MR. VARO ABRAHAM

MR. VARO ABRAHAM
SYARAT DAN RUKUN NIKAH



Sementara Varo sendiri menghubungi Tiger yang bertugas menyiapkan acara untuk lamarannya pada Vienna, yang rencananya akan di adakan Rumah Sakit, tempat Ayah Vienna di rawat.


Ruangan yang di siapkan oleh Varo, di lantai 3, khusus untuk keluarga Besar Abraham. Semua keperluan yang di tugaskan oleh Varo 90 persen telah selesai, hanya menunggu kedatangan kedua orang yang akan bertunangan saja, sedangkan ayah dan ibu Vienna akan berpindah ke ruangan yang di tentukan, setelah dekorasi dan perlengkapan acara lamaran selesai.


Varo mengetuk ibu jarinya di atas meja kerja nya, tanpa dia sadari, senyuman selalu menghiasi di bibirnya, Gadis kecil yang selalu memanggilnya kakak itu, sebentar lagi akan menjadi istrinya, bahkan pikiran Varo saat ini sudah semakin liar,menginginkan yang lebih, karena disaat berada di dekat Vienna, Varo menyadari sepenuhnya, dirinya akan merasakan hawa panas yang tak di mengerti oleh nya.


Tiba-tiba saja dia memiliki rencana yang tidak di ketahui oleh siapapun. Perlahan Varo menghembuskan nafasnya, mencoba mencerna sendiri tindakan apa yang akan Vienna lakukan, bila rencananya terlaksana, namun senyuman bahagia, dan rasa puas, bila melihat Vienna marah, membuat tekad Varo untuk meneruskan rencananya.


Setelah mendapatkan ide, Varo menghubungi seorang sahabatnya, yang memang bekerja dalam bidangnya, setelah menelpon selama kurang lebih 30 menit, Varo menghubungi Bu Anggi, dan menyuruh nya datang keruangan nya.


"Halo Bu Anggi, kemarilah, dan bawalah biodata Vienna, saya tunggu di ruanganku,lima menit, jangan terlambat." Varo menutup teleponnya, kemudian tersenyum sendiri.


Sementara di ruangan Bu Anggi.


Bu Anggi yang mendapat titah sang Big Bos nya, langsung berdiri dan bergegas mencari biodata milik Vienna. Setelah menemukan apa yang di carinya, Bu Anggi berlari masuk keruangan Big Bos, dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.


Tok


Tok


Tok


Setelah mendengar suara mengatakan untuk masuk, perlahan Bu Anggi mendekat ke meja Big Bos nya, seraya menaruh biodata Vienna di atas meja.


"Selamat siang menuju sore pak,ini biodata Vienna yang bapak minta, ada yang bisa saya bantu lagi pak? Bu Anggi terlihat sedikit penasaran dengan Big Bos nya saat ini, ada apa sampai Big Bos nya meminta biodata anak yang baru saja bekerja selama dua bulan tersebut.


"Tidak ada, kamu boleh kembali keruangan kamu." Varo mengibaskan tangannya, menandakan menyuruh Bu Anggi untuk keluar dari ruangan nya.


Bu Anggi yang melihat Big Bos nya menyuruh pergi pun tanpa menunggu lama, pamit dan meninggalkan ruangan Big Bos nya.


"Permisi pak." Bu Anggi meraih handle pintu ruangan Big Bos nya, namun belum sempat membuka pintu, Varo bertanya kepada Bu Anggi, sahabatnya, sekaligus ketua HRD di kantornya.


"Anggi... tunggu, boleh aku bertanya padamu?" Varo sedikit canggung untuk bertanya tentang pernikahan.


Bu Anggi yang terkejut dengan panggilan hanya nama, pasti ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya itu. " Ada apa? Ada yang ingin kau tanyakan?"


" Kalau menikah, yang perlu di persiapkan apa saja?" Varo sedikit malu bertanya.


Bu Anggi akhirnya berbalik dan duduk di sofa di ruangan Big Bos nya itu, dan sedikit menghela nafas.


