
Pukul 12 siang Vienna terbangun, seluruh badannya terasa sangat pegal dan sakit. Vienna mencari keberadaan sang suami, yang sudah tidak ada di sampingnya.
Vienna mencoba melihat jam di layar handphone miliknya. ternyata sudah pukul 12 siang. Vienna melihat penampilan dirinya, yang sudah memakai pijama, dan memakai underwear yang lengkap.
Vienna teringat ketika setelah solat subuh, dirinya ingin memakai pijama nya sendiri, namun Varo merebut dari tangannya, akhirnya mau tidak mau Vienna menutup matanya, saat suaminya memakaikan pakaian dirinya.
Tak lupa dengan kenakalan jari-jari Varo, yang bergerilya, membuat lama memakai pakaiannya.
Vienna tersenyum senyum sendiri, mengingat kejadian selepas sholat.
"Dasar suami posesif, bahkan semua ruangan di rumah ini ada CCTV nya." Vienna tersenyum.
Di hubungi nya pak Wahyu melalui interkom kamarnya.
"Assalamualaikum pak Wahyu? apa kabar hari ini?" tanya Vienna pada pak Wahyu.
"Kabar baik nyonya muda."
"Apakah suamiku sudah berangkat ke kantor?" tanya Vienna pada pak Wahyu.
" Sudah nyonya, tadi pukul 11.30."
"Oke, aku mau sarapan di kamar tidur pak Wahyu, aku lagi mager." kata Vienna.
" Baik nyonya, sebentar lagi Ayu dan Sofia segera ke sana."
Vienna yang memang sangat malas bergerak, hanya duduk di atas ranjang besar, sembari menunggu sarapannya, Vienna iseng menelpon Big Bos nya.
"Selamat pagi sayang, sudah kangen ya?"
"Nggak lah, ngapain kangen? lagian siapa suruh juga ninggalin aku kerja, dasar Bos mesum."
"Vienna... jangan kau panggil aku bos lah, sekarang kita lagi teleponan, panggil yang lain kek, sama suami panggil Bos Bos terus."
"Terus mu minta di panggil siapa? kakak? emang Vivi adik bos, mas, emang si bos pedagang keliling, sayang.... emang sibos sayang sama Vivi, Abang... memangnya Abang dan none, honey... emangnya aku bee, ah susah ngomong sama sibos itu."
Varo yang mendengar kata-kata Vienna malah tertawa lepas, tak percaya, bahwa Vienna segokil itu bila sudah berbicara.
"Bos, kenapa tidak bangunkan aku? memang gak bisa nunggu aku ke kantor nya?"
"Memang kamu bisa jalan?"
"Bisa lah kan cuma jalan doang, masak aku gak bisa."
"Dari mana Bos tahu?" Vienna sungguh malu.
"Vi... sekali lagi panggil suamimu ini bos, aku jamin besok kamu gak bisa jalan, bahkan gak bisa bangun dari tempat tidur."
"Eh... kok ngancam si? mana bisa?"
"Ya bisa lah, kan aku suami kamu, dan tugas seorang istri adalah menurut pada suami, ingat itu!" perintah Varo.
"Ihhh... sensi amat Bu...? lagi PMS ya?" goda Vienna pada suaminya.
" Kamu itu, bisa aja bikin orang tertawa, ingat, suamimu ada meeting nanti jam 2 siang, mungkin sampai jam 4 baru selesai."
"Memangnya Vivi tanya? nggak kan?"
"Kamu harus tahu jadwal ku Vienna, kamu kan masih sekertaris ku, belum saya pecat, jadi jangan kamu campur adukkan antara pribadi dengan perkejaan."
"Iya... aku paham kok, nggak kamu beri tahu juga aku sudah paham, tapi terima kasih ya sudah di ingatkan, ya sudah pak suami, saya tutup dulu, aku mau sarapan dulu."
"Sarapan yang banyak ya sayang, jangan lupa minum susu Prenagen, biar cepet punya baby."
"ih... apaan sih? " jawab Vienna malu
"Sayang... bahkan kamu saja gak beranjak dari ranjang kita, bagaiman aku bisa lihat kamu bisa jalan atau ridak"
"aaah... kamu curang, pasti kamar kita ada CCTV nya, suamiku... aku malu... jangan bahas itu-itu lagi ya, aku malu."
"Aku masih marah Lo sama kamu sayang, kamu bohong sama aku, aku paling benci di bohongi."
" Maafkanlah aku suamiku, kan aku juga sudah kasih kamu semalaman, aku mohon ya, maafkan aku."
"Akan aku maafkan, tapi kamu harus mendapatkan kejutan dariku."
"Baiklah, aku akan menunggu kejutan dari mu suamiku."
"Istri yang pintar, ingat bermain-main lah bersama Ayu dan Sofia, mereka bisa menjadi teman mu berpetualang." sambil menaik turunkan alisnya.
"Kamu pasti sedang menghinaku, badanku saja masih sakit semua, kamu itu manusia atau apa, gak ada capek-capeknya, dasar SIBOS MESUM."
Varo menutup telepon dengan perasaan bahagia, dapat menjahili Vienna, istri tercintanya.