My AVN

My AVN
Janji itu Hancur



"Bisa kah detak waktu kembali hanya sekedar mengeja kisah lugu semasa sekolah?"


🤍🤍🤍


Maaf.


Apakah pantas di berikan saat semua telah pergi bersama amarah terus berkobar dalam dada?


Tidak.


Sudah terbiasa dengan prahara terus saja menghantam AVN, bahkan ngampus bareng itu pun terakhir kali bisa tertawa lepas bersama dua sahabat.


Selebihnya .. Masing-masing dengan cita tapi tidak dengan Arinda yang selalu bingung kapan bisa menjemput kegagalan tersebut?


Tahu, sejak Nazira pamit benda pipih itu sangat sunyi. Buat semangat kuliah ikut menurun, karena energi Arinda perlahan pergi, meredup tanpa aba-aba.


Janji itu hancur, saat semua kabur


Tidak tahu memiliki tujuan itu


Bahwa AVN tak ramah seperti dulu


Hanya batas pangku delusi.


Kenapa juga sih sahabat berdarah padang itu tidak menjelaskan kalau ingin malming perpisahan? Yang kurang tahu kapan lagi bersua, setelah kembali ke padang jalani cita.


Kayak sudah terbiasa dengan masalah tanpa berbicara nyari solusi bersama. Selalu jeruji kesalah pahaman lewat diam.


Ah. Tahu kalau Arinda sangat keras kepala, malas menanggapi SMS yang bahkan tidak menjelaskan bagaimana kondisi hati setelah mendapati amukan parah dari orangtua.


Cocok sudah, Vlo sibuk sendiri, Nazira cemburuan, ego pribadi, terakhir Arinda yang keras kepala. Menjadikan AVN sempurna, tidak ada yang ngalah.


Ok. Fine, waktu itu sudah lewat hanya saja masih terbayang-bayang, sebab adanya tatapan dingin mencengkam cukup buat hati panas.


Bagaimana tidak tersulut emosi? Sejak kecil mendapati tatapan intimidasi, pukulan bertubi-tubi hingga produksi memar di badan, biru lebam sudah begitu sempat di kurung pula oleh sosok yang selalu dianggap pahlawan di rumah sama Nazira.


Tidak dengan gadis itu, kosong jiwanya, tanpa perhatian dari yang bahkan takkan menganggap dia bapak sendiri.


Makanya, saat mendapati tatapan dingin dari beliau, spontan traumatis berkeliaran dalam kepala.


"Rin.." Panggil ketua kelas.


"Yah?" Jawabnya dengan ekspresi bingung.


Justru temannya ikut mengernyit, "kenapa melamun?"


"Eh? Trada yah, su biasa kok sa begini kalau tunggu dosen." Arinda berusaha mengelak.


Tahu hanya satu temannya itu sangat perhatian bahkan peka dengan kondisi hati gadis tersebut.


"Masa sih? Tra biasanya mo."


Ah, benar sekali.


"Hm. Sa hanya kangen dua sahabatku, mereka su pada sibuk dengan cita masing-masing."


Please deh, jan bertanya hal-hal di luar kalimat gadis itu.


Sebab, malas mendiskusikan mengenai persahabatannya yang sedang hancur itu di orang asing, sekedar penasaran saja.


Hanya mengangguk lalu berlalu ke tempat duduknya, di belakang.


Yang biasa kalau AVN di hantam oleh prahara, pasti ada Vlo memberikan tempat dalam melarikan nestapa juga sepi.


Sekarang benar-benar puisi menjadi teman setia, kala nafsi merasa sesak campur gusar sendirian tanpa adanya mereka lagi.


Memang benar kok kalau AVN dingin. Apa lagi yang harus di harapkan dari bingkai penuh ramah tersebut?


Di mana janji itu sudah hancur, tidak dapat mengembalikan seperti biasa duduk bersemuka canda.


Hanya berada di keasingan diri masing-masing, apalagi kembalinya Vlo tidak membuat suasana itu seperti dulu.


Sejujurnya, Arinda sangat bosan dalam membicarakan sesuatu yang sudah membeku di ikatan persahabatannya.


Masih terekem sangat jelas di benak, saat itu diskusi mengenai masa-masa nanti di bangku perkuliahan yang jangan sampai hilang kabar.


Now? Hanya bisa bersua lewat diksi penuh imajinasi.


Yang sangat sweet dari obrolan mereka adalah ..


