
Kamu masih memakai minyak zaitun juga sayang, aku kira kamu sudah melupakan aku, ternyata kamu masih sama seperti yang dulu, dan tak pernah berubah, pasti kamu juga masih meminum madu asli setiap pagi." dengan suara lirih, Varo bergumam sendiri, setelah itu Varo mencium kening istrinya, dan kembali lagi ke ranjang berseberangan dengan Vienna.
Malam ini benar-benar malam terlelah bagi varo, bahkan belum lima menit merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia sudah tertidur dengan pulas.
Tak ada drama malam pertama, bagi Varo, bisa menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya saja, sudah cukup baginya.
Jam weker berbunyi, menandakan adzan subuh sudah berkumandang, perlahan Varo membuka matanya, dia masih ingat, bahwa dirinya sudah tidak tidur sendirian di kamarnya.
Perlahan Varo turun dari atas ranjang, berjalan mengelilingi ranjang menuju sebelah kiri ranjang, untuk membangunkan Vienna solat subuh.
"Vi... Vivi... Bangun yuk sudah azan subuh Lo, nanti kesiangan solat subuh nya." Varo membangun kan Vienna dengan menepuk pundaknya, dan berlalu masuk ke kamar mandi milik nya yang memiliki dua pintu, yang tersambung dengan ruang kerja,sehingga memudahkan dia bila sedang berada di kamar, ataupun diruang kerjanya.
Vienna pun terjangkit dari tidurnya, karena kelelahan, dia lupa bahwa malam ini sudah berada di Mension milik suaminya, bahkan tidur dalam kamar yang sama.
Dengan jantung yang berdebar kencang, Vienna mencoba tersenyum, dan bangkit dari tidurnya, lalu merapikan rambut yang berantakan dengan mengikat rambut berbentuk Cepol, serta merenggangkan otot ototnya dengan sedikit olahraga.
"Sudah azan subuh ya tuan?"Tanya Vienna pada suaminya, yang sudah keluar dari kamar mandi.
"Baru saja, kamu ambil air wudlu sana." Perintah Varo pada Vienna.
" Baiklah, tunggu saya ya tuan." Pinta Vienna pada Varo, dengan berjalan menuju pintu utama.
"Mau kemana?" tanya Varo dengan nada lemah lembut.
"Mau ke kamar mandi lah, kan kamar mandiku di luar."Jawab Vienna pada Varo.
"Pakailah kamar mandi yang di dalam kamar saja, yang di luar kalau kamu mau luluran atau spa, jadi para Maid tidak masuk ke kamar kita." Terang Varo pada Vienna.
Vienna yang mendengar perkataan suaminya pun tersenyum dan menurut saja, kemudian berbalik menuju kamar mandi di dalam kamar mereka, bagi Vienna subuh-subuh berdebat, nanti menghilangkan mood yang baik, dan nanti solat subuh nya kesiangan pula.
Setelah mengambil air wudhu, Vienna mengambil mukena yang di siapkan oleh Varo, dan akhirnya, solat Subuh ini, adalah solat subuh pertama berjamaah, bagi pasangan pengantin baru yang sangat mendadak.
Dua rakaat sudah dilakukan, di akhiri dengan doa yang khusyuk, dan setelah itu mereka bersalaman, Vienna mencium punggung tangan Varo, dan Varo mencium kening Vienna istrinya.
Sesaat, mereka terdiam, dan merasa canggung, tak beberapa lama, Varo memulai bertanya pada Vienna.
"Vi... jam berapa kamu akan ke Rumah Sakit?" tanya Varo pada Vienna.
"Jam sembilan pagi mungkin tuan." Jawab Vienna tegas.
"Mungkin aku gak bisa nemanin kamu di Rumah Sakit, nanti aku suruh Nelly untuk menemani kamu dan Ibu." Varo mencoba memberikan semangat pada Vienna.
"Kalau Nelly sibuk juga tidak apa-apa tuan." jawab Vienna .
"Vi... aku ini suamimu, kenapa kamu panggil aku dengan tuan, panggil dengan sebutan yang lain apa!" Bentak Varo pada Vienna.
"Terus saya harus panggil apa?" Vienna di buat bingung oleh Varo.
"Apa saja, asal jangan tuan, pak dan anda, terasa berada di kantor saja." Jawab Varo dengan malas.
