
Setelah selesai, mereka bangun dan Varo menggendong Vienna menuju shower, mandi bersama seperti semalam, membuat mereka tersenyum bahagia, bukan Varo kalau tidak menjahili Vienna, namun mereka tak ingin melakukan di dalam kamar mandi, karena akan di dampingi makhluk halus.
Setelah solat subuh,mereka terlelap, karena rasa capek yang melanda mereka berdua. Bahkan Varo melupakan adanya meeting jam 10 pagi ini, dengan terpaksa, Leo menunda meeting, untuk jam 2 siang nanti.
Jam 9 pagi Leo sudah menghubungi Varo, bahkan pak Wahyu sendiri tak dapat membangunkan Varo, seperti biasanya. Hari.ini benar benar membuat Varo lupa akan pekerjaan dan kesibukan nya selama ini.
Leo yang mengetahui kondisi bos nya pun hanya bisa geleng-geleng kepala, ternyata penantian nya selama 15 tahun tidak sia-sia di lakukanya. Sungguh penantian yang panjang, menjaga dari jarak jauh, mekncoba mengenal, bahkan mencoba membuatnya tersenyum dan bahagia.
Pukul 11 siang Varo terbangun, rasa lapar membuat dirinya sedikit menggeliat, terlihat di samping nya, Vienna yang masih tertidur pulas. di belainya wajah cantik alami istrinya, berdekatan dengan Vienna seakan membuat Varo bagai magnet, seluruh tubuhnya serasa ingin selalu berada di dekatnya, bahkan ingin selalu menikmatinya, sungguh Varo tak bisa berada seperti ini, lama-lama berada di sebelah Vienna bisa membuat Varo tak mau keluar kamar.
Varo mencari handphone miliknya, tertera disana Leo sudah menelpon sampai 20 kali,dan pak Wahyu sudah SMS sebanyak 10 kali.
Varo bangkit dan, berjalan masuk ke kamar mandi.kurang lebih 15 menit, Varo sudah menyelesaikan mandinya. Varo menelpon pak Wahyu, untuk menyiapkan sarapan di ruang makan di dalam kamarnya. Hanya menunggu 1menit semua yang di inginkan sudah tersedia di atas meja.
Sementara Varo sarapan pagi, Pak Wahyu menyiapkan seluruh kebutuhan Varo. Varo yang telah usai sarapan langsung menuju kamar ganti miliknya, disana sudah tersedia pakaian yang disiapkan oleh pak Wahyu.
Pak Wahyu meninggalkan Big Bos nya, dan Varo sendiri masuk kedalam kamar utama, dan mencium pundak Vienna, tak mau berlama-lama di dekat Vienna, Varo mencium bibir mungil istrinya.
"Pak Wahyu, kalau Vienna tanya keberadaan ku, bilang aku sudah ke kantor, dan jangan lupa, Ayu dan Sofia, harus siap melayani apapun yang di inginkan Vienna." titah Varo pada pak Wahyu.
"Baik Tuan muda." jawab pak Wahyu.
"Dan satu lagi, suruh ayu dan Sofia menemani istriku selama aku tidak di rumah." ucap Varo.
Varo bersama Leo meninggalkan kediaman Varo, dalam perjalanan Leo yang jahil pun bertanya.
"Bos... semalam berapa goalnya?"
"Sialan lo Leo, mau tahu aja kamu."
"Siapa tahu nanti saat saya menikah, biar lebih berhati-hati dalam mencetak goals."
Hahahaha Leo tertawa,.orang jutek dan dingin seperti Leo masih bisa tertawa seperti itu.
"Makanya menikah dulu, baru akan tahu bagaimana rasanya." terang Varo pada Leo
"Carikan dong bos, istrimu kan pasti punya banyak teman, kenalin kek satu, biar ada perubahan, gak cuma lihat si bos yang bucinnya tingkat dewa." Goda Leo pada bos nya.
"nanti deh aku tanyakan sama MY SWEETY, siapa tahu ada yang bisa kamu ajak berkencan sama kamu."
"Nah... kalau gitu kan enak, siapa tahu ada jodoh, pasti aku akan menikah secepatnya bos."
" Atur saja... " jawab Varo dengan malas.