ke arah menjatuhkan nafsi.
Hah. Kenapa sih setiap kali jam mata kuliah terakhir dosen tidak pernah masuk? Bukannya nitip absen di ketua kelas, sama sekali tidak ada informasi, kan, Arinda bisa kena hujan kalau mau balik cepat.
Membuang napas panjang, sangat emosi.
"Nanti kita ke tempat karoke eh? Ko yang bayar toh?" Kata Yanti.
"Okok, nanti kalau trada dosen, kita langsung ke sana saja." Ika menimpali dengan santai.
Tahulah, siapa yang menjadi sasaran buat bayar? Hanya terdiam saja, bukannya nolak kenapa harus ngemis kehadirannya mereka ulang, hah?!
Menit-menit waktu terus berjalan, Arinda duduk terdiam saja dengan laptop, bingung mau nulis apa selain corat-coret doang.
Biasa ingin berkarya tapi imajinasi kluyuran yang sulit buat nafsi berproduksi.
Lagian, novel perdana saja masih absurt bahkan booming sekali pun di kalangan alumni family multimedia, tidak menggambarkan datangkan kebahagiaan, bisa kumpul lagi.
Hingga .. Tidak sadar sudah habis waktu mereka, dalam perjalanan pulang, apakah teman-temannya akan ganti uang itu?
Beberapa minggu berlalu ..
Lupa. Yang micu amarah dalam hati Arinda.
Perlahan untuk ingatkan mereka tapi prantara cerita lewat Ika, kapan digantikan.
Eh, kaget dia jauhi lagi tanpa aba-aba.
Arg. Mencak sangat brutal, langsung ngambil HP tidak mau tahu sesibuk apa sahabatnya di sana, yang jelas butuh tumpah-ruahkan emosi sudah meletup-letup.
"Kenapa eh, kalau mereka diingatkan kesalahannya, pasti marah. Trus sudah begitu, jaga jarak segala, hetdah.." Kesal Arinda.
Hah. Bernapas lega, butuh perjuangan panjang agar telponnya bisa di respon Nazira.
"Haha, macam tra tahu dunia perkuliahan saja, Rin. Trada namanya ketulusan." Justru di timpali santai dan tawa dong?!
Kesal sekali. Bukan itu yang ingin di dapatkan melainkan jawaban menyenangkan atau menenangkan beban pikir Arinda.
🌏🌏🌏
Tidak tahu kenapa setiap kali ngampus atau sendirian menjeruji Arinda, tanpa sengaja memanggil nama orang telah lama hilang dari dekapan mata.
Serius.
Nai, kenapa eh, sa sebut Vlo nama? Mungkin dia kangen kapa sama sa?
Belum di balas sampai sekarang, SMS itu sudah sejak dua hari lalu di kirim Arinda, pas sahabatnya berada di atas pesawat.
Karena belum pernah naik pesawat, bingung apakah di perbolehkan aktifkan HP?
Mengangkat kedua bahu tanpa sadar, syukur tidak menjadi pusat perhatian orang rumah. Eh, ralat, kan lagi dalam kamar, tidak mungkin mereka tahu tingkat randomnya.
Hujan. Hanya ada senyum mengembang tipis di wajah Arinda, karena mengingatkan dengan dua sahabat.
Bagaimana lucunya mereka saat masih grimis, nekat bonceng bertiga dan lewat jalan potong langsung ke sekolah mereka, di mana terdapat bebatuan yang nyaris terjatuh, licin juga banyak becek.
Membayangkan kejadian lucu itu saja, buat Arinda tertawa hambar.
Melihat status whatsapp Nazira lancar, tapi SMS beberapa hari lalu belum di balas.
Why? Apa marah?
Penyebabnya apa lagi, coba? Gadis itu sudah jarang komunikasi lagi kok dengan sih Julioh, karena disibukkan oleh skripsi.
Bahkan Arinda sempat nelpon, sama sekali tidak diangkat.
Ko knp? Mrh kh sama sa?
Harap-harap cemas, di balas atau tidak. Bikin galau juga yak, padahal sama sahabat sendiri loh, bukan doi, ehe.
"Arinda! Mau ikut ke jayapura kah tidak?!" Teriak ibunda dari balik pintu kamar.
Terkejut dong, akibat terlalu lama melamun.
"MAU!!" Girang gadis itu.
"Kalau mau ikut, mandi sana.." Beliau langsung menyuruh siap-siap.
Selepas itu duduk dalam mobil, tetiba saja .. "Karena ko cantik, banyak cogan suka." Kalimat dari Nazira cukup buat dia mengatup bibir kuat-kuat, sangat geram sekali.
Dalam mobil, sebelum ke tempat tujuan, bakal singgah ke toko buku. Cukup melukai imaji-imaji Arinda.
Memang ada sorak riang dalam batin, ketika mendengar tempat terfavorit. Sayang, karya saja masih absurt.
Malam itu .. Sudah mau pulang, adik sepupu sangat tidak sabar untuk melihat-lihat apa yang ingin di belinya.
Sedangkan nafsi? Bergetir menangkap karya novel berjejer di sana, coba sa novel juga ada di sini eh? Pasti sa semangat kasih lihat mereka, bisik Arinda dalam batin.
Oh yah, tadi sebelum masuk ke dalam mobil, sudah mengantongi satu novel yang ada dalam ransel, sembunyi.
Karena kalau ketahuan, bakal di omelin setiap hari yang otomatis uang jajan bakal di batasi.
Heh. Tempat favorit ini lagi-lagi mengingatkan dengan kedua sahabat, kalau bukan ransel mereka jadi sasaran, pasti nitip dulu dalam jok motor dan di sekolah ambil.
Sekarang harus apa-apa mandiri, tanpa harus bergantung lagi yang tidak tahu kapan kembali.
Jujur, Arinda sangat rindu setiap moment bersama Vlo.
Bukan hanya itu, setiap kali berjumpa prahara bakal ditemani dengan kalimat membangun dari sahabat.
Nazira juga mendadak hilang tanpa sebab.
"Cemburu kah?" Kata Arinda tiba-tiba.
Syukur tidak ada yang dengar, termasuk mama.
Melihat tante sama mamanya masih mencari-cari buku cetak pelajaran, menghampiri dengan jalan ringan.
"Sa ke mobil duluan sudah, ma?" Kata Arinda yang diberikan anggukan dari ibunda.
"Tunggu dulu, sedikit lagi mbaknya datang." Beliau menolak.
Biar sekalian ke mobil.
Ah. Arinda hanya memanyunkan bibir, nunggu petugasnya bawakan buku yang di minta.
Setelah mereka bayar di kasir, bisa bernapas lega duduk dalam mobil, menuju tempat makan sebelum balik ke rumah. []