MR. VARO ABRAHAM

MR. VARO ABRAHAM
TERASA TUA



Aku akan menceritakan semua, saat dia benar benar jatuh cinta padaku, dan Aku harap, dia akan mengerti akan keadaan dan keputusan ku saat ini, aku ingin kamu mendukung keputusan ku, saat ini, karena padamu lah tempat ku mengadu." Varo meminta dukungan sahabatnya.


"Ingat Varo, sekarang kamu sudah menikah, aku harap tempat mengadu untukmu sekarang pada dia, bukan Aku, sekarang jagalah hatinya, karena dia orang baru, yang belum mengerti hubunganku denganmu, sedangkan suamiku sudah mengenal kita, aku mohon sekarang, jagalah jarak di antara kita, bukan untuk aku, tapi untuk dia." Pinta Anggi pada Varo.


"Kamu benar Anggi, aku harus menjaga jarak di antara kita, aku ingin meraih hatinya, dan cintanya, aku tak ingin membuat hatinya terluka sedikitpun, aku harap kamu bisa bersahabat dengan Vienna, agar dia lebih cepat untuk mencintai aku." Ungkap Varo.


"Mau kasih apa kalau aku bisa meracuni otak Vienna untuk mencintai kamu?" Tawar Anggi.


"Apapun yang kamu mau akan aku berikan, asalkan dia mau mencintai aku dengan setulus hati nya." Varo memeluk sahabatnya.


"Jangan harap Akau menerima itu Varo, kamu adalah sahabatku yang selalu mengerti aku, sudah banyak perjuangan kamu untuk menyatukan Aku dengan mas Agam, jadi demi kamu, akan aku bawa Vienna untuk mencintai dirimu dengan ikhlas dan tulus, serta menyerahkan diri nya padamu untuk menjadi istrimu seutuhnya, aku janji Varo , aku janji untukmu." Batin Anggi disaat mereka berpelukan.


Agam yang melihat dua sahabat yang sedang berpelukan itupun nampak tersenyum, sembari menggendong putrinya, Agam menghampiri Anggi dan Varo.


Berbeda dengan Agam, justru Vienna sangat terkejut dengan keadaan Varo dan Anggi yang berpelukan, karena Vienna tidak tahu hubungan mereka diluar kantor, karena yang dilihatnya di kantor, Varo dan Anggi tak pernah terlihat saling menyapa.


Agam menepuk pundak mereka, dan ikut berpelukan bersama sambil berbisik di telinga Anggi istrinya, "Sayang... Vienna memperhatikan kalian dari tadi, ajaklah kemari, agar tidak ada rasa cemburu." Anggi yang faham maksud suaminya pun berbalik dan berjalan menuju Vienna yang berdiri mematung memperhatikan interaksi mereka.


"Vienna ayok kita ambil makan, suami kamu nggak mau makan kalau bukan kamu yang ambilin." Bisik Anggi pada Vienna.


Vienna yang terkejut pun hanya mengangguk, dan tersenyum, lalu mengikuti langkah kaki Anggi, disaat seperti ini Anggi memanfaatkan waktunya untuk memperkenalkan Vienna pada sosok suaminya itu.


"Vi, si Big Bos itu orang gak susah-susah amat kok, kalau makanan, yang penting jangan terlalu pedes, pasti dia makan, gak susah, asalkan masih bisa di makan, Pati di hahiskan, kalau minuman, pagi hari dia suka teh melati, dan malam sebelum tidur dia suka meminum susu."Terang Anggi dengan suara lirih, agar tak didengar oleh orang lain.


"Baik, kalau boleh tahu, jus apa yang paling dia sukai Bu Anggi,?" Tanya Vienna pada Anggi.


"Janganlah kau panggil aku Bu, Vienna, kita di luar kantor, dan sekarang kau jadi istri sahabtku pula, panggil aku nama saja, TERASA TUA banget." jawab Anggi sewot.


"Hahahah... iya ya, ya sudah aku panggil kak bagaimana?" tawar Vienna pada Anggi.


"Nah... itu lebih baik, lagi pula, sebenarnya aku lah yang panggil kau ibu bos sekarang." Ledek Anggi pada Vienna.


"Janganlah kak, aku tak setua itu, panggil aja seperti biasa, Vivi ok? oh ya jus apa kak kesukaan Big Bos?"Tanya Vienna untuk mengalihkan pertanyaan pada yang lainnya.


