
Nyonya... apa nyonya bahagia menikah dengan Tuan muda?" Tanya Sofia yang mendapat cubitan dari Ayu.
"Mengapa kamu bertanya kepadaku seperti itu? Memang terlihat ya aku tidak bahagia?" pertanyaan Sofia di jawab pertanyaan pula oleh Vienna.
"Bukan seperti itu nyonya, bukankah pengantin baru, pasti menginginkan malam pertama?" jawab Sofia memberi alasan.
"Bukan aku tak mau, tapi perasaan kami belum tenang sebelum Ayah ku di operasi besok pagi, dan aku kira suamiku akan memaklumi aku, bila tidak memberikan malam pertamanya malam ini juga, toh masih banyak waktu setelah malam ini bukan?" Tutur Vienna menutupi rasa gelisah di hatinya.
"Maaf nyonya, kalau saya lancang, bukan maksud saya membuat nyonya menjadi sedih." Sofia membungkuk dan meminta maaf.
"Tidak apa-apa, yang penting, doakan Ayah aku saja, semoga secepatnya di berikan kesembuhan padanya, ohya, Ayu, boleh minta ambilkan piyama warna biru laut itu, aku sudah capek sekali, aku pengen cepet tidur, dan melihat ayah operasi besok."
ucap Vienna pada Ayu
Dengan cekatan Ayu mengambil piyama yang di pilih nyonya muda nya, dan memakaikan seperti perintah Tuan muda pada mereka berdua.
Vienna berjalan menuju meja rias untuk nya, dia duduk dan membuka botol minyak zaitun, memang sudah menjadi kebiasaan dirinya sebelum tidur dia hanya mengoleskan minyak zaitun, dan tidak menggunakan perawatan yang lainya.
Di depan meja riasnya itu, Vienna di buat terkejut lagi, dengan adanya seluruh produk kecantikan miliknya, dan semuanya terlihat masih baru.
"Mbak Ayu, siapa yang menyiapkan semua keperluan saya?" Tanya Vienna pada Ayu.
"Maaf nyonya muda, semua ini yang membeli Tuan Leo, dan kami hanya bertugas merapikan dan menata saja, apa ada yang kurang atau salah nyonya, biar kami belikan yang baru." Tutur Ayu dengan rasa takut.
"Bukan... maksud saya, semuanya baru dan sama persis dengan yang saya gunakan, jadi saya sedikit terkejut dan heran saja." Vienna tertunduk malu.
"Nyonya, Tuan muda sudah menyiapkan semuanya sebelum menikah dengan nyonya muda, kira-kira, 2 Minggu yang lalu, bahkan tuan muda terlihat sangat bahagia, Tuan sudah menyiapkan pakaian nyonya muda sebulan sebelumnya." Sofia terlihat sangat bahagia.
"Tahukah nyonya, Kami semua Maid di sini bahagia, mendengar bahwa Tuan muda akan menikah, karena selama kami bekerja dengan Tuan muda, tak pernah kami melihat kebahagiaan terpancar di wajahnya. Selalu saja marah dan menyeramkan." tutur Ayu menambahkan pernyataan Sofia.
"Benarkah?" Vienna terkejut dengan penuturan kedua Maid suaminya.
"Benar banget nyonya, tepatnya setelah lima bulan lebih, kami melihat Tuan muda sering tersenyum sendiri, bahkan lebih sering menghabiskan waktunya di taman belakang dengan bunga mawar putih, bahkan pekarangan belakang rumah, semua terisi dengan bunga mawar putih." Tutur Sofia.
"Waaah pasti indah sekali, mengapa dia tahu bunga kesayangan ku?" Wajah Vienna penuh kegembiraan.
" Benar kata kamu Sofia, nyonya muda sangat menyukai bunga mawar putih, so sweet banget Tuan muda, bisa mengetahui semua kesukaan dari nyonya muda." Dengan gemas mereka berdua saling berbisik, namun masih di dengar oleh Vienna.
Vienna meras bimbang, apakah memang Big Bos nya mencintai dirinya sebesar itu, bahkan Vienna sendiri masih menyimpan beberapa pertanyaan, tentang maskawin yang begitu banyaknya, dan persiapan tentang semua keperluan dirinya sejak lima bulan yang lalu, berarti, sejak awal Vienna magang di perusahaan Varo, Dia sudah jatuh cinta pada Vienna.
