MR. VARO ABRAHAM

MR. VARO ABRAHAM
VVIP NO 1



Semakin lama Isak tangis dari Vienna semakin reda, Ibu yang melihat Vienna bisa menerima Varo pun merasa sangat bahagia, Varo benar-benar mampu mencegah Vienna untuk menangis, rasa cinta Varo pada Vienna, tak terbilang dan tak terhingga.


Varo membelai rambut Vienna, menuntunnya untuk duduk dan tenang di sampingnya, sedang tangan Varo, tak henti-hentinya menghapus air mata yang selalu jatuh di pipi Vienna, hati Varo seakan-akan hancur, melihat gadis yang sangat ia cintai, harus menangis, Varo berjanji, akan mengusut kecelakaan yang menimpa ayah mertuanya.


Lampu merah ruang operasi sudah padam, menandakan bahwa operasi sudah berakhir, tak beberapa lama, dokter keluar dari ruangan operasi, dengan tergesa-gesa, Vienna bertanya tentang keadaan ayah nya.


"Dokter Bagaimna kondisi ayah saya sekarang Dok?"tanya Vienna pada Dokter Aldo.


"Alhamdulillah... operasi berjalan dengan lancar, insya Allah beberapa jam ayah anda akan terbangun, saat ini karena masih ada pengaruh dari obat bius, jadi ayah anda masih tertidur, jangan khawatir, semuanya baik-baik saja." terang Dokter Aldo.


"Terima kasih Dokter." sembari bersalaman.


Vienna yang bahagia pun langsung memeluk suaminya dengan erat, hilang sudah kekhawatiran nya saat ini. Varo yang mendapat kan pelukan dari istrinya, membalas pelukan hangat itu. Rasa bahagia tak terbendung lagi, sungguh Vienna gadis yang sulit di tebak, apa yang ada di dalam pikirannya, tak pernah bisa di mengerti oleh lawan mainnya.


Vienna melepaskan pelukannya, dan memandang wajah suaminya yang tampan itu, lalu Vania menatap manik mata kecoklatan itu, senyuman menghiasi bibirnya, Vania sungguh terpesona dengan suaminya, tak ada cela sedikitpun, karena malu, Vienna memeluk suaminya kembali, entah mengapa, Vienna enggan rasanya melepaskan pelukannya.


Ibu yang melihat itupun tersenyum, Ibu mengingat masa lalu nya dengan suaminya, keromantisan yang suaminya berikan, terulang kembali, pada Putri semata wayangnya.


Sementara Nelly dan asisten Leo, hanya bisa menggaruk rambut mereka yang tidak gatal.


"Ehemmm.... Tuan Varo, maaf bapak Sam mau di pindah ke ruangan apa?" tanya Dokter Aldo pada Varo.


"Di kamar VVIP NO 1, serta siapkan 1ruangan di sebelahnya, mengerti?" Jawab Varo dengan tegas.


"Baik tuan, silahkan menunggu 15menit, perawat masih menyiapkan kamar."


Dokter Aldo pun meninggalkan mereka, kembali masuk ke ruangan operasi, setelah ruangan yang di inginkan Varo telah selesai di bereskan, Dokter Aldo dan dua orang perawat pun mendorong Ayah Vienna, menuju lantai 3, tempat pernikahan Varo dan Vienna.


Ruang uang di siapkan memang sangatlah besar, Diana terdapat 2 spring bed, berukuran besar, yang terdapat dua kamar mandi, di sebelah kiri dan kanan ruangan, terdapat juga pantry mini, untuk membuat kapo atau teh serta westafel, untuk mencuci perabotan di sana.


Varo dan Vienna pun masuk ke ruangan ayah, di sana Varo dan Vienna duduk di sofa, sedangkan Nelly yang merasa gerah pun menuju ke kamar mandi, dan mandi sesuka hatinya.


Varo yang terlihat mengantuk pun berlalu menuju spring bed yang terletak di ujung, Vienna pun mengikuti langkah suaminya, saat di lihat suaminya tidur dengan tengkurap, kajhilan Vienna pun datang,di tariknya sepatu suaminya, dan melepaskan kaos kaki milik Varo.


Varo yang memang sejak subuh, belum tidur pun terkapar lelah, niat hati ingin jahili suaminya, namun Vienna terkejut, mendengar suara dengkuran halus dari suaminya yang tertidur pulas.