
Sesampainya di kantor, Vienna mengabsen dengan finger print, kemudian masuk menuju ruang sekertaris, yang disana terdapat tiga buah meja, untuk dirinya, dan kedua sekertaris pribadi bos Vero, bernama Tiger dan Leon.
Setelah 5 menit Vienna terduduk, akhirnya Vienna memberanikan diri untuk masuk ke ruangan Bu Anggi, sebagai ketua Divisi HRD.
Namun sebelum meninggalkan ruangan sekertaris, Vienna meminta ijin dahulu kepada Ketua sekertaris, dia adalah pak Leon.
" Selamat pagi pak Leon, maaf saya mau meminta ijin ke ruangan HRD, ingin menemui ibu Anggi, kira-kira 10 menit pak, jika bapak mengijinkan, saya akan pergi, bila tidak, tidak apa-apa." Vienna menghadap sekertaris pribadi bos besarnya.
" Sebentar saya informasikan pada bos besar dahulu, siapa tahu bos besar tidak mengijinkan kamu." Alasan tuan Leon kepada Vienna.
Terlihat Leon menelpon ruang big bosnya, dan menuturkan permintaan Vienna sekertaris barunya tersebut. Terlihat Leon mengangguk anggukkan kepalanya, setelah itu menutup telepon.
" Big bos memberikan waktu untuk kamu hanya 15 menit, untuk kembali ke meja kamu, Vienna, jadi pergunakanlah waktumu sebaik mungkin, saya hitung dari sekarang." Vienna pun terkejut.
" Terima kasih pak, saya permisi sekarang." dengan sedikit berlari Vienna meninggalkan ruangannya menuju ruang HRD yang berhadapan dengan ruang divisi nya.
Tok
Tok
Tok
Vienna mengetuk pintu ruangan HRD, Bu Anggi yang mendengar pun menyuruh Vivi masuk.
" Assalamualaikum Bu Anggi,selamat pagi, maaf boleh saya meminta waktunya sebentar?" Vienna membukukan badannya dan tersenyum.
" Silahkan masuk Vienna, silahkan duduk, ada perlu apa, sekertaris bos yang pendiam ini sampai masuk keruangan saya." Bu Anggi menggoda Vienna.
" Sebenarnya saya sedang ada perlu dengan Bu Anggi, saat ini saya sedang ada masalah Bu, ayah saya jadi korban tabrak lari, sekarang ada di Rumah Sakit ABRAHAM, beliau mengalami pendarahan di kepalanya, dan harus segera di operasi." tanpa disadari Vienna sudah menangis di depan Bu Anggi.
" Yang sabar ya Vienna, ibu juga turut prihatin, terus apa yang bisa saya bantu?" Bu Anggi mengusap lembut punggung tangan Vienna.
Vienna " Kalau bisa, saya ingin meminjam uang kantor sebanyak 50 juta Bu Anggi." Vienna berbicara dengan nada suara yang hampir tak terdengar oleh telinga Bu Anggi.
" Waduh Vi, bukan ibu tidak mau memberikan pinjaman sebanyak itu, tapi syarat peminjam di atas dari 20 juta harus memiliki gaji di atas 10 juta, dan minimal sudah 2 tahun bekerja." Bu Anggi memberikan penjelasan pada Vienna.
" Jadi jawaban nya tidak bisa ya Bu, ya sudahlah, biar Vienna cari jalan yang lain, kalau begitu Vivi permisi ya Bu, terima kasih, sudah mendengarkan keluh kesah Vivi." Vienna pun bangkit dari duduknya.
" Gak apa-apa, maaf ya Vi, ibu gak bisa bantu." Bu Anggi pun terlihat sangat sedih.
" Gak apa-apa Bu, assalamualaikum." Vivi berjalan hendak membuka pintu ruangan HRD, namun belum sempat ia meraih handle pintu, Bu Anggi memanggilnya.
" Oh ya Vi, coba kamu pinjam ke big bos langsung saja, siapa tahu beliau mau memberikan pinjaman sebanyak itu, kalau kamu mau, biar aku sampaikan dari sini, biar nanti kamu tidak terlalu susah untuk mengatakannya, bagaimana? kalau kebutuhan mu sangat mendesak, dan bisa di pertanggung jawabkan, big bos pasti tidak akan menolaknya." Bu Anggi mencoba memberikan solusi yang lain pada Vienna.
