MR. VARO ABRAHAM

MR. VARO ABRAHAM
JUTEK



"Maaf tuan, nona muda meminta anda yang membawa nya dari rumah, bukan orang lain." ucap Sofia.


Varo menerima pakaian yang di inginkan Vienna, dengan perasaan sedikit marah, Varo berjalan kaki dengan sedikit tergesa-gesa, saat sampai di gedung perusahaannya.


Belum sempat Varo memberikan pakaian yang di inginkan Vienna, Varo sudah di kejutkan dengan berita pagi ini, bila Vienna jatuh pingsan di depan ruangan Varo.


Langkah kaki Varo terasa berat, bahkan biasanya dia bisa berlari, kini yang di rasa ada beban yang menghimpit kakinya. Setelah sampai di ruangan Varo, Varo mencari keberadaan sang sekertaris yang membuat jantung nya mau copot itu.


Nampak dari kejauhan, Vienna sedang bersandar di sofa miliknya, matanya tertutup, bahkan wajah nya sangat pucat, membuat Varo berpikir, ada apa gerangan. Dia berpikir, Vienna tidak kekurangan sesuatu apapun setelah tinggal bersamanya, bahkan bisa dikatakan labuh baik dari sebelumnya.


Sesampainya di dalam ruangan miliknya. Varo sedikit lebih lega, ingin rasanya Varo memeluk tubuh lemah istrinya, bahkan dia lupa dengan pakaian yang di minta oleh Vienna.


"Apa yang terjadi pada wanita ini Tiger?" tanya Varo dengan suara meninggi, membuat Vienna terbangun.


"Maf pak, saya tidak enak badan, dan terimakasih atas pakaian yang bapak bawa." Vienna sedikit tersenyum.


"Kalau sakit, tidak usah berangkat bekerja." titah Varo pada Vienna.


"Baik pak, maaf sudah membuat geger pagi-pagi." ucap Vienna pada Varo.


Varo hanya mendengus kesal, saat seperti ini, dirinya tak boleh gegabah, drama yang di mulainya harus selesai seperti yang direncanakan oleh mereka berdua, demi kelancaran penyelidikan kasus korupsi yang ada di Perusahaan ABRAHAM.


Vienna yang mendapatkan baju ganti pilihan suaminya itupun berjalan menuju Toilet wanita yang berada di sebelah ruangan devisi HRD, tepatnya di sebelah ruangan Bu Anggi. Balun sampai di depan pintu kamar mandi, Bu Anggi memanggilnya, dan dengan terpaksa, Vienna pun masuk kedalam ruangan HRD.


"Vienna, kamu kenapa hari ini? aku perhatikan sejak pagi agak pucat deh, gak seperti biasanya?" tanya Bu Anggi.


"Kapan terakhir kamu menstruasi Vi? siapa tahu kamu hamil?" ucap Bu Anggi.


"Iya ya... sepertinya, aku terakhir menstruasi 2 hari sebelum menikah si mbak, dan selam 2 bulan ini aku belum dapat lagi, kenapa aku bisa lupa ya?" Vienna menepuk jidatnya sendiri.


"Hahahaha... kamu kayak aku Vi, kamu tahu, bahkan kehamilanku hampir memasuki 4 bulan, karena sibuk bekerja, DNA pindahan rumah, untung saja gak keguguran." Ucap Bu Anggi.


"Nanti mampir ke apotek deh, mau beli respect." Vienna tersenyum manis.


"Nggak usah, aku masih punya kok di sini, pakai kamar mandiku aja, ganti bajumu juga sekalian, biar gak usah ke toilet di luaran, kalau kandungan kamu 2 bulan, kemungkinan anak ku akan lahir lebih dulu sari anak si bos jutek itu." sewot Bu Anggi.


"Mbak... anak Aku juga Lo, biar bapaknya jutek, semoga anaknya gak mutu ya, amit-amit." Vienna mengetuk meja kemudian mengetuk kepalanya.


Bu Anggi tertawa lepas bersama Vienna. Dalam hati Vienna berkata, pantas saja Bu Anggi mengatakan bos jutek, soalnya Bu Anggi sudah mengajukan pengunduran diri, namun di tolak oleh Big Bos.


Perut Bu Anggi memang sudah terlihat sedikit membuncit, karena perkiraan Nadia, kehamilan Bu Anggi sudah memasuki usia 4 bulan bahkan lebih.


Vienna berjalan ke kamar mandi yang berada di ruangan Bu Anggi, Vienna membaca cara pemakaian dari tespect yang di berikan Bu Anggi. setelah menampung air seni di wadah yang sudah ada dalam tespect, Nadia membiarkan saja di atas wash tafel, kemudian Vienna mengganti pakaiannya dengan pakaian yang di bawakan oleh suaminya. setelah siap dengan pakaian gantinya, Vienna membereskan pakaian yang akan di lounndry, menaruhnya kembali ke dalam tas khusus pakaian kerja.


Setelah menunggu lebih dari 5 menit Nadia mengangkat tespect ke atas, dengan memejamkan matanya, perlahan Vienna membuka matanya satu persatu, betapa kagetnya Vienna, tespect yang di pegang nya, menunjukkan dua garis yang sangat tebal, bukan tipi, membuat jantungnya seakan berhenti, rasa haru, bahagia, senang, dan bingung, campur aduk menjadi satu, hampir saja Vienna terjatuh di dalam kamar mandi, namun dengan sigap Vienna memegang wastafel, dan berpegangan dengan erat.


Setelah di rasa sudah lebih baik, Vienna keluar kamar mandi dan membawa baju kotor di tangan kanan, sedangkan tangan kiri membawa hasil tespect.