"Haha..kalau nanti sa jadi penulis terkenal trus kam datang minta tanda tangan, sa bilang maaf, siapa yah? Trus sa juga tanya kok bisa tahu sa acara workshop, gitu haha." Tawa Arinda sangat lepas.


"Arinda nangka nih! Awas saja tuh, nanti sa toki kepalamu." Kesal Nazira.


Mengingat itu saja, cukup menghibur ruas sedang kosong. Kapan bisa bercanda bebas tanpa gensi?


Bahkan sa novel buat Harris J tra sampai, getir Arinda, berbisik dalam batin.


Mengingat perjuangannya kejar sosok motivasi lewat aksara, memang terbilang murah, terpandang sebelah mata di tambah sekitar denyut nadi mengejek skill payah.


Sesuatu yang selalu di sapa lewat tulisan, berbisik sangat haru, batas imajinasi, kan? Yeah. Arinda gemar menyendiri sembari cipta obrol simfoni dengan dua sahabat berbentuk fiksi.


Kalimat-kalimat yang sudah lama tertahan, tersampaikan batas tulisan saja.


Coba .. Pemikiran bijak kepunyaan Nazira bisa menyatukan mereka, tanpa harus melibatkan cemburu pun egoisme diri, AVN akan tetap terawat baik.


Apalagi kan, setiap pulang kampus sudah jarang buat nongki lagi dengan mereka yang toxic.


Andai .. Bisa menjadi novelis pun di buatkan sebuah acara workshop kepenulisan, kemungkinan sangat senang sekali.


Bisa mewujudkan salah satu mimpi telah lama menjadi potensi tersembunyi saja dalam laptop.


Hoh. Jangankan berandai menjadi novelis terkenal, draf naskah novel saja sering kali tertolak sangat menohok oleh penerbit mayor.


Ternyata tidak semudah di bayangkan sewaktu duduk di bangku putih abu-abu. Oh iya, sebagai penghibur diri, sempat karya perdana booming di kalangan warga SMK YPKP, kok.


Selebihnya? Ibunda mengolok-ngolok karya perdana tersebut, bukan mendukungnya.


Nazira berpikir lewat potensi tersembunyi itu bisa mendatangkan sukses kah? Atau sekedar menghibur nafsi saat tahu dirinya telah menduduki kejuaraan O2SN waktu di sekolah?


Amazing! Bisa dapat juara debat bahasa inggris, bukanlah hal mudah, tercetak sangat jelas di pelupuk mata juga usaha saat berjuang belajar menguasai materi lomba tersebut bersamaan dengan Vlo.


Lah, Arinda? Apa yang harus di banggakan coba, kalau gagal melulu bahkan lewat hobi sendiri?


Karya perdana yang absurt pun masih ditertawai oleh keluarga jauh.


Apa pantas kah memperjuangkan sebuah potensi tersembunyi tersebut ke dua kali?


Melirik-lirik sederet KRSM saja sangat pongah campur jilatan merah perulangan, masih memiliki ruang dalam melangitkan imaji lagi?


Pasti bakal di semprot oleh amarah dari ibunda, tahu hanya memfokuskan diri pada hobi bukan kuliah.


Eh, sebentar, kok malah terlalu memikirkan ketakutan dari potret surga tahu bahwa cita berantakan yak?


Kan, sejak kali pertama masuk tes kuliah saja ngendap-ngendap dari beliau, setelah lihat hasil kelulusannya di sana, masih saja merentangkan ketakrestuan ananda nimba ilmu.


Terbukti kalau mereka cuek.


So, biar seberantakan cita itu, bukan menjadi urusan dalam rumah, sebatas nafsi saja memeluk kegagalan tersebut.


"Sakit yah? Bertahan sendirian dengan nilai hangusmu, Rin?" Eh, mendadak ada obrolan.


Mendongak sangat heran, "yah..begitulah. Sa kurang yakin nih bisa wisuda atau--" Belum selesai, "jangan pernah katakan hal yang buat ko down duluan, Rin. Sa yakin, ko bisa cicil erormu. Semangat!" Sudah terpotong saja ucapannya.


Tersenyum miring.


"Sa berharap bisa jadikan pelajaran dari teman-teman toxic-mu di kampus. Kan, sa pernah bilang toh, trada namanya sahabat di bangku kuliah."


Ah, benar juga sih.


"Rin!!" Pekik ibunda di luar pintu kamar.


Eh? Celingak-celinguk tak mendapati sosok pendengar setia. Oh, sebatas aksara saja kah? []