" Bagaiman Vi? Ayah kamu harus segera di operasi Vienna, duduklah, aku bantu bicara dari sini, jangan khawatir, big bos sebenarnya baik hati, hanya saja, kamu belum lihat sisi baik dari beliau, kalau kamu sudah tahu, pasti akan tahu. Bagaimana?" Vienna menatap manik mata Bu Anggi, bahkan Vienna mencoba mencari kebohongan di mata Bu Anggi, namun tak menemukannya, sorot mata yang penuh keseriusan yang ada di sana.
" Big bos gak akan marah Bu?"Vienna mempertegas kesungguhan Bu Anggi.
" Tidak akan marah, percayalah sama saya Vienna, apalagi sama kamu, selama aku bekerja disini baru kamu lo Vi, sekertaris cewek yang dipilih langsung oleh beliau?" Vienna sangat terkejut, mendengar kata bu Anggi barusan.
" Baiklah, aku telpon big bos ya, oke?" Vienna pun hanya mengangguk anggukkan kepalanya.
Sesaat Bu Anggi menelpon big bos yang berada dalam ruangan nya, setelah 3 menit berbicara, Bu Anggi menyuruh Vienna masuk keruangan big bos, untuk berhadapan langsung dengan beliau.
" Vienna, pak bos nyuruh kamu masuk ke ruangan nya sekarang juga, sepuluh menit lagi ada meeting kan? jadi jangan sia-siakan kesempatan ini, semangat, demi ayah kamu pasti bisa,oke?" lagi-lagi Vienna hanya mengangguk anggukkan kepalanya, serta berjalan meninggalkan ruangan HRD.
Setelah kepergian Vienna, Bu Anggi merasakan kelegaan hatinya, selesai sudah tugas yang diberikan oleh Big Bos yang super angkuh dan dingin itu, bertahun tahun bersahabat dengan Big Bos, baru kali ini Anggi melihat ada sorot kebahagiaan dalam hati Vero sahabatnya itu, entah pesona apa yang dimiliki Vienna, sehingga bisa menarik perhatian CEO ABRAHAM CORP yang terkenal dingin, Arogan dan cuek bahkan sangat membenci wanita.
" Selesai sudah tugas mu bossss, tinggal bonus nya aja di akhir bulan ini." Anggi tersenyum sendiri.
--------------------------------
Vienna masuk kedalam ruangan nya, ada sedikit keraguan dalam hatinya, apa mungkin Big Bos nya itu mau berhadapan dengan dirinya yang baru saja dua bulan bekerja. Setelah 2 menit Vienna mendudukkan pantat nya di kursi ternyaman untuknya, telepon Vienna berdering, dan terlihat disana nomer Big Bos, tanpa pikir panjang, Vienna langsung mengangkat telpon yang masih berdering.
" Halo... selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu?"Vienna menjawab telepon dengan gugup.
"Masuklah keruangan ku, sekarang juga, aku tunggu lima detik" perintah nya pada Vienna.
" Baik, pak, sekarang saya kesana." tanpa pikir panjang Vienna bergegas menuju ruangan Big Bos nya, di depan pintu Vienna sedikit merapikan penampilan nya, agar tidak terlihat berantakan.
Tok
Tok
Tok
Akhirnya pintu ruangan pun terbuka, nampak tuan Tiger yang membukakan pintu untuk Vienna, breefing pagi ini Vienna tidak menghadirinya, ada perasaan tak enak, dan malu, ketika sudah berada di depan ketiga bos Vienna.
" Silahkan duduk Vi, jangan berdiri terus, nanti varises lo." Vero berusaha mencairkan suasana.
" Terima kasih pak, maaf saya terlambat, tidak menghadiri breefing pagi ini."
" Tidak apa-apa, santai saja, dan tolong kamu jelaskan maksud dari permintaan Bu Anggi pada Tuan Vero." ucap Leon.
" Sekali lagi saya meminta maaf, karena saya telah lancang untuk meminta pinjaman dari perusahaan,dalam jumlah yang sangat besar, maaf kan saya tuan." penjelasan Vienna di depan ketiga bos Vienna.