Vienna memutar otak nya, panggilan apa yang pantas untuk suaminya itu, akhirnya Vienna memutuskan untuk memanggilnya dengan sebutan HABIBI, entah muncul dari mana, author juga gak tahu, padahal Vienna pengen panggil Hubby, tapi author pengen Habibi, gimana ya? ya sudah Habibi aja dulu.
"Baiklah, Bibi..? jawab Vienna.
"Kau panggil aku bibi, Memang aku bibi kamu?"Varo menahan amarahnya.
"Bibi, adalah singkatan dari Habibi, kalau tidak mau ya sudah, aku panggil tuan atau pak saja, Bagaimana?" Vienna membuat penawaran pada Varo.
Varo mendengus kesal, tak buruk juga panggilan Habibi, yang artinya kekasihku.Terlihat Varo tersenyum dan mengangguk anggukkan kepalanya.
"Bibi... aku mau tanya, apakah ada waktu?"
"Kamu mau tanya apa? soal mahar? soal perhiasan? soal pernikahan mendadak? dan soal semua kebutuhan kamu sudah tersedia? jawabannya adalah karena aku akan menikahimu."jawaban tegas dari Varo membuat Vienna sangat terkejut.
"Mungkinkah gadis yang di cintai Varo itua adalah aku? atau bukan Aku? kalau bukan Aku, mengapa Varo mengetahui semu tentang diriku, sedangkan aku, tak satupun yang kuketahui tentang Varo."
Gumam Vienna
Perlahan Vienna memandang suaminya dengan rasa kagum dan penasaran. Dengan menahan nafas karena terharu, Vienna memberanikan diri untuk bertanya tentang cinta pertamanya.
"Bi... kata kak Anggi, Bibi punya cinta pertama, kalau boleh tahu, siapa dia, dan mengapa tak bersamanya sekarang?"
"Aku akan menjawab pertanyaan kamu setelah kamu mencintai aku, jadi apapun alasannya kamu tak akan meninggalkan aku" Varo belum siap untuk kehilangan Vienna untuk yang kedua kalinya.
"Baiklah, akan aku coba mencintaimu dengan ikhlas, dan tulus, jadi jangan pernah lelah untuk menunggu ku untuk mencintai dirimu, dan kuharap, di saat aku sedang berjuang mencintaimu, aku ingin kau hargai perjuanganku, hanya dengan tidak ada wanita lain di sisimu." Permintaan Vienna pada Varo.
"Gadis bodoh, bagaimana mungkin aku akan mencari wanita yang lain, aku menunggu kedatangan kamu sampai lima belas tahun, dan kamu meminta ku untuk menunggu dirimu mencintai aku, aku akan menunggumu, sampai kapanpun sayang, dan tak akan ada wanita lain selain dirimu di relung hatiku." Varo berbicara sendiri dalam hati.
"Baiklah, aku akan melihat perjuanganmu, dan aku pastikan, tak ada wanita lain selain dirimu di sisiku.."Jawab Varo.
"Terima kasih Bibi, atas semuanya, yang telah bibi persiapkan untuk aku,dan terimakasih untuk Ayah dan Ibu." tanpa terkira, air mata Vienna menetes di pipinya.
Varo yang melihat Vienna menangis pun merengkuh nya dalam dekapan nya, kali ini Vienna benar-benar bahagia, dan merasa nyaman, dalam lindungan orang yang benar-benar menghargai seorang wanita, walau Vienna sendiri belum tahu ada motif apa di balik semua kebaikan yang diterima nya saat ini.
Vienna membalas pelukan Varo, bahkan lebih erat, disini Varo lah yang paling tersiksa, karena Junior nya sudah mulai beraksi, namun Varo tak ingin merusak suasana, biarlah dia tersiksa, asalkan Vienna merasa nyaman dipelukannya.
Setelah 15 menit berpelukan, Perlahan terdengar suara dengkuran kecil dari Vienna, ternyata, setelah lelah menangis Vienna terlelap, mungkin karena beban pikiran dan perubahan kehidupan yang sangat drastis, membuat dirinya lebih cepat lelah.
Varo mengangkat tubuh Vienna dan menidurkan Vienna kembali keatas ranjang, lalu menyelimuti tubuh Vienna.