
"Benarkah? kenapa bisa? Apa yang terjadi dengan Kakak? Apa mungkin kedatangan nya ke kota sudah terdengar oleh kelompok Elang?" Selidik Uncle Jimmy.
"Entahlah Uncle, maka dari itu, Varo harus segera menikah dengan Vivi, agar Varo ada alasan untuk menjaga mereka, akupun ingin Uncle Sam dan Aunty Silvia, tinggal bersama kami, aku tak ingin kejadian yang menimpa papa dan mama, terulang kembali."Terang Varo pada Uncle Jimmy.
"Baguslah, kapan kamu menikah dengannya? Uncle akan pulang, lalu apa alasan kamu untuk mengajak gadis kecilmu untuk menikah dengan kamu secepatnya Varo?" Tanya Uncle Jimmy yang mengetahui, otak dari keponakanya itu sangat tidak mungkin mengajak menikah gadis pujaannya, dengan begitu saja, tanpa adanya drama dan siasat yang dibuat olehnya.
"Uncle Jimmy tidak usah khawatir, Varo memiliki permainan, yang bisa menjerat gadis kecilku masuk dalam perangkap ku, hahahaha." Varo tertawa sangat keras, sehingga karyawan yang melihat Varo tertawa pun sangat terkejut, tidak pernah Big Bos nya itu bahagia, sebahagia saat ini, karena biasanya hanya wajah garang dan tatapan yang sangat tajam yang terlihat di wajahnya.
Sementara di lorong kantor Vienna.
Karyawan lain yang melihat Vienna kembali lebih dari jam makan siang pun bertanya pada Vienna sebelum Vienna masuk ke ruangan nya.
" Vi, mengapa kamu terlambat Vi? untung saja Big Bos dan pak Leo, masih di luar, jadi gak terkena potong gaji deh." Sapa Frans yang melihat Vienna berjalan menuju ruangannya.
" Eh Frans, iya ni, tadi aku sudah minta ijin, mau jenguk ayahku di Rumah Sakit, jadi agak terlambat." Vienna membuat alasan yang masuk akal.
"Ayah kamu sakit Vi? sejak kapan?" tanya Frans, dan Frans pun semakin mendekat pada Vienna.
" Sepulang dari wisudaku, ayahku menjadi korban tabrak lari, dan harus segera di operasi, oh ya Frans, aku masuk ruangan dulu ya, takut si Big Bos marah nanti." Ucap Vienna yang malas berurusan dengan Big Bos nya yang garang dan galak itu.
" Baik lah, nanti aku berkunjung ke rumah sakit ya, kapan-kapan, boleh kan?" Frans memasang wajah imutnya.
" Boleh, nanti aku kabari ya, bye bye Frans." Vienna melambaikan tangannya
" Bye juga Vienna." Frans juga melambaikan tangannya.
Sementara Vienna yang sudah duduk di kursi kerjanya hanya bisa merutuki dirinya, kenapa bisa bertemu dengan Big Bos nya saat makan siang tadi.
Bahkan hari ini sangatlah panjang, seakan-akan waktu berjalan dengan lambat, bahkan saat ini masih jam 1.30 siang, berarti,hanya lewat 30 menit saja dari waktu istirahat yang Vienna lalui bersama Big Bos nya di restoran tadi.
Vienna membuka komputer dihadapannya, mencoba untuk fokus mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk sejak 2 hari yang lalu. Namun saat Vienna mencoba untuk fokus dalam pekerjaannya, ada telepon masuk dari ORANG GILA, yang artinya, Big Bos nya yang menelpon dirinya. Vienna sangat membencinya, keputusan yang sepihak, dan perlakuan yang semena-mena, menambah kebencian Vienna pada Big Bos nya itu.
" Halo... ada yang bisa saya bantu tuan?" Vienna berbicara seformal mungkin.
"Masuklah ke ruanganku! Jangan pakai lama! Atau saya batalkan operasi ayahmu!" Varo mengancam Vienna yang sedang kesal.
"Baiklah tuan, saya datang sekarang." Vienna bergegas berdiri, dan berlari masuk ke ruangan Big Bos nya. Tanpa mengetuk pintu, Vienna langsung masuk ke dalam ruangan.
