
"Dasar telmi, ah susah ngomong sama kamu, cari tahu aja sendiri." Varo berjalan menuju lemari besi yang ada di balik rak buku di sebelah ranjang besar miliknya.
Vienna yang melihat ada pergerakan rak buku milik Varo pun terkesiap, sesaat dia tertegun dengan adanya lemari besi milik Varo yang terdapat di dalam kamar mereka.
Perlahan Varo mengambil beberapa berkas yang sudah di siapkan oleh Varo, diletakkan nya berkas tersebut diatas meja rias Vienna.
"Sayang... ada yang harus kita bicarakan, ini masalah serius, jadi jangan pernah bercanda denganku." ucap Varo yang sudah mendekati Vienna, bahkan sudah duduk di sampingnya.
"Maslaah apa si sayang? kalau aku bisa bantu mari kita diskusikan bersama." ucap Vienna dengan sedikit malu-malu.
"Coba ulangi kata-kata yang tadi?" tanya Varo pada Vienna.
"Yang mana? aku sudah lupa." jawab Vienna dengan menoleh ke arah yang lain, sambil tersenyum.
"Ayolah Vienna, bukalah hatimu untukku sedikit demi sedikit, kamu tahu kan aku sangat mencintaimu, dan menyayangi mu sampai kapanpun." terang Varo, sembari membelai rambut Vienna.
"Iya aku tahu kok, bahkan kamu sudah menyiapkan semuanya untukku, Ayu dan Sofia pun sudah kau doktrin untuk melayani aku." goda Vienna dengan mengedipkan matanya.
"Kata siapa? pasti mereka yang mengatakan nya padamu." jawab Varo kesal.
"Jangan marah pada mereka, aku yang memang mencari tahu tentangmu sayang, karena aku sendiri merasa heran dengan semua hal yang telah kamu siapkan untuk aku." Vienna menggenggam tangan Varo.
"Terus kamu percaya begitu saja ucapan mereka?" tanya Varo dengan sedikit mendengus kesal.
"Tentu saja tidak? karena... sebenarnya..." Vienna menggantung kalimatnya, hingga membuat Varo penasaran dengan ucapan Vienna.
" Sebenarnya... aku juga... sudah... " lagi lagi Vienna menggantung kalimatnya, karena rasa malu dan gugup, tanpa Vienna sadari, diapun menunduk dan sedikit mundur dari hadapan Varo.
" Siapa yang mau jadi janda muda? baru saja kemarin menikah, masak mau jadi janda? Kalau ngomong yang bener deh." Vienna sedikit ngambek.
"Hei... kenapa kamu yang marah? harusnya kan aku sayang yang marah, bukan kamu, ayolah... katakan sayang... kamu juga sudah apa? Varo makin penasaran dengan perkataan Vienna.
Vienna yang bahagia berhasil membuat suaminya sedikit ngambek pun akhirnya menjawab pertanyaan Varo, dengan sedikit berdehem.
" Ehem... Sebenarnya aku juga sudah jatuh cinta sama kamu, sejak pertama kali kita bertemu."
"Iya.... tapi kamu sangat dingin dan jarang bicara, jadi bikin aku ilfeel sama Kamu."
" Memang aku seperti itu sayang, sebenarnya semenjak kedatangan kamu, aku sudah lebih baik, dari pada sebelum kamu datang, sudah tidak pernah teriak-teriak pada setiap karyawan yang berbuat salah." ucap Varo sambil mencium punggung tangan Vienna.
" Yang aku herankan adalah, kamu tahu sedetail detailnya apapun yang aku lakukan dan aku inginkan. Jangan jangan ada seseorang yang memberi tahu kamu tentang keseharian ku?" Vienna memandang lekat bola mata Varo yang tepat ada dihadapannya.
"Sungguh... sayang, tidak ada orang yang memberi tahuku, suer deh aku tidak berbohong sayang?" Varo sangat terkejut Vienna memiliki feeling yang kuat.
"Baner ni? aku juga sedikit penasaran dengan Nelly, sepertinya ada orang yang sudah mendoktrin dia, bahkan kemanapun aku melangkah, selalu ada di sisiku, apa mungkin dia salah satu bodyguard untukku?" tanya Vienna pada Varo
"Ha... ternyata kamu sangat cerdik sayang, memang Nelly bertugas menjagamu, dan menggantikan posisi kamu, dalam setiap rencana yang telah aku dan Uncle sepakati."
"Aku sudah tahu sejak pertama kali bertemu denganku, tapi aku hanya selalu waspada, karena apa yang aku lakukan, selalu aku bicarakan dengan ayah, sehingga kami memiliki perasaan dan penasaran." ucap Vienna.
"Semuanya sudah aku jelaskan pada ayah, dan aku mau tanya, apa kamu tahu kunci keberhasilan ku selama ini?" tanya Varo pad Vienna.