Vienna juga masih ingat perkataan dari Bu Anggi, bahwa seumur hidup Varo, belum pernah memiliki sekertaris cewek, dan ternyata, dirinya lah yang menempati posisi sekertaris cewek pertama bagi Varo, bahkan sekarang menjadi istrinya.
** Mungkinkah gadis kecil yang dimaksud oleh kak Anggi adalah aku, dilihat dari persiapan dan ketulusan yang aku rasakan, bahkan tatapan matanya, mampu membius hatiku, tak sulit bagi suamiku sayang untuk menaklukkan hatiku, untuk mencintai dirimu, dengan keikhlasan dan kesungguhan, karena sesungguhnya aku memang telah jatuh dalam pesonamu, bahkan sejak pertama melihat mu suamiku, aku tak mampu berpaling darimu, walau kadang kamu menyebalkan.
Aku berjanji pada diriku sendiri, setelah Ayah operasi, dan sadar, aku akan memberikan kejutan untuk mu, akan aku serahkan mahkota ku hanya untukmu seorang, dan aku harap kamu tak akan melupakan itu, untuk seumur hidup mu** Gumam Vienna.
Janji Vienna dalam hatinya, untuk mencintai suaminya dengan setulus hati dan keikhlasan.
Vienna semakin yakin, bahwa suaminya mencintai dirinya sejak lama, tapi yang jadi pertanyaan Vienna, mungkinkah dia pernah bertemu dengan suaminya dahulu kala? Karena Vienna sendiri merasa tidak asing bila berhadapan dengan suaminya, bahkan senyuman itu mampu menenangkan hati nya.
Terdengar pintu kamar wear drobe di ketuk, Sofia membuka pintu dan melihat siapakah yang datang, dan ternyata pak Wahyu mengatakan bahwa Tuan muda sudah masuk ke kamar utama, dan akan segera tidur.
Mendengar perkataan pak Wahyu, Vienna langsung berdiri dan menyemprotkan parfum yang ada di meja, lalu berjalan menuju ke kamar utama, tak lupa, Vienna menarik nafas sebelum masuk kamar utama.
Vienna mengetuk pintu tiga kali, kemudian masuk ke kamar dan melihat ke atas ranjang yang sangat besar, dan di sana terlihat suaminya sudah masuk kedalam selimut.
"Kuncilah pintu, dan kemarilah, aku sangat lelah, malam ini kita istirahat saja." Varo menutup matanya dengan lengan kirinya.
Tak menunggu lama, Vienna menuruti permintaa suaminya, untuk mengunci pintu kamar, dan berjalan, duduk di pinggir ranjang.
"Tidurlah Vi, aku tak biasa tidur dengan lampu menyala, aku tak akan ngapa ngapain kamu, jangan takut, sebelum kamu mencintaiku, aku tak akan memaksamu untuk mencintai dan menyerahkan mahkota mu, aku jamin, aku akan menunggu kamu, sampai kamu benar-benar mencintaiku, naiklah, dan pakai selimut, karena aku tidak sanggup apabila AC di kamarku mati." Varo sudah memejamkan matanya, dan tidur dengan lengan kirinya.
Tanpa jawaban , Vienna pun naik keatas ranjang dan menyelimuti dirinya. Varo yang tidak mendengar jawaban ataupun perkataan yang keluar dari mulut Vienna, merasa sangat heran, biasanya anak itu selalu membangkang, apabila di perintah oleh dirinya. Varo mematikan lampu menggunakan remote yang ada di atas nakas di dekatnya.
Vienna membelakangi suaminya, dan karena lampu yang menyala hanyalah lampu tempel di pojok kamar, maka membuat mata yang lelah cepat terpejam, karena suasana yang remang remang.
Tanpa menunggu lama Vienna pun tertidur, bahkan terdengar dengkuran halus Vienna, Varo yang mendengar suara halus di sebelah nya, akhirnya turun, menuju ke tempat Vienna, Varo melihat wajah Vienna, di belainya rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kamu masih memakai minyak zaitun juga sayang, aku kira kamu sudah melupakan aku, ternyata kamu masih sama seperti yang dulu, dan tak pernah berubah, pasti kamu juga masih meminum madu asli setiap pagi." dengan suara lirih, Varo bergumam sendiri, setelah itu Varo mencium kening istrinya, dan kembali lagi ke tempatnya.