" Kalau pernikahan ada syarat dan rukun pernikahan,


S****yarat sah nikah:


Ada calon mempelai pria dan perempuan


Adanya wali bagi perempuan


Adanya 2 orang saksi (orang sudah baliq, berakal dan diutakan tidak fasik)


Adanya mahar


Rukun sah nikah:


Mampelai pria dan wanita beragama Islam


Laki-laki bukan mahram bagi calon istri


Wali akad nikah dari perempuan


Dalam hal ini ayah si perempuan. Jika ayahnya sudah meninggal bisa diwakilkan ke kerabat terdekat perempuan dari pihak laki-laki seperti kakek, paman, atau saudara laki-lakinya. Jika tak punya ayah maka bisa diwakilkan oleh wali hakim.


Tidak sedang ihram


Nabi Muhammad bersabda, "seorang yang sedang berihram tidak boleh menikahkan, tidak boleh dinikahkan, dan tidak boleh mengkhitbah." (HR Muslim Nomor 3432)


Pernikahan tidak atas paksaan


Kira kira seperti itu Bos." Bu Anggi menjelaskan secara rinci.


" Tapi aku masih ragu dengan poin ke lima dari Rukun sah nikah, kalau poin ke empat dari syarat sahnya nikah saya bisa berikan apapun, berapapun saat ini juga." Varo masih saja mengetuk meja dengan jari telunjuk miliknya.


"Kapan nikah Bos?" Bu Anggi penasaran dengan Big Bos nya yang seperti tidak bersemangat hari ini.


"Nanti malam, rencananya aku akan melamarnya, dan juga menikahi nya sekaligus." ucap Varo menjawab pertanyaan dari Bu Anggi sahabatnya itu.


Bu Anggi terkejut dengan jawaban Big Bos nya yang tiba-tiba akan menikah itu. Namun sepertinya Bu Anggi sendiri masih ingat dengan keinginan Varo akan menikah dengan siapa?


"Apa kamu sudah menemukan gadis kecil yang selalu kamu rindukan?" Bu Anggi tersenyum menatap sahabatnya itu.


" Kamu masih ingat betul rupanya, pastinya aku sudah menemukan nya, sebenarnya aku tahu tempat tinggal dan keberadaan mereka, namun keluarga ku menyuruh ku untuk bersabar, mereka akan mengirim gadis kecilku kehadapan ku, dan ternyata mereka tidak berbohong padaku." Varo tersenyum.


" Apa gadis kecil itu adalah Vienna? Selidik Bu Anggi.


" Bagaimana kamu bisa tahu?" Varo terkejut.


" Semua karyawan sudah menaruh curiga padamu Bos, secara ni ya...1. sebelumnya anda tidak pernah memiliki sekertaris cewek, 2. Sekertaris Tiger dan asisten Leo sudah cukup untukmu, yang ke 3. Kamu sering curi pandang pada Vienna, 4. Anda sering tersenyum, mungkin anda sendiri tidak bisa merasakan, tapi orang yang terdekat dengan anda sangat merasakan."


"Benarkah?" Mungkin aku sudah gila ya, sehingga terjadi perubahan dalam diriku sendiri, aku tak tahu." Varo tersenyum.


" Oke, aku balik keruangan ku dulu, aku tidak di undang ni nanti malam?" Bu Anggi menaki turun kan alisnya.


" Nanti aja saat resepsi, aku mau melamar dia di depan kedua orangtuanya, dan tempatnya di rumah sakit, karena besok Uncle Sam akan di operasi, doakan saja kami cepat dihalalkan." Varo menakupkan kedua tangannya.


" Itu pasti,dan tentunya aku juga bahagia, sahabatku sudah tidak jomblo lagi." mereka berdua pun tertawa bersama.


Bu Anggi berjalan keluar ruangan Big Bos nya, sesaat dia mengeluarkan nafas lega, teringat akan kejailan Varo saat SMP dulu, yang selalu membuat gadis-gadis mengejar cintanya.


Setelah sampai di ruangannya, Bu Anggi menatap foto kebersamaan nya dengan Al, yang selalu menjadi orang terdepan dalam menyikapi setiap permasalahan yang dihadapi nya.


Bahkan, pernikahannya dengan suaminya saat ini, juga adalah andil dari sahabat setianya, Alvaro... ya dialah Alvaro, hanya dirinya yang selalu memanggilnya Al, karena persahabatan mereka sejak kecil itulah, Anggi tahu kisah cinta Al kepada Vienna yang dulu sering disebut oleh Al Vivi.