" Selamat siang tuan, ada yang bisa saya lakukan tuan? Vienna membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat.
"Pergilah dengan Leo, dia akan mengantarmu ke suatu tempat, gunakanlah waktumu dengan baik, saya tidak menerima penolakan, dan pergilah sekarang." Tanpa mendengar jawaban dari Vienna, Varo menyuruh calon istrinya itu untuk pergi.
" Leo, antar dia ke tempat yang telah aku pesankan untuknya." Titah Varo pada Leo.
Namun Vienna menahan langkah Leo, " Tunggu tuan leo, saya ambil tas juga handphone milik saya dahulu." Vienna bergegas masuk ke ruangan nya dan mengambil tas serta handphone miliknya.
"Baiklah, saya tunggu di depan lift." Leo berjalan meninggalkan Vienna yang berlari kecil.
Leo mengantar Vienna ke tempat SPA dan Salon untuk merias Vienna, dalam acara lamaran Varo nanti malam. Vienna berusaha bertanya kemana Leo akan membawanya.
" Tuan, kemana kah anda akan membawa saya?"
"Maaf nona, Anda hanya tinggal duduk dan ikut kemana saya akan membawa anda, nanti anda sendiri akan tahu." Jawab Leo dengan nada datar.
"Huf... oke deh." Vienna pun mengalah dan diam tanpa memperdulikan kemana asisten bosnya itu akan membawa nya.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, Leo dan Vienna telah sampai disebuah tempat Spa, yang sangat terkenal, bahkan banyak artis papan atas yang menjadi langganan di tempat tersebut.
Saat ini nyali Vienna seakan menciut, bagaimana tidak, harga yang di bandrol tidak tanggung - tanggung, dari yang termurah hanya puluhan juta, sampai yang termahal ratusan juta.
Vienna menelan salivanya sendiri, semahal inikah dirinya dihadapan Varo Big Bos nya itu, atau hanya sebatas penghinaan. Entahlah, Vienna pun melangkah mengikuti kemana Leo berjalan, setelah melakukan transaksi, Leo meninggalkan Vienna, dan datang seorang dokter spesialis kecantikan, yang sangat mengenal Leo.
"Nona Vienna, silahkan ikuti saya, jangan takut, Tuan Varo sudah merekomendasikan semua yang anda butuhkan." sembari menuntun Vienna untuk masuk ruangannya.
"Terimakasih Dokter." Vienna tersenyum manis kepada Dokter tersebut.
"Diana Fransisca, panggil saja Dian."Sambil mengulurkan tangannya, kepada Vienna.
"Eh... saya Vienna Oktaviani, biasa di panggil Vivi." sembari menerima uluran tangan dokter Dian.
"Pantas saja tuan Varo jatuh cinta pada Anda nona, selain wajah yang cantik, kulit andapun sangat terawat, bahkan tak sedikit pun terlihat kusam, apakah anda melakukan perawatan yang teratur nona?" Dokter Dian terkejut dengan kemulusan kulit Vienna.
"Ah... tidak pernah dok, hanya saja saya selalu menjaga wudhu saya dokter, dan tak lupa meminum satu sendok madu asli setiap bangun tidur, selain menambah daya tahan tubuh saya, juga mengencangkan kulit saya dok." Vienne menjawab dokter Dian.
"Pantas saja kamu sangat mulus,sudah berapa lama kamu meminum madu tiap pagi, Vienna?" selidik dokter Dian.
"Sejak kecil dok, ibu selalu memberiku madu Dok."Vienna tersenyum.
Sementara Di kantor Varo.
Varo sedang menghubungi Tiger yang bertugas menyiapkan acara untuk lamarannya pada Vienna, yang rencananya akan di adakan di Rumah Sakit, tempat Ayah Vienna di rawat.
Ruangan yang di siapkan oleh Varo, di lantai 3, khusus untuk keluarga Besar Abraham. Semua keperluan yang di tugaskan oleh Varo 90 persen telah selesai, hanya menunggu kedatangan kedua orang yang akan bertunangan saja, sedangkan ayah dan ibu Vienna akan berpindah ke ruangan yang di tentukan, setelah dekorasi dan perlengkapan acara lamaran selesai.