
"Aku tahu, suatu hari Bu Anggi mengatakan padaku, bahwa kunci dirimu adalah kehadiranku." Vienna tersenyum manis namun penuh misteri.
"Hei... sejak kapan kalian suka bergosip tentang Aku ha..., lihat saja akan aku pecat si Anggi itu, biar tahu rasa." ucap Varo sambil menggenggam tangan nya.
"Sayang... aku hanya bercanda, aku tahu kunci itu adalah aku, karena aku melihat kalung yang aku pakai berliontin kunci, dan aku pernah melihat sekilas, ada gadis kecil yang sedang duduk bersamamu sedang memakai kalung yang sama dengan milikku, sudahlah...lagipula, kapan aku sedekat itu pada Bu Anggi? bahkan setiap waktu aku selalu berada di dalam ruangan, bahkan kamu melarang ku keluar sama sekali, kecuali makan siang bersama kak Nelly." terang Vienna pada sang suami.
" Bener juga... Kamu tahu sayang, sungguh aku takut kalau kamu jatuh cinta pada karyawan yang bekerja di perusahaan kita, semua aku lakukan demi kamu." ungkap Varo membuka rahasia kenapa selama Vienna bekerja di larang berinteraksi dengan karyawan yang lainnya.
"Masak sih... tapi aku hanya merasa kalau kamu ingin aku sedikit profesional dalam bekerja saja sayang, karena secara pengalamanku bekerja memang belum banyak." ucap Vienna.
"Berarti kamu gak peka dong dengan perhatian kecil yang selalu aku berikan untukmu?" tanya Varo pada istrinya.
Vienna menggeleng, karena memang Vienna tak pernah melirik kiri dan kanan, apabila sedang serius bekerja.
"Serius sayang kamu gak pernah liat aku curi pandang padamu?" tanya Varo dengan sedikit penasaran.
"Nggaklah, aku kan takut sama pak Leo dan Tiger, beliau berdua kan tangan kanan kamu sayang, otomatis aku gak berani menengok kanan kiri." Vienna bergidik ngeri bila ingat Tiger marah.
" Bener juga ya, Tiger yang suka membentak, dan leo yang suka memotong gaji karyawan, pantas saja kamu selalu serius dalam bekerja sayang." Varo memeluk Vienna.
Varo berjalan mengambil berkas berkas perusahaan, dan meminta persetujuan dari Vienna bagaimana mengelola perusahaan mereka berdua kedepannya.
"Vienna... akan aku perlihatkan berkas berkas perusahaan, setelah itu, tolong putuskan apa yang akan kamu lakukan, semuanya sudah tertulis disini." Varo memberikan berkas berkas yang sudah rapi.
"Apa ini? dan mengapa kamu berikan padaku?" tanya Vienna dengan terkejut.
"Semua ini adalah berkas berkas kepemilikan perusahaan, dan kamu adalah salah satu pemilik saham terbesar di seluruh perusahaan ABRAHAM yang ada, baik di Indonesia maupun yang di luar negeri."
"Sebenarnya banyak hal yang Uncle Sam rahasiakan kepada mu, namun aku bingung, harus memulai dari mana?" ucap Varo dengan wajah sendu.
"Pelan-pelan saja, Vienna akan siap mendengarkan apapun yang akan sayang katakan." ucap Vienna dengan sedikit menunduk.
"Sebenarnya Vienna sendiri merasa heran, karena yang Vivi tahu, ayah dan bunda tidak punya pekerjaan, tetapi semua kebutuhan kami selalu terpenuhi dan jauh dari kata kekurangan. Bahkan pernah sekali Vivi lihat ayah di bawa oleh mobil mewah, yang Vivi sendiri tidak pernah melihatnya."
"Jangan khawatir, semua sudah Ayah Sam rencanakan, jadi jangan khawatir lagi, kelak kita akan tahu alasan apa yang mendasari semua ini, saat ini kita hanya bisa berdoa dan berharap semuanya berjalan baik-baik saja." ucap Varo.
" Iya sayang, semuanya kita serahkan kepada Allah, apapun yang terjadi Vienna tetap akan menyayangi ayah dan ibu, selamanya."
"Ingat... apapun yang ayah Sam lakukan, itu demi keselamatan kamu, jadi jangan pernah beranggapan, ayah tidak sayang sama kamu, dulu kamu masih kecil, sekarang kamu sudah besar bahkan bisa di katakan dewasa, ketika kamu berhadapan dengan masalah, yang mengharuskan kita memilih, antara anak dan harta, apa yang akan kamu pilih saat itu?" tanya Varo dengan penuh selidik.
"Tentu aku akan memilih anakku, ketimbang harta, anak adalah belahan jiwa, dan harta selama kita masih bernafas, kita masih bisa mencarinya." jawab Vienna. dengan tegas.
"Saat kita sudah menjadi orang tua, tentu prioritas utama kita adalah keluarga, dan segala sesuatunya akan kita tinggalkan, demi keluarga, itu pula yang ayah ibu lakukan untuk kamu." terang Varo.
" Apakah kamu juga akan melakukan apapun demi keluarga kita sayang?" Vienna membelai pipi suaminya.
"Tentu sayang, semuanya akan aku lakukan untuk keluarga kita, sekarang kamu tahu kan, Mengapa aku menyembunyikan pernikahan kita, demi keamanan dan kenyamanan kita." Varo memeluk Vienna dengan mesra.
"Iya, aku sekarang paham, apa yang ayah ucapkan saat itu, demi kita, dan keturunan kita." Vienna tersenyum.
"Bagaimana kalau sekarang kita bikin cucu buat ayah dan ibu sayang?" Varo mencium leher putih Vienna.
"Sayang... ah... geli..."