MR. VARO ABRAHAM

MR. VARO ABRAHAM
BU... ISTIRAHATLAH.



Setelah makan malam, Vienna melihat Bundanya yang sudah terkantuk-kantuk, Vienna yang sudah tertidur sejak tadi, menyuruh Bumdanya untuk istirahat sejenak, agar Bundanya tidak sakit, karena Bagaimna pun, menunggu orang sakit, tidak menutup kemungkinan, susah tidur, dan pasti kelelahan, sehingga mengurangi kekebalan tubuh, dan akhirnya, penyakit akan mudah menyerang bila kita tidak beristirahat dengan cukup.


"Bunda... Istirahat lah, biar Vivi yang jaga malam ini, Bunda sudah dua hari gak istirahat lo." ucap Vienna pada Bundanya.


" Tapi bagaimana dengan suami kamu Vi, masak suami kamu ijinin kamu menginap di sini? lagian kamu masih pengantin baru, gak kasihan suami tidur sendiri?" Binda mengingatkan putrinya.


"Bunda kan tahu, Vienna lagi dapet, ya... biar aja lah puasa seminggu, lagian si Bos juga mau menginap di sini, tepatnya di ruang Sebelah." terang Vienna.


"Kalau begitu, biar ibu tidur sekarang, nanti malam kamu balik ke kamar kamu ya, biar gak berdosa sama suami kamu." nasehat Bundqpada Vienna.


"Iya, makanya Bunda istirahat sekarang, nanti paling si Bos pulangnya jam 11an, karena meeting malam ini agak sedikit rumit, jadi agak lama." ucap Vienna pada Bundanya.


"Vi... Bunda sudah mengajar kan kamu untuk menjadi istri yang baik, dan Solehah, tolong hargai suami kamu seperti kamu menghargai bapakmu, dia juga punya perasaan Vienna, jangan pernah membuat luka di hati suamimu, ingat air mata wanita hanyalah sandiwara, namun air mata seorang laki-laki, adalah ungkapan hati yang paling dalam." nasehat Bunda untuk Vienna, "Jangan pernah menyesalinya, selagi masih diberi kesempatan, pergunakan waktu untuk selalu mengabdi padanya, dengan sebaik-baiknya." Bunda membelai rambut anak semata wayangnya.


"ingatlah Vi, tugas seorang istri hanyalah mengabdi pada suami dan merawat anaak anaknya." Bunda mengacak rambut Vienna hingga berantakan.


"Vienna, kamu sekarang sudah bukan anak kecil lagi, sebentar lagi kamu juga punya anak sendiri ." Bunda mencubit hidung Vienna yang tertidur di pangkuannya.


" Iya Bunda, insyaAllah, Vienna akan berusaha menjadi istri yang sholehah." jawab Vienna yang malas untuk berdebat dengan Bundanya saat ini.


Terdengar panggilan pak Sam kepada Vienna, yang mengharuskan Vienna meninggalkan Bundanya, kini Vienna duduk di sebelah brankar sang Ayah, kedua tangannya memegang serta mencium lembut punggung tangan Ayah nya.


" Vi... ayah minta maaf, harus menikahkan kamu dengan nak Varo, tapi hanya Varo lah yang lebih baik dan dapat melindungi kamu, sekarang ataupun nanti." ucap Ayah pada Vienna.


"Tentu saja kamu mengenal nya, dulu kamu itu sangat menyayangi nya, bahkan kamu tak bisa jauh darinya, sebelum musibah yang menimpa kamu 15 tahun lalu, yang memutuskan Ayah dan Ibu pergi meninggalkan semuanya, bahkan seluruh harta yang Ayah punya, Aĺyah tidak hiraukan, demi kamu, demi kehidupan kamu, demi masa depan kamu, demi ketenangan dan kelangsungan hidup normal bagi kita." Ayah menggenggam tangan Vienna dan mengecupnya.


"Mengapa Vienna tidak mengingatnya Ayah?" tanya Vienna penasaran.


" Kamu tidak akan mengingatnya, dan ayah harap kamu melupakan semuanya, tapi ayah meminta satu hal, cintailah dia sebagai suami kamu yang sekarang, hormatilah dia, jangan kau ungkit masa lalu, biar masa lalu hilang berganti dengan kebahagiaan yang baru." Nasehat Ayah pada Vienna.


" Mengapa lebih baik Vivi tak boleh mengingat masa lalu itu ayah, apakah terlalu menyakitkan? hingga Ayah takut Vivi mengingatnya?" Vienna sedikit terkejut.


"Lebih baik ayah pergi jauh membawamu, daripada melihat kamu kesakitan sayang, Ayah bersyukur, kamu sudah menjadi lebih baik sekarang." Ayah menarik Vienna untuk mendekat, dan berbisik.


"Jangan kau tampakkan kepandaian kamu, walau di depan suamimu, gunakan keahlian kamu, untuk membaca keadaan sekitar, lebih baik kamu berpura-pura bodoh, dari pada nyawamu jadi taruhannya." Pesan Ayah pada Vienna.


"Baik Ayah, Vienna akan mengingat semuanya, apapun permintaan Ayah akan Vienna lakukan." jawab Vienna dengan sedikit terbata-bata.


"Saat kau pergi dengan suamimu, jangan kau katakan sebagai istrinya, katakan bahwa kamu adalah sekertaris nya, kesamping kan ego mu, jangan karena cemburu, membuat mu menjadi gelap mata, ilmu beladiri mu, bukan untuk para cecunguk recehan, tapi ada musuh yang paling kuat yang harus kamu hadapi." nasehat Ayah yang mengetahui adanya CCTV di kamar tersebut.


"Kenapa harus sepertiini Ayah? Nggk boleh ya."tanya Vienna berbisik.


" Ayah sudah membekali ilmu bela diri padamu, dan menembak, itu adalah bekal terbaik untuk kamu, lima bahasa yang kau kuasai, suatu saat kamu akan tahu manfaatnya, jadi cintai suamimu saat didalam rumah, namun bersikaplah sebagai orang asing bila di luar rumah." tutur Ayah pada Vienna.


"Tapi Ayah, kenapa dia di Rumah Sakit bisa romantis? gak seperti di rumah?" tanya Vienna keheranan.