"Big Bos tu suka jus alpukat dengan susu cokllat, dan juga, jus mangga, atau melon, diantara ketiga itu, dia paling suka jus alpukat, jadi ingat ya, yang lain gak suka, makanan apa aja, akan dimakan asal jangan terlalu pedes." Tutur Anggi pada istri sahabatnya.


"Big Bos gak punya alergi kan kak?" Tanya Vienna lebih dalam.


"Tidak, dia tidak punya alergi terhadap makanan apapun, dia juga suka Lo makan di pinggir jalan, karena kami dulu suka jalan dan nongkrong bareng teman-teman, jadi makanan seperti itu sudah biasa, jadi jangan khawatir kalau suatu saat kamu ngidam minta makan pinggir jalan, dia pasti beliin." Terang Anggi yang membuat pipi Vienna menjadi merah, dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


" Kakak sudah lama bersahabat dengan dia?" selidik Vienna pada Anggi.


" Sejak SMP, bahkan kami selalu dianggap berpacaran, karena dimana ada aku pasti ada Varo, dan sebaliknya, dimana ada Varo pasti ada aku." jawab Anggi tegas.


"Apa kakak tidak pernah punya perasaan kepada dia?" tany Vienna dengan ragu.


"Nggak ada, sejak awal bersahabat dia sudah mengatakan padaku, jangan mencintai aku, karena aku sudah mencintai seseorang dalam hidupku, selalu itu katanya." jawab Anggi tegas


"Apa kakak tahu siapa gadis itu?" Vienna semakin penasaran dengan Varo.


"Masalah itu kamu tanya saja sendiri pada suamimu, aku tak mau menceritakan tentang dirinya, cukup tentang kesukaan dan kegemarannya saja." Anggi tak mau keceplosan dengan masalah pribadi sahabatnya


"Kamu sudah selesai mengambil makan Vi?" tanya Anggi pada Vienna, untuk mengalihkan pembicaraan.


"Sudah kak, Ayuk kita kesana, mereka pasti sudah menunggu."Ajak Vienna pada Anggi.


Benar saja, baru saja sampai di depan meja, Varo sudah memberondong pertanyaan.


"Kenapa lama sekali ambil makanya, aku sudah kelaparan, memangnya kamu ambil dari mana?" Tanya Varo dengan pura-pura kesal.


"No... om, gak boleh marah-marah sama Tante aku, kenapa Om tidak ambil makan sendiri, kata mama dan papa, kita kan punya tangan dan kaki sendiri, jadi Om tidak boleh manja, bersyukur diberikan kesempurnaan tubuh kita, betul kan pa, ma?" Tanya Alma pada papa dan mamanya.


"Betul sekali sayang, apalagi Alma yang pinter ini, tidak boleh makan disuapi, kan sudah pengen punya adek, jadi gak boleh manja, betulkan tante Vivi?" jawab Anggi pada putrinya.


"Betul sekali, tapi bolehkan kalau om di ambilkan makan untuk malam ini saja, kan om lagi marah-marah, soalnya Tante bikin kesal om, jadi sebagai permintaan maaf Tante ke om, Tante ambilin makan om, Alma setuju kan sayang?" Vienna memohon pada Alma, untuk di beri kesempatan.


"Baiklah, untuk kali ini saja Om manja, karena tante yang bersalah, ya sudah silahkan makan." Alma Menunjukkan rasa kecewanya pada Om nya, dan menggelengkan kepalanya.


Semua yang mendengar perkataan Alma pun tertawa, bahkan Varo tak mampu menahan kepura-puraan nya untuk marah pada Vienna.


Sementara para tamu sedang menikmati makan malam, Ayah dan Ibu Vienna sudah meninggalkan ruangan pernikahan, dan di bawa naik kelantai 7, ke ruangan yang sudah di siapkan untuk operasi kepala nya besok, dan begitupun kakek dan nenek Varo, beliau meninggalkan acara pernikahan mengiringi Ayah dan Ibu Vienna ke ruangan yang sudah di siapkan.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Hari ini aku up 2 bab sekaligus, jangan lupa like and komen ya, makasih semuanya, maaf pahlawan devisa, jadi waktu nya tidak banyak, terima kasih untuk kritik dan sarannya, insyaallah akan saya perbaiki, dan semoga membuat kalian bahagia